LOGINRumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut.
“Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah sedang menyembunyikan mayat.” Pria itu menghela napas, kemudian melirik Panji. “Siapa dia?” “Panji Adiwangsa. Dia membutuhkan bantuanmu.” “Kalau begitu, bawa dia ke orang lain.” Bram hendak menutup pintu, tetapi Sekar menahannya dengan telapak tangan. “Dia memiliki energi biru.” Gerakan Bram terhenti. Tatapannya kembali tertuju kepada Panji. Kali ini, sorot matanya berubah serius. “Masuk.” Panji dan Sekar mengikuti Bram ke ruang tengah. Ruangan itu dipenuhi rak berisi buku-buku tua, botol kecil, dan berbagai benda yang tidak dikenali Panji. Di sudut ruangan terdapat beberapa tongkat latihan dan karung pasir yang permukaannya sudah rusak. Bram duduk di kursi kayu, lalu menunjuk Panji. “Tunjukkan tanganmu.” Panji mengulurkan tangan kanan yang masih dibalut kain. Bram membuka balutannya dan memeriksa kulit yang memerah di sekitar buku-buku jari. “Kamu menggunakan energi untuk memperkuat pukulan?” Panji mengangguk. “Berapa lama?” “Tidak tahu. Beberapa detik.” “Dan setelah itu?” “Tubuhku terasa seperti dihantam dari dalam.” Bram melepaskan tangannya. “Karena kamu bod*h.” Panji mengangkat kepala. “Saya datang untuk meminta bantuan, bukan dihina.” “Kalau kamu tidak tahan mendengar kenyataan, keluar.” Suasana mendadak tegang. Sekar menyilangkan tangan. “Bram, dia memang belum bisa mengendalikan kekuatannya. Itu sebabnya aku membawanya ke sini.” “Aku bisa melihatnya sendiri.” Bram berdiri dan berjalan menuju halaman belakang. “Ikuti aku. Aku ingin mengetahui seberapa buruk kemampuanmu.” Panji menatap Sekar. “Dia memang selalu ramah seperti ini?” “Belum. Hari ini dia sedang berusaha.” Sekar mengikuti Panji keluar. Di halaman belakang terdapat tanah lapang dengan beberapa batang kayu tertancap berjajar. Bram mengambil dua tongkat latihan, lalu melemparkan satu kepada Panji. Panji menangkapnya dengan tangan kiri. “Apa ini?” “Ujian.” Bram berdiri beberapa langkah di hadapannya. “Coba pukul aku.” Panji mengernyit. “Serius?” “Kalau kamu masih ingin bertanya, berarti kamu belum siap.” Panji menghela napas. Ia mengangkat tongkat dan maju, mengayunkannya ke arah bahu Bram. Bram menggeser tubuh sedikit. Serangan itu meleset. Sebelum Panji sempat menarik tongkatnya, Bram menyapu kakinya. Panji jatuh telentang ke tanah. “Lambat.” Panji bangkit sambil menggerutu. Ia menyerang lagi, kali ini mengarahkan tongkat ke sisi tubuh Bram. Pria itu menangkisnya dengan mudah, lalu memukul ringan perut Panji menggunakan ujung tongkat. Napas Panji langsung terputus. “Gerakanmu mudah ditebak,” ujar Bram. Panji mundur sambil memegangi perut. “Saya belum pernah belajar bela diri secara serius.” “Lalu kamu berharap energi biru itu menyelesaikan semuanya?” Panji terdiam. Bram memutar tongkat di tangannya. “Energi bukan pengganti kemampuan bertarung. Kalau kamu tidak memahami jarak, keseimbangan, dan pergerakan lawan, kekuatanmu hanya akan membuatmu lebih cepat kelelahan.” Panji menggenggam tongkatnya lebih erat. “Sekali lagi.” Bram mengangkat sebelah alis, tetapi mengangguk. Kali ini, Panji tidak langsung menyerang. Ia mengamati posisi kaki Bram dan menunggu pergerakannya. Ketika Bram maju, Panji bergeser ke samping dan mengayunkan tongkat ke arah lengannya. Bram menangkis, tetapi Panji segera mengubah arah serangan. Ujung tongkatnya hampir menyentuh bahu Bram. Hampir. Bram memutar pergelangan tangannya, mengait tongkat Panji, lalu menariknya hingga terlepas. Sesaat kemudian, ujung tongkat Bram berhenti tepat di depan dada Panji. “Kalau ini pertarungan sungguhan, kamu sudah kalah.” Panji menatap tongkat yang mengarah ke dadanya. Ia memang belum mampu menyentuh Bram sekalipun. Namun, kali ini ia berhasil memaksa pria itu mengubah posisi bertahan. Sekar yang mengamati dari samping menyadari perubahan tersebut, meskipun ia tidak mengatakan apa-apa. Bram menurunkan tongkatnya. “Siapa yang mengajarimu menggunakan energi biru?” “Tidak ada. Kekuatan itu muncul saat aku diserang makhluk aneh.” “Makhluk apa?” Panji menjelaskan secara singkat tentang makhluk berkulit pucat, para pemburu, dan rantai hitam yang hampir melumpuhkan energinya. Bram mendengarkan tanpa menyela. Ketika Panji selesai, wajahnya tampak semakin serius. “Mereka sudah menggunakan Rantai Pemutus Energi?” gumamnya. “Kamu mengenalnya?” tanya Sekar. Bram tidak langsung menjawab. “Aku pernah menghadapinya bertahun-tahun lalu. Benda itu dibuat untuk melumpuhkan petarung spiritual