เข้าสู่ระบบKazuki tertawa kecil melihat ekspresi. “Tuan Steven, Anda melakukan pekerjaan Anda dengan baik. Proposal Anda kuat. Angka-angkanya bagus. Tapi di Jepang yy… hal seperti itu hanya setengah dari keputusan.”
Ia menatap Liora lagi.“Ketulusan jauh lebih penting.”Liora merasa dadanya hangat, seolah ada sesuatu yang menyenggol hatinya.Kazuki menambahkan, “Ibu saya adalah pengrajin rajut tradisional terakhir di keluarga kami. Rajutannya mewakili masa lalu dan buSatu tahun kemudianSore itu, sebuah gedung mewah di pusat kota tampak begitu megah dan bercahaya. Dinding kaca tinggi memantulkan sinar matahari senja yang keemasan, sementara lampu kristal besar di dalamnya sudah dinyalakan, menciptakan suasana elegan yang memukau siapa pun yang datang.Di depan pintu masuk, karpet merah terbentang panjang. Para tamu berdatangan dengan gaun dan setelan terbaik mereka, disambut oleh pelayan yang berdiri rapi di kedua sisi pintu. Nama besar acara itu terpampang jelas, peluncuran kolaborasi teknologi Theodore Technology dan koleksi terbaru dari Liora.Namun hari itu juga memiliki arti yang lebih dalam.Hari itu adalah ulang tahun pertama Alex Theodore.Di dalam ballroom utama, dekorasi mewah berpadu dengan nuansa hangat keluarga. Bunga-bunga segar tersusun indah di setiap sudut, lampu gantung kristal berkilauan di atas, dan panggung runway dibangun memanjang di tengah ruangan dengan pencahayaan profesional yang menyorot setiap langkah model.Liora berd
Hari itu akhirnya tiba.Setelah beberapa hari di rumah sakit, Liora sudah diperbolehkan pulang.Mobil berhenti perlahan di depan rumah mereka, rumah yang kini terasa berbeda. Bukan lagi hanya milik Steven dan Liora.Tapi juga milik seseorang yang baru. Steven turun lebih dulu, lalu bergegas membuka pintu untuk Liora.“Hati-hati,” katanya lembut.Liora mengangguk pelan.Di pelukannya, bayi kecil itu terbungkus selimut lembut, tertidur dengan damai. Wajahnya begitu tenang, seolah dunia di sekitarnya tidak ada artinya.Steven memperhatikan sejenak, lalu tersenyum.“Mari masuk,” katanya.Dengan langkah perlahan, mereka memasuki rumah. Suasana terasa hangat, tenang, dan penuh makna.Liora tidak langsung berhenti di ruang tamu. Langkahnya justru menuju satu tempat yang sudah lama mereka siapkan.Kamar bayi.Pintu itu terbuka perlahan.Cat putih yang dulu mereka lukis bersama masih terlihat bersih dan lembut. Hiasan kecil di dinding, tirai tipis, serta perabotan yang sudah mereka pilih denga
Siang itu rumah terasa tenang. Liora duduk di ruang kerjanya, beberapa lembar sketsa gaun tersebar di meja. Pensil di tangannya bergerak perlahan, membentuk detail demi detail desain yang ia bayangkan. Chelsea duduk tidak jauh darinya, menikmati camilan sambil sesekali melirik. “Kau tidak pernah berhenti ya,” gumam Chelsea. Liora tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan. “Kalau ide datang, aku tidak bisa menundanya.” Namun beberapa detik kemudian gerakan tangannya terhenti.bAlisnya sedikit berkerut. Tangannya perlahan berpindah ke perutnya. Chelsea langsung menyadari perubahan itu. “Liora?” Liora menarik napas pelan. “Sepertinya… perutku agak mules.” Chelsea langsung duduk tegak. “Mules biasa atau—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Liora kembali meringis. Kali ini lebih jelas. “Ah…” Liora memejamkan mata sejenak. Chelsea langsung berdiri. “Sejak kapan?” “Sejak malam… tapi…” Liora menggenggam meja, “rasanya… lebih kuat dari biasanya.” Beberapa detik
