Share

Bab 9

Author: Dewgirl
last update publish date: 2026-10-29 18:43:19

Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur.

“Sudah siap?” tanya Jatmika.

“Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?”

Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.”

“Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.”

Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar.

“Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram.

Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya.

Panji jatuh ke tanah.

“Bangun,” kata Bram.

“Aku bahkan belum sempat menyerang.”

“Lawanmu tidak wajib memberimu kesempatan.”

Panji berdiri dan mencoba menyerang lebih dahulu. Namun, gerakannya mudah dibaca. Jatmika menangkap pergelangan tangannya, memutar tubuh, lalu menjatuhkannya lagi.

“Dua kali,” ujar Jatmika. “Mau mencoba sampai berapa kali?”

“Sampai kau berhenti menghitung.”

Latihan berlanjut. Panji berkali-kali mencoba menyerang, tetapi Jatmika selalu berhasil menghindar atau membalas. Sebuah pukulan mengenai perutnya hingga ia membungkuk menahan sakit.

“Berhenti mengandalkan kekuatan mentah,” tegur Bram. “Perhatikan lawanmu, bukan hanya tangannya.”

Panji mengangkat kepala dan mengamati Jatmika. Bahunya terlihat rileks, tetapi kaki kanannya sedikit lebih maju. Setiap kali hendak menyerang, Jatmika memindahkan berat tubuh ke depan. Panji mulai memahami polanya. Ketika serangan berikutnya datang, ia menggeser tubuh. Pukulan Jatmika meleset, tetapi serangan susulannya tetap mengenai bahu Panji hingga ia terhuyung.

“Masih lambat,” komentar Jatmika.

“Kau banyak bicara untuk orang yang sedang latihan.”

“Karena kau memberiku banyak waktu.”

Sekar berdiri. “Kalau tujuanmu cuma mengejek, biar aku yang menggantikan Panji.”

“Tidak perlu,” sahut Panji sambil bangkit. “Aku belum selesai.”

Bram mengangkat tangan. “Kali ini, jangan menyerang sebelum menemukan celah.”

Panji mengangguk. Jatmika kembali maju dengan dua pukulan beruntun. Panji bertahan dan menghindar, menunggu kesempatan. Ketika Jatmika memindahkan berat tubuh untuk melancarkan serangan berikutnya, Panji melihat celah di bahunya. Ia bergerak maju dan melayangkan pukulan.

Buk!

Pukulannya mengenai sasaran. Jatmika terdorong setengah langkah. Ekspresi santainya menghilang, sedangkan Sekar langsung berseru gembira. Panji terengah-engah. Ia berhasil mengenai lawannya tanpa menggunakan energi biru. Kali ini, ia mengandalkan pengamatan dan waktu yang tepat. Namun, Jatmika segera memasang kuda-kuda lagi.

“Jangan senang dulu. Satu pukulan tidak membuatmu menang.”

“Aku tahu.”

Jatmika menyerang kembali. Ia melancarkan pukulan tipuan sebelum mencoba menyapu kaki Panji. Panji hampir terkecoh, tetapi segera memperhatikan posisi kaki lawannya dan melompat mundur. Gerakannya kurang sempurna, tetapi ia berhasil mempertahankan keseimbangan. Jatmika kembali maju. Panji menangkis pukulannya, lalu mundur beberapa langkah.

“Kenapa mundur terus?” ejek Jatmika.

“Supaya kau tidak bosan mengejarku.”

Jatmika mendengus dan mempercepat langkah. Panji menunggu sampai lawannya melangkah terlalu jauh ke depan. Ia bergeser ke samping, lalu mendorong bahu Jatmika sambil mengaitkan kaki pada pergelangan kakinya. Gerakannya tidak sempurna, tetapi cukup untuk memutus keseimbangan lawan. Jatmika berusaha menahan tubuhnya. Namun, ia terlambat.

Tubuhnya jatuh telentang ke tanah. Panji segera mengambil jarak dan memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi serangan lanjutan. Akan tetapi, Jatmika tidak langsung bangkit. Halaman latihan mendadak hening.

Jatmika akhirnya duduk sambil mengusap punggungnya. “Kau baru saja menjatuhkanku?”

“Sepertinya begitu.”

“Aku terpeleset.”

“Kalau itu membuatmu tidur lebih nyenyak malam ini, silakan percaya begitu.”

Jatmika hendak membalas, tetapi Bram mengangkat tangan.

“Cukup. Pertarungan selesai. Panji menang.”

Panji terdiam sesaat. Ia tahu dirinya belum lebih kuat daripada Jatmika. Jika pertarungan dilanjutkan, hasilnya belum tentu sama. Namun, kali ini ia berhasil memanfaatkan kelemahan lawan tanpa bergantung pada energi birunya. Jatmika berdiri dan mengulurkan tangan. Panji menyambutnya.

