ログインBu Ratna berdiri di depan gerbang rumah itu. Tangan tuanya menggenggam besi dingin. Satu langkah lagi ke dalam… dan ia tahu, hidupnya tidak akan sama. Di luar, ia adalah perempuan yang berjalan dengan kakinya sendiri. Di dalam… ia harus kembali menyesuaikan diri. Perlahan, gerbang itu ia dorong. Terbuka. Ia melangkah masuk. Halaman luas itu sunyi. Rapi. Terlalu rapi. Langkahnya pelan, seolah takut meninggalkan jejak. Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Seorang pelayan berdiri di sana. “Ibu… kamarnya sudah disiapkan, Nyonya.” Bu Ratna hanya mengangguk kecil. “Terima kasih…” Tapi ia tidak langsung ke kamar. “Rendy sama keluarganya di mana?” Pelayan itu menunjuk ke arah lorong. “Di kamar tamu sebelah, Bu.” Bu Ratna berjalan ke sana. Setiap langkahnya terasa berat. Ia berhen
Pintu kamar tertutup pelan.Suara langkah Rian menjauh di lorong. Lalu sunyi.Di dalam kamar itu, semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu bersih. Seprai putih tanpa lipatan, lemari tertutup rapat, lantai dingin mengilap.Mira berdiri di dekat pintu, tangannya masih memegang tas kecil. Matanya menyapu ruangan itu pelan, seolah takut menyentuh apa pun.Rendy duduk di tepi ranjang.Dio sudah rebah, kepalanya yang masih dibalut perban tenggelam di bantal empuk. Rafa tertidur di sebelahnya, napasnya pelan, tubuh kecilnya meringkuk nyaman.Anak-anak itu… terlihat damai.“Mas…” suara Mira pelan, hampir seperti bisikan. “Mbak Nita… marah ya kita ke sini?”Rendy tidak langsung menjawab.Tatapannya tertuju ke Dio. Tangannya bergerak pelan, merapikan selimut anaknya.“Iya,” jawabnya akhirnya, pendek.Mira menelan ludah.“Aku takut, Mas…”Rendy menarik napas panjang.“Kamu
Kedai mulai sepi.Kursi-kursi kosong. Sisa suara sendok yang tadi riuh kini hilang. Hanya bunyi air dari keran dan gesekan piring di bak cuci.Bu Ratna berdiri di sana.Tangannya tetap bergerak—membilas, menyusun, mengelap—tapi pikirannya jauh.Air mengalir melewati jemarinya yang memerah. Ia tidak lagi merasakan perihnya.Yang terasa hanya berat di dada.“Ratna…”Suara itu pelan.Bu Ratna menoleh.Bu Rini berdiri di dekat pintu dapur kecil, memegang lap kering.“Udah sepi,” katanya lembut. “Istirahat dulu.”Bu Ratna mengangguk kecil.“Iya, Bu…”Ia mematikan keran, mengeringkan tangan seadanya, lalu duduk di bangku kecil di sudut.Bu Rini ikut duduk di depannya.Tidak langsung bicara.Hanya memandang.“Barusan… yang datang itu menantumu, ya?” tanya Bu Rini akhirnya.Bu Ratna tersenyum tipis.“Iya…”“Cantik
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan kedai.Mesinnya masih menyala.Nita turun tanpa tergesa, tapi jelas bukan untuk sekadar lewat. Sepatu heels-nya menyentuh lantai yang sedikit basah. Ia sempat melirik sekeliling—meja kayu, kipas tua, piring bertumpuk.Lalu matanya berhenti.Bu Ratna.Sedang mengantar sepiring nasi ke pelanggan.Untuk sesaat, Nita hanya diam.“Bu…”Suara itu cukup pelan, tapi membuat Bu Ratna menoleh.Wajahnya langsung berubah.“Nita?” Ia sedikit kaget. “Ada apa sampai ke sini, Nak?”Beberapa orang di dalam kedai ikut menoleh. Suasana mendadak terasa canggung.Nita tidak suka ditatap seperti itu.Ia merapikan tas di bahunya, berusaha tetap tenang.“Kita bisa bicara di mobil aja, Bu?”Bu Ratna melirik ke dalam, ke piring-piring yang belum selesai, ke pelanggan yang masih duduk.“Tapi Ibu lagi kerja, Nit…”“Hanya
“Bu, ada tamu.”Nita mengangkat wajah dari meja kerjanya. Pensil masih di tangannya, sketsa gaun setengah jadi terbentang di depan.“Sudah datang?” tanyanya singkat.“Sudah, Bu. Di ruang depan.”Nita menarik napas sebentar, merapikan kertas-kertasnya, lalu berdiri. Tangannya sempat merapikan rambut, ekspresinya kembali tenang—profesional.Ia melangkah ke ruang tamu butik.Di sana sudah duduk sepasang calon pengantin. Perempuan muda dengan mata berbinar, laki-laki di sampingnya terlihat lebih tenang, tapi sesekali melirik sekeliling dengan kagum.Begitu melihat Nita, keduanya langsung berdiri.“Selamat siang,” sapa Nita sambil tersenyum tipis.“Siang, Mbak Nita,” jawab si perempuan, sedikit gugup. “Aku Alina, ini tunanganku, Bima.”Nita mengangguk kecil. “Silakan duduk.”Mereka kembali duduk. Nita ikut duduk di seberang, mengambil tablet di meja.“Jadi, sudah ada bayangan konse
Seminggu di rumah sakit.Hari itu, Dio boleh pulang.Perban masih melilit kepalanya. Jalannya pelan. Satu tangannya mencengkeram baju Mira.Di depan rumah sakit, mobil Rian sudah menyala. Pintu belakang terbuka.Menunggu.Rendy keluar lebih dulu. Mira menyusul sambil menggendong Rafa yang setengah tertidur. Dio berdiri di antara mereka.Mereka berhenti.Tidak ada yang langsung naik.Dio menarik baju ibunya.“Mah…” suaranya kecil.“Kita pulang ke mana?”Sunyi.Mira menutup mata sebentar. Rendy menunduk.Tidak ada jawaban.Rian turun dari mobil.Langsung mendekat.“Ke rumahku.”Singkat.Jelas.Mira langsung menggeleng.“Jangan, Mas…” suaranya pelan, tapi tegang.“Mbak Nita…”“Nggak usah, Mas,” potong Rendy.“Kita cari tempat lain aja.”“Tempat mana?” tanya Rian cepat.Rendy diam.“Kontrakan kalian sudah rata,” lanjut Rian.“Kalian mau ke mana sekarang?”Tidak ada yang menjawab.Mira memeluk Dio lebih erat.“Aku nggak enak, Mas…”“Nanti Mbak Nita—”“Aku yang urus Nita.”Nada Rian berubah







