Share

LS 48. Satu Ranjang

Penulis: Ziya_Khan21
last update Tanggal publikasi: 2026-02-09 08:00:51

Kazuki tertawa kecil melihat ekspresi. “Tuan Steven, Anda melakukan pekerjaan Anda dengan baik. Proposal Anda kuat. Angka-angkanya bagus. Tapi di Jepang yy… hal seperti itu hanya setengah dari keputusan.”

Ia menatap Liora lagi.

“Ketulusan jauh lebih penting.”

Liora merasa dadanya hangat, seolah ada sesuatu yang menyenggol hatinya.

Kazuki menambahkan, “Ibu saya adalah pengrajin rajut tradisional terakhir di keluarga kami. Rajutannya mewakili masa lalu dan bu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (11)
goodnovel comment avatar
Ayruw
hahaha..haaah... manut waelah ama perdebatan kalian...
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Batasan bantal hanya berguna kalau belum tertidur pulas....kalau sudah pulas tertidur semuanya pasti. bablas ....he.....he...he
goodnovel comment avatar
RirinZ
tiada hari tanpa berdebat mereka ini.. lagi sok sok an nggak tertarik, awas kamu STEV kalo suatu waktu justru kebalikannya ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 155. Hidup Berbahagia

    Satu tahun kemudianSore itu, sebuah gedung mewah di pusat kota tampak begitu megah dan bercahaya. Dinding kaca tinggi memantulkan sinar matahari senja yang keemasan, sementara lampu kristal besar di dalamnya sudah dinyalakan, menciptakan suasana elegan yang memukau siapa pun yang datang.Di depan pintu masuk, karpet merah terbentang panjang. Para tamu berdatangan dengan gaun dan setelan terbaik mereka, disambut oleh pelayan yang berdiri rapi di kedua sisi pintu. Nama besar acara itu terpampang jelas, peluncuran kolaborasi teknologi Theodore Technology dan koleksi terbaru dari Liora.Namun hari itu juga memiliki arti yang lebih dalam.Hari itu adalah ulang tahun pertama Alex Theodore.Di dalam ballroom utama, dekorasi mewah berpadu dengan nuansa hangat keluarga. Bunga-bunga segar tersusun indah di setiap sudut, lampu gantung kristal berkilauan di atas, dan panggung runway dibangun memanjang di tengah ruangan dengan pencahayaan profesional yang menyorot setiap langkah model.Liora berd

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS. 154. Welcome to Our Home, Alex

    Hari itu akhirnya tiba.Setelah beberapa hari di rumah sakit, Liora sudah diperbolehkan pulang.Mobil berhenti perlahan di depan rumah mereka, rumah yang kini terasa berbeda. Bukan lagi hanya milik Steven dan Liora.Tapi juga milik seseorang yang baru. Steven turun lebih dulu, lalu bergegas membuka pintu untuk Liora.“Hati-hati,” katanya lembut.Liora mengangguk pelan.Di pelukannya, bayi kecil itu terbungkus selimut lembut, tertidur dengan damai. Wajahnya begitu tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak ada artinya.Steven memperhatikan sejenak, lalu tersenyum.“Mari masuk,” katanya.Dengan langkah perlahan, mereka memasuki rumah. Suasana terasa hangat, tenang, dan penuh makna.Liora tidak langsung berhenti di ruang tamu. Langkahnya justru menuju satu tempat yang sudah lama mereka siapkan.Kamar bayi.Pintu itu terbuka perlahan.Cat putih yang dulu mereka lukis bersama masih terlihat bersih dan lembut. Hiasan kecil di dinding, tirai tipis, serta perabotan yang sudah mereka pilih denga

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 153. Hari Lahirnya

    Siang itu rumah terasa tenang. Liora duduk di ruang kerjanya, beberapa lembar sketsa gaun tersebar di meja. Pensil di tangannya bergerak perlahan, membentuk detail demi detail desain yang ia bayangkan. Chelsea duduk tidak jauh darinya, menikmati camilan sambil sesekali melirik. “Kau tidak pernah berhenti ya,” gumam Chelsea. Liora tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan. “Kalau ide datang, aku tidak bisa menundanya.” Namun beberapa detik kemudian gerakan tangannya terhenti.bAlisnya sedikit berkerut. Tangannya perlahan berpindah ke perutnya. Chelsea langsung menyadari perubahan itu. “Liora?” Liora menarik napas pelan. “Sepertinya… perutku agak mules.” Chelsea langsung duduk tegak. “Mules biasa atau—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Liora kembali meringis. Kali ini lebih jelas. “Ah…” Liora memejamkan mata sejenak. Chelsea langsung berdiri. “Sejak kapan?” “Sejak malam… tapi…” Liora menggenggam meja, “rasanya… lebih kuat dari biasanya.” Beberapa detik

