LOGINCakar itu tinggal beberapa sentimeter dari leher Panji ketika sebuah benda kecil melesat dari kegelapan. Sebuah jimat merah menempel tepat di dahi makhluk tersebut.
DARRR! Tubuh makhluk itu terpental, menghantam dinding gang hingga bata-bata tua bergetar. Asap hitam mengepul dari kulit pucatnya, disertai suara geraman mengerikan. Panji terhuyung sambil memegangi lehernya. Napasnya memburu. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, seseorang melangkah keluar dari balik bayangan. Seorang gadis berjaket hitam berdiri di antara dirinya dan makhluk itu. Rambutnya diikat tinggi, sementara beberapa jimat terselip di antara jemarinya. “Kalau masih ingin hidup, mundur,” katanya tanpa menoleh. Panji mengerutkan kening. “Aku tidak butuh diperintah.” “Bagus. Berarti kamu juga tidak keberatan mati karena keras kepala.” Gadis itu mengibaskan tangannya. Dua jimat merah melesat dan menempel pada kedua sisi tubuh makhluk tersebut. Garis merah menyala, membentuk benang cahaya yang membelit kedua lengannya. Makhluk itu menjerit dan meronta. “Manusia sialan!” Energi hitam menyembur dari tubuhnya, memutus benang cahaya yang membelitnya. Dalam sekejap, ia kembali bebas dan menerjang gadis tersebut. Gadis itu menghindar, tetapi cakar lawannya tetap menyambar bahunya hingga jaketnya robek. Ia mendesis menahan sakit, lalu membalas dengan tendangan keras ke perut makhluk itu. Tubuh pucat tersebut mundur beberapa langkah. Panji memperhatikan pertarungan itu. Gerakan gadis tersebut terlatih. Setiap serangan memiliki tujuan, dan ia tahu kapan harus bertahan maupun menyerang. Sementara dirinya bahkan kesulitan berdiri tegak. “Jangan cuma menonton!” seru gadis itu. Panji tersentak. “Apa?” “Pria yang kamu selamatkan masih tergeletak di belakangmu. Bawa dia keluar dari gang!” Panji menoleh. Pria yang diserang makhluk itu masih hidup, meskipun tubuhnya terkulai lemas di dekat tumpukan kardus. Panji segera menghampirinya. “Pak, bisa mendengar saya?” Pria itu mengerang pelan. Panji menyelipkan lengan pria tersebut ke bahunya, lalu mengangkatnya. Rasa sakit menjalar dari rusuk hingga punggungnya. Ia nyaris terjatuh, tetapi tetap memaksa berjalan. Di belakangnya terdengar benturan keras. Gadis itu kembali berhadapan dengan makhluk tersebut. Ia mengeluarkan selembar jimat kuning dengan lambang hitam di tengahnya. “Segel Penahan!” Jimat itu menempel di tanah. Cahaya menyebar membentuk lingkaran, memerangkap kaki makhluk tersebut. “Sekarang!” teriak gadis itu. Panji berhasil membawa pria tersebut ke mulut gang. Ia menyandarkannya di dekat warung yang sudah tutup, kemudian menoleh. Ia seharusnya pergi. Tubuhnya sudah terlalu lemah, tetapi ketika melihat lingkaran cahaya mulai retak, Panji justru kembali berlari. “Dasar bod*h!” Gadis itu membelalakkan mata. “Kenapa kembali?” “Karena aku belum selesai!” “Dengan kondisi seperti itu, kamu bahkan tidak akan bertahan lima detik!” Makhluk tersebut memanfaatkan pertengkaran mereka. Ia menghentakkan kedua tangannya ke tanah, melepaskan gelombang energi hitam yang menghancurkan lingkaran penahan. Gadis itu terpental. Makhluk tersebut langsung mengincar Panji. “Kali ini tidak ada yang akan menyelamatkanmu!” Cakarnya menyambar dada Panji. Secara refleks, Panji mengangkat