Share

Bab 5

Author: Dewgirl
last update publish date: 2026-10-14 12:42:48

Panji menatap rantai hitam di tangan pria yang berdiri paling depan. Ukiran pada permukaan logam itu berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat tengkuknya meremang. Sekar berdiri di sampingnya sambil menggenggam dua jimat.

“Dengarkan aku. Jangan melawan rantai itu dengan energi birumu. Kalau terkena, aliran energimu bisa terganggu.”

“Lalu aku harus melakukan apa?”

“Jangan sampai tertangkap.”

Panji mendengus. “Nasihat yang sangat membantu.”

Belum sempat Sekar menjawab, pria pembawa rantai mengayunkan tangannya. Rantai itu melesat seperti ular.

“Menunduk!”

Sekar menarik bahu Panji. Rantai tersebut melintas di atas kepala mereka, lalu menghantam dinding hingga batu bata berhamburan. Tiga orang lain bergerak mengepung mereka. Salah satunya membawa tongkat pendek, sementara yang lain mengenakan sarung tangan hitam.

“Serahkan pemuda itu,” ujar pemimpin mereka. “Kami tidak punya urusan denganmu, Sekar Ayuningtyas.”

Sekar menyipitkan mata.

“Kalau kalian tahu namaku, seharusnya kalian tahu aku tidak pernah menyerahkan seseorang kepada pemburu seperti kalian.”

“Jangan membuat keputusan bod*h.”

“Lucu. Aku baru saja akan mengatakan hal yang sama.”

Sekar melemparkan jimat ke tanah. Cahaya merah membentuk lingkaran kecil, kemudian tali-tali energi muncul dan membelit kaki dua pemburu. Ia langsung menerjang pria bertongkat. Setelah menghindari ayunan senjatanya, Sekar menempelkan jimat ke dada lawan. Ledakan kecil membuat pria itu terhuyung.

Namun, pemburu bersarung tangan sudah bergerak ke arah Panji. Pukulan pertamanya mengarah ke wajah. Panji memiringkan kepala, lalu membalas dengan pukulan ke perut. Lawannya menangkap pergelangan tangannya dan memelintirnya. Panji mengayunkan kaki untuk melepaskan diri, kemudian mundur.

“Gerakanmu mudah dibaca,” ejek pria itu.

“Kalau begitu, berhenti melihat.”

Panji berpura-pura mengincar wajahnya. Ketika lawannya mengangkat tangan, ia mengubah arah serangan dan menghantam rusuknya. Pukulan itu mengenai sasaran. Namun, pria tersebut segera membalas dengan sikutan keras yang membuat Panji terlempar ke tumpukan kardus.

“Panji!” seru Sekar.

“Urus lawanmu sendiri!”

Panji berusaha berdiri sambil menahan sakit. Pria bersarung tangan berjalan mendekat.

“Tanpa energi biru, kamu tidak berbeda dari manusia biasa.”

Panji mengusap darah di sudut bibirnya.

“Kalau begitu, kenapa kalian repot-repot menangkapku?”

Senyum pria itu menghilang. Panji mulai memahami sesuatu. Mereka menginginkan kekuatan di dalam dirinya, dan mereka tidak ingin dirinya mati.

Saat lawannya menyerang lagi, Panji menghindar ke belakang tiang beton. Pukulan pria itu menghantam permukaan keras. Sebelum lawannya menarik tangan, Panji menendang lututnya.

Pria itu kehilangan keseimbangan. Panji menyusul dengan pukulan ke rahang hingga lawannya jatuh berlutut. Namun, kemenangan kecil itu hanya berlangsung sesaat. Rantai hitam melesat dari belakang dan melilit pinggangnya.

“Dapat satu!” seru pemimpin pemburu.

Panji mencengkeram rantai itu. Hawa dingin merambat melalui kulitnya, membuat energi biru yang sempat berdenyut di telapak tangannya mendadak padam. Ia mencoba memanggilnya lagi. Tidak ada jawaban. Pemimpin pemburu menarik rantainya. Panji terseret hingga lututnya menghantam tanah.