yang mengandalkan aliran energi.” Ia menatap Panji. “Kalau Ordo Niskala sudah mengincarmu, situasinya jauh lebih buruk daripada yang kalian bayangkan.” Panji mengencangkan rahangnya. “Aku tidak peduli siapa mereka. Aku hanya ingin cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri.” “Keinginan saja tidak cukup.” Bram meletakkan kedua tongkat di tanah. “Kalau aku melatihmu, kamu harus mengikuti semua perintahku. Tidak ada jalan pintas. Kamu akan mempelajari dasar pertarungan sebelum belajar mengendalikan energi. Dan kalau aku mengatakan berhenti, kamu berhenti.” Panji mengangguk tanpa ragu. “Aku setuju.” “Jangan menjawab terlalu cepat. Latihannya tidak menyenangkan.” “Saya juga tidak datang untuk bersenang-senang.” Bram memperhatikannya beberapa saat, kemudian mengangguk kecil. “Baik. Besok pagi, datang sebelum matahari terbit.” Panji mengembuskan napas lega. Namun, Bram mengangkat satu jari. “Ada satu syarat lagi.” “Apa?” “Jangan mengandalkan Sekar untuk menyelamatkanmu setiap kali kamu membuat kesalahan.” Sekar langsung menyahut, “Tenang saja. Aku juga tidak berniat menjadi pengasuhnya.” Panji meliriknya. “Bagus. Aku juga tidak pernah meminta.” “Mulutmu memang perlu dilatih lebih keras daripada tubuhmu.” Bram berbalik menuju rumah. “Besok kita mulai. Dan Panji?” Panji menoleh. “Kalau kamu datang terlambat, aku tidak akan membuka pintu.” Pintu rumah tertutup sebelum Panji sempat menjawab. Ia menatap pintu itu beberapa detik, lalu menghela napas panjang. “Mentor macam apa yang kamu pilihkan untukku?” Sekar tersenyum tipis. “Mentor yang mungkin bisa membuatmu bertahan hidup.” Namun, ketika mereka meninggalkan halaman, Bram berdiri di balik jendela dan mengamati Panji dari kejauhan. Tangannya mengepal perlahan. Energi biru itu bukan sekadar energi langka. Ia mengenali pola yang muncul sesaat ketika Panji memusatkan kekuatannya pada tinju. Pola yang sama pernah dilihatnya bertahun-tahun lalu, dalam sebuah pertarungan yang hampir menghancurkan dunia spiritual. Bram menutup tirai. “Ardhana,” bisiknya. “Jadi, darahmu benar-benar masih hidup.” Ia menatap sebuah foto tua yang tersimpan di dalam laci. Di foto itu, seorang pria berdiri dengan tatapan dingin, dikelilingi kobaran energi biru. Dan wajah pria itu sangat mirip dengan Panji.Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu
Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K
Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah
Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi
Panji menatap rantai hitam di tangan pria yang berdiri paling depan. Ukiran pada permukaan logam itu berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat tengkuknya meremang. Sekar berdiri di sampingnya sambil menggenggam dua jimat. “Dengarkan aku. Jangan melawan rantai itu dengan energi birumu. Kalau terkena, aliran energimu bisa terganggu.” “Lalu aku harus melakukan apa?” “Jangan sampai tertangkap.” Panji mendengus. “Nasihat yang sangat membantu.” Belum sempat Sekar menjawab, pria pembawa rantai mengayunkan tangannya. Rantai itu melesat seperti ular. “Menunduk!” Sekar menarik bahu Panji. Rantai tersebut melintas di atas kepala mereka, lalu menghantam dinding hingga batu bata berhamburan. Tiga orang lain bergerak mengepung mereka. Salah satunya membawa tongkat pendek, sementara yang lain mengenakan sarung tangan hitam. “Serahkan pemuda itu,” ujar pemimpin mereka. “Kami tidak punya urusan denganmu, Sekar Ayuningtyas.” Sekar menyipitkan mata. “Kalau kalian tahu namaku, seharusnya
Cakar itu tinggal beberapa sentimeter dari leher Panji ketika sebuah benda kecil melesat dari kegelapan. Sebuah jimat merah menempel tepat di dahi makhluk tersebut. DARRR! Tubuh makhluk itu terpental, menghantam dinding gang hingga bata-bata tua bergetar. Asap hitam mengepul dari kulit pucatnya, disertai suara geraman mengerikan. Panji terhuyung sambil memegangi lehernya. Napasnya memburu. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, seseorang melangkah keluar dari balik bayangan. Seorang gadis berjaket hitam berdiri di antara dirinya dan makhluk itu. Rambutnya diikat tinggi, sementara beberapa jimat terselip di antara jemarinya. “Kalau masih ingin hidup, mundur,” katanya tanpa menoleh. Panji mengerutkan kening. “Aku tidak butuh diperintah.” “Bagus. Berarti kamu juga tidak keberatan mati karena keras kepala.” Gadis itu mengibaskan tangannya. Dua jimat merah melesat dan menempel pada kedua sisi tubuh makhluk tersebut. Garis merah menyala, membentuk benang cahaya yang membelit kedua







