Share

Bab 9

Author: Zhar
last update publish date: 2026-04-24 08:10:05

Budi duduk di pinggir tempat tidur, ngeliatin Rina yang udah tertidur lelap setelah nangis sampe capek. Matanya masih bengkak, pipinya basah bekas air mata. Budi angkat tubuhnya pelan ringan banget, kayak nggak ada tenaga lagi bawa ke kamarnya, taruh di kasur dengan hati-hati.

Pas mau narik tangan, Rina malah peluk lebih erat dalam tidurnya. Dia bergumam pelan, suaranya serak karena nangis lama.

“Mas Joko… jangan pergi…”

Budi diem aja, nggak gerak.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mutasi Alam Liar   Bab 14

    Mereka berdua naik ke bus antar kota yang baru saja tiba. Kursi di samping Rina sudah terisi, jadi Budi meminta tukar tempat dengan penumpang di sana. Dia membantu Rina menata barang bawaannya, lalu duduk di sebelahnya. Di seberang mereka ada dua gadis dan seorang cowok. Budi secara alami lebih memperhatikan kedua gadis itu. Mereka tampak baru saja menangis. Mata mereka merah dan wajahnya penuh ketakutan. Cowok itu tinggi kurus, mukanya penuh jerawat. Dia menghibur kedua gadis itu dengan lembut. Ketiganya kelihatan akrab, dan Budi menduga mereka kuliah bareng di universitas. “Ada apa sama bus tadi? Kok banyak darah di mana-mana?” Budi mengetuk pelan meja kecil di depan, bertanya pada cowok itu. Cowok itu menatap Budi dulu sebelum menjawab, “Tiba-tiba ada gerombolan besar burung-burung liar nyelonong ke arah bus. Untung badannya tebal dan kuat, kacanya juga tebal antipecah. Kalau enggak, kita semua bisa luka parah.” “Banyak banget? Burung

  • Mutasi Alam Liar   Bab 13

    Budi geleng kepala. “Ini karena panik. Kita liat aja nanti. Aku nyesel nggak berangkat lebih pagi.” Mereka ikut arus manusia, dorong-dorongan sampe akhirnya nyampe pasar induk Palangkaraya. Di depan ada barisan polisi bersenjata lengkap senapan otomatis, rompi anti peluru. Mereka jaga ketat, bikin orang takut tapi juga tenang. Area distribusi dibatasi tali kuning, polisi berdiri setiap 1 meter. Ada sekitar 400–500 titik kasir, tapi antrean geraknya lambat banget. Panasss… lembab… keringat netes deras. Budi nggak masalah badannya udah lebih kuat setelah latihan dan level up. Rina keliatan lemes, mukanya merah. “Gimana kalau kita maju ke depan? Coba nyelonong,” usul Budi. “Nggak bakal bisa kali,” kata Rina sambil kipas-kipas pake tangan. “Coba aja. Pegang tanganku erat.” Budi tarik tangan Rina, dorong masuk celah-celah kerumunan. Kekuatannya 1,5 kali orang biasa bikin mereka maju lebih gampang. A

  • Mutasi Alam Liar   Bab 12

    Budi fokus banget, coba analisis situasi dunia dari kata-kata presenter. Di atas kontrakan, tetangga lagi ribut keras. “Lu cuma bisa makan doang! Besok kita mati kelaparan kalau lu nggak bisa dapet beras!” suara cewek marah-marah. “Lu pikir gue apa? Supermarket kosong, pasar basah nggak ada stok, pasar grosir tutup! Besok gue coba lagi, ya?” suara cowoknya ngeluh sambil mendesah. “Lu suruh gue nunggu terus! Sampai kapan? Kita udah kehabisan beras! Gue bilang berulang kali belanja stok kemarin, lu nggak mau denger. Bilang nggak bisa cuti. Sekarang apa? Kantor lu tutup!” Brak! Suara gelas pecah, anak kecil nangis kenceng. “Ya udah! Besok gue ke pasar gelap! Gue dapetin makanan apapun harganya, puas belum? Udah diem, malu-maluin!” Suara mereka pelan-pelan reda. Dua minggu terakhir dunia berubah drastis. Berita TV dan medsos rame soal tanaman tumbuh liar, hewan mutasi,

