LOGINSince Clever’s family was murdered, his life has been full of misery. Now, he only wants three things: revenge, strength, and to protect his only remaining kin—his twin brother, Claver. Clever no longer knows pity. He has learned to love punishing, especially those connected to his family’s death. Prince Clever Del-Vago was once a kind and gentle man. But everything changed when his family was brutally assassinated by his father’s powerful enemies. Broken and hopeless, he almost ended his own life. But then, he discovered that his twin brother, Prince Claver, was still alive. This gave him a reason to keep living. Clever decided to take Claver away to another country for safety, and then return to seek payback. He did not want money, wealth, or property. What he wanted were lives of his father's enemies. Along the way, he met Leexiya Martinez, a girl who gave him comfort in his pain. A girl who became his fiancée and eventually became his wife. With her, Claver, and a few loyal friends by his side, Clever set out on his path of vengeance. His way of revenge was not merciful, but cruel and bloody—the same way his family had been killed. Disclaimer: This story is written in TAGLISH. Written by: LoquaciousEnigma Genre: Thriller, Romance and Action.
View More“Kamu datang ke kamarku tanpa diundang. Lalu berani ngusir tamuku,” suara Luis berat dan serak karena mabuk. “Sekarang, sebagai gantinya kamu yang muasin aku.”
Tanpa peringatan, pria itu mencium Shakira dengan brutal hingga ia terkejut.
Reflek tangan Shakira berusaha mendorong dan memukul dada Luis, namun lelaki itu justru menyentaknya hingga berbaring di atas ranjang.
“Jangan! Kumohon!”
Tapi Luis melanjutkan aksinya. Pria itu mencengkeram kuat kedua tangan Shakira lalu dengan gerakan cepat, Luis langsung membuka botol minuman berisi obat lalu menuangkannya ke mulut Shakira dengan paksa.
Shakira terbatuk-batuk dan berusaha memuntahkan, namun tangan Luis membekap mulutnya dan Shakira tidak memiliki pilihan selain menelannya.
Malam itu Luis melancarkan apa yang seharusnya didapatkan malam ini. Ia justru tertawa puas dan terus melancarkan aksinya.
Sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi membuatnya makin hilang kendali. Pengaruh alkohol mahal membuatnya tidak sadar siapa yang sedang ia sentuh tanpa rasa bersalah.
Shakira yang awalnya terus memberontak dan menangis, berubah merutuki dirinya sendiri ketika efek obat itu bekerja menguasai logika.
Dia tidak banyak melawan ketika Luis memimpin permainan. Bahkan menyentuhnya hingga titik terdalam.
Seharusnya Shakira menuruti instingnya yang sudah memperingatkan dirinya agar tidak datang ke kamar Luis Hartadi malam ini. Namun, ia mengabaikannya.
Saat ini, Luis bukan lagi pebisnis muda pewaris konglomerat Hartadi Group yang banyak dipuja para wanita karena wibawa dan kesuksesannya. Melainkan saat ini ia hanya seorang lelaki yang dikuasai alkohol.
Setelah mendapatkan dua kali pelepasan yang luar biasa, Luis terbaring pulas di ranjang, lalu terlelap.
Sementara Shakira merasa sangat kotor dan menyedihkan. Wanita itu kemudian memakai pakaiannya dengan cepat dan menatap Luis dengan ekspresi hancur.
Berbalik, Shakira keluar dari kamar itu dengan hati hancur. Kemeja kerjanya berubah kusut.
Ia ingin mengadu tapi pada siapa. Kalaupun dia mengadu, yang ada justru dirinya yang disangka perempuan murahan karena menggoda Luis lalu berbalik meminta pertanggungjawaban.
Ia berjalan menyusuri koridor hotel dengan langkah goyah, membawa luka yang tak tampak di kulit, namun menganga di dalam jiwanya.
***
Beberapa jam yang lalu …
Shakira hanyalah seorang staf Sales & Marketing di sebuah hotel bintang lima di Seminyak, Bali. Jabatan yang dulu pernah ia emban saat di Jakarta sebelum hidupnya jungkir balik karena cinta yang salah.