“Sudah kubilang jangan sampai terkena!” teriak Sekar.

“Aku juga tidak sengaja!”

Sekar hendak mendekat, tetapi dua pemburu menghadangnya.

“Jangan ikut campur. Kami hanya membutuhkan pemuda itu.”

Sekar mengeluarkan jimat terakhirnya.

“Kalau begitu, kalian harus melewatiku lebih dulu.”

Ia menghantamkan jimat ke tanah. Cahaya merah meledak, memaksa kedua pemburu mundur. Sekar menerobos celah di antara mereka, lalu melemparkan pisau kecil berbalut kertas ke arah rantai.

TANG!

Rantai bergetar, tetapi tidak putus. Pemimpinnya tertawa kecil.

“Jimat biasa tidak akan menghancurkan Rantai Pemutus Energi.”

Panji semakin lemas. Semakin kuat ia meronta, semakin dingin rantai tersebut. Ia berhenti menariknya dan memperhatikan ukiran hitam yang menyala setiap kali pemimpin pemburu menggerakkan tangan. Rantai itu mengalirkan energi dari tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda ketika pria tersebut menariknya.

Panji mencoba mengingat bagaimana ia menahan cakar makhluk sebelumnya. Saat itu, ia tidak melepaskan ledakan besar. Ia hanya memusatkan energi pada satu titik. Mungkin cara yang sama bisa berhasil sekarang.

Panji memejamkan mata, mengabaikan rasa sakit. Ia mencoba merasakan kehangatan di balik dadanya. Awalnya tidak ada apa-apa. Lalu, denyut kecil muncul di telapak tangannya.

Biru. Panji mempertahankan cahaya itu, membiarkannya berkumpul di ujung jari tanpa memaksanya meledak. Rantai tersebut bergetar. Senyum pemimpin pemburu lenyap.

“Apa yang kamu lakukan?”

Panji membuka mata. “Aku juga baru belajar.”

Ia menekan telapak tangannya ke rantai. Cahaya biru menyusup di antara ukiran hitam. Kedua energi itu bertabrakan, menghasilkan suara retakan.

KRAK!

Rantai itu tidak putus, tetapi cengkeramannya mengendur. Panji memutar tubuh dan menarik pinggangnya sekuat tenaga hingga berhasil melepaskan diri. Ia terjatuh dengan napas tersengal-sengal. Energi birunya padam kembali. Sekar langsung memanfaatkan kesempatan itu. Ia menendang tangan pemimpin pemburu hingga rantainya terlepas.

“Panji, bangun!”

Panji berusaha berdiri, tetapi pemimpin pemburu mengangkat tangan. Ukiran rantai menyala kembali, memancarkan gelombang hitam. Sekar menarik Panji menjauh.

“Cukup!” bentak pria itu. “Kita tidak perlu membawanya malam ini.”

Ia menatap Panji dengan sorot mata penuh perhitungan.

“Kamu mungkin belum bisa mengendalikan kekuatanmu, tetapi kamu sudah mampu mengganggu Rantai Pemutus Energi. Informasi itu akan sangat berguna bagi Ordo.”

Panji mengepalkan tangan.

“Kalau begitu, sampaikan juga bahwa aku tidak akan ikut dengan kalian.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Kita lihat saja nanti.”

Ia memberi isyarat kepada anak buahnya. Keempat pemburu mundur dan menghilang di balik kabut hitam. Sekar tetap waspada sampai kabut itu lenyap. Barulah ia berbalik kepada Panji.

“Kamu benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti?”

Panji menyandarkan punggung ke dinding. “Aku berhasil melepaskan diri.”

“Dan hampir pingsan setelahnya.”

“Yang penting berhasil.”

Sekar menghela napas, lalu memeriksa telapak tangan Panji yang masih gemetar.

“Tadi kamu tidak menghancurkan rantainya. Kamu mengganggu aliran energi yang membuatnya bekerja.”

