تسجيل الدخولHanna Ortiz, a free girl, now found herself bound by a promise she made to her mother on her deathbed, to marry someone she barely knew in order to fulfill an agreement that even she didn't understand. Everything seemed fine until her fiancé ran away, and his father had to take her place. Even if she wanted to give up, too much was at stake and there was someone she loved very much and needed to save. Hanna saw no other option but to accept the marriage arrangement with Morgan until her real fiancé, David, returned. Although Hanna was young, her age wasn't attractive enough for Morgan who had a promise on his back that prevented him from getting married, plus the fact that he and his entire family knew that Hanna's family suffered from a rare and destructive disease that could even deform the carrier, none of them could bear the thought of living with Hanna, before they even met her they already repudiated her for her appearance. On discovering that Morgan was repulsed by her, Hanna only intensified his anger and estrangement, making him think that she, like her past relatives, had also inherited the disease, making her a disfigured bride. Now, she is nothing more than a wife rejected by her husband, who sees her as a freak and an ambitious woman who will do anything for money. However, Hanna has far greater desires than money.
عرض المزيدMentari pagi belum sepenuhnya muncul di Perumahan Griya Indah, namun panas nya sudah menjalar ke seluruh tubuh Salma. Pakaian basah di tangan pun terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena air yang masih ada di pakaian basah, melainkan karena ia tahu, melangkah ke luar rumah sama saja ia bersiap menghadapi sidang terbuka di pagi hari.
Helaan nafas terdengar berat saat Salma mulai membuka pintu pagar. Ia mencoba melangkah dengan wajah sedatar mungkin. Satu per satu celana dan kemeja ia sampirkan. Namun baru saja ia menyampirkan rok, suara yang tak asing terdengar memecah keheningan. “ Aduh…rajin sekali pagi-pagi sudah ngejemurpp Jeng “ Suara itu terdengar dari rumah sebelah Bu Lastri, dengan daster merah muda berdiri di dekat tiang menatap Salma dengan senyuman yang sulit diartikan. Salma menoleh dan tersenyum tipis “ Iya Bu… mumpung cuacanya lagi bagus, kan dari kemarin kalau enggak hujan ya mendung “ “ Iya bener… ngomong ngomong soal cuaca bagus. Hati Pak RT juga lagi bagus loh Jeng ” Salma mengernyit, bingung “ Bagus kenapa Bu ? “ “ Kemarin saya liat si Hana menantu nya Pak RT, sudah lahiran Bu. Anak kedua, Loh! Padahal pernikahan nya baru genap tiga tahun. Luar biasa ya, rahimnya subur sekali “ Ucap Bu Lastri tanpa jeda Deg Salma tertegun sejenak. Jantungnya berdenyut lebih kencang dan dada nya bergemuruh. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. “ Alhamdulillah kalau begitu Bu. Ikut senang mendengarnya” “Saya malah ke inget Jeng Salma. Bukan nya Jeng Salma dan anaknya Pak RT itu nikahnya lebih dulu Jeng Salma ya ? Tapi kok—” Bu Lastri melangkah mendekat ke arah pagar pembatas, suaranya mengecil dan berbisik. “ Lebih cepet Jeng Hana ya. Apa belum ada tanda-tanda juga sampe sekarang? Nyoba di urut lah Jeng, biar cepet punya momongan. Enggak usah cape-cape ke dokter terus, toh sampe sekarang belum berhasil juga. Ini sudah tahun ke tujuh kan ?” Perih Itu yang Salma rasakan. Kalimat-kalimat seperti itu selalu saja bisa membuatnya kelu. Entah kenapa pagi ini sakitnya lebih terasa. “ Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Bu. Do’akan saja yang terbaik” “ Alah berusaha jangan satu jalan saja Jeng. Di coba urut ke Mak Yati yang di Desa itu. Siapa tahu rahim ‘kering’ Jeng Salma bisa subur. Enggak kasian apa sama Mas Ferdi. Pulang kerja rumah selalu sepi macam kuburan . Jangan sampai dia ngelirik ke yang lain. Laki-laki kalau sudah cape bisa saja pakai logika nya. Pasti banyak sekali perempuan diluaran sana yang subur dan mau sama Mas Ferdi “ Cerocos Bu Lastri panjang kali lebar