Ia memilih meninggalkan suaminya, Ben Danardjanto, ketika lelaki itu justru membawa kembali cinta pertamanya ke dalam rumah mereka.
Dari sebuah pernikahan kontrak yang dingin, hubungan itu tumbuh menjadi ikatan yang saling melengkapi. Namun, bagi Shakira, berbagi atap dengan wanita yang dipilih suaminya tetap terasa seperti luka yang tak pernah sembuh.
Karenanya, ia memilih pergi dan pindah ke pulau Dewata.
Hari itu, para pengusaha ternama dan investor dari berbagai kota hadir dalam forum eksklusif yang digelar di hotel tempat Shakira bekerja.
Luis Hartadi, pewaris konglomerat Hartadi Group, salah satu yang turut hadir.
Sosoknya nyaris tidak luput dari sorotan media bisnis. Itu semua karena keberhasilannya dalam mengembalikan kejayaan anak perusahaan Hartadi Group dalam waktu setahun. Selain itu, penampilannya selalu menjadi pusat perhatian dalam setiap acara formal maupun non formal.
Beberapa karyawan perempuan hotel yang bertugas di lobi saling menyikut pelan ketika melihat Luis melangkah masuk dengan percaya diri.
Setelan jas navy yang membalut tubuh tingginya, dasi warna burgundy yang pas dengan rona kulit sawo matangnya, dan tatapan mata tajam yang membuat siapa pun menunduk tanpa sadar, semua menciptakan aura yang mendominasi.
“Itu Luis Hartadi, kan?” bisik salah satu staf resepsionis pada temannya yang bertugas di concierge. “Ya Tuhan, dia lebih tampan dari fotonya di majalah bisnis!”
“Pastinya, sedingin salju,” sahut yang lain setengah terkagum. “Tapi kalau aku boleh milih bos idaman, ya dia jawabannya.”
Mereka tertawa kecil, namun buru-buru merapikan postur saat Luis melangkah menuju ruang rapat VIP.
Di antara deretan pengusaha yang hadir, Luis adalah satu-satunya yang bisa memadukan karisma, kekuatan finansial, dan pesona pribadi dalam satu paket utuh.
Shakira melirik sekilas ke arah Luis yang duduk di kursi VIP. Sekian detik pandangannya terhenti.
Ia memang tampan, tidak bisa disangkal. Wajahnya bersih, alisnya tebal dan sedikit menukik, dan senyum samarnya yang memikat. Rambut hitam legam disisir rapi ke belakang. Ketika dia menatap apapun, sesuatu seperti ikut tertarik ke dalam bola matanya.
Kepala Shakira segera menggeleng. Ia tersadar dari lamunannya.
Mengusir pikiran yang mulai melayang entah ke mana. Ia kembali fokus pada clipboard di tangannya dan mengawasi tim housekeeping yang menyambut tamu-tamu penting lainnya.
Dirinya bukan siapa-siapa. Hanya staf kontrak baru yang mencoba bertahan hidup demi seorang anak. Ia tidak mau membiarkan kekaguman yang tumbuh pada sosok Luis hartadi, membuatnya menjadi suka berkhayal tentang keindahan semu.
Dan untuk saat ini, sadar pada apa yang ia miliki jauh lebih penting.
Namun setelah rapat usai, sebuah kesalahan kecil merusak segalanya.
Luis terkejut ketika kembali ke kamar suite yang belum dibersihkan. Ruangan itu masih berantakan. Handuk basah tergeletak di lantai, gelas dan piring kotor masih di meja, dan seprei tempat tidur belum dirapikan.
Dengan suara tajam, Luis memerintahkan asistennya memanggil petugas hotel.
“Siapa yang bertanggung jawab untuk ini?! Ini pelayanan macam apa!?”
Shakira yang mendengar keributan itu segera menghampiri dan melayangkan permintaan maaf sebanyak mungkin untuk meredam kemarahan Luis.
