Share

Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa
Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa
Author: nanadvelyns

Bab 1. Tubuh Baru

Author: nanadvelyns
last update Last Updated: 2026-02-10 10:45:47

“Nona, kami mohon! Jangan membuat kami kesulitan dengan mencoba bunuh diri lagi!”

“Aku benar-benar hanya terpeleset waktu itu! Aku tidak ingin mati kok.” Elizabeth membalas di tengah usahanya melepaskan diri dari cekalan orang-orang yang menyeretnya paksa.

Namun, staminanya tetap kalah kuat dengan mereka. Pada akhirnya, Elizabeth dimasukkan ke dalam kamarnya dan dikunci dari luar. 

Dengan mata terpejam, Elizabeth menghela napas dalam-dalam.

Hari ini tepat hari ketiga ia masuk ke dunia ini–dunia komik harem dengan cerita lima pria terobsesi dengan satu wanita. Komik yang menemani saat-saat terakhir Elizabeth di rumah sakit karena penyakit jantung kronis. 

Oleh karena itu, saat ia sadar bahwa dirinya masuk ke dalam komik dan mendapatkan hidup baru, ia senang. Sampai-sampai Elizabeth melakukan semua hal yang tidak bisa ia lakukan di kehidupan sebelumnya, mulai dari lari keliling mansion, makan semua menu yang belum pernah ia coba sebelumnya, sampai hujan-hujanan seperti orang gila.

Ia merasa sangat sehat!

Namun, karena terlalu bersemangat, suatu malam Elizabeth tidak sengaja terpeleset dan jatuh ke danau sampai-sampai ia harus diselamatkan pengawal pribadinya.

Dari situlah muncul gosip bahwa sikapnya yang tiba-tiba aneh itu karena dia ingin mati.

“Di mana perempuan itu!?”

Tiba-tiba, Elizabeth mendengar sebuah teriakan dari luar kamar. Detik selanjutnya, pintu kamarnya yang semula terkunci, menjeblak terbuka.

Seorang pria melangkah masuk dengan ekspresi marah. Sosok itu berambut pirang keemasan, tampak indah di bawah cahaya matahari sore yang masuk lewat jendela. 

Namun, matanya yang biru tampak tajam dan penuh kebencian saat beradu dengan Elizabeth.

“Berhentilah berpura-pura sakit untuk mencuri perhatianku,” ucap sosok itu kemudian, dingin dengan kemarahan yang tertahan. “Atau paling tidak, berpura-puralah di saat yang tepat. Aku harus mengurus perbatasan, tapi karena drama pendekmu, Ayah sampai menyuruhku kembali untuk menjengukmu.”

Elizabeth memiringkan kepalanya dan bergumam, “Siapa….”

Tampaknya gumaman pelan itu tidak lolos dari si pria asing. Detik berikutnya, wajah pria itu menggelap. 

“Aktingmu luar biasa,” katanya dengan nada sinis. “Setelah berpura-pura gila, sekarang kau berpura-pura hilang ingatan untuk menjebakku lebih lama di sini?”

Sosok tinggi tegap itu mendekat ke ranjang, lalu mencondongkan tubuhnya. Tangannya mencengkeram dagu Elizabeth dengan kasar, memaksanya menatap mata birunya yang dipenuhi rasa jijik.

“Berhenti mempermainkanku sebelum aku benar-benar muak padamu.”

Jantung Elizabeth berdegup kencang. Ia menatap pria itu lebih saksama. Garis rahang tegas, hidung mancung, tatapan arogan yang dingin. Lalu tiba-tiba saja sebuah nama menyelinap keluar begitu saja dari bibirnya.

“William … Stuard?”

Pria itu menyeringai tipis, lalu melepas cengkeramannya dengan kasar. 

“Oh? Sekarang ingatanmu kembali?” katanya sinis. “Kalau begitu, aku anggap kau sehat.”

Usai mengatakan itu, William berbalik dan mulai melangkah pergi.

Tanpa menoleh, ia berkata dengan nada dingin yang menusuk, “Konyol sekali. Hanya karena keluarga Ratore adalah bangsawan lama, Ayahku memilih wanita licik sepertimu untuk menjadi tunanganku.”

Elizabeth masih terdiam di tempatnya.

Pria itu adalah putra mahkota kerajaan, sekaligus tunangan Elizabeth. Di cerita aslinya William memang membenci Elizabeth karena perempuan itu terus melakukan trik-trik kotor untuk mendapatkan perhatiannya, termasuk berpura-pura sakit dan menyakiti dirinya sendiri.

Bahkan Elizabeth bertekad menyakiti wanita yang dicintai William di masa depan.

Benar. Bisa dikatakan, Elizabeth adalah tokoh antagonis dalam komik ini. 

“Nona? Anda baik-baik saja.” Tak lama kemudian, seorang wanita muda masuk tergesa-gesa. Rambut cokelatnya diikat rapi, matanya dipenuhi kecemasan.

Detik berikutnya, Amy, pelayan pribadinya itu terkesiap.