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 152. Bekerja sama

    Pagi itu terasa tenang.Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, menyinari meja yang sudah tertata rapi dengan sarapan hangat. Liora duduk di salah satu kursi, perlahan memotong roti di piringnya, sementara Steven menuangkan segelas susu untuknya.“Kau harus minum ini,” katanya.Liora tersenyum kecil. “Aku tahu.”Steven duduk di seberangnya. Untuk beberapa saat, mereka hanya makan dalam diam, menikmati suasana pagi yang damai setelah hari penuh kebahagiaan kemarin.Namun ada sesuatu yang masih mengganjal di pikiran Liora.Ia menatap Steven sejenak sebelum akhirnya membuka suara.“Steven…”Steven mengangkat pandangannya. “Ya?”Liora ragu sebentar, lalu berkata pelan, “Sampai kapan kau akan menjaga jarak dengan orang tuamu?”Sendok di tangan Steven berhenti. Beberapa detik hening. Ia tidak langsung menjawab.Liora tidak mendesak, hanya menunggu.Akhirnya Steven menarik napas pelan, lalu meletakkan sendoknya.“Mereka tidak berhak masuk ke dalam hidup kita lagi,” katanya da

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 151. Semua Bahagia

    Steven langsung menoleh padanya, matanya penuh emosi.Tanpa ragu, ia berjalan menghampiri Liora.Namun sebelum sampai, ia tiba-tiba melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.Steven membuka kancing kemeja pink yang ia kenakan.Satu per satu.Chelsea langsung membelalakkan mata. “Eh?!”“Steven?” panggil Liora, bingung.Namun Steven tidak berhenti, ia melepaskan kemeja pink itu dan melemparkannya ke samping.Di baliknya ia sudah mengenakan kaos berwarna biru. Semua orang langsung terdiam sejenak. Lalu tawa dan sorakan kembali pecah.Chelsea menepuk tangan. “Astaga! Kau sudah menyiapkan itu?!”John bahkan menggeleng sambil tersenyum. “Strategi yang bagus, Tuan.”Steven hanya tersenyum kecil, lalu mendekati Liora.“Sepertinya aku sudah tahu jawabannya sejak awal,” katanya pelan.Liora tertawa di tengah air matanya. “Kau curang…”Steven mengangkat bahu ringan. “Aku hanya… berharap.”Liora menatapnya, hatinya penuh.“Anak laki-laki…” ulangnya pelan.Steven mengangguk, lalu berlutu

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 150. Gender Reveal Party

    Saat pintu lift tertutup, Steven melirik Liora yang kini tampak lebih santai.“Kita cari tempat yang nyaman,” katanya.Liora mengangguk. “Dan tidak terlalu ramai.”Steven langsung mengiyakan. “Tentu.”Lift turun perlahan.Di antara keheningan singkat itu, Liora tiba-tiba tersenyum sendiri.Steven memperhatikannya. “Apa?”Liora menggeleng kecil. “Tidak apa-apa…”Namun beberapa detik kemudian ia berkata, “Aku hanya berpikir… dulu kita tidak pernah membayangkan akan seperti ini.”Steven terdiam.Liora menatap ke depan, tangannya kembali menyentuh perutnya.“Makan siang bersama setelah cek kandungan… memilih makanan karena bayi…” ia tersenyum tipis. “Sederhana, tapi terasa sangat berarti.”Steven menatapnya dalam.Lalu tanpa banyak kata, ia menggenggam tangan Liora.Erat.“Ini baru awal,” katanya pelan.Liora menoleh, tersenyum.“Iya.”Mereka akhirnya sampai di area parkiran rumah sakit.Steven membuka pintu mobil lebih dulu, lalu membantu Liora masuk dengan hati-hati sebelum ia sendiri d

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 96. Steven ke Luar Kota

    Di ujung jalan, terdengar suara gitar dipetik dengan ritme ceria, diikuti tepukan cajon dan harmoni suara anak-anak muda yang bernyanyi bersama. Kerumunan kecil terlihat berkumpul membentuk setengah lingkaran.“Ada pertunjukan kecil,” ujar Liora penasaran.Steven mengangguk. “Se

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 7. Nyaris Saja

    Setelah mie mereka habis, keduanya keluar dari minimarket. Udara malam London menusuk, membuat napas tampak seperti asap tipis. Liora merapatkan coat-nya, siap pulang dan melupakan kejadian absurd itu, ketika suara pintu otomatis minimarket berbunyi lagi di belakangnya. Steven muncul dengan dua co

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 6. Traktir Makan

    Degup jantung Liora menari kacau. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kesadarannya kembali, dan Liora langsung mendorong dada Steven dengan kedua tangannya. “Jangan cari kesempatan!” seru Liora, wajahnya memerah bukan karena malu, tetapi karena marah. “Aku tidak ingin disentuh.” Steven mundur seteng

  • NIKAH KONTRAK: Tuan Mantan, JANGAN BAPER!   LS 5. Persiapan Pernikahan

    Pagi itu butik Liora sudah ramai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh. Tumpukan kain baru datang, dua pelanggan meminta penjahitan cepat, dan di sudut lain ponselnya tak berhenti bergetar. Ia menahan napas panjang, menyelipkan pensil di belakang telinga, lalu mengangkat telepon yang sejak t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status