“Maaf, Pak. Ada kesalahan dalam jadwal housekeeping. Saya—”
“Kesalahan?” Luis memotong dingin. “Ini nggak becus dan nggak professional namanya! Karyawan kayak kamu nggak pantas kerja di hotel bintang dua! Apalagi di sini!”
Kalimat itu menampar harga diri Shakira. Tapi ia diam sambil menerima hinaan itu untuk mempertahankan satu-satunya sumber mata pencaharian.
Luis menoleh tajam pada petugas lain di lorong. “Panggil manager kalian!”
Shakira tetap diam dengan kepala menunduk sambil menerima semua kemarahan itu. Karena ia tahu, dunia ini tidak sepenuhnya lembut. Justru terlalu keras untuk suara seorang karyawan baru sepertinya. Yang sama sekali tidak memiliki arti di hadapan pengaruh dan kekuasaan.
Tidak berapa lama, asisten general manager hotel tiba. Ia segera menyampaikan puluhan permintaan maaf pada Luis dan menyuruh staf housekeeping segera menyiapkan kamar baru.
“Kamu tahu, aku punya andil saham di hotel ini. Aku nggak mau hotel tempatku berinvestasi punya karyawan nggak becus kayak dia!” Tunjuknya ke Shakira, “Aku mau orang ini ….. ”
NAKARAMDAM AKO NG AWA. Parang hindi siya si Nathan. Parang nag-iba kasi ang itsura niya."I-abante mo pa siya, iho," utos ng doctor. Inilapit ako ni Ivo sa kanila. Kumuha naman ng stethoscope 'yung nurse at chineck ang heartbeat ko."Normal naman ang heartbeat niya doc," sabi nito, tumingin ulit siya sa akin, "Ahm, before we get some bloods from you, let me know if you're feeling well. Wala bang masakit sa 'yo?" Umiling ako, "Wala po, 'yung paa ko lang ang masakit.""17 above ka naman ano?" "Opo.""Kumain ka ba ng maayos at may tulog ka ba ng maayos?""M-Medyo po.""Hindi ka naman uminom ng alak kahapon, hindi ba?""Opo, hindi po.""Gamot? Uminom ka ba?""Hindi rin po.""Uminom ka na ba ng tubig?""H-Hindi pa po," nakita ko naman siyang pumunta sa isang table at kumuha ng dalawang baso ng tubig."Inumin mo 'to, kailangan maubos mo ang dalawang baso ng tubig na 'yan," tumango ako at saka uminom nang uminom."Kukuhanan na po ba natin siya, doc?" Hinarap kami ng doctor na inaasikaso ni
LEEXIYA'S POVHINDI KO MAPIGILAN ANG matulala. Iniisip ko pa rin ang nangyari kanina, kung paano kami iniligtas ni Clever sa kamatayan. Ang buong akala ko mamamatay na ako.N'ong oras na pinapipili ng lalaking nagsasalita si Clever, ang akala ko pipili talaga siya. Hindi ko pa rin mapigilan ang takot dahil may chance na hindi naman niya ako piliin, mas importante pa rin ang kapatid niya.Pero, pinili niya kaming iligtas pareho. Doon ko mas lalong nakita ang tunay niyang pagkatao, hindi niya pabababayaan ang taong naging parte sa buhay niya, naging parte na rin ako sa kaniya. Kaya mas lalong sumisidhi ang kakaibang nararamdaman ko para sa kaniya, lalo na sa binigay niyang paunang halik na nagpawala ng nerbyos ko kanina.Napatingin ako kay Claver, natutulog siya, mula kaninang pagdating namin ay hindi pa siya nagigising. Medyo nag-aalala na ako sa kaniya.Bigla namang nagbukas ang pinto kaya tiningnan ko kung sino 'yon, napaayos ako ng upo nang makita kong si Ivo 'yon."How are you feel
