LOGIN"Tuan... Tuan... "Apakah benar ini Tuan Sakti? Atau hanya orang yang mengaku sebagai Tuan Sakti?" Bibir Sakti bergetar hebat. Rasa kangen yang menumpuk dengan wanita yang telah mengasuhnya sejak kecil. Melebihi kedua orang tuanya yang sangat sibuk. Orang tuanya jarang bertemu bahkan saat malam mereka juga belum pulang. Yang ada hanya asisten rumah tangga Yang menemani dua puluh empat jam. Seperti dalam adegan film saja mereka saling pandang."Tuan, apakah Tuan masih ingat panggilan kesayanganku kepadamu? Kalau kamu benar-benar majikanku?" tanya Mbok Karti dengan suara sedikit bergetar.Sakti hampir tidak bisa berkata-kata. Teringat waktu kecil Mbok Karti yang menggendongnya sambil menembangkan lagu gundul-gundul pacul."Simbok selalu memanggilku dengan sebutan 'Kacung dan menyanyikan lagu Jawa yang aku nggak ngerti artinya."Tidak usah menunggu Sakti selesai bicara, Wanita tua itu langsung memeluk Sakti. "Tuan, kamu benar-benar majikanku nggak menyangka kalau bertemu lagi.S
Sakti turun dari mobil menggandeng tangan Laura sementara Eko menurunkan tas milik Sakti. Sakti akan melangkah dan masuk ke pagar rumahnya. Dia yakin kalau satpam masih mengenali dirinya. Tiba di rumah Dewangga sudah terang. Komplek yang sangat ramai. Suasana pagi kota Jakarta sangat panas. Padahal biasanya pagi yang sejuk dan terdengar suara burung-burung. Dua polisi menghampiri Sakti dan Laura. Mereka tidak mengizinkan Sakti masuk ke dalam rumah. "Berhenti, Pak! Untuk sementara semua tamu yang berkunjung ke rumah Bapak Sony kami cek identitasnya," ucap salah satu polisi sambil mengangkat tangan kanan. Memberi hormat dengan sopan. "Memang apa yang terjadi, Pak?" tanya Sakti dengan mengernyitkan dahi. Dia menatap polisi itu dengan pandangan tidak suka. Sial. Sakti tidak membawa identitas apapun. Juga Laura. Walaupun dia adalah pemilik sah rumah keluarga Dewangga. Wajah Sakti langsung pucat. "Maaf, Pak. Identitas kami hilang beberapa bulan yang lalu kamu tertimpa musibah. P
Tubuh Sony sudah penuh darah, bahkan kakinya juga terjepit jok mobil miliknya. Perawat membawanya ke ruang rawat darurat untuk segera ditangani. "Bagaimana keadaan pasien?" tanya salah satu perawat. "Kita bersihkan. Nampaknya belum meninggal. Masih ada denyut nadi," sahut perawat lain. "Pihak administrasi menanyakan tentang identitas pasien.""Oh ya, polisi sudah menangani semua.""Baiklah kalau begitu.".....Sakti terbangun setelah melakukan hubungan intim dengan Laura. Bahkan wanita itu masih memeluknya dengan erat Ketika melihat jam yang ada di dinding masih pukul dua dini hari Artinya dia hanya tidur sebentar. Terbangun perasaannya tidak enak. Teringat dengan Sony yang omongannya ngaco. "Kenapa perasaanku tidak enak, apa yang terjadi dengan dia?Besok sepertinya aku akan pulang ke rumah Dewangga. Kembali setelah lama menghilang."Sakti tidak bisa memejamkan mata lagi Dia kemudian melihat laptop dan ponselnya. Betapa terkejut dirinya ketika melihat saham Dewangga Group y
Sakti dan Laura sampai di apartemen kecil. "Sayang, gimana langkah kita selanjutnya? Kita sudah mempunyai bukti rekaman dari pembicaraanmu dengan Sony. Apa kamu akan lapor ke polisi?" tanya Laura. Langkahnya menuju ke kamar mandi.Dia mengganti dress dengan baju tidur tipis. Sakti masih tidak percaya pertemuannya dengan Sony. Rupanya semesta sudah mengatur. Apalagi pernyataan Sony yang mengatakan kalau dirinya bukan adik kandungnya. Tambah sepengetahuan Sony, Sakti sempat mengambil rambut Sony dengan gerangan cepat. "Iya, aku akan pergi ke rumah sakit untuk mengambil DNA dari Sony. Apakah benar-benar dia orang lain atau adiku. Pengaruh minuman saja sehingga ucapannya ngawur. Yang jadi pertanyaanku siapa dia? Anak siapa? Kenapa dirawat kedua orang tuaku sejak kecil bahkan aku gak tahu. Menyayangi bahkan mendapat kasih sayang lebih dari papa." Sebuah rahasia besar sepertinya akan segera terungkap. Termasuk kematian kedua orang tuanyaApakah ada hubungannya atau tidak?Laura sud
