Mag-log in
"Eksekusi dia, Panglima! Atau kau ingin kami menganggapmu sebagai bagian dari monster itu?"
Suara Penasihat Kael menggelegar di antara deru mesin helikopter tempur yang mengepung puncak Retakan Timur. Sorot lampu raksasa dari langit menyinari sosok Seo Haneul yang berlutut di tengah lingkaran kristal suci. Tangannya terikat rantai plasma yang membara, mengeluarkan desis saat menyentuh kulit pucatnya. Namun, bukan luka bakar itu yang menyiksanya.
Di dalam dadanya, sesuatu yang gelap sedang mencakar, merayap di sepanjang pembuluh darahnya, dan menuntut untuk dilepaskan. Haneul bisa merasakan setiap detak jantungnya mengirimkan gelombang kehampaan yang mendinginkan tulang. Ia bukan lagi manusia murni; ia adalah wadah bagi kegelapan purba yang lapar.
Haneul mendongak dengan susah payah. Rambut hitamnya yang basah oleh keringat dan debu menutupi sebagian wajahnya yang kuyu. Di hadapannya, berdiri pria yang selama tiga tahun ini menjadi seluruh dunianya—tempatnya pulang, sauh bagi kewarasannya. Panglima Hamin.
Pria itu tampak gagah sekaligus mengerikan dengan seragam militer hitam yang kaku dan lencana emas yang berkilat tertimpa cahaya lampu sorot. Pedang hitam panjang di tangannya terhunus tepat di depan wajah Haneul. Ujung logamnya yang tajam memantulkan bayangan mata Haneul yang mulai kehilangan warna beningnya.
"Hamin..." Suara Haneul parau, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Tolong... bunuh aku sebelum aku benar-benar berubah menjadi mahluk yang kau benci."
Mata Hamin yang biasanya menatapnya dengan kelembutan yang memabukkan, kini sedingin bongkahan es di puncak gunung. Tidak ada keraguan di wajah rupawan itu, hanya garis rahang yang mengeras. Namun, Haneul yang sangat mengenal pria ini bisa melihat urat-urat di tangan Hamin menonjol, mencengkeram gagang pedangnya hingga sarung tangan kulitnya berderit.
"Kau bukan lagi wanita yang kukenal, Haneul," ucap Hamin. Suaranya datar, tanpa emosi, namun cukup keras untuk didengar oleh seluruh pasukan elit yang mengepung mereka dengan moncong senjata plasma yang siap menyalak. "Kau adalah anomali. Kau adalah parasit yang akan memusnahkan Seowon jika dibiarkan bernapas lebih lama."
"Hamin, lakukan sekarang juga! Jangan biarkan sentimen pribadimu menghancurkan negara!" teriak Kael lagi dari balik barikade baja. "Selesaikan tugasmu atau aku sendiri yang akan memberikan perintah tembak pada seluruh unit!"
Hamin melangkah maju, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka. Sepatu bot militernya mengeluarkan bunyi berdentum di atas lantai kristal. Ia menjulurkan tangan kiri, menarik rambut Haneul dengan kasar, memaksanya menengadah hingga lehernya yang jenjang terpapar di bawah ujung pedang yang dingin. Haneul terisak, bukan karena takut mati, tapi karena pria yang ia cintai kini menatapnya seolah ia adalah sampah yang harus dibersihkan.
Haneul memejamkan mata, menunggu tebasan yang akan mengakhiri segalanya. Namun, saat bibir Hamin mendekat ke telinganya, sebuah bisikan yang lebih tajam dari pedang mana pun terdengar di tengah kebisingan mesin helikopter.
"Jangan berani-berani mati sebelum aku benar-benar memilikimu sepenuhnya, Haneul," bisik Hamin. Getaran suaranya hanya bisa didengar oleh mereka berdua, penuh dengan obsesi yang gelap dan gila.
Haneul terbelalak, iris matanya bergetar. Belum sempat ia mencerna maksud pria itu, Hamin tiba-tiba melakukan gerakan yang tak terduga. Ia membalikkan tumpuan kakinya dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.
Kring! Srak!
Bukan leher Haneul yang ditebas, melainkan simpul utama rantai plasma yang mengikatnya. Ledakan energi ungu terjadi akibat pemutusan paksa, melemparkan debu, bunga api, dan asap tebal ke udara. Kekacauan instan pecah di tengah formasi pasukan Seowon yang terkejut.
"Hamin! Apa yang kau lakukan?! Kau sudah gila?!" Kael berteriak histeris, wajahnya memerah karena amarah dan ketakutan. "Prajurit! Tembak! Eksekusi mereka berdua tanpa ampun!"
Rentetan peluru plasma mulai menghujani area tersebut, menciptakan lubang-lubang hangus di lantai kristal. Hamin tidak melarikan diri untuk mencari perlindungan. Sebaliknya, ia menjatuhkan pedang mahalnya ke tanah dengan bunyi denting yang hampa dan menarik Haneul ke dalam pelukan yang menyesakkan.