“Artinya aku bisa melawan mereka?”

“Artinya kamu menemukan satu celah. Jangan menganggap kamu sudah mampu mengalahkan mereka.”

Sekar membantu Panji berdiri.

“Kalau ingin bertahan hidup, kamu harus belajar mengendalikan energi birumu. Jangan hanya mengandalkannya ketika terdesak.”

Panji terdiam. Semua lawannya memiliki kemampuan yang belum ia pahami. Jika terus bertarung tanpa persiapan, suatu hari ia mungkin tidak akan mendapat kesempatan kedua.

“Aku akan belajar,” katanya.

Sekar mengangguk. “Besok, temui aku di tempat yang akan kuberitahukan. Ada seseorang yang mungkin bisa membantumu.”

“Siapa?”

Sebelum Sekar menjawab, lempengan hitam di tangannya mendadak retak. Wajahnya berubah pucat. Tulisan merah muncul di permukaannya.

TARGET TELAH MEMPERLIHATKAN KEMAMPUAN MELAWAN RANTAI. PERINTAH BARU: TANGKAP HIDUP-HIDUP, APA PUN RISIKONYA.

Sekar menggenggam lempengan itu erat-erat. Panji membaca tulisan tersebut, lalu menatapnya.

“Sepertinya mereka belum selesai denganku.”

Sekar menatap ujung gang yang gelap.

“Bukan mereka saja, Panji.”

Ia menurunkan suaranya.

“Sekarang, orang yang jauh lebih berbahaya mungkin sudah mengetahui keberadaanmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 9

    Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 8

    Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 7

    Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 6

    Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 5

    Panji menatap rantai hitam di tangan pria yang berdiri paling depan. Ukiran pada permukaan logam itu berdenyut, memancarkan hawa dingin yang membuat tengkuknya meremang. Sekar berdiri di sampingnya sambil menggenggam dua jimat. “Dengarkan aku. Jangan melawan rantai itu dengan energi birumu. Kalau terkena, aliran energimu bisa terganggu.” “Lalu aku harus melakukan apa?” “Jangan sampai tertangkap.” Panji mendengus. “Nasihat yang sangat membantu.” Belum sempat Sekar menjawab, pria pembawa rantai mengayunkan tangannya. Rantai itu melesat seperti ular. “Menunduk!” Sekar menarik bahu Panji. Rantai tersebut melintas di atas kepala mereka, lalu menghantam dinding hingga batu bata berhamburan. Tiga orang lain bergerak mengepung mereka. Salah satunya membawa tongkat pendek, sementara yang lain mengenakan sarung tangan hitam. “Serahkan pemuda itu,” ujar pemimpin mereka. “Kami tidak punya urusan denganmu, Sekar Ayuningtyas.” Sekar menyipitkan mata. “Kalau kalian tahu namaku, seharusnya

  • Mereka Salah Memilih Mangsa   Bab 4

    Cakar itu tinggal beberapa sentimeter dari leher Panji ketika sebuah benda kecil melesat dari kegelapan. Sebuah jimat merah menempel tepat di dahi makhluk tersebut. DARRR! Tubuh makhluk itu terpental, menghantam dinding gang hingga bata-bata tua bergetar. Asap hitam mengepul dari kulit pucatnya, disertai suara geraman mengerikan. Panji terhuyung sambil memegangi lehernya. Napasnya memburu. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, seseorang melangkah keluar dari balik bayangan. Seorang gadis berjaket hitam berdiri di antara dirinya dan makhluk itu. Rambutnya diikat tinggi, sementara beberapa jimat terselip di antara jemarinya. “Kalau masih ingin hidup, mundur,” katanya tanpa menoleh. Panji mengerutkan kening. “Aku tidak butuh diperintah.” “Bagus. Berarti kamu juga tidak keberatan mati karena keras kepala.” Gadis itu mengibaskan tangannya. Dua jimat merah melesat dan menempel pada kedua sisi tubuh makhluk tersebut. Garis merah menyala, membentuk benang cahaya yang membelit kedua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status