Omongan tanpa jeda itu berhasil membuat Salma terdiam. Ia berusaha menahan gemuruh di dada dengan meremas ujung daster nya, tak dapat dipungkiri perkataan itu berhasil menusuk tepat ke pusat ketakutan nya sebagai istri. Tanpa kata, Salma mempercepat gerakan menjemurnya. Dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Salma menutup pintu dengan rapat, menyandarkan punggungnya, air mata yang sedari tadi ia tahan pun akhirnya jatuh satu per satu tanpa jeda. Ia menatap ruang tamu yang luas dan bersih. Benar kata Bu Lastri rumah ini sepi diselimuti sunyi yang mencekik. Tidak ada mainan yang berserakan di lantai, coretan krayon di dinding dan tidak ada suara tangisan maupun rengekan yang terdengar memecah sunyi. Salma terduduk lesu. Ingatan nya melayang pada malam-malam panjang yang selalu ia habiskan di atas sajadah. Dalam tangisnya ia selalu memohon agar diberikan amanah itu. Berbagai usaha ia lakukan bersama sang suami, mulai dari vitamin, minuman herbal sampai prosedur medis yang menguras tabungan dan fisiknya. Namun hasil tetap sama—garis satu. Ditengah lamunannya, terdengar langkah kaki yang menuruni anak tangga. Ferdi, suami Salma sudah rapi dengan kemeja biru dan tas ransel nya. Langkah Ferdi terhenti ketika melihat wajah sembab Salma. “ Kamu kenapa sayang ? “ Ferdi meletakkan tas nya dan memegang bahu Salma Salma mencoba tersenyum dan buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Enggak papa mas. Tadi kelilipan pas jemur pakaian di depan” Ferdi tidak langsung mempercayai omongan Salma. Ia mencoba menelisik, menatap kearah jendela luar. “ Apa karena Bu Lastri ? Dia ngomong apa lagi sama kamu ?” “Enggak kok Mas. Aku cuma kelilipan tadi” Ferdi menghela nafas. Menarik Salma ke dalam pelukannya. Perasaan hangat serasa menelisik hati Salma yang sedang perih. “ Sayang. Dengerin Mas baik-baik. Jangan pernah dengarkan omongan buruk orang lain tentang kita. Mas menikahimu karena Mas benar-benar mencintai kamu Sayang, bukan semata-mata menjadikan kamu mesin pencetak anak. Kalau ada omongan macam-macam lagi, jangan dengarkan ! Anggap saja angin lalu, mereka tidak tahu apa yang sedang kita usahakan selama ini.” “ Tapi Mas,ibu…. Semalam ibu menanyakan hal yang sama. Ibu juga menanyakan kapan kita mau periksa ke dokter yang lain. “ Bisik Salma dalam dekapan Ferdi Ferdi terdiam sejenak. Tekanan dari ibunya memang jauh lebih berat dari sekedar omongan tetangga. “Soal Ibu biar Mas yang urus.” kata Ferdi tegas. “ Jangan sampai kamu stress karena tuntutan orang lain. Sekarang ayo kita sarapan. Nanti keburu dingin” Malam harinya, apa yang dikhawatirkan Salma terjadi, Ibu mertua nya–Mayang menelpon. Mereka harus menghadiri acara makan malam rutin keluarga. Suasana meja makan terasa kaku. Selain Ferdi dan Salma, ada Rani Kakak Ferdi beserta suami dan kedua anaknya yang masih kecil. Terlihat mereka berdua berlarian dan tertawa kecil diruang tengah, dengan setumpuk mainan yang sengaja disiapkan Bu Mayang saat mereka berkunjung. “Aduh, anak-anak ini enggak bisa diem ya” Ucap Rani sambil melirik anak bungsu nya. “ Disuruh makan malah main, jadi berisik kan. Ma'af ya Bu” Bu Mayang yang sejak tadi diam, tiba-tiba meletakkan sendok nya dengan suara denting yang cukup keras. Namun sorot matanya tertuju pada Salma dan Ferdi. “ Enggak papa. Kalau ada anak-anak rumah jadi ramai. Rumah sepi itu enggak enak, pasti bosan banget. Makanya Ibu selalu bilang sama Ferdi. Jangan cuma pasrah. Usaha itu harus maksimal. Masa adik mu yang nikah belakangan sudah punya anak, kamu belum ?” Ferdi menatap Salma sebentar. “ Sabar Bu. Kami juga sedang berusaha. Mungkin belum waktunya saja.” Jawab Ferdi mencoba tetap tenang. “Sabar ? Sampai kapan Ibu harus sabar nunggu? Sampai Salma masuk masa menopause? “ Suara Bu Mayang meninggi sedikit. “Ferdi, kamu itu anak laki-laki tertua di keluarga ini, Ibu ingin garis keturunan kita berlanjut. Ibu bukannya jahat sama kalian, tapi ibu juga realistis. Di keluarga kita, cucu adalah segalanya bagi kehormatan keluarga. Kalau memang ada masalah di Salma. Kalian harus mempertimbangkan cara lain.” Salma menunduk dalam. Makanan yang ada didepannya tiba-tiba hambar, seolah berubah menjadi tumpukan pasir yang sulit ditelan. Ia seperti terdakwa di tengah keluarga Ferdi. “ Cara lain apa maksud Ibu ?