Haneul bisa merasakan detak jantung Hamin yang berpacu kencang di balik zirah dadanya. Bau parfum maskulin bercampur aroma logam yang khas dari tubuh pria itu merasuk ke indranya, memicu rasa lapar yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.
"Apa kau lapar, Sayang? Apa kau menginginkan hidupku?" tanya Hamin. Suaranya kini terdengar gila namun penuh gairah yang menyimpang. Ia menarik kasar kerah seragam militernya, merobek kancing-kancingnya hingga menyingkap leher dan dada atasnya yang berdenyut dengan energi mana murni yang melimpah. "Makanlah dariku. Hisap semua nyawaku sampai kering, tapi jangan pernah lepaskan pelukan ini sedikit pun."
Haneul mengerang rendah. Aroma energi murni dari tubuh Hamin—energi dari seorang pria alfa yang sangat kuat—memicu insting monsternya hingga ke puncak. Ia tidak bisa lagi menahan rasa haus yang membakar jiwanya. Kegelapan di dalam dirinya meledak, mengambil alih kewarasannya.
"Aku akan membunuhmu, Hamin... aku akan melahapmu habis..." isak Haneul di sela-sela taringnya yang mulai memanjang.
"Lakukan," tantang Hamin, tangannya menekan kepala Haneul agar semakin merapat ke lehernya.
Haneul menancapkan taringnya ke leher Hamin. Sensasi hangat dan manis dari energi kehidupan pria itu mengalir masuk ke dalam nadi Haneul yang kering dan kerontang. Rasa sakit yang tadi menyiksa sel-sel tubuhnya perlahan menghilang, digantikan oleh sensasi kenikmatan yang memabukkan dan kekuatan dahsyat yang meluap-luap.
Hamin mengerang keras, sebuah suara yang terjepit antara rasa sakit yang hebat dan kepuasan yang aneh. Kepalanya mendongak, matanya terpejam saat esensi kehidupannya disedot paksa keluar. Tubuhnya bergetar, namun bukannya menjauh, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Haneul lebih erat, mengunci tubuh wanita itu pada tubuhnya sendiri. Ia membiarkan dirinya menjadi tumbal hidup, menjadi makanan bagi monster yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri.
"Teruslah makan... ambil semuanya..." bisik Hamin dengan napas yang mulai pendek dan tersendat. "Jadilah monster yang paling kuat di dunia ini, Haneul. Agar kau bisa menghancurkan siapa pun yang mencoba memisahkan kita, termasuk negara ini."
Ledakan misil pertama menghantam tanah hanya beberapa meter dari tempat mereka berlutut. Gelombang kejutnya menerbangkan puing-puing, namun Hamin tetap bergeming. Haneul melepaskan gigitannya, darah merah gelap menetes dari bibirnya yang kini tampak menggoda sekaligus mematikan. Matanya kini sepenuhnya hitam tanpa pupil, memancarkan cahaya ungu yang berpendar.
Haneul berdiri perlahan, tubuhnya kini tegak dengan aura yang sangat dominan. Sebuah sayap bayangan hitam raksasa muncul dari punggungnya, terbentang lebar menutupi tubuh Hamin yang mulai terkulai lemas akibat kehilangan banyak energi. Sayap itu menyapu peluru-peluru plasma yang datang seolah-olah mereka hanyalah gangguan kecil yang tak berarti.
"Kau memberikan ini padaku, Hamin," ucap Haneul. Suaranya kini bukan lagi suara manusia; suara itu berlapis dengan gema kematian yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa merinding ketakutan. "Maka aku akan memastikan mereka semua membayar mahal untuk setiap tetes darah dan energi yang kau berikan padaku hari ini."
Haneul melesat ke arah barisan pasukan Seowon seperti bayangan maut. Ia tidak menggunakan senjata, melainkan sulur-sulur hitam yang keluar dari telapak tangannya, menembus zirah baja para prajurit seolah itu hanya terbuat dari kertas.
"Target menghilang dari radar! Dia bukan lagi manusia! Mundur! Seluruh unit segera mundur!" teriak para prajurit dalam kepanikan luar biasa saat kabut hitam mulai menelan seluruh puncak gunung, membawa jeritan kematian yang bersahut-sahutan.
Kael mencoba melarikan diri ke helikopternya, namun ia membeku saat melihat Haneul berdiri di hadapannya dengan tatapan haus darah.
Di tengah kekacauan, api, dan aroma kematian itu, sebuah kutukan baru saja resmi dimulai. Kutukan yang tidak lahir dari sihir kuno, melainkan dari sebuah cinta yang terlalu gelap, terlalu obsesif, dan terlalu berdarah untuk disebut suci. Hamin, yang tergeletak lemah di tengah lingkaran kristal, hanya tersenyum tipis menatap kehancuran di depannya. Ia telah berhasil menciptakan ratunya sendiri.
Bab 8: Darah di Ujung Pedang PatahHujan asam mulai turun di Sektor 4, membawa aroma belerang yang mencekik dan suara desis saat menyentuh permukaan logam Depot Energi Seowon. Depot ini adalah jantung dari distribusi mana di wilayah pinggiran—sebuah benteng baja yang dijaga oleh robot-robot patroli bionik dan tentara elit yang tidak segan menarik pelatuk pada siapa pun yang berani mendekat.Di balik reruntuhan gedung tua yang menghadap ke gerbang utama, Hamin berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin kencang. Di sampingnya, Arga dan selusin prajurit Unit 7 yang kini memakai zirah tambal sulam bersiap dengan senjata bionik yang telah dimodifikasi."Panglima, sensor mereka akan mendeteksi kita dalam tiga puluh detik jika kita tidak bergerak," bisik Arga, jemarinya mencengkeram erat peluncur granat plasma. "Unit bionik mereka menggunakan frekuensi suara. Begitu kita masuk, telinga kita akan berdarah."Hamin tidak menoleh. Ia menatap dinding depot itu seolah bisa menembus beton
Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa LaluSektor Hitam tidak pernah mengenal matahari. Di tempat ini, langit hanyalah hamparan pipa uap yang berkarat dan kabel-kabel bionik yang menjuntai seperti usus monster raksasa. Cahaya satu-satunya berasal dari papan neon yang berkedip-kedip, menjajakan modifikasi tubuh ilegal dan cairan mana oplosan yang bisa membunuh penggunanya dalam satu tegukan. Ini adalah tempat di mana hukum Seowon tidak berlaku, tempat bagi mereka yang sudah menyerah pada hidup—dan tempat terbaik bagi seorang pria mati untuk bangkit kembali.Hamin melangkah menyusuri lorong sempit yang berbau logam dan belerang. Jubah hitam panjang menutupi sosoknya yang tegap namun masih agak kaku akibat luka-lukanya. Topeng kain menutupi wajah bawahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang kini memiliki kilatan ungu samar di pinggiran irisnya—bekas luka permanen dari kutukan Haneul yang mulai menyatu dengan nadinya.Di belakangnya, Jiran berjalan dengan langkah pelan namun waspada. "Kau yakin t
Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi memiliki arti di atas samudera awan hitam yang terus bergolak oleh petir abadi.Haneul duduk terantai di tengah ruangan latihan yang luas, tubuhnya penuh luka goresan baru yang kini memancarkan cahaya hitam samar. Di hadapannya, sepuluh prajurit bayangan ciptaan Malakai berdiri diam, ujung pedang hitam mereka masih meneteskan energi yang berdenyut. Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau darah segar mengambang di udara yang sesak."Kau terlalu lambat, Kantara," suara Malakai bergema dari balkon atas, nada bicaranya penuh kekecewaan yang disengaja. "Kau masih menggunakan perasaanmu sebagai manusia untuk bertarung. Perasaan itu adalah karat yang merusak pedammu. Buang rasa kasih sayangmu, buan
Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi, dan ditinggalkan di ruang hampa yang membeku.Hamin tersentak bangun, napasnya memburu dan berat. Paru-parunya terasa panas, seperti menghirup sisa-sisa debu pembakaran. Ia mencoba memfokuskan matanya yang merah dan perih pada sekelilingnya. Ia tidak lagi berada di tengah hutan yang membara. Ia kini terbaring di atas tempat tidur jerami kasar di dalam sebuah gua tersembunyi yang diterangi oleh beberapa obor dinding yang apinya bergoyang ditiup angin lembap."Haneul!" teriaknya, mencoba bangkit secara mendadak.Namun, gravitasi seolah mengkhianatinya. Tubuh Hamin kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh tersungkur di atas lantai gua yang dingin dan berbatu. Setiap inci sarafnya terasa seperti di
Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak beberapa ratus meter saja, menghujani bumi dengan ancaman pemusnahan total melalui misil-misil bionik yang siap meluncur.Haneul menatap wajah Hamin. Pria itu kini bersandar pada sebatang pohon tua yang kulitnya mengelupas, napasnya pendek, tersengal, dan berbunyi serak di dalam tenggorokannya. Darah yang merembes dari zirah dadanya membeku karena suhu dingin yang ekstrem, dan kulitnya yang semula hangat serta penuh vitalitas kini sepucat marmer pemakaman."Haneul... jangan..." bisik Hamin. Jemarinya yang lemah dan gemetar mencoba menggapai ujung jubah wanita itu, namun ia hanya berhasil mencengkeram udara kosong. "Jangan pergi... dengan iblis itu... Aku masih... bisa bertarung..."Malakai, ya
Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang terasa asing dan beracun. Setiap helai rambut hitamnya yang basah tampak seperti dialiri listrik statis yang gelap, bergerak-gerak mengikuti irama kemarahan yang meluap.Haneul bisa merasakan getaran dari tanah, detak jantung mahluk-mahluk kecil di dalam hutan yang ketakutan, dan yang paling mengganggu: deru mesin bionik yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sensor predatornya telah aktif sepenuhnya.Wusss!Tiga drone pencari Seowon menukik rendah dari balik pepohonan raksasa. Lampu sorot merah mereka yang tajam menyapu dedaunan, hingga akhirnya mengunci sosok Haneul yang berdiri kaku di tengah jalan setapak yang berlumpur."Target terkunci. Kode Identifikasi: Seo Haneul. Status: Subjek Be