tangan, berusaha memanggil energi biru yang sebelumnya muncul ketika dirinya terdesak. Namun, tidak ada apa-apa. Hanya rasa panas yang menjalar dari telapak tangan menuju lengannya. Cakar itu semakin dekat. Panji mengatupkan gigi. Ia tidak akan sempat menghindar. Tiba-tiba, energi biru menyala tipis di sekitar telapak tangannya. Panji mendorongnya ke depan untuk menahan serangan tersebut. Benturan itu membuat tubuhnya terdorong mundur. Energi birunya bergetar, lalu pecah seperti kaca. Panji jatuh berlutut. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Makhluk itu tertawa. “Kekuatan sebesar itu, tetapi pemiliknya bahkan tidak tahu cara menggunakannya.” Ia mengangkat cakar untuk menyerang lagi. Sebuah jimat kuning melesat dan menempel di punggungnya. “Jangan meremehkan lawanmu sendiri,” ujar gadis itu dingin. Ia menarik tangannya. Jimat tersebut meledak dalam kilatan cahaya, melemparkan makhluk itu hingga menghantam dinding. Gadis itu tidak memberinya kesempatan untuk bangkit. Ia meraih tiga jimat sekaligus dan menempelkannya membentuk segitiga di udara. “Pengusiran Roh!” Ketiga jimat menyala bersamaan. Cahaya merah menyambar tubuh makhluk itu, memaksanya mundur sambil menjerit. Kulit pucatnya mulai menghitam dan terurai menjadi asap. Namun, sebelum lenyap sepenuhnya, makhluk itu menoleh kepada Panji. “Darah itu tidak akan bisa disembunyikan selamanya. Mereka akan datang untuk mengambilmu.” Asap hitamnya buyar diterpa angin malam. Gang itu mendadak sunyi. Panji masih berlutut, berusaha mengatur napas. Gadis tersebut menghampirinya sambil memegangi bahunya yang terluka. “Kamu selalu bertindak tanpa berpikir?” tanyanya. Panji mengangkat wajah. “Kamu selalu mengomel setelah menolong orang?” “Kalau orang yang kutolong terus mencari cara untuk bunuh diri, tentu saja.” Panji berusaha berdiri, tetapi lututnya kehilangan tenaga. Gadis itu refleks menangkap lengannya. “Jangan salah paham,” katanya cepat. “Aku hanya tidak mau repot menjelaskan kenapa seseorang mati di depan mataku.” Panji menarik lengannya perlahan. “Aku tidak meminta bantuanmu.” “Dan aku tidak meminta kamu kembali ke pertarungan tadi. Kita impas.” Gadis itu mengambil sebuah jimat kecil, lalu menempelkannya pada lengan Panji yang terluka. Rasa hangat menyebar di sekitar luka, meredakan nyeri meski tidak menghilangkannya sepenuhnya. Panji menatap jimat itu dengan curiga. “Apa yang kamu lakukan?” “Menghentikan pendarahan. Bukan menyembuhkanmu sepenuhnya.” “Kenapa menolongku?” Gadis itu memandang telapak tangan Panji. “Karena energi biru yang kamu miliki bukan sesuatu yang biasa. Makhluk tadi jelas diperintahkan untuk menangkapmu hidup-hidup.” Panji teringat perkataan makhluk itu sebelum menyerang. Mereka mengincarnya karena darahnya. “Siapa mereka?” “Aku belum tahu semuanya. Tapi kalau kamu terus berjalan tanpa memahami kekuatanmu, kamu akan menjadi sasaran empuk.” Panji menatapnya tajam. “Kalau begitu, ajari aku.” Gadis itu mengangkat alis. “Kamu bahkan belum tahu namaku.” “Kalau nama bisa membuatku lebih kuat, sebutkan saja.” Untuk pertama kalinya, gadis itu hampir tersenyum. “Sekar. Namaku Sekar Ayuningtyas.” “Panji.” “Aku tahu.” Panji langsung menegang. “Dari mana?” Sebelum Sekar menjawab, ia mengeluarkan sebuah lempengan hitam