“ tanya Ferdi dengan nada yang mulai tinggi. “ Kamu bisa menikah lagi, tanpa harus bercerai dengan Salma. Salma tetap jadi istri pertama mu. Tapi kamu juga bisa mendapatkan anak dari wanita lain yang lebih ‘subur’.” Ujar Bu Mayang tanpa beban Suhu di Ruang Makan tiba-tiba berubah. Maya hanya pura-pura sibuk dengan anaknya, sementara Salma merasa dunia di sekitar nya runtuh saat itu juga. Hal yang ia takut kan kini terjadi. Tak sesempurna itukah dirinya, sehingga harus ada wanita lain antara dirinya dan Ferdi? Salma menatap Ferdi, menanti jawaban sang suami dengan jantung yang berdebar. Apakah Ferdi akan goyah? Apakah cinta yang mereka bangun akan hancur karena keinginan sang Ibu ? Ferdi meletakkan sendok dan serbetnya di meja. Ia berdiri, lalu menggenggam tangan Salma yang dingin. “ Terimakasih banyak atas sarannya Bu, tapi Ferdi enggak akan melakukan apa yang Ibu katakan.” Suaranya terdengar rendah namun penuh penekanan. “ Salma akan menjadi satu-satunya istri Ferdi. Jika Tuhan menitipkan anak pada kami, kami akan menjaga nya. Tapi jika tidak, itu sudah menjadi takdir kami dan Ferdi akan tetap bersama Salma sampai kapanpun. Ferdi pulang dulu. Terimakasih untuk makan malam nya.” Ferdi dan Salma keluar tanpa menoleh lagi. Sementara tangan Bu Mayang mengepal dibawah meja. “Apa yang ingin kamu pertahankan dari wanita ‘mandul’ itu Ferdi” Di dalam mobil, selama perjalanan pulang, Salma hanya menatap keluar kaca mobil. Ia menangis dalam diam. Hatinya hancur mendengar saran berbalut hinaan dari mertua nya. Namun di sisi lain, ia sangat bersyukur Ferdi tidak terpengaruh oleh keinginan ibunya, Salma merasa sangat dicintai oleh laki-laki di samping nya. Salma bertekad akan berusaha lebih keras lagi, bukan untuk membungkam mulut tetangga atau memuaskan mertuanya. Tapi untuk lelaki yang rela bertahan meski ia belum bisa memberikan gelar Ayah. Sesampainya di rumah, Salma melihat langit malam bertabur bintang. Dalam hati ia berdo’a : “Ya Tuhan, jika memang Engkau menghendaki, berikanlah kami Amanah itu satu saja, biarkan kami merawat dan menjaganya. Tapi jika Engkau tidak menghendaki, jaga hati suamiku agar tetap menjadi rumah bagiku” Mereka masuk dengan harapan-harapan kecil berbalut do’a. Berharap do’a yang dilangitkan sedang dirajut menjadi sebuah takdir indah.Chapter 186: The Dream of the BeginningThe day of the trip had finally arrived. Hanna would return with her entire family, along with Morgan's family, and, most importantly, Lory, who absolutely did not want to miss this moment.It was still morning when the suitcases were being brought and placed in two cars, but there was still someone who would be traveling with them. Even after all the intrigue, Davis was there. He couldn’t even look Hanna in the eye—not out of disrespect, but after the numerous times he had been to prison and appeared in the newspapers, his dignity was completely shattered; he only had respect left.Rudan, on the other hand, had distanced himself from Davis, maintaining only a friendly relationship, but he still showed up. He parked in front of the Farrugia mansion, but before entering, something caught his attention.He got out of the car and walked toward the woman sitting on a step across the way, in front of the Farrugia mansion."Don't you ever get tired of
