My fiancé ran away, I married his father

My fiancé ran away, I married his father

last updateآخر تحديث : 2024-11-27
بواسطة:  Cristina Cristeyمكتمل
لغة: English
goodnovel16goodnovel
لا يكفي التصنيفات
185فصول
10.8Kوجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Hanna Ortiz, a free girl, now found herself bound by a promise she made to her mother on her deathbed, to marry someone she barely knew in order to fulfill an agreement that even she didn't understand. Everything seemed fine until her fiancé ran away, and his father had to take her place. Even if she wanted to give up, too much was at stake and there was someone she loved very much and needed to save. Hanna saw no other option but to accept the marriage arrangement with Morgan until her real fiancé, David, returned. Although Hanna was young, her age wasn't attractive enough for Morgan who had a promise on his back that prevented him from getting married, plus the fact that he and his entire family knew that Hanna's family suffered from a rare and destructive disease that could even deform the carrier, none of them could bear the thought of living with Hanna, before they even met her they already repudiated her for her appearance. On discovering that Morgan was repulsed by her, Hanna only intensified his anger and estrangement, making him think that she, like her past relatives, had also inherited the disease, making her a disfigured bride. Now, she is nothing more than a wife rejected by her husband, who sees her as a freak and an ambitious woman who will do anything for money. However, Hanna has far greater desires than money.

عرض المزيد

الفصل الأول

*1: marriage without a groom?

Mentari pagi belum sepenuhnya muncul di Perumahan Griya Indah, namun panas nya sudah menjalar ke seluruh tubuh Salma. Pakaian basah di tangan pun terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena air yang masih ada di pakaian basah, melainkan karena ia tahu, melangkah ke luar rumah sama saja ia bersiap menghadapi sidang terbuka di pagi hari.

Helaan nafas terdengar berat saat Salma mulai membuka pintu pagar. Ia mencoba melangkah dengan wajah sedatar mungkin. Satu per satu celana dan kemeja ia sampirkan. Namun baru saja ia menyampirkan rok, suara yang tak asing terdengar memecah keheningan.

“ Aduh…rajin sekali pagi-pagi sudah ngejemurpp Jeng “ Suara itu terdengar dari rumah sebelah

Bu Lastri, dengan daster merah muda berdiri di dekat tiang menatap Salma dengan senyuman yang sulit diartikan.

Salma menoleh dan tersenyum tipis “ Iya Bu… mumpung cuacanya lagi bagus, kan dari kemarin kalau enggak hujan ya mendung “

“ Iya bener… ngomong ngomong soal cuaca bagus. Hati Pak RT juga lagi bagus loh Jeng ”

Salma mengernyit, bingung “ Bagus kenapa Bu ? “

“ Kemarin saya liat si Hana menantu nya Pak RT, sudah lahiran Bu. Anak kedua, Loh! Padahal pernikahan nya baru genap tiga tahun. Luar biasa ya, rahimnya subur sekali “ Ucap Bu Lastri tanpa jeda

Deg

Salma tertegun sejenak. Jantungnya berdenyut lebih kencang dan dada nya bergemuruh. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. “ Alhamdulillah kalau begitu Bu. Ikut senang mendengarnya”

“Saya malah ke inget Jeng Salma. Bukan nya Jeng Salma dan anaknya Pak RT itu nikahnya lebih dulu Jeng Salma ya ? Tapi kok—”

Bu Lastri melangkah mendekat ke arah pagar pembatas, suaranya mengecil dan berbisik. “ Lebih cepet Jeng Hana ya. Apa belum ada tanda-tanda juga sampe sekarang? Nyoba di urut lah Jeng, biar cepet punya momongan. Enggak usah cape-cape ke dokter terus, toh sampe sekarang belum berhasil juga. Ini sudah tahun ke tujuh kan ?”

