Share

Bab 2. Sebuah Perubahan

Author: nanadvelyns
last update Last Updated: 2026-02-10 10:46:44

Elizabeth menatap kucing di depannya dengan pikiran berkecamuk.

Saat ini, iIa berada di dalam tubuh antagonis, Elizabeth Ratore. Tokoh yang sesuai jalan cerita akan melawan wanita utama, Lily Gorf, yang dikelilingi lima pria kuat dan berpengaruh. 

Pria pertama adalah Putra Mahkota Eldoria, William Stuard, tunangannya saat ini. Pria kedua adalah ksatrianya sendiri, Leonel Merz. Selain itu ada kepala medis agung di istana dan kepala organisasi pembunuh bayaran yang misterius. 

Dan yang kelima adalah Putra Mahkota Kerajaan Drakonia.

Di dalam cerita, Elizabeth Ratore mati di tangan tunangannya dan pembunuh bayaran karena berusaha mencelakai Lily.

“Kalau aku mau hidup, dua orang itu harus kuhindari,” pikir Elizabeth.

Jika ia benar-benar harus membuat satu dari mereka jatuh cinta, maka ia harus memilih yang paling rasional dan paling bisa diandalkan. 

“Altair Porteiz…”

Putra Mahkota Drakonia. Setara dengan William, tetapi tidak terikat langsung dengan kebencian personal Elizabeth Ratore di awal cerita.

[Apakah Nona sudah memilih target untuk misi utama?]

Elizabeth tersenyum kecil dan menjawab, “Ya.” 

Dia sudah punya rencana.

***

“Kenapa tidak ada yang melaporkan kondisi mengkhawatirkan ini?”

Suara dokter terdengar tegang, memecah keheningan kamar luas yang kini dipenuhi beberapa pelayan dan tabib istana. 

Bau ramuan obat bercampur logam darah masih samar tercium di udara. 

Elizabeth terbaring pucat di atas ranjang besar berkanopi, napasnya tampak lebih teratur, meski wajahnya masih kehilangan warna.

Amy berdiri paling depan. Gadis itu mengepalkan jemarinya gugup sebelum akhirnya menunduk dalam. 

“Saya tidak tahu, Dokter,” jawabnya dengan suara bergetar. “Nona… Nona tidak pernah mimisan atau pingsan sebelumnya.”

Dokter mengerutkan kening. Ia hendak membuka mulut kembali, tetapi langkah kaki berat terdengar dari arah pintu. 

“Apa yang terjadi?” Suara itu berhenti tepat di ambang, diikuti nada dingin dan tegas yang membuat seluruh ruangan seketika menegang.

“Tuan Duke Ratore,” sapa mereka serempak. Tanpa perlu diperintah, mereka langsung membungkuk dalam.

Aldrich Ratore, seorang duke sekaligus kepala keluarga Ratore, berdiri tegak dengan aura yang sulit diabaikan. Rambut hitamnya disisir rapi, sorot matanya tajam dan dingin, seperti pria yang terbiasa memerintah dan ditaati. 

Pandangannya tertuju pada sosok putrinya di atas ranjang. 

“Jelaskan.”

Dokter segera maju selangkah dan menunduk hormat. “Tuan Duke… ini… saya cemas–”

“Jangan berbelit,” potong Aldrich tanpa basa-basi.

Dokter menelan ludah, lalu menunduk lebih dalam. “Nona Elizabeth terdeteksi memiliki sakit jantung kronis. Gejalanya tampaknya baru muncul dan menguat belakangan ini, sehingga pada pemeriksaan kesehatan rutin sebelumnya tidak terdeteksi.”

“Apa!?” Suara Aldrich meninggi. Ia menatap putri sulungnya yang masih tidak sadarkan diri.

Dokter melanjutkan dengan hati-hati, “Ini benar-benar sebuah anugerah bahwa Nona masih bisa bertahan hingga saat ini. Dengan tingkat sakit jantung yang diderita sekarang, setidaknya nona harus menahan rasa sakit setiap tiga jam sekali.”

“Apa… selama ini Nona menahannya agar tidak mengkhawatirkan kami semua?” Amy berucap dengan mata berkaca-kaca. “Nona…”

Aldrich tidak berkata apa-apa. Namun untuk sesaat, manik matanya bergetar.

Putrinya yang selama ini dikenal dingin, dominan, dan seolah tak tersentuh, ternyata diam-diam menanggung penderitaan sakit jantung kronis?

“Aku tidak mau tahu,” ucap Aldrich dengan nada dingin. “Dia harus sembuh.”

