LOGINPanji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana.
“Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. Ketika mencapai putaran kesepuluh, ia langsung membungkuk sambil memegangi lutut. “Sudah?” tanyanya terengah-engah. “Belum.” Panji mengangkat kepala dengan wajah tidak percaya. “Apalagi?” “Lima puluh kali jongkok.” “Bapak serius?” “Kalau ingin berhenti, pintu rumah ada di sana.” Panji mengatupkan rahang, lalu mulai melakukan latihan itu tanpa membantah lagi. Saat akhirnya selesai, kedua kakinya gemetar. Namun, Bram tidak memberinya waktu untuk beristirahat lama. Ia mengambil sebuah tongkat kayu dan melemparkannya kepada Panji. “Sekarang, pertahankan keseimbanganmu.” Bram menyerang tanpa peringatan. Panji buru-buru mengangkat tongkat untuk menangkis. Benturan pertama membuat lengannya bergetar. Serangan berikutnya datang dari arah berbeda, memaksanya mundur sampai tumitnya menyentuh tepi tanah lapang. Bram menyapu kakinya. Panji jatuh terduduk. “Jangan hanya memperhatikan tongkatku,” kata Bram. “Perhatikan bahu, pinggang, dan kakiku. Gerakan tubuh selalu memberi petunjuk sebelum serangan datang.” Panji bangkit, membersihkan debu dari celananya. “Sekali lagi.” Latihan berlanjut. Panji berkali-kali terjatuh, tetapi perlahan ia mulai mengenali pola serangan Bram. Ia belum mampu membalas dengan baik, tetapi setidaknya tidak selalu kehilangan keseimbangan. Pada percobaan berikutnya, ia berhasil menghindari sapuan kaki dan bertahan lebih lama. Bram menghentikan serangannya. “Lumayan.” Panji menyeka keringat di dahinya. “Saya anggap itu pujian.” “Jangan terbiasa.” Dari teras, Sekar yang baru datang memperhatikan mereka sambil membawa dua botol air. “Wah, ternyata kamu masih hidup,” katanya kepada Panji. Panji menerima botol yang dilemparkan kepadanya. “Sayangnya, iya.” Sekar terkekeh kecil. “Kalau begitu, latihan Bram belum cukup keras.” “Kalau kamu ingin menggantikanku, silakan,” sahut Bram. Sekar langsung menggeleng. “Aku masih punya urusan lain.” Panji tersenyum tipis. Setidaknya, ada seseorang yang bisa diajak bercanda di tempat itu. Setelah istirahat singkat, Bram mengajaknya duduk bersila di bawah pohon. “Sekarang kita membahas energi birumu.” Panji langsung memperhatikan. “Pejamkan mata. Atur napasmu perlahan. Jangan memaksa energi keluar. Rasakan keberadaannya terlebih dahulu.” Panji mengikuti instruksi tersebut. Ia mencoba mengingat sensasi hangat yang muncul ketika dirinya berada dalam bahaya. Namun, semakin keras ia berusaha, semakin sulit ia menemukan apa pun. Beberapa menit berlalu. Tidak ada cahaya biru. Panji membuka mata. “Tidak berhasil.” “Karena kamu berusaha memaksanya muncul.” “Lalu bagaimana caranya?” “Berhenti mengejar kekuatan itu dengan pikiranmu. Atur napas, tenangkan tubuh, dan perhatikan perubahan sekecil apa pun.” Panji mencoba lagi. Kali ini, ia tidak membayangkan ledakan atau serangan. Ia hanya memperhatikan napasnya sendiri, membiarkan ketegangan di bahunya perlahan menghilang. Beberapa saat kemudian, kehangatan tipis muncul di tengah telapak tangannya. Panji menahan napas karena terkejut. Cahaya biru kecil berpendar di kulitnya. “Aku berhasil!” “Jangan bergerak mendadak,” perintah Bram. Panji berusaha mempertahankan cahaya itu. Namun, kegembiraannya membuat konsentrasinya buyar. Cahaya biru tersebut berkedip, lalu menghilang. Panji menggerutu. “Kenapa selalu hilang?” “Karena kamu belum mampu mempertahankannya.” Bram meletakkan sebuah batu kecil di hadapannya. “Ulangi. Kali ini, pertahankan energi itu selama lima detik. Jangan gunakan untuk menyerang. Jangan biarkan energinya menyebar ke seluruh tanganmu.” Panji memejamkan mata kembali. Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua hanya menghasilkan percikan yang langsung padam. Pada percobaan ketiga, energi biru muncul lebih jelas, tetapi merambat terlalu cepat hingga lengannya terasa panas. Panji buru-buru menghentikannya. Bram mengangguk kecil. “Bagus. Kamu menyadari ketika alirannya mulai berlebihan.” “Bagus dari mana? Lenganku hampir terbakar.” “Setidaknya kamu berhenti sebelum melukai dirimu sendiri.” Panji menghela napas dan mencoba kembali. Kali ini, ia membayangkan energi tersebut berkumpul di satu titik kecil di telapak tangannya. Ia tidak membiarkannya menyebar. Tiga detik. Cahaya itu bergetar pada detik keempat, lalu padam sebelum mencapai lima detik. Panji membuka mata dengan kecewa. “Kurang satu detik.” “Besok kamu akan mencoba lagi.” Panji menatap Bram. “Hanya itu?” “Kalau kamu ingin bisa mempertahankannya selama satu menit, kamu harus terlebih dahulu mampu melakukannya selama lima detik.” Jawaban itu membuat Panji terdiam. Ia mulai memahami bahwa menguasai