LOGINBRAK!
Pintu kayu mahoni berukir di kamar pribadi Lily dihantam paksa hingga engselnya berderit keras.Dua orang ksatria jubah emas bermuka masinis merangsek masuk, diikuti oleh empat pengawal bersenjata lengkap.Derap langkah sepatu bot mereka yang berat seketika menghancurkan ketenangan ruangan yang beraroma mawar tersebut.Lily yang sejak tadi berdiri menatap kosong ke arah jendela luar segera membalikkan tubuhnya. Sepasang matanya menajam, kilatan panik melintas cepat sebeHari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh penjuru negeri akhirnya tiba. Puncak dari perayaan besar ini menyatukan dua takdir dalam sebuah ikatan yang sah. Sejak fajar menyingsing, atmosfer di sekitar Ibu Kota telah dipenuhi oleh kegembiraan yang meluap-luap. Seluruh rakyat Drakonia bersorak gembira, memadati tepian jalan utama yang telah dihiasi oleh kain-kain beludru merah dan emas lambang kejayaan kerajaan. Kerumunan manusia berdiri berimpitan, memenuhi jalanan dari gerbang istana hingga menuju pelataran gereja agung katedral. Mereka berkumpul sembari membawa keranjang-keranjang berisi kelopak bunga mawar putih dan melati untuk dilayangkan ke udara setiap kali rombongan kerajaan melintas. Hari ini adalah hari pernikahan Elizabeth dan Altair, dan rakyat begitu semangat menantikan kemunculan kereta kuda pengantin wanita yang selama ini menjadi buah bibir.Tak lama kemudian, suara gemuruh sorakan rakyat semakin membahana saat sebuah kereta kuda putih yang sangat megah munc
BRAK!Pintu kayu mahoni berukir di kamar pribadi Lily dihantam paksa hingga engselnya berderit keras.Dua orang ksatria jubah emas bermuka masinis merangsek masuk, diikuti oleh empat pengawal bersenjata lengkap. Derap langkah sepatu bot mereka yang berat seketika menghancurkan ketenangan ruangan yang beraroma mawar tersebut.Lily yang sejak tadi berdiri menatap kosong ke arah jendela luar segera membalikkan tubuhnya. Sepasang matanya menajam, kilatan panik melintas cepat sebelum ia berhasil menguasai ekspresi wajahnya kembali menjadi sehalus porselen."Tangkap wanita ini! Bawa penyihir Lily Gorf ke penjara bawah tanah atas perintah mutlak Putra Mahkota!" seru kepala pengawal, suaranya menggelegar tanpa kompromi."Siapa yang kalian sebut sebagai penyihir?!" bentak Lily, suaranya melengking tinggi, kehilangan seluruh kesan santun yang biasa ia pamerkan. "Lancang sekali kalian menapakkan kaki di sini! Di mana tata krama kalian terhadap calon permaisuri Eldoria?
Deg!Elizabeth membuka kedua matanya dengan sentakan kasar, seolah-olah jiwanya baru saja ditarik paksa kembali dari dasar samudra kedalaman dimensi alam bawah sadar. Dada wanita itu naik turun dengan cepat saat ia mengambil sikap duduk di atas ranjang dengan gerakan yang sangat mendadak, menghirup udara kamar sedalam-dalamnya seakan paru-parunya baru saja terbebas dari jerat kaku es yang membekukan. Seluruh persendian tubuh fisiknya terasa lemas, namun aliran darah di dalam nadinya kini mengalir dengan sangat hangat dan bertenaga."Elizabeth...?"Sebuah suara bariton yang sangat familier—namun kali ini terdengar bergetar hebat oleh kombinasi rasa syok dan keterkejutan yang luar biasa masif—terdengar memecah keheningan kamar yang temaram.Elizabeth menolehkan kepalanya perlahan ke arah samping ranjang. Di sana, di bawah pendar cahaya lilin dinding yang bergoyang pelan, ia mendapati sosok Altair sedang duduk mematung di atas kursi mahoninya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Altair langsung tanpa basa-basi, suaranya terdengar serak, sarat akan kelelahan fisik dan mental yang teramat sangat.Aleera mendongak perlahan, menatap adiknya dengan sepasang mata merah yang memancarkan keprihatinan yang mendalam. Ia mengembuskan napas panjang