  • Mutasi Alam Liar   Bab 11

    Malam itu Budi mutusin nggak jadi karaoke bareng Mbak Wulan. Ibu Mbak Wulan nelpon mendadak, suaranya panik, jadi Mbak Wulan buru-buru pulang meski keliatan males. Rina juga nggak pulang pasti lagi urus pemakaman Mas Joko sama keluarga atau urusan duka lainnya. Budi sendirian di kontrakan, nyalain PC buat main game, tapi jarinya nggak gerak. Pikirannya berantakan. Dada sesak, kayak ada yang nyangkut di tenggorokan. Dia pengen teriak, tapi nggak tahu kenapa. Akhirnya dia matiin PC, jalan ke ruang tamu, mulai bayangan tinju. Skill Silat-nya cuma level 4, tapi pas digabung sama Ketangkasan 12 poin sekarang, pukulannya jadi gila. Gerakan tangan cepet banget, udara berdesir. Tiap pukulan ke udara kayak ngebayangin musuh bisa bikin orang luka parah, bahkan mati kalau kena titik vital. Awalnya cuma buat lepas stres, tapi lama-lama ketagihan. Setiap gerakan penuh tenaga, badan panas, darah mengalir kenceng. Dia ngerasa hidup lagi. Bip.

  • Mutasi Alam Liar   Bab 10

    Taman Palangkaraya adalah spot hits di kota tempat kencan favorit, piknik, jogging, sampe foto-foto. Tiap musim indah: musim hujan daun hijau lebat, musim kemarau bunga-bunga mekar. Danau di tengahnya kayak permata biru, bunga teratai lagi rame berbunga. Karena cuaca aneh belakangan, air danau makin jernih, kayak safir gede di tengah taman. Hari Sabtu, taman rame banget. Pasangan mesra di rumput, keluarga piknik, anak kecil lari-larian. Budi turun dari ojek, langsung lari ke area BBQ di pinggir danau. Nggak lama, dia nemuin mereka. Kelompoknya lagi sibuk nyiapin. Pak Candra lagi oles minyak ke daging kambing, sambil ngobrol sama Mbak Lia (bagian keuangan). Mbak Wulan lagi pegang terong, taburin cabe bubuk. Mbak Lia cewek cantik di kantor: kulit putih, muka oval, mata besar. Tapi agak sombong, dingin sama cowok. Budi nggak terlalu deket sama dia, penasaran gimana Pak Candra bisa ajak dia ikut. “Aku datang tela

  • Mutasi Alam Liar   Bab 9

    Budi duduk di pinggir tempat tidur, ngeliatin Rina yang udah tertidur lelap setelah nangis sampe capek. Matanya masih bengkak, pipinya basah bekas air mata. Budi angkat tubuhnya pelan ringan banget, kayak nggak ada tenaga lagi bawa ke kamarnya, taruh di kasur dengan hati-hati. Pas mau narik tangan, Rina malah peluk lebih erat dalam tidurnya. Dia bergumam pelan, suaranya serak karena nangis lama. “Mas Joko… jangan pergi…” Budi diem aja, nggak gerak. Dada sesak. Rina lagi mimpi buruk, dan Budi cuma bisa nemenin. Pelan-pelan, tangannya ngerasa sesuatu yang lembut. Matanya tanpa sadar turun ke bawah. Rina pakai daster tipis, celananya dilepas karena kepanasan pas pulang. Pahnya yang putih mulus terbuka lebar. Tangan Budi lagi di situ kultnya halus banget, kayak kapas mahal. Budi bukan tipe orang yang manfaatin orang lagi lemah, tapi dia masih muda, darahnya masih panas. Mulutnya kering tiba-tiba. Godaan itu nyata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status