“Kau beruntung,” kata Jatmika.

“Mungkin. Lain kali, aku tidak mau mengandalkan keberuntungan.”

“Kalau begitu, datang lebih pagi. Aku tidak akan membiarkanmu menang semudah ini lagi.”

“Bagus. Aku juga tidak mau latihan dengan lawan yang mudah dikalahkan.”

Sekar tertawa kecil melihat keduanya kembali saling menyindir. Bram melemparkan handuk kepada Panji.

“Jangan salah mengartikan kemenangan ini. Kau menang karena membaca gerakan lawan dan memanfaatkan momentum. Kemampuanmu masih jauh dari cukup.”

“Aku mengerti.”

“Besok, latihanmu akan berbeda. Kau akan ikut denganku dan Sekar ke luar kota.”

Panji mengernyit. “Kita akan menghadapi apa?”

Bram mengeluarkan selembar kertas kusut dari sakunya dan membentangkannya di atas bangku. Kertas itu memuat gambar sebuah rumah kosong di pinggir hutan. Pada dinding rumah tersebut tergambar simbol hitam yang pernah ditemukan Panji.

Namun, ada sesuatu yang membuat tengkuknya menegang. Di bawah simbol itu terdapat bekas telapak tangan berwarna biru—warna yang sama dengan energi di dalam tubuhnya.

“Dua orang sudah hilang di sekitar tempat ini,” kata Bram. “Dan tadi pagi, seseorang meninggalkan pesan untukmu.”

Bram membalik kertas itu. Tulisan merah memenuhi bagian belakangnya.

KAMI TAHU KAU SEDANG BELAJAR MENJADI KUAT, PANJI ADIWANGSA. SEKARANG BUKTIKAN APAKAH KAU BISA MENYELAMATKAN ORANG LAIN.

Panji menggenggam kertas itu sampai kusut. Kemenangan pertamanya seharusnya menjadi awal yang menyenangkan. Namun, pesan itu mengingatkannya bahwa ada sesuatu yang mengawasinya dan mungkin sedang menyiapkan ujian yang jauh lebih berbahaya. Kali ini, ia tidak hanya mempertaruhkan dirinya sendiri. Jika gagal, nyawa orang lain bisa menjadi taruhannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 9

    Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 8

    Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 7

    Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 6

    Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 5

    Panji menatap rantai hitam di tangan pria yang berdiri paling depan. Ukiran pada permukaan logam itu berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat tengkuknya meremang. Sekar berdiri di sampingnya sambil menggenggam dua jimat. “Dengarkan aku. Jangan melawan rantai itu dengan energi birumu. Kalau terkena, aliran energimu bisa terganggu.” “Lalu aku harus melakukan apa?” “Jangan sampai tertangkap.” Panji mendengus. “Nasihat yang sangat membantu.” Belum sempat Sekar menjawab, pria pembawa rantai mengayunkan tangannya. Rantai itu melesat seperti ular. “Menunduk!” Sekar menarik bahu Panji. Rantai tersebut melintas di atas kepala mereka, lalu menghantam dinding hingga batu bata berhamburan. Tiga orang lain bergerak mengepung mereka. Salah satunya membawa tongkat pendek, sementara yang lain mengenakan sarung tangan hitam. “Serahkan pemuda itu,” ujar pemimpin mereka. “Kami tidak punya urusan denganmu, Sekar Ayuningtyas.” Sekar menyipitkan mata. “Kalau kalian tahu namaku, seharusnya

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 4

    Cakar itu tinggal beberapa sentimeter dari leher Panji ketika sebuah benda kecil melesat dari kegelapan. Sebuah jimat merah menempel tepat di dahi makhluk tersebut. DARRR! Tubuh makhluk itu terpental, menghantam dinding gang hingga bata-bata tua bergetar. Asap hitam mengepul dari kulit pucatnya, disertai suara geraman mengerikan. Panji terhuyung sambil memegangi lehernya. Napasnya memburu. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, seseorang melangkah keluar dari balik bayangan. Seorang gadis berjaket hitam berdiri di antara dirinya dan makhluk itu. Rambutnya diikat tinggi, sementara beberapa jimat terselip di antara jemarinya. “Kalau masih ingin hidup, mundur,” katanya tanpa menoleh. Panji mengerutkan kening. “Aku tidak butuh diperintah.” “Bagus. Berarti kamu juga tidak keberatan mati karena keras kepala.” Gadis itu mengibaskan tangannya. Dua jimat merah melesat dan menempel pada kedua sisi tubuh makhluk tersebut. Garis merah menyala, membentuk benang cahaya yang membelit kedua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status