kekuatan bukan tentang seberapa besar ledakan yang bisa dihasilkan. Ia harus belajar mengendalikan setiap bagian energi tersebut, bahkan ketika tidak ada musuh di hadapannya. Bram berdiri dan mengambil dua tongkat latihan. “Cukup untuk hari ini. Besok kita lanjutkan.” Panji ikut berdiri, tetapi kakinya mendadak lemas. Ia terpaksa berpegangan pada batang pohon agar tidak jatuh. Sekar segera menghampirinya. “Kamu belum makan sejak pagi?” Panji terdiam. Sekar menggeleng tidak percaya. “Pantas saja wajahmu seperti orang yang sebentar lagi dikubur.” “Aku lupa.” “Lupa makan atau lupa cara menggunakan ot*k?” Panji menatapnya datar. “Kamu selalu begini kepada orang yang sedang kesulitan?” “Kalau orang itu keras kepala, iya.” Bram melemparkan sebotol air kepada Panji. “Minum dan makan sebelum pulang. Latihan bukan alasan untuk mengabaikan kondisi tubuhmu.” Panji menerima botol tersebut. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tidak membantah. Namun, ketika ia hendak meninggalkan halaman, Bram memanggilnya. “Panji.” Panji menoleh. “Besok kita akan menguji kemampuanmu menghadapi lawan sungguhan.” Panji mengerutkan kening. “Bukankah saya masih belum bisa mempertahankan energi selama lima detik?” “Justru karena itu. Kamu harus belajar bahwa tidak semua pertarungan bisa dimenangkan dengan energi.” Bram menunjuk seseorang yang baru muncul dari pintu samping. Seorang pria muda bertubuh tegap berdiri sambil membawa dua sarung tangan latihan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. “Namanya Jatmika,” kata Bram. “Dia akan menjadi lawan latihanmu besok.” Jatmika mengulurkan tangan, tetapi senyum tipis di wajahnya membuat Panji merasa ia tidak sedang menyambut seorang teman. “Jadi, kamu pemilik energi biru yang sedang dibicarakan itu?” Panji menyambut uluran tangannya. “Dan kamu orang yang katanya akan mengajariku bertarung?” Jatmika tertawa pendek. “Bukan mengajarimu. Aku akan menunjukkan seberapa jauh kemampuanmu tertinggal.” Ia melepaskan tangan Panji, lalu berjalan melewatinya. “Siapkan dirimu. Aku tidak akan mengalah hanya karena kamu pemula.” Panji menatap punggungnya. Rasa lelah masih membebani tubuhnya, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. Ia tidak ingin terus menjadi orang yang hanya bisa bertahan dan menunggu diselamatkan. Besok, ia akan menghadapi lawan manusia untuk pertama kalinya dalam latihan yang sesungguhnya. Dan ia berniat memberikan perlawanan.Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu
Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K
Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah
Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi
Panji menatap rantai hitam di tangan pria yang berdiri paling depan. Ukiran pada permukaan logam itu berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat tengkuknya meremang. Sekar berdiri di sampingnya sambil menggenggam dua jimat. “Dengarkan aku. Jangan melawan rantai itu dengan energi birumu. Kalau terkena, aliran energimu bisa terganggu.” “Lalu aku harus melakukan apa?” “Jangan sampai tertangkap.” Panji mendengus. “Nasihat yang sangat membantu.” Belum sempat Sekar menjawab, pria pembawa rantai mengayunkan tangannya. Rantai itu melesat seperti ular. “Menunduk!” Sekar menarik bahu Panji. Rantai tersebut melintas di atas kepala mereka, lalu menghantam dinding hingga batu bata berhamburan. Tiga orang lain bergerak mengepung mereka. Salah satunya membawa tongkat pendek, sementara yang lain mengenakan sarung tangan hitam. “Serahkan pemuda itu,” ujar pemimpin mereka. “Kami tidak punya urusan denganmu, Sekar Ayuningtyas.” Sekar menyipitkan mata. “Kalau kalian tahu namaku, seharusnya
Cakar itu tinggal beberapa sentimeter dari leher Panji ketika sebuah benda kecil melesat dari kegelapan. Sebuah jimat merah menempel tepat di dahi makhluk tersebut. DARRR! Tubuh makhluk itu terpental, menghantam dinding gang hingga bata-bata tua bergetar. Asap hitam mengepul dari kulit pucatnya, disertai suara geraman mengerikan. Panji terhuyung sambil memegangi lehernya. Napasnya memburu. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, seseorang melangkah keluar dari balik bayangan. Seorang gadis berjaket hitam berdiri di antara dirinya dan makhluk itu. Rambutnya diikat tinggi, sementara beberapa jimat terselip di antara jemarinya. “Kalau masih ingin hidup, mundur,” katanya tanpa menoleh. Panji mengerutkan kening. “Aku tidak butuh diperintah.” “Bagus. Berarti kamu juga tidak keberatan mati karena keras kepala.” Gadis itu mengibaskan tangannya. Dua jimat merah melesat dan menempel pada kedua sisi tubuh makhluk tersebut. Garis merah menyala, membentuk benang cahaya yang membelit kedua