Pagi itu terasa tenang.Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, menyinari meja yang sudah tertata rapi dengan sarapan hangat. Liora duduk di salah satu kursi, perlahan memotong roti di piringnya, sementara Steven menuangkan segelas susu untuknya.“Kau harus minum ini,” katanya.Liora tersenyum kecil. “Aku tahu.”Steven duduk di seberangnya. Untuk beberapa saat, mereka hanya makan dalam diam, menikmati suasana pagi yang damai setelah hari penuh kebahagiaan kemarin.Namun ada sesuatu yang masih mengganjal di pikiran Liora.Ia menatap Steven sejenak sebelum akhirnya membuka suara.“Steven…”Steven mengangkat pandangannya. “Ya?”Liora ragu sebentar, lalu berkata pelan, “Sampai kapan kau akan menjaga jarak dengan orang tuamu?”Sendok di tangan Steven berhenti. Beberapa detik hening. Ia tidak langsung menjawab.Liora tidak mendesak, hanya menunggu.Akhirnya Steven menarik napas pelan, lalu meletakkan sendoknya.“Mereka tidak berhak masuk ke dalam hidup kita lagi,” katanya da
Steven langsung menoleh padanya, matanya penuh emosi.Tanpa ragu, ia berjalan menghampiri Liora.Namun sebelum sampai, ia tiba-tiba melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.Steven membuka kancing kemeja pink yang ia kenakan.Satu per satu.Chelsea langsung membelalakkan mata. “Eh?!”“Steven?” panggil Liora, bingung.Namun Steven tidak berhenti, ia melepaskan kemeja pink itu dan melemparkannya ke samping.Di baliknya ia sudah mengenakan kaos berwarna biru. Semua orang langsung terdiam sejenak. Lalu tawa dan sorakan kembali pecah.Chelsea menepuk tangan. “Astaga! Kau sudah menyiapkan itu?!”John bahkan menggeleng sambil tersenyum. “Strategi yang bagus, Tuan.”Steven hanya tersenyum kecil, lalu mendekati Liora.“Sepertinya aku sudah tahu jawabannya sejak awal,” katanya pelan.Liora tertawa di tengah air matanya. “Kau curang…”Steven mengangkat bahu ringan. “Aku hanya… berharap.”Liora menatapnya, hatinya penuh.“Anak laki-laki…” ulangnya pelan.Steven mengangguk, lalu berlutu
Saat pintu lift tertutup, Steven melirik Liora yang kini tampak lebih santai.“Kita cari tempat yang nyaman,” katanya.Liora mengangguk. “Dan tidak terlalu ramai.”Steven langsung mengiyakan. “Tentu.”Lift turun perlahan.Di antara keheningan singkat itu, Liora tiba-tiba tersenyum sendiri.Steven memperhatikannya. “Apa?”Liora menggeleng kecil. “Tidak apa-apa…”Namun beberapa detik kemudian ia berkata, “Aku hanya berpikir… dulu kita tidak pernah membayangkan akan seperti ini.”Steven terdiam.Liora menatap ke depan, tangannya kembali menyentuh perutnya.“Makan siang bersama setelah cek kandungan… memilih makanan karena bayi…” ia tersenyum tipis. “Sederhana, tapi terasa sangat berarti.”Steven menatapnya dalam.Lalu tanpa banyak kata, ia menggenggam tangan Liora.Erat.“Ini baru awal,” katanya pelan.Liora menoleh, tersenyum.“Iya.”Mereka akhirnya sampai di area parkiran rumah sakit.Steven membuka pintu mobil lebih dulu, lalu membantu Liora masuk dengan hati-hati sebelum ia sendiri d
Pagi itu butik Liora sudah ramai bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh. Tumpukan kain baru datang, dua pelanggan meminta penjahitan cepat, dan di sudut lain ponselnya tak berhenti bergetar. Ia menahan napas panjang, menyelipkan pensil di belakang telinga, lalu mengangkat telepon yang sejak t
“Sayang, aku butuh kau sekarang.”Liora langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. “Astaga … aku ingin muntah,” gumamnya keras-keras tanpa filter.Di seberang, Steven malah tertawa. “Bagus. Tapi tetap saja datanglah. Sepuluh menit lagi. Waktumu sudah habis untuk berpikir.”“Steven—”Tut. Panggilan
Liora menatap Steven seakan pria itu baru saja menyarankan ide paling gila abad ini. “Kontrak? Kau pikir ini drama Korea, hah!” serunya, suaranya naik satu oktaf.Steven hanya mengangkat alis, sama sekali tak terpengaruh. “Kau juga nonton drama Korea. Aku pernah lihat kau nangis gara-gara episode
Kini, Steven berada di ruang rawat rumah sakit. Lengan kanannya sudah digips rapi, dibalut putih dari pergelangan sampai mendekati siku. Liora berdiri di sana. Ia tampak gelisah, canggung, dan bersalah meski ia berusaha keras untuk tampak biasa saja.Begitu dokter selesai menjelaskan kondisi Steven







