Share

Bab 6

Penulis: Dewgirl
last update Tanggal publikasi: 2026-10-15 13:54:51

Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti.

“Ada apa?” tanyanya.

Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka.

“Kita diikuti.”

Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang.

Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir.

“Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji.

Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.”

Sekar segera berdiri di depan Panji.

“Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.”

“Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.”

“Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bisa mati.”

Panji mendengus. “Pilihan yang menyenangkan.”

Ketiga pemburu itu menyerang hampir bersamaan. Sekar menyambut dua orang pertama. Ia menghindari tongkat yang mengarah ke kepalanya, lalu menempelkan jimat pada lengan lawan. Cahaya merah menyala dan membuat pria itu kehilangan keseimbangan.

Pemburu kedua mencoba menyerangnya dari samping, tetapi Sekar memutar tubuh dan menendang lututnya. Sementara itu, pria berpisau mengincar Panji. Serangan pertama menyambar bahunya. Panji mundur, tetapi ujung pisau tetap menggores lengannya.

Ia membalas dengan pukulan. Lawannya menangkis, lalu menghantam perutnya menggunakan gagang pisau. Panji terhuyung.

“Katanya kamu punya energi istimewa,” ejek pria itu. “Mana kekuatanmu?”

Panji mengatupkan gigi. Ia mencoba memanggil energi biru, tetapi yang muncul hanya percikan kecil di telapak tangan. Pria itu tertawa dan kembali menyerang. Panji menangkis dengan lengan. Rasa sakit menjalar hingga bahunya, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.

Ia tidak bisa terus bertahan seperti ini. Panji mengamati gerakan lawannya. Setiap kali menyerang, pria itu selalu memutar pergelangan tangan sebelum mengarahkan pisau ke tubuhnya. Kebiasaan kecil itu memberinya petunjuk.

Ketika serangan berikutnya datang, Panji sengaja bergerak sedikit terlambat. Pisau itu menggores bajunya. Namun, lawannya terlanjur maju terlalu jauh. Panji menangkap pergelangan tangannya, lalu menghantamkan lutut ke perut pria itu. Saat lawannya membungkuk, ia mendorong tubuhnya hingga menabrak dinding.

Pria tersebut mengerang kesakitan. Panji belum sempat mengatur napas ketika dua pemburu lainnya menyadari apa yang terjadi. Salah seorang meninggalkan Sekar dan menerjangnya dari samping. Panji menghindar, tetapi tongkat lawannya menyapu kakinya. Ia jatuh keras ke tanah.

“Panji!” seru Sekar.

Gadis itu mencoba mendekat, tetapi lawannya menghadang. Ia terpaksa menangkis dua serangan beruntun sebelum bisa mencari celah.

Panji bangkit dengan susah payah. Pemburu bertongkat kembali mengayunkan senjatanya. Kali ini, Panji tidak mundur. Ia memusatkan perhatian pada telapak tangan kanannya. Ia teringat bagaimana energi biru berhasil mengganggu rantai hitam pada pertarungan sebelumnya.

Jangan paksa seluruh kekuatan keluar. Kumpulkan pada satu titik. Panji mengatupkan jemari. Cahaya biru muncul, mula-mula redup, kemudian membungkus buku-buku jarinya. Pemburu itu mengayunkan tongkat. Panji memiringkan tubuh dan menghantamkan tinjunya ke sisi senjata tersebut.

BRAK!

Tongkat itu terpental dari genggaman lawannya. Pria itu terbelalak. Panji langsung melayangkan pukulan ke dadanya. Energi biru meledak sesaat, mendorong pemburu tersebut hingga terjatuh beberapa meter. Panji terpaku melihat tangannya.

Ia berhasil. Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Rasa panas menjalar dari buku-buku jarinya hingga ke siku. Napasnya mendadak sesak, sementara pandangannya berkunang-kunang. Ia jatuh berlutut.

“Panji, hentikan!” teriak Sekar.