NAKAMULAT SI ALFONSO HABANG duguan ang kanyang leeg, tumutulo ito galing sa kaniyang bibig. Napansin nilang may tama itong baril sa kaniyang may bandang puso. Napatingin silang dalawa sa taas at nakita nila si Velasquez na may hawak hawak na baril at isang remote control."Salo! Wala ng oras!" Inihagis ni Velasquez ang remote.3 seconds.Parehong kamay ni Ivo at Clever at sumagana sa remote. Nginig na nginig ang kamay niya masalo niya ito.2 seconds."Shit shit!!!"1 second.Napaluhod si Clever. Hindi niya napigilan ang pagluha niya. He did it! Isang segundo na lang ang natitira sa bomba bago niya ito naipindot! Sorang tuwa niya!Mabilis siyang tumakbo papuntang gawi ni Alfonso para kuhanin ang susi sa pantalon niya. Agad-agad siyang tumakbo pababa sa first floor para agad na puntahan si Asher.Pumasok siya kaagad sa kwarto at hinawi ang kurtina. Nakita naman niya ang bata na pikit na pikit ang mata at mukhang nawalan ng malay. Mabilis na ginamit ni Del-Vago ang susi at agad na binuks
SINUNTOK NIYA ITO NANG malakas pero tanging paglugutok ng buto lang sa kamay niya ang nangyari. Nagsisimula ng bumilis ang tibok ng puso niya. "I-I don't wanna die...papa, h-help me.""Stop calling him papa, I'm here... y-your k-kuya... to help you," nakaramdam si Clever ng pamamasa sa kaniyang pisngi, hindi siya makapaniwalang may buhay pa sa mga kapatid niya bukod kay Claver.Bumalik ulit si Clever sa tabi ng pintuan, kinuha niya ang isang kahoy at bumalik ulit kung nasaan si Asher. "W-Why are you helping me?""I'll tell you after I unwrap those bombs on your body." Buong lakas niyang hinampas ang matigas na kahoy sa square glass, hinampas niya ito ng maraming beses pero hindi man ito nabasag kaya hindi niya napigilan ang hindi mainis at naihagis niya ang kahoy sa kung saan."ALFONSO!!!"Bumalik ulit siya sa pagsusuntok sa malaking lock nitong square glass, puno ng dugo na nanggaling sa kamay niya. Hindi niya ito tinigilan hangga't hindi siya nakakaramdam ng pagod. Napasandal siya
"WHAT? IS SHE ATE Lee?" Lumapit si Asher sa babaeng mahimbing ang tulog at hinaplos niya ito sa mukha. "I know her po papa, ito po 'yung sinasabi ko na tinulungan ko sila sa gubat n'on. And you also said na asawa po siya ng pumatay sa kuya Gino ko," sabi ni Asher sa ama niya at hinarap ito. Tumango
"AND WHO THE HELL are you?" I asked her. Tinaasan niya din ako ng kilay. Wow, palaban. Bitch. "Why are you here?" Dugtong ko."Kailangan ko pa bang sabihin sa 'yo kung bakit ako nandito? Eh, ikaw, sino ka ba?" I hate how she answered me like that. No one in this company treated me like what she was d
"YEP. AALIS KAMI NI KUYA. Sasama ka?" Sagot niya at sinabayan ako sa pagbaba sa hagdan."Saan naman kayo pupunta?" Namiss ko na rin lumabas. Huling labas ko 'yung pagtakas namin ni Claver, bigla ko tuloy namiss 'yon."Sa company namin. Hindi ko pa ba nasabi sa 'yo na ibibigay na ni kuya ko 'yon?"Umili
CLAVER'S POVSA BUHAY NATIN, wala naman tayong ibang pinipili kundi ang kasiyahan kasama ang mga kaibigan lalong lalo na ang pamilya.Aminin mo man o hindi, kahinaan mo ang pamilya mo kahit na gaano mo pa sila sinagot-sagot at kung gaano mo sila tinatakwil bilang isang magulang o isang kapatid.At kahi








![His Lasting Impression : Mafia Don Obsession [ Book 1 ]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews