Share

Bab 68.

Author: Mini Yuet
last update publish date: 2026-05-01 16:39:47

Rumah keluarga Dewangga berdiri kokoh di komplek perumahan Griya Pertama. Bangunan dengan tiga lantai dengan halaman yang sangat luas. Bunga-bunga aneka warna serta kolam ikan yang sangat luas. Beberapa mobil mewah terparkir di garasi rumah. Juga sepeda motor besar yang harganya tidak mudah.

Pagar rumah yang sangat tinggi. Dua penjaga yang berpakaian preman berdiri tegak tanpa senyum. Semua itu dibangun oleh Sakti Dewangga. Pemilik sekaligus penerus perusahaan Dewangga Grup. Mobil, motor dan s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 131. Curiga

    Baru saja Sakti akan menyanyikan lagu balonku ada lima. Mendadak perutnya terasa sakit. "Sayang, maaf ya. Aku gak jadi nyanyi. Aku mau ke kamar mandi," ucap Sakti sambil meringis. Dia meninggalkan Laura dengan tawanya yang lepas. Baru kali ini dia bisa berbuat seperti ini. Laura menatap punggung Sakti. Dia tidak mengerti kalau memang kemaren dia masuk rumah sakit. Kenapa rambut Sakti udah gondrong. Padahal waktu bersamanya rambutnya pendek dan rapi. Kulit Sakti juga sedikit gelap dengan otot lengan kayak pegulat. "Kayak bukan Sakti tapi dia Sakti. Sebenarnya ada apa?" Laura terus bertanya dalam hati. Setengah jam kemudian.Sakti keluar masih memegangi perut. Rupanya tadi dia makan bakso dengan Eko dengan sambel yang banyak. Hingga perutnya sakit. "Kenapa belum tidur. Ini sudah mau dini hari. Tidurlah. Aku akan di sampingmu," ucap Sakti kembali duduk di samping ranjang rumah sakit. "Yang, ini kamu kan? Sakti yang aku temukan dan aku paksa nikah?" tanya Laura gak mau berpaling

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 130. Nunggu Istri Tercinta

    Pukul 01.00 dini hari di rumah sakit.Hanya terdengar bunyi detak jantung Sakti dan Laura. JugaSuara jam yang ada di kamar VIP Aroma menyengat dan bau karbol menyeruak di hidung Sakti.Pria gagah dan gondrong itu tertidur di ranjang rumah sakit. Baru kali ini sakit merasakan tidur di rumah sakit menunggu istri. Sebelumnya mana pernah dia seperti ini. Semua dia serahkan kepada asisten dan karyawan. Kini hidupnya menjadi lain, penuh arti. Dia merasakan menunggu seseorang yang dia cintai, siuman mengharapkan dia kembali. Laura membuka mata, nafasnya sudah teratur tapi kepalanya masih terasa sangat berat. Hanya bau karbol dan obat yang menyeruak di hidungnya. Laura berusaha menggerakkan tangan yang digenggam oleh Sakti. "Sakti, Sayang," lirih Laura hampir tidak terdengar. Tangan Laura bergerak hingga membuat Sakti terbangun. "Laura!" pekik langsung berdiri. Mereka saling tatap penuh kasih. Akhirnya bertemu juga. Terakhir Laura masih ingat di rumah Simon kini dia berada di r

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 129. Hari Sial

    Rina pikir, Sakti sudah menunggu di Hotel Cakra seusai kesepakatan. Rina akan membayar sejuta satu jam untuk bertemu dengannya. Rina tidak peduli walau harus keluar uang. Yang penting bisa kencan dengan Dewa. Pria mana yang gak akan tergoda lihat penampilan Rina saat ini. Seksi dan montok. Atau bisa lanjut ke kamar hotel. Melihat betapa gagah Dewa akan bercinta dengan dirinya. Sampai di hotel Cakra, Rina masih yakin kalau Dewa akan datang sesuai janji. Dia berjalan dengan santai. Belum juga bertemu dengan Dewa, dia menangkap sosok yang gak asing lagi. SONY. Pria itu datang dengan wanita lain. Sungguh memuakkan. Pria yang sudah merasakan lebih dari satu wanita tidak akan berhenti untuk berpetualang. Bahkan pria itu mungkin akan check in ke hotel itu juga. Rina memilih menghindar dari pria itu. Gak peduli lagi. Rina lebih milih pergi. Sony yang dulu membuat dia hampir gila. Kini kencan dengan wanita yang lebih muda dan cantik. Rina menuju cafe yang ada di hotel itu. Memesan wine

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 128. Nunggu Istri Sakit

    Sakti dan Eko masuk ke dalam ruang rawat inap. Ada dua perawat berusaha memberikan pertolongan pada Laura. Sakti sangat cemas. Dia memegang tangan Laura. Berusaha menyalurkan tenaga dalam pada istrinya. Sakti tau, kalau Laura kondisinya lemah. Hingga dua menit berlalu. "Laura, kamu harus sembuh, Sayang," bisik Sakti dengan mengerahkan tenaga dalam.Keajaiban terjadi. Tubuh Laura yang tadinya membiru kini mulai terlihat merah. Ada aliran darah."Wah, dia mulai membaik,Pak!" teriak perawat dengan wajah berseri. Pasien bisa diselamatkan. Monitor yang tadinya bergerak sangat cepat kembali naik normal. "Terima kasih, Suster," ucap Sakti sambil membungkuk. Hampir saja Laura pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Sebelum melihat Sakti. "Bang,aku pamit dulu ya. Mau narik lagi," ucap Eko. "Iya Mas Eko. Makasih sudah banyak membantu. Oh ya suatu saat pasti aku menghubungi Mas Eko," ucap Sakti. Dia berdiri dan memegang pundak Eko. Terkadang orang yang kelihatan sepele dan gak p

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 127. Laura Sadar

    Sakti melompat saat mendengar suara teriakan minta tolong. Dia sangat mengenal suara itu. Mirip suara Laura. Dari jauh dia melihat wanita berambut pirang ditarik paksa oleh dua laki-laki yang berperawakan besar dan kulitnya hitam. Wanita itu Laura. "Tolong lepaskan! Aku gak mau jadi tahananmu!" teriak Laura mencoba melepaskan dari tangan pria yang menariknya. Hingga pakaiannya koyak dan tubuhnya berdarah di kaki dan lutut. "Enak aja. Mak Jamilah punya utang yang gede. Kapan mau bayar. Gak nyangka punya anak segede gini. Cantik dan montok pula. Walau gak muda. Ha...haa . Lumayan nanti bisa digilir dengan bos."Salah satu pria terus menarik tubuh Laura akan dimasukkan ke dalam mobil. BRAAAAAK...Tendangan mematikan mengenai punggung pria itu hingga tubuhnya tersungkur mental mengenai mobil yang terparkir di pinggir jalan. Salah satu pria datang menghadang dan mendorong tubuh Laura hingga wanita itu tersungkur. "Elu siapa? Mau ikut campur aja!" teriak salah satu pria dengan mata

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   bab 126.

    Malam ini Sakti akan pergi ke daerah nelayan Tanjung Priuk. Niatnya pasti ingin menemui Laura yang hilang ingatan. Dia punya uang sekarang. Hadiah pertandingan melawan Jack hanya dipakai separuh untuk mengambil alih Kapuk Permai. Tinggal sedikit lagi. Proyek itu akan cair. Sebenarnya Kapuk Permai gak terlalu besar hanya proyek kecil saja. Hanya beberapa rumah elit yang butuh penanganan khusus. Apalagi besok Minggu. Sakti gak kerja. Dia gak pamit sama Ratih. Mending pergi begitu saja. Terkadang Ratih orangnya keppo walau baik. Dia tidak menyalakan ponselnya. Biar Ratih gak bisa dihubungi. Kali ini dia memeriksa tas atau baju yang dia pakai. Siapa tau ada chip. Atau meninggalkan ponsel yang sudah dilacak Ratih. Dia pergi gak akan bawa ponsel. Pengalaman sebelumnya, Ratih bisa menemukan dirinya. Dia gak nyadar. Sakti memasukkan beberapa uang gebok di dalam tas. Gak bawa baju ganti yang banyak. Dia hanya kangen dengan Laura. Wanita itu memberikan semangat saat bertanding dengan Jack.

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 125. Anak Buah Siapa?

    Sakti turun dari mobil pink milik Ratih. Dia menyibakkan rambut gondrongnya. Mengusap cincin yang dipakai. Tatapannya dingin, seperti kutub Utara yang gak akan bisa cair. Ratih turun belakangan. Tangannya gemetar. Selama berurusan dengan dunia property baru kali ini menghadapi preman. Wajah garan

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 124. Menghajar Sony

    Sakti memilih diam dan santai. Dia melempar senyum dingin pada Sony. Pria ganteng itu seolah gak peduli dengan Sakti. Dia duduk di dekat Ratih. "Tumben bos besar mau makan di tempat kayak gini," batin Sakti. "Enak kan Pak....?" tanya Ratih menggantung saat melihat Sakti memberikan kode pada Ratih

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 122. Jebakan Sakti

    Sakti mengantar Rina. Atas permintaan Sakti sendiri. Sambil ingin mengorek keterangan kapan mereka menikah. Atau gak bikin balas dendam dengan caranya sendiri. Bikin Rina tertarik dan jatuh cinta. "Terima kasih sudah mau mengantar sampai rumah. Aku gak bisa balas," ucap Rina dengan senyum manisny

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 121. Gak Sengaja

    "Enyah dari pandanganku!" bentak Sakti. Dia mendorong dua pria bertubuh kekar itu hanya dengan sekali hentakan saja. Hingga mereka terjungkal dekat meja saji di sebelah. Wanita itu berdiri di belakang Sakti dengan wajah pias. Ada titik bening ngalir dari kedua matanya. Napasnya naik turun. Terde

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status