Tetapi pemburu yang terjatuh tadi kembali bangkit. Ia mengangkat tongkatnya dan berlari ke arah Panji yang belum mampu berdiri. Panji mencoba mengangkat tangan. Energi birunya tidak muncul.

Tongkat itu hampir menghantam kepalanya ketika Sekar melesat masuk. Ia menangkis serangan tersebut menggunakan kedua lengan yang dilapisi jimat, lalu mendorong lawannya mundur.

“Sudah kubilang jangan memaksakan kekuatanmu!” bentaknya.

“Aku tidak punya pilihan!”

“Selalu ada pilihan. Kamu hanya belum belajar melihatnya!”

Sekar melemparkan jimat ke arah tanah. Cahaya merah menyebar dan membentuk penghalang di antara mereka dan para pemburu. Namun, penghalang itu hanya bertahan beberapa detik sebelum dihantam tongkat berukir. Sekar menarik napas tajam.

“Kita harus pergi!”

Ia meraih lengan Panji dan membantunya berdiri. Mereka berlari menuju lorong sempit di sebelah kiri, sementara ketiga pemburu menerobos penghalang yang mulai runtuh. Panji hampir terjatuh dua kali. Kakinya terasa berat, dan rasa panas di lengannya semakin menyakitkan.

“Berhenti menyeretku,” katanya dengan napas terputus-putus.

“Kalau kulepaskan, kamu akan tertinggal.”

“Aku masih bisa berjalan.”

“Kalau begitu, buktikan dengan tidak jatuh!”

Mereka akhirnya mencapai sebuah bangunan kosong dengan pintu kayu setengah terbuka. Sekar mendorong Panji masuk, kemudian menutup pintu dan menempelkan jimat pada permukaannya.

Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki terdengar melewati bangunan itu. Panji bersandar pada dinding, berusaha mengatur napas. Tubuhnya gemetar hebat. Sekar berjongkok di hadapannya.

“Tunjukkan tanganmu.”

Panji mengulurkan tangan kanan. Kulit di sekitar buku-buku jarinya memerah, sementara garis kebiruan tampak samar di bawah permukaan kulit. Sekar mengerutkan kening.

“Kamu memusatkan energi pada tinju, tetapi tidak mengendalikan alirannya. Sebagian kekuatan itu justru menghantam tubuhmu sendiri.”

“Jadi, aku harus membiarkan mereka membunuhku?”

“Tidak. Kamu harus belajar kapan menyerang dan kapan menghindar.”

Sekar mengeluarkan kain bersih dan membalut tangan Panji. Gerakannya cekatan, tetapi sorot matanya menunjukkan kekhawatiran.

“Kekuatanmu memang besar, tetapi tubuhmu belum mampu menanggungnya. Kalau terus memaksakan diri, kamu bisa melukai dirimu sendiri sebelum sempat mengalahkan musuh.”

Panji menatap tangan yang terbalut. Ia berhasil menjatuhkan dua lawan dalam pertarungan tadi, tetapi kemenangan itu hampir membuatnya tidak mampu melindungi dirinya sendiri.

“Aku tidak mau terus menjadi beban,” gumamnya.

Sekar menatapnya beberapa saat.

“Kalau begitu, berhenti bertindak seolah-olah kamu harus memenangkan setiap pertarungan sendirian.”

Panji mengangkat wajah.

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi tindakanmu mengatakannya.”

Panji tidak membalas. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa keberanian saja tidak cukup. Tanpa teknik dan kendali, kekuatan yang dimilikinya bisa menjadi kelemahan. Sekar berdiri dan mengintip melalui celah pintu.

“Para pemburu itu sudah pergi. Kita harus segera menemui seseorang yang kukenal.”

“Orang yang bisa mengajariku?”

“Dia mantan petarung spiritual. Kalau ada orang yang bisa membantumu memahami energi biru, kemungkinan besar dia orangnya.”

Panji mencoba berdiri. Tubuhnya masih lemah, tetapi kali ini ia tidak memaksakan diri berjalan tanpa bantuan.