“N-Nona! Hidung Anda–”

Baru kemudian Elizabeth menyadari hidungnya mengeluarkan darah. Di saat yang sama, Elizabeth merasakan sesak di dadanya, rasanya seperti diremas–membuatnya sulit bernapas.

“K-kenapa … aku merasakan ini lagi–”

[Tring! Sistem 0092 telah aktif!]

Apa?

Tubuhnya limbung. Saat ia hampir jatuh, sebuah tangan besar menangkapnya. 

Elizabeth sempat melihat rambut merah menyala dan mata hitam dingin yang menatapnya.

Lalu semuanya gelap.

Saat ia sadar, Elizabeth mendapati dirinya berdiri di atas awan putih tanpa batas. Tidak ada langit, tidak ada tanah. Hanya kehampaan luas.

[Tring!]

Tiba-tiba sebuah monitor besar muncul di hadapannya, memancarkan cahaya kebiruan. Tampak seekor kucing kecil bersayap mengepak pelan di sana.

[Halo, Nona Elizabeth 0092. Perkenalkan, aku Mong. Mentormu dalam kesempatan hidup kali ini.]

“Kesempatan hidup?” ulang Elizabeth.

Mong mengangguk. 

[Benar. Aku adalah tangan kanan Dewa yang ingin memberikanmu kesempatan hidup kedua.]

[Tapi di dunia ini, Nona tidak bisa hidup cuma-cuma. Nona memiliki misi untuk memikat paling tidak satu dari lima tokoh pria utama dan membuat mereka menyatakan cinta.]

“Tapi itu mustahil!” protes Elizabeth. Ia merengut. “Mereka membenciku!”

[Jika Nona tidak memenuhi misi yang diberikan, maka penyakit Nona akan memburuk dengan cepat.]

“Tunggu dulu,” ucap Elizabeth. “Bukankah tubuh Elizabeth sehat? Setahuku, ia tidak memiliki penyakit apa-apa.”

[Benar. Namun, selama sistem aktif dan misi utama berlangsung, Nona memiliki penyakit jantung, sama seperti Nona di kehidupan lalu.]

Apa!? Elizabeth tercekat.

Padahal sebelumnya ia sudah senang, berpikir bahwa ia bisa menggunakan tubuh ini untuk menikmati hidup, sesuatu yang tidak bisa ia lakukan di kehidupannya dulu karena ia sudah sakit sejak lahir. 

Kenapa dunia ini begitu tega padanya?

[Jangan bersedih, Nona. Nona bisa mengatasi gejalanya dengan mengerjakan misi-misi kecil di samping misi utama.]

[Jika ingin sembuh total, Nona harus menyelesaikan misi utama.]

Elizabeth terdiam. Tampaknya ia hanya punya dua pilihan; berdiam diri lalu mati seperti kehidupan pertama atau memanfaatkan sistem dan menguasai tubuh sehat Elizabeth sepenuhnya, tapi terancam mati di tangan lima pria yang membencinya.

Tapi tunggu dulu. 

Dia tahu alur cerita ini. Seharusnya … ia bisa manfaatkan hal itu, kan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 10. 'Hadiah' Untuk Sang Nona: Salah Sasaran!

    Pagi itu langit kota Limo tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Udara tidak lagi sesak oleh kecemasan, dan langkah para relawan terdengar lebih ringan. Namun di depan tenda utama tempat Elizabeth tinggal selama sepekan terakhir, derap kuda dan gemerincing zirah terdengar tegas, memecah suasana damai yang baru saja tumbuh.Prajurit berseragam keluarga bangsawannya berdiri tegap, lengkap dengan lambang yang tersemat di dada. Di belakang mereka, kereta megah berwarna putih gading menunggu, roda-rodanya bersih seolah tidak pernah menyentuh jalan berlumpur kota wabah.Elizabeth berdiri di hadapan mereka dengan wajah tenang, meski dalam hatinya ada desir kecil yang sulit diabaikan.“Ayah mengirim kalian?” tanyanya pelan.“Benar, Nona,” jawab salah satu komandan pengawal sambil menunduk hormat. “Kami diperintahkan untuk menjemput Anda kembali ke Ibu Kota hari ini juga.”Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Tidak ada pilihan untuk menunda.Elizabeth menghela napas tipis.Jadi

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 9. Dokter Agung

    Satu minggu berlalu sejak Elizabeth menginjakkan kaki di kota Limo. Angin yang dulu membawa aroma getir kematian kini perlahan berubah menjadi semilir yang lebih ringan, bercampur wangi sabun yang dibagikan ke setiap sudut pemukiman. Masker-masker kain yang dijahit para relawan menggantung di wajah warga, menggantikan tatapan panik dengan harapan yang tipis namun nyata. Tenda-tenda darurat masih berdiri, tetapi jerit kesakitan yang dulu terdengar siang dan malam kini jauh berkurang. Wabah yang semula seperti badai tak terbendung mulai menunjukkan tanda-tanda bisa dikendalikan.Di dalam tenda utamanya, Elizabeth memegang sepucuk surat dengan jemari yang tetap anggun meski garis keningnya mengerut sulit. Segel keluarga bangsawannya telah dibuka. Tulisan tangan Ayahnya memenuhi lembaran itu dengan instruksi yang tegas—ia diperintahkan kembali ke Ibu Kota esok hari. Kondisi kota Limo dinilai telah membaik secara signifikan sejak sabun dan masker kain dibagikan. Keberadaannya diangga