dari saku jaketnya. Benda itu memiliki lambang yang sama seperti simbol yang ditemukan Panji di tempat kerjanya. Lambang tersebut berdenyut samar. Wajah Sekar berubah serius. “Mereka sudah menandaimu.” “Siapa?” Sekar menatap ujung gang yang gelap. “Ordo Niskala.” Terdengar suara langkah kaki, disusul bunyi logam bergesekan. Beberapa sosok berpakaian hitam muncul di mulut gang. Salah seorang membawa rantai panjang dengan ukiran aneh di sepanjang permukaannya. Pria di barisan depan tersenyum tipis. “Bagus. Target kita sudah ditemukan.” Tatapannya beralih kepada Sekar. “Dan ternyata, kita juga mendapat bonus.” Sekar mengambil dua jimat sekaligus. “Panji,” bisiknya, “apa pun yang terjadi, jangan biarkan rantai mereka menyentuh tubuhmu.” Panji mengepalkan tangan yang masih gemetar. “Kenapa?” Pria yang membawa rantai mengayunkannya perlahan. Ukiran di sepanjang logam itu mulai menyala hitam. “Karena setelah rantai itu membelenggumu,” jawab Sekar, “kamu mungkin tidak akan bisa menggunakan energi birumu lagi.”Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu
Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K
Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah
Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi
Panji menatap rantai hitam di tangan pria yang berdiri paling depan. Ukiran pada permukaan logam itu berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat tengkuknya meremang. Sekar berdiri di sampingnya sambil menggenggam dua jimat. “Dengarkan aku. Jangan melawan rantai itu dengan energi birumu. Kalau terkena, aliran energimu bisa terganggu.” “Lalu aku harus melakukan apa?” “Jangan sampai tertangkap.” Panji mendengus. “Nasihat yang sangat membantu.” Belum sempat Sekar menjawab, pria pembawa rantai mengayunkan tangannya. Rantai itu melesat seperti ular. “Menunduk!” Sekar menarik bahu Panji. Rantai tersebut melintas di atas kepala mereka, lalu menghantam dinding hingga batu bata berhamburan. Tiga orang lain bergerak mengepung mereka. Salah satunya membawa tongkat pendek, sementara yang lain mengenakan sarung tangan hitam. “Serahkan pemuda itu,” ujar pemimpin mereka. “Kami tidak punya urusan denganmu, Sekar Ayuningtyas.” Sekar menyipitkan mata. “Kalau kalian tahu namaku, seharusnya
Cakar itu tinggal beberapa sentimeter dari leher Panji ketika sebuah benda kecil melesat dari kegelapan. Sebuah jimat merah menempel tepat di dahi makhluk tersebut. DARRR! Tubuh makhluk itu terpental, menghantam dinding gang hingga bata-bata tua bergetar. Asap hitam mengepul dari kulit pucatnya, disertai suara geraman mengerikan. Panji terhuyung sambil memegangi lehernya. Napasnya memburu. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, seseorang melangkah keluar dari balik bayangan. Seorang gadis berjaket hitam berdiri di antara dirinya dan makhluk itu. Rambutnya diikat tinggi, sementara beberapa jimat terselip di antara jemarinya. “Kalau masih ingin hidup, mundur,” katanya tanpa menoleh. Panji mengerutkan kening. “Aku tidak butuh diperintah.” “Bagus. Berarti kamu juga tidak keberatan mati karena keras kepala.” Gadis itu mengibaskan tangannya. Dua jimat merah melesat dan menempel pada kedua sisi tubuh makhluk tersebut. Garis merah menyala, membentuk benang cahaya yang membelit kedua