“Siapa namanya?”

“Bramantara Wisesa. Tapi jangan berharap dia orang yang ramah.”

Panji mengangkat sebelah alis.

“Lebih menyebalkan darimu?”

Sekar menoleh tajam.

“Kalau kamu masih punya tenaga untuk mengejekku, berarti kamu belum cukup kesakitan.”

Panji hampir tersenyum, tetapi urung ketika rasa nyeri kembali menyerang lengannya. Mereka meninggalkan bangunan kosong itu setelah memastikan keadaan aman. Di atas atap seberang jalan, seseorang berdiri mengamati mereka.

Pria itu mengenakan mantel gelap. Di tangannya terdapat sebuah alat kecil yang menampilkan rekaman pertarungan Panji beberapa menit sebelumnya. Ia memperbesar gambar saat energi biru menyelimuti tinju Panji.

“Jadi, dia mulai mampu memusatkan energinya,” gumamnya.

Sebuah suara terdengar dari alat komunikasi di telinganya.

“Bagaimana hasilnya?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Belum cukup kuat untuk mengancam kita. Namun, perkembangannya lebih cepat daripada perkiraan.”

“Jangan biarkan dia tumbuh tanpa pengawasan.”

“Dimengerti.”

Pria itu mematikan alat komunikasinya, lalu menatap punggung Panji yang semakin jauh.

“Berlatihlah sepuasmu, pewaris. Kami ingin melihat seberapa kuat dirimu sebelum semuanya berakhir.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 10

    Panji masih menggenggam kertas kusut itu ketika Bramantara mengambilnya kembali. “Jangan sampai pesan ini membuatmu bertindak gegabah,” ujar Bram. Panji menatapnya tajam. “Mereka menyebut namaku. Mereka tahu aku sedang berlatih, bahkan tahu soal kekuatanku. Bagaimana aku bisa diam saja?” “Dengan menggunakan kepala, bukan hanya emosi.” Panji mengembuskan napas. Ia tidak menyukai jawaban itu, tetapi ia tahu Bramantara tidak sepenuhnya salah. Sekar berdiri di samping bangku, mengamati gambar rumah kosong pada kertas tersebut. “Simbolnya sama dengan yang pernah kita temukan sebelumnya,” katanya. “Kalau dua orang sudah hilang di sana, kemungkinan tempat itu bukan sekadar rumah kosong.” “Karena itulah kita akan memeriksanya,” jawab Bramantara. “Tapi kita berangkat dengan persiapan yang cukup. Tidak ada yang bertindak sendiri.” Panji mengangguk. “Aku mengerti.” Bramantara menatapnya beberapa saat, seolah memastikan Panji benar-benar memahami peringatannya. “Dan satu hal lag

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 9

    Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 8

    Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 7

    Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 6

    Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 5

    Panji menatap rantai hitam di tangan pria yang berdiri paling depan. Ukiran pada permukaan logam itu berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat tengkuknya meremang. Sekar berdiri di sampingnya sambil menggenggam dua jimat. “Dengarkan aku. Jangan melawan rantai itu dengan energi birumu. Kalau terkena, aliran energimu bisa terganggu.” “Lalu aku harus melakukan apa?” “Jangan sampai tertangkap.” Panji mendengus. “Nasihat yang sangat membantu.” Belum sempat Sekar menjawab, pria pembawa rantai mengayunkan tangannya. Rantai itu melesat seperti ular. “Menunduk!” Sekar menarik bahu Panji. Rantai tersebut melintas di atas kepala mereka, lalu menghantam dinding hingga batu bata berhamburan. Tiga orang lain bergerak mengepung mereka. Salah satunya membawa tongkat pendek, sementara yang lain mengenakan sarung tangan hitam. “Serahkan pemuda itu,” ujar pemimpin mereka. “Kami tidak punya urusan denganmu, Sekar Ayuningtyas.” Sekar menyipitkan mata. “Kalau kalian tahu namaku, seharusnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status