Chapter 185: Back to Me"Are you drunk? You already know that I don’t love you anymore, not after you let me be taken by that bastard.""I didn’t think it would get worse. I gave you to him to save you from something worse, but Davis was an idiot...""So letting me go was the only way you found to protect me? Seriously?" she asked skeptically, with teary eyes."At that moment?" He sighed heavily, staring at the ceiling while she rested against his chest. "I was stuck in a wheelchair, couldn’t do anything for you, I didn’t even know if I’d be able to walk again..." he confessed. "Back then, you couldn’t even fight for yourself, not without resources. But money isn’t everything, Hanna. What do you plan to do? Live your whole life alone while our son needs a father figure? When he grows up, he’ll miss me and wish I was around, and I want to be a present father and husband. Just let me do that.""Why?" Hanna muttered indignantly, hitting his chest. He just held her in his arms."Like it o
Cap. 184: A Real Dream"What’s going on?" Gabriel asked as Hanna ran back."Where is he? How could they have disappeared?" she asked desperately, looking to her grandmothers, who were clearing their throats. "You!" she pointed accusingly at the two ladies."But... what do they have to do with it?" Gabriel asked, concerned, heading toward the bedroom."They were acting strange, they were the last ones to enter the room. I left both of them sleeping, and now I’ve lost them..." Hanna muttered, lamenting."No..." Gabriel sighed thoughtfully as he heard the lullaby. "They’re still here, I can hear the crib’s music. They must have moved them somewhere else." Gabriel figured it out as he analyzed where the sound was coming from, then opened the bedroom door, freezing before entering.When Hanna got closer, she almost stumbled backward in shock."How? Is this a dream?" she asked confused as she saw Morgan lying on the bed, sleeping with the newborn baby resting on his chest and his son beside
Chapter 183: Kidnapping Morgan?The two elderly women watched the man with curiosity."What are we going to do? I'm sure it's him, right?" Heydi asked, while Ruby looked around as if she was about to do something suspicious."It's definitely him, and it's clear he's suffering because of that stubborn girl," Ruby said."I've got an idea!" Heydi exclaimed, smiling slyly at Ruby."What crazy scheme is your mind coming up with now? It's already bad enough that we're in a bar," Ruby said, and then she pointed at Morgan, who was unconscious at the bar. He was still mumbling something.They listened carefully and realized he was lamenting something, the death of someone. They kept listening and discovered it was because of his son's death, which made Heydi even more determined to carry out her plan.The two women helped Morgan to his feet, though they nearly collapsed under his weight. They didn’t have the strength to lift such a large man, but they managed to drag him out of the bar, despit
Chapter 171: Astute and Restless“He’s already dead; I just want to ease his suffering. Haven’t you thought, at some point, that you’re merely delaying the inevitable?” she asked maliciously, her eyes glinting with pleasure at Morgan’s torment.Morgan averted his gaze, her words echoing in his mind. H
Cap. 175: Lie and TruthDavis smiled nervously, casting a quick glance at Rudan. He then sat down, straightened his posture, and searched for the right words. This moment was crucial, and he knew deceiving Morgan would be nearly impossible."What if... I told you Hanna was pregnant?" Davis ventured, h
Cap. 174: Annulled Marriage?"Dr. Johnson said he performed the surgery, even though the doctors can't identify the woman who actually did it. And you said you encountered her before all this happened, which means you got involved with the person who saved your son's life!" Oliver explained, his voic
Cap. 176: Until I Find YouGabriel left the company with quick steps, his mind consumed by a single concern: Haniel. He headed to the hospital, a knot forming in his throat. He had a mission to complete, another request from Hanna. Since she came back, he hadn’t stopped, trying to put everything in p


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.