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 8. Sakit Jantung Kronis Sang Nona

    Elizabeth membuka matanya perlahan.Langit-langit tenda yang berwarna pucat menyambut pandangannya, kainnya sedikit bergoyang tertiup angin malam. Bau obat-obatan dan kain bersih masih tercium samar. Kepalanya terasa ringan, tetapi bukan lagi berputar seperti sebelumnya—hanya menyisakan pening halus yang mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu lalu.Ia menggerakkan tangannya pelan, lalu mengambil sikap duduk dengan hati-hati.Tidak jauh dari ranjangnya, Amy berlutut di tanah dengan kedua tangan menutup wajah. Bahunya naik turun, isakan tertahan keluar dari sela-sela jemarinya.“Nona…” gumam Amy dengan suara serak, belum menyadari bahwa Elizabeth telah sadar.Elizabeth menatapnya sejenak, hatinya menghangat sekaligus terasa bersalah.“Amy,” panggilnya pelan.Amy terhenyak. Ia segera mendongak, matanya membesar ketika melihat Elizabeth duduk tegak.“Nona… Anda bangun?” Suaranya pecah. “Nona telah bangun! Nona telah bangun!”Teriakan itu langsung memanggil dua sosok yang sejak tad

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 7. Harga Darah Bangsawan Yang Rela Diberikan

    “Apa yang kau lakukan di sini? Cepat keluar! Ini bukan ranahmu!”Suara Dokter Franz menggema tegas di dalam tenda sempit itu. Ia berdiri tegap di antara ranjang pasien dan pria berseragam medis yang baru saja masuk, wajahnya menegang oleh campuran amarah dan kecemasan. Situasi sudah cukup genting tanpa tambahan kekacauan dari seorang perawat magang yang tidak tahu diri.Kemudian, seolah baru mengingat siapa yang berada di belakangnya, Dokter Franz segera membungkuk hormat ke arah Elizabeth.“Maafkan perawat magang itu, Nona,” katanya cepat. “Saya kurang baik dalam mendisiplinkan para perawat.”Elizabeth tidak langsung menjawab. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang disebut sebagai perawat magang itu. Seragamnya sederhana, tidak ada tanda pangkat atau simbol khusus. Namun caranya berdiri—tegak, tenang, dan tidak sedikit pun terintimidasi oleh bentakan Dokter Franz—terlihat ganjil bagi seseorang yang konon hanya seorang magang.“Kamu yakin?” tanya Elizabeth pada dokter magang itu

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 6. Harapan di Batas Negeri

    Selesai sosialisasi mengenai cara menggunakan sabun yang benar—mulai dari membasahi tangan, menggosok sela-sela jari, hingga membilas dengan air bersih—gereja Kota Limo yang semula dipenuhi tatapan sinis kini bergemuruh oleh tepuk tangan. Tepuk tangan itu tidak terlalu keras, sebagian masih ragu-ragu, namun cukup untuk menunjukkan satu hal yang jelas, kepercayaan mereka mulai tumbuh.Beberapa wajah yang tadi ketus dan meremehkan Elizabeth kini melunak. Ada yang menunduk hormat ketika pandangan mereka bertemu dengannya, ada pula yang berbisik dengan nada berbeda—bukan lagi celaan, melainkan kekaguman yang ditahan.Dokter Franz berdiri di sampingnya, ekspresi wajahnya jauh lebih ringan dibanding saat pertama menyambutnya. “Nona Ratore,” katanya dengan suara penuh hormat, “kami telah menyiapkan salah satu kastil tua milik bangsawan di pinggiran kota. Tempat itu sudah lama tidak digunakan, namun masih sangat layak. Akan jauh lebih nyaman bagi Anda untuk beristirahat di sana.”Elizabeth

  • Misi Nona Jahat: Pilih Satu dari Lima Pria Penguasa   Bab 5. Wabah di Perbatasan

    Satu minggu berlalu dengan cepat, namun bagi Elizabeth, tujuh hari itu terasa padat dan nyaris tanpa jeda. Sejak pagi buta hingga larut malam, ia mengurung diri di bangunan kosong milik Duchy Ratore yang sementara dialihfungsikan sebagai tempat produksi. Di sana, aroma lemak yang dipanaskan, abu alkali, dan cairan kental bercampur menjadi bau asing yang tak pernah tercium di ruang bangsawan. Tangannya tidak lagi sehalus biasanya, ada kemerahan tipis di ujung jari akibat sering bersentuhan dengan bahan mentah. Namun Elizabeth tidak peduli. Setiap batang sabun yang berhasil dicetak rapi adalah satu langkah menjauh dari kematian sia-sia rakyat di perbatasan.Duke Ratore tidak mengganggunya sama sekali. Pria itu beberapa kali datang diam-diam, berdiri di ambang pintu, menatap putri sulungnya bekerja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Elizabeth—putri yang selama ini hanya ia kenal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status