Perih

Itu yang Salma rasakan. Kalimat-kalimat seperti itu selalu saja bisa membuatnya kelu. Entah kenapa pagi ini sakitnya lebih terasa. “ Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Bu. Do’akan saja yang terbaik”

“ Alah berusaha jangan satu jalan saja Jeng. Di coba urut ke Mak Yati yang di Desa itu. Siapa tahu rahim ‘kering’ Jeng Salma bisa subur. Enggak kasian apa sama Mas Ferdi. Pulang kerja rumah selalu sepi macam kuburan . Jangan sampai dia ngelirik ke yang lain. Laki-laki kalau sudah cape bisa saja pakai logika nya. Pasti banyak sekali perempuan diluaran sana yang subur dan mau sama Mas Ferdi “ Cerocos Bu Lastri panjang kali lebar

Omongan tanpa jeda itu berhasil membuat Salma terdiam. Ia berusaha menahan gemuruh di dada dengan meremas ujung daster nya, tak dapat dipungkiri perkataan itu berhasil menusuk tepat ke pusat ketakutan nya sebagai istri. Tanpa kata, Salma mempercepat gerakan menjemurnya. Dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Salma menutup pintu dengan rapat, menyandarkan punggungnya, air mata yang sedari tadi ia tahan pun akhirnya jatuh satu per satu tanpa jeda. Ia menatap ruang tamu yang luas dan bersih. Benar kata Bu Lastri rumah ini sepi diselimuti sunyi yang mencekik. Tidak ada mainan yang berserakan di lantai, coretan krayon di dinding dan tidak ada suara tangisan maupun rengekan yang terdengar memecah sunyi.

Salma terduduk lesu. Ingatan nya melayang pada malam-malam panjang yang selalu ia habiskan di atas sajadah. Dalam tangisnya ia selalu memohon agar diberikan amanah itu. Berbagai usaha ia lakukan bersama sang suami, mulai dari vitamin, minuman herbal sampai prosedur medis yang menguras tabungan dan fisiknya. Namun hasil tetap sama—garis satu.

Ditengah lamunannya, terdengar langkah kaki yang menuruni anak tangga. Ferdi, suami Salma sudah rapi dengan kemeja biru dan tas ransel nya. Langkah Ferdi terhenti ketika melihat wajah sembab Salma.

“ Kamu kenapa sayang ? “ Ferdi meletakkan tas nya dan memegang bahu Salma

Salma mencoba tersenyum dan buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Enggak papa mas. Tadi kelilipan pas jemur pakaian di depan”

Ferdi tidak langsung mempercayai omongan Salma. Ia mencoba menelisik, menatap kearah jendela luar.

“ Apa karena Bu Lastri ? Dia ngomong apa lagi sama kamu ?”

“Enggak kok Mas. Aku cuma kelilipan tadi”

Ferdi menghela nafas. Menarik Salma ke dalam pelukannya.

Perasaan hangat serasa menelisik hati Salma yang sedang perih.

“ Sayang. Dengerin Mas baik-baik. Jangan pernah dengarkan omongan buruk orang lain tentang kita. Mas menikahimu karena Mas benar-benar mencintai kamu Sayang, bukan semata-mata menjadikan kamu mesin pencetak anak. Kalau ada omongan macam-macam lagi, jangan dengarkan ! Anggap saja angin lalu, mereka tidak tahu apa yang sedang kita usahakan selama ini.”

“ Tapi Mas,ibu…. Semalam ibu menanyakan hal yang sama. Ibu juga menanyakan kapan kita mau periksa ke dokter yang lain. “ Bisik Salma dalam dekapan Ferdi

Ferdi terdiam sejenak. Tekanan dari ibunya memang jauh lebih berat dari sekedar omongan tetangga.

“Soal Ibu biar Mas yang urus.” kata Ferdi tegas. “ Jangan sampai kamu stress karena tuntutan orang lain. Sekarang ayo kita sarapan. Nanti keburu dingin”

Malam harinya, apa yang dikhawatirkan Salma terjadi, Ibu mertua nya–Mayang menelpon. Mereka harus menghadiri acara makan malam rutin keluarga. Suasana meja makan terasa kaku. Selain Ferdi dan Salma, ada Rani Kakak Ferdi beserta suami dan kedua anaknya yang masih kecil.

Terlihat mereka berdua berlarian dan tertawa kecil diruang tengah, dengan setumpuk mainan yang sengaja disiapkan Bu Mayang saat mereka berkunjung.

“Aduh, anak-anak ini enggak bisa diem ya” Ucap Rani sambil melirik anak bungsu nya. “ Disuruh makan malah main, jadi berisik kan. Ma'af ya Bu”

Bu Mayang yang sejak tadi diam, tiba-tiba meletakkan sendok nya dengan suara denting yang cukup keras. Namun sorot matanya tertuju pada Salma dan Ferdi.

