LOGINMeski memang sesuai dengan faktanya, Fiona malah tak suka karena Jayden mengatakan itu pada Fiona. Ia kepalkan tangannya, tapi berusaha tetap tenang.“Apa urusannya denganmu?” tanya Fiona, dengan sedikit kesal.“Urusan? Hmmm. tak ada sebenarnya. Tapi, aku punya tujuan,” balas Jayden.Fiona sedikit memiringkan kepala setelah mendengar ucapan Jayden. Pria itu datang dengan sangat percaya. Bahkan, ia menyinggung sesuatu yang sebenarnya tidak perlu sama sekali.“Apa kamu sadar bicara padaku seperti itu?” Fiona memastikan.“Sangat sadar, Fiona. Justru aku yang harusnya bertanya padamu. Apa kamu sadar, bagaimana perasaanku selama mengenalmu?” tanya Jayden.Fiona tak kaget dengan pertanyaan Jayden. Ia tahu betul. Itu adalah alasan kenapa mereka berdua tiba-tiba menjauh tanpa kabar. Bukan karena Jayden tak baik. Hanya saja, Fiona punya alasan tersendiri.“Lalu, aku harus menanggapi bagaimana lagi? Kamu sudah tahu jawabannya,” balas Fiona.Jayden hanya menyeringai. Bukan menyeringai senang ata
Fiona segera turun dari mobil, dan mulai mengikuti Darren. Fiona merasa senang datang kemari lagi. Bukan karena dia sering ke sini untuk healing. Melainkan mencari uang saku di masa sekolahnya.Tak seperti pasangan pada umumnya, Fiona dan Darren melangkah tak bersebelahan. Seperti orang yang saling mengikuti.Darren masuk ke salah satu toko baju di sana, dan berada di antara pakaian wanita yang begitu cantik. Fiona hanya bisa kagum melihat banyaknya barang di sana. Ia terkesima.“Bagaimana dengan yang ini?” ucap Darren, sambil mengeluarkan sebuah dress putih bergaris hitam, dengan jaket mini untuk luarannya.“Cantik,” sahut Fiona.Darren memberikan kepada Fiona lebih dekat. Terkaget, FIona menerima dengan mata membulat besar. Namun, saat Fiona melihat label harganya, ia jauh lebih terkejut sampai nyaris bersuara dengan keras.Buru-buru Fiona kembalikan pada Darren, mendekatinya dan mulai berbisik protes.“Mahal sekali! Siapa yang beli satu pasang baju dengan harga satu juta!” Darren
Darren masih bisa meluapkan emosinya. Hanya saja, ia terdiam karena melihat raut wajah Fiona yang sedih. Bahkan air matanya tampak mengering di pipi.Semakin hening suasananya, semakin terdengar suara isak tangis Fiona. Wanita yang dari awal datang ke Darren dengan paksaan, meminta untuk menjauhi keluarga, tapi tetap mendapatkan penyiksaan.Dengan kesadaran penuh, Darren memeluk Fiona dengan erat. Ia membuat wajah FIona membekap di atas kemeja putih yang ia kenakan. Ia bisa rasakan, Fiona justru semakin terisak.‘Seberharga itu baginya?’Fiona berusaha menelan tangisannya. Ia baru menyadari, betapa memalukan dirinya menangis di depan pria yang seharusnya ia tak dekati seperti ini.Didorongnya Darren untuk melepaskan pelukannya. Ia segera lap air matanya dengan kedua tangan, sambil berusaha meredakan sesenggukkan yang sempat menyesakkan.“Ma- Maaf, Darren. Kamu pasti tak nyaman dengan sikapku. Aku akan jaga sikap-”“Seberapa besar kamu dibedakan di sana?” Darren menyela.Fiona terdiam.
Helen makin geram melihat Fiona yang merespon demikian. Apa yang ia inginkan sampai datang kemari, malah berbanding terbalik dan menyerangnya.“Kamu pasti berbohong! Kamu pasti tahu betul rumor apa yang beredar soal Darren!” pekik Helen, sambil menunjuk kasar ke arah wajah Fiona.Meski ketakutan, Fiona berusaha untuk tetap bisa berhadapan dengan Helen. Ia sudah melakukan kesepakatan dengan Darren. Jadi, ia hanya menjalankan peran yang diberikan.“Kamu percaya dengan rumor itu?” tanya Fiona, tenang.Semakin melihat Fiona bisa menjawab ucapannya, Helen semakin merasa kesal. Tak pernah sebelumnya Fiona berani menyahut. Bahkan mengangkat kepala saja ia tak pernah.‘Sialan! Kenapa dia jadi bisa melawan begini! Harusnya dia semakin ketakutan karena sikap Darren lebih buruk daripada ayah kepadanya!’ batin Helen yang tak senang.Tangannya yang mengepal menunjukkan seberapa banyak Helen menahan emosi. Dengan sudut matanya, ia lirik ke sana dan kemari, mendapati ada banyak orang yang berlalu la
Senyum Darren tak berubah. Dia memegang tangan Fiona yang merangkul, mengusap dengan perlahan punggung tangan, sembari memberikan tatapan bersinar.Roy justru terpaku mendengar ucapan Darren. Ia disindir di depan matanya, dengan rekan-rekan bisnis yang masih berada di sana. Helen hanya bisa kaget dengan cara bicara Darren.“A- wah, astaga, Nak. Bukan begitu!” tawa Roy menggelegar sambil menepuk bahu Darren.Pria tua itu bahkan tertawa kecil melihat para rekannya, mencoba mengklarifikasi mengenai situasi. Fiona masih tak paham kemana arah pembicaraan yang dibawa Darren.“Helen hanya belum siap dengan dunia pernikahan, Fiona lebih siap, jadi dia yang meminta agar menggantikannya,” ujar Roy.Fiona makin terkaget. Ucapan ayahnya benar-benar sebuah kebohongan besar. Ia mencoba menyangkal ucapan sang ayah. Namun, Darren dengan sekali tarikan kecil membuat keinginan Fiona tertunda.“Lalu kenapa tak ada yang datang ke rumah untuk menjelaskan? Apa orang tuaku maklum soal ini? Apa para tamu mak
“Lagipula, Ibu, aku yakin, Fiona takkan pernah bisa bahagia dengan Darren. Pria itu terlalu naif. Dipeluk saja menolak!” kesal Helen.“Hmmm, mungkin gosip yang beredar benar adanya. Bahwa dia mungkin menyukai sesama jenisnya,” balas Hanna.Helen sedikit melipat bibirnya ke dalam. Ia sesalkan karena gagal membuat Darren bucin agar bisa diperas. Pria itu terlalu kaku bagi Helen yang suka kebebasan.Saat situasi hening sejenak, Helen mendapatkan sebuah ide cemerlang.“Oh iya! Malam ini, ada jamuan perusahaan, kan?!”“Lalu?” tanya Hanna sambil meneguk tehnya.“Darren pasti datang! Aku ingin mencemooh Fiona lagi! Aku yakin, dia takkan bisa datang!” seru Helen.Hanna, sebagai seorang ibu tak pernah melarang apapun yang dilakukan Helen selama itu membuatnya bahagia. Sambil tersenyum lebar, Hanna mengiyakan.“Tapi, kamu tak masalah? Kamu terhitung baru saja kabur dari pernikahanmu,” ujar Hanna.“Halah, santai saja, Ibu. Nanti aku sebar saja gosip lagi kalau Fiona yang merebutnya,” balas Hele