Tiba-tiba Elizabeth bergerak pelan. Jemarinya bergetar, lalu kelopak matanya perlahan terbuka. Kepalanya masih terasa berat, tapi  ia memaksakan untuk duduk agar bisa melihat orang-orang yang kini ada di kamarnya.

Pandangannya berhenti sesaat pada sosok pria berambut merah di ujung ranjang. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas dan sepasang matanya yang berwarna hitam pekat menatap Elizabeth tanpa emosi.

Elizabeth ingat pria itulah yang menangkapnya saat ia pingsan tadi. Sosok itu juga yang menolong Elizabeth saat dirinya terpeleset kemarin.

Leonel Merz. Ksatria pribadi Elizabeth Ratore.

Sekaligus salah satu dari lima tokoh utama yang nanti terobsesi pada pemeran utama perempuan.

“Bagaimana kondisimu?” tegur Aldrich kemudian, membuat Elizabeth menoleh ke arah sang ayah. Pria itu melangkah mendekat. “Pusing?”

Elizabeth menggeleng pelan. Ini adalah kali pertama ia bertemu langsung dengan Aldrich Ratore setelah tiga hari ia ada di sini.

Berdasarkan komik, sebenarnya hubungan ayah dan anak itu dikenal dingin dan berjarak, tapi ketika mendengar putrinya pingsan, pria itu langsung datang. Meski begitu, Elizabeth kurang tahu apa itu karena peduli, atau khawatir Elizabeth akan gagal menjadi ratu Eldoria seperti yang dicita-citakan Duke Ratore.

Tapi tidak lama, ia mendapatkan kesimpulan soal itu.

“Kalian sudah abai terhadap calon ratu di masa depan.” Suara Aldrich kembali terdengar, kali ini disertai nada amarah yang tertahan. “Bagaimana kalian akan mempertanggungjawabkan kelalaian ini?”

Semua pekerja langsung berlutut bersamaan, kepala mereka tertunduk dalam.

“Sebagai hukuman atas kelalaian kalian, aku akan–”

“Ayah….” Elizabeth memotong dengan suara lemah, tapi jelas.

Mendengar itu, Aldrich menoleh ke arah sang putri.

“Jangan hukum mereka,” kata Elizabeth perlahan. “Ini salah saya karena tidak bisa menjaga kesehatan diri sendiri. Maaf karena telah membuat Ayah cemas.”

Hening. Elizabeth yang egois itu menyelamatkan semuanya dari hukuman? Bahkan nona jahat itu meminta maaf!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 10. 'Hadiah' Untuk Sang Nona: Salah Sasaran!

    Pagi itu langit kota Limo tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Udara tidak lagi sesak oleh kecemasan, dan langkah para relawan terdengar lebih ringan. Namun di depan tenda utama tempat Elizabeth tinggal selama sepekan terakhir, derap kuda dan gemerincing zirah terdengar tegas, memecah suasana damai yang baru saja tumbuh.Prajurit berseragam keluarga bangsawannya berdiri tegap, lengkap dengan lambang yang tersemat di dada. Di belakang mereka, kereta megah berwarna putih gading menunggu, roda-rodanya bersih seolah tidak pernah menyentuh jalan berlumpur kota wabah.Elizabeth berdiri di hadapan mereka dengan wajah tenang, meski dalam hatinya ada desir kecil yang sulit diabaikan.“Ayah mengirim kalian?” tanyanya pelan.“Benar, Nona,” jawab salah satu komandan pengawal sambil menunduk hormat. “Kami diperintahkan untuk menjemput Anda kembali ke Ibu Kota hari ini juga.”Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Tidak ada pilihan untuk menunda.Elizabeth menghela napas tipis.Jadi

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 9. Dokter Agung

    Satu minggu berlalu sejak Elizabeth menginjakkan kaki di kota Limo. Angin yang dulu membawa aroma getir kematian kini perlahan berubah menjadi semilir yang lebih ringan, bercampur wangi sabun yang dibagikan ke setiap sudut pemukiman. Masker-masker kain yang dijahit para relawan menggantung di wajah warga, menggantikan tatapan panik dengan harapan yang tipis namun nyata. Tenda-tenda darurat masih berdiri, tetapi jerit kesakitan yang dulu terdengar siang dan malam kini jauh berkurang. Wabah yang semula seperti badai tak terbendung mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dikendalikan.Di dalam tenda utamanya, Elizabeth memegang sepucuk surat dengan jemari yang tetap anggun meski garis keningnya mengerut sulit. Segel keluarga bangsawannya telah dibuka. Tulisan tangan Ayahnya memenuhi lembaran itu dengan instruksi yang tegas—ia diperintahkan kembali ke Ibu Kota esok hari. Kondisi kota Limo dinilai telah membaik secara signifikan sejak sabun dan masker kain dibagikan. Keberadaannya diangga