“ Enggak papa. Kalau ada anak-anak rumah jadi ramai. Rumah sepi itu enggak enak, pasti bosan banget. Makanya Ibu selalu bilang sama Ferdi. Jangan cuma pasrah. Usaha itu harus maksimal. Masa adik mu yang nikah belakangan sudah punya anak, kamu belum ?”

Ferdi menatap Salma sebentar.

“ Sabar Bu. Kami juga sedang berusaha. Mungkin belum waktunya saja.” Jawab Ferdi mencoba tetap tenang.

“Sabar ? Sampai kapan Ibu harus sabar nunggu? Sampai Salma masuk masa menopause? “ Suara Bu Mayang meninggi sedikit. “Ferdi, kamu itu anak laki-laki tertua di keluarga ini, Ibu ingin garis keturunan kita berlanjut. Ibu bukannya jahat sama kalian, tapi ibu juga realistis. Di keluarga kita, cucu adalah segalanya bagi kehormatan keluarga. Kalau memang ada masalah di Salma. Kalian harus mempertimbangkan cara lain.”

Salma menunduk dalam. Makanan yang ada didepannya tiba-tiba hambar, seolah berubah menjadi tumpukan pasir yang sulit ditelan. Ia seperti terdakwa di tengah keluarga Ferdi.

“ Cara lain apa maksud Ibu ?“ tanya Ferdi dengan nada yang mulai tinggi.

“ Kamu bisa menikah lagi, tanpa harus bercerai dengan Salma. Salma tetap jadi istri pertama mu. Tapi kamu juga bisa mendapatkan anak dari wanita lain yang lebih ‘subur’.” Ujar Bu Mayang tanpa beban

Suhu di Ruang Makan tiba-tiba berubah. Maya hanya pura-pura sibuk dengan anaknya, sementara Salma merasa dunia di sekitar nya runtuh saat itu juga. Hal yang ia takut kan kini terjadi. Tak sesempurna itukah dirinya, sehingga harus ada wanita lain antara dirinya dan Ferdi?

Salma menatap Ferdi, menanti jawaban sang suami dengan jantung yang berdebar. Apakah Ferdi akan goyah? Apakah cinta yang mereka bangun akan hancur karena keinginan sang Ibu ?

Ferdi meletakkan sendok dan serbetnya di meja. Ia berdiri, lalu menggenggam tangan Salma yang dingin.

“ Terimakasih banyak atas sarannya Bu, tapi Ferdi enggak akan melakukan apa yang Ibu katakan.” Suaranya terdengar rendah namun penuh penekanan. “ Salma akan menjadi satu-satunya istri Ferdi. Jika Tuhan menitipkan anak pada kami, kami akan menjaga nya. Tapi jika tidak, itu sudah menjadi takdir kami dan Ferdi akan tetap bersama Salma sampai kapanpun. Ferdi pulang dulu. Terimakasih untuk makan malam nya.”

Ferdi dan Salma keluar tanpa menoleh lagi. Sementara tangan Bu Mayang mengepal dibawah meja.

“Apa yang ingin kamu pertahankan dari wanita ‘mandul’ itu Ferdi”

Di dalam mobil, selama perjalanan pulang, Salma hanya menatap keluar kaca mobil. Ia menangis dalam diam. Hatinya hancur mendengar saran berbalut hinaan dari mertua nya.

Namun di sisi lain, ia sangat bersyukur Ferdi tidak terpengaruh oleh keinginan ibunya, Salma merasa sangat dicintai oleh laki-laki di samping nya. Salma bertekad akan berusaha lebih keras lagi, bukan untuk membungkam mulut tetangga atau memuaskan mertuanya. Tapi untuk lelaki yang rela bertahan meski ia belum bisa memberikan gelar Ayah.

Sesampainya di rumah, Salma melihat langit malam bertabur bintang. Dalam hati ia berdo’a :

“Ya Tuhan, jika memang Engkau menghendaki, berikanlah kami Amanah itu satu saja, biarkan kami merawat dan menjaganya. Tapi jika Engkau tidak menghendaki, jaga hati suamiku agar tetap menjadi rumah bagiku”

Mereka masuk dengan harapan-harapan kecil berbalut do’a. Berharap do’a yang dilangitkan sedang dirajut menjadi sebuah takdir indah.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

لا توجد تعليقات
185 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status