sebelum menjawab, "Belum ada kemajuan sedikit pun, Altair. Elizabeth masih belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Bahkan Dokter Agung yang datang memeriksa malam hari ini berkata... sebaiknya kau mulai mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk—""Dia akan baik-baik saja," potong Altair dengan suara yang sangat rendah namun penuh penegasan mutlak.Tanpa menunggu kelanjutan kalimat kakaknya, Altair melangkah lebar melewati Aleera begitu saja. Ia mendorong pintu kamar kayu ek yang tebal itu lalu menutupnya kembali dengan sentakan cepat, meninggalkan Aleera yang hanya bisa menghela napas tipis di luar koridor sunyi, meratapi keras kepalanya sang Putra Mahkota.Di dalam kam
Satu minggu telah berlalu sejak tragedi pengeboman gedung kesenian yang merenggut banyak korban jiwa, namun atmosfer di Ibu Kota Drakonia justru semakin mencekam. Penyelidikan mendalam dipimpin langsung oleh Altair dengan efisiensi yang mengerikan. Pangeran William dan Lily akhirnya diperbolehkan untuk kembali ke Eldoria setelah masa penahanan diplomatik selama satu minggu selesai. Sementara itu, di dalam kamar utama istana, Elizabeth masih belum juga tersadar dari komanya. Kondisi ini membuat seluruh penghuni istana kesulitan bernapas dengan tenang, sang Putra Mahkota Drakonia tampak seperti naga mengamuk yang siap menghancurkan satu kota jika ada satu saja hal yang berjalan di luar kendalinya.Altair berdiri tegak di depan meja kerja ek hitamnya. Sorot mata merahnya yang tajam menatap serangkaian benda magis, botol ramuan, dan dokumen bukti yang telah disusun rapi, siap untuk ia bawa ke gedung pengadilan tertinggi."Sudah diatur sesuai perintah?" tanya Al
Kegelapan yang pekat menyelimuti kesadaran Elizabeth. Di dalam dimensi abstrak alam bawah sadarnya, ruang terasa seperti hampa udara, sebuah hamparan putih tak berujung yang sunyi. Namun, ketenangan semu itu terusik oleh kepakan sayap yang berisik. Sosok Mong, makhluk sistem berbentuk kucing putih bersayap bulu, tampak terbang ke sana kemari dengan gerakan yang sangat panik. Ekornya bergoyang liar, dan mata bulatnya memancarkan kecemasan yang luar biasa besar.Elizabeth berdiri di tengah kehampaan itu, menatap tingkah laku Mong dengan kening yang terlipat bingung. "Mong, ada apa denganmu?! Berhentilah berputar-putar seperti itu, kau membuat kepalaku pening."Mong seketika menghentikan kepakan sayapnya, meluncur turun dan melayang tepat di depan wajah Elizabeth. Wajah bulat makhluk itu tampak sangat tegang."Waktu kita sudah tidak banyak lagi, Elizabeth 0092!" seru Mong dengan nada suara yang bergetar panik. "Pusat kontrol sistem baru saja mengirimkan peringatan
Amy membawa anak itu pergi, masih menoleh cemas. “Gaun Anda—”“Hanya noda tanah,” jawab Elizabeth ringan. “Aku bisa berganti setelah ini.”Ia melangkah ke depan, berdiri di balik meja besar, dan mulai berbicara tentang kebersihan, sabun, air bersih, dan masker.Suaranya tenang, jelas, dan penuh key
Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda.Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi.Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu al
Elizabeth menatap kucing di depannya dengan pikiran berkecamuk.Saat ini, iIa berada di dalam tubuh antagonis, Elizabeth Ratore. Tokoh yang sesuai jalan cerita akan melawan wanita utama, Lily Gorf, yang dikelilingi lima pria kuat dan berpengaruh.Pria pertama adalah Putra Mahkota Eldoria, William S
“Nona, kami mohon! Jangan membuat kami kesulitan dengan mencoba bunuh diri lagi!”“Aku benar-benar hanya terpeleset waktu itu! Aku tidak ingin mati kok.” Elizabeth membalas di tengah usahanya melepaskan diri dari cekalan orang-orang yang menyeretnya paksa.Namun, staminanya tetap kalah kuat dengan