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 8. Sakit Jantung Kronis Sang Nona

    Elizabeth membuka matanya perlahan.Langit-langit tenda yang berwarna pucat menyambut pandangannya, kainnya sedikit bergoyang tertiup angin malam. Bau obat-obatan dan kain bersih masih tercium samar. Kepalanya terasa ringan, tetapi bukan lagi berputar seperti sebelumnya—hanya menyisakan pening halus yang mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.Ia menggerakkan tangannya pelan, lalu mengambil sikap duduk dengan hati-hati.Tidak jauh dari ranjangnya, Amy berlutut di tanah dengan kedua tangan menutup wajah. Bahunya naik turun, isakan tertahan keluar dari sela-sela jemarinya.“Nona…” gumam Amy dengan suara serak, belum menyadari bahwa Elizabeth telah sadar.Elizabeth menatapnya sejenak, hatinya menghangat sekaligus terasa bersalah.“Amy,” panggilnya pelan.Amy terhenyak. Ia segera mendongak, matanya membesar ketika melihat Elizabeth duduk tegak.“Nona… Anda bangun?” Suaranya pecah. “Nona telah bangun! Nona telah bangun!”Teriakan itu langsung memanggil dua sosok yang sejak tad

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 7. Harga Darah Bangsawan Yang Rela Diberikan

    “Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar! Ini bukan ranahmu!”Suara Dokter Franz menggema tegas di dalam tenda sempit itu. Ia berdiri tegap di antara ranjang pasien dan pria berseragam medis yang baru saja masuk, wajahnya menegang oleh campuran amarah dan kecemasan. Situasi sudah cukup genting tanpa tambahan kekacauan dari seorang perawat magang yang tidak tahu diri.Kemudian, seolah baru mengingat siapa yang berada di belakangnya, Dokter Franz segera membungkuk hormat ke arah Elizabeth.“Maafkan perawat magang itu, Nona,” katanya cepat. “Saya kurang baik dalam mendisiplinkan para perawat.”Elizabeth tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang disebut sebagai perawat magang itu. Seragamnya sederhana, tidak ada tanda pangkat atau simbol khusus. Namun caranya berdiri—tegak, tenang, dan tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Dokter Franz—terlihat ganjil bagi seseorang yang konon hanya seorang magang.“Kamu yakin?” tanya Elizabeth pada dokter magang itu

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 6. Harapan di Batas Negeri

    Selesai sosialisasi mengenai cara menggunakan sabun yang benar—mulai dari membasahi tangan, menggosok sela-sela jari, hingga membilas dengan air bersih—gereja Kota Limo yang semula dipenuhi tatapan sinis kini bergemuruh oleh tepuk tangan. Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, sebagian masih ragu-ragu, namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas, kepercayaan mereka mulai tumbuh.Beberapa wajah yang tadi ketus dan meremehkan Elizabeth kini melunak. Ada yang menunduk hormat ketika pandangan mereka bertemu dengannya, ada pula yang berbisik dengan nada berbeda—bukan lagi celaan, melainkan kekaguman yang ditahan.Dokter Franz berdiri di sampingnya, ekspresi wajahnya jauh lebih ringan dibanding saat pertama menyambutnya. “Nona Ratore,” katanya dengan suara penuh hormat, “kami telah menyiapkan salah satu kastil tua milik bangsawan di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, namun masih sangat layak. Akan jauh lebih nyaman bagi Anda untuk beristirahat di sana.”Elizabeth

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 5. Wabah di Perbatasan

    Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda. Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi. Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu alkali, dan cairan kental bercampur menjadi bau asing yang tak pernah tercium di ruang bangsawan. Tangannya tidak lagi sehalus biasanya, ada kemerahan tipis di ujung jari akibat sering bersentuhan dengan bahan mentah. Namun Elizabeth tidak peduli. Setiap batang sabun yang berhasil dicetak rapi adalah satu langkah menjauh dari kematian sia-sia rakyat di perbatasan.Duke Ratore tidak mengganggunya sama sekali. Pria itu beberapa kali datang diam-diam, berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Elizabeth—putri yang selama ini hanya ia kenal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status