Mata Sony terbelalak mendengar nama pria yang di depannya. Dia kemudian tertawa sambil memukul jidatnya sendiri."Ha...ha....ha... Sakti Dewangga? Apa kau pikir kamu menghalu? Sakti memberikan kode pada Laura untuk menekan tombol rekam di ponselnya. Agar bisa menjebak Sony dan menjebloskan di penjara walau adik kandungnya. Gak ada ampun bagi penjahat. Apalagi dalam keadaan mabuk seperti ini. Dengan sigap Laura merekam semua pembicaraan Sakti dan Sony. "Yah.. aku Sakti Dewangga. Apa kamu ingat?" pancing Sakti."Kamu sudah mati dan sudah berbulan-bulan mayatnya sudah membusuk di jurang sana. Bahkan arwahnya pun tidak berani datang untuk menemuiku!"Gertak Sony. Matanya menatap Sakti seperti serigala menemukan mangsa. Sakit bersedekap ganti menatap Sony dengan tajam. Mendengus dengan keras. Berusaha tahan dulu. Jangan sampai cincinnya bersinar dan membuat dia kalap. "Dasar adik kurang ajar! Aku besarkan kamu, aku rawat kamu tapi kamu malah menusuk dari belakang. Ibaratnya membe
"Sayang, sebenarnya aku juga mau cerita.Laura jeda sejenak. Mengambil napas. Menggenggam jemari Sakti lebih erat. Kemudian dia mulai bercerita. "Di wilayah ini. Jakarta tepatnya di Jakarta Selatan pasti semua orang tahu almarhum suamiku.David Bachtiar. Keluarga Bachtiar adalah orang terpandang di daerah Jakarta Selatan Ya, aku menikah dengan suamiku dia sudah membawa anak."Laura kembali diam. Jeda lagi. Takut salah ngomong. "Hah! Membawa anak? Jadi David adalah duda?" Sakti semakin tertarik dengan cerita Laura. Wanita itu hanya mengangguk. "Ya tepatnya pria tua bawa anak. Bahkan dia tidak pernah mencintaiku. Aku diambil dari panti asuhan juga di daerah Jakarta Selatan. David adalah seorang mafia bisnis. Dia yang menangani semua bisnis dan main curang. Siapa yang menghalangi akan dia babat habis. Selama menjadi istri Tuan David aku nggak kemana-mana. Hanya di rumah saja Seperti baby sister yang merawat Sherly. Juga Anita. Nggak tahu kenapa dalam undangan makan malam suam
Sakti membantu Laura untuk membersihkan diri. Dia mengeringkan rambut Laura. Sepertinya Laura sangat kecapean hingga setelah mandi,Sakti harus menggendong wanita itu ke ranjang. Sakti memeluk Laura hingga tidur dengan nyaman. Baru setelah itu Sakti bisa memejamkan mata.
"Ini jam berapa? Masih sore. Tolong lihat-lihat jam," ucap Sakti. Dia masih males melayani keinginan Laura yang sudah menggelegak. Sakti belum tau saja. "Ingat Sakti. Aku sudah menjadi istrimu. Tapi nanti kita mainkan peran. Jangan sampai semua orang tau. Belum waktunya," jelas Laura masih memelu
"Bagaimana penampilanku, Sakti?" tanya Laura berdiri di depan pintu villa. Dia memakai gaun panjang warna hitam dengan lengan pendek. Rambutnya dibiarkan tergerai. Make up tidak terlalu menyala. Hanya bibir saja yang terlihat merah muda. Di atas rambut dia memakai mahkota kecil berwarna putih. Laur
"Laura!" teriak Sakti melihat wanita itu masih duduk di lantai. Dia masuk ke kamar mandi walau hanya mengenakan celana dalam saja. "Kenapa belum mandi?" teriak Sakti mendekati Laura. "Kan aku bilang pengen mandi sama kamu," ucap Laura manja. Sakti tidak bisa main-main dengan wanita. Langsung m







