Home / Fantasi / Napas Terakhir untuk Sang Ratu / Bab 2: Napas yang Tercuri

Share

Bab 2: Napas yang Tercuri

Author: Founna Math
last update Huling Na-update: 2026-01-17 20:54:20

Hantaman air sungai di dasar jurang Retakan Timur terasa seperti ledakan beton bagi tubuh Haneul yang sudah rapuh. Suara gemuruh air yang liar menulikan pendengarannya, sementara kegelapan di dalam dirinya bereaksi agresif terhadap suhu dingin yang ekstrem. Air sungai yang keruh masuk ke dalam indranya, mencekik paru-parunya yang masih berdetak dalam ritme manusia yang ketakutan.

Di bawah permukaan air yang gelap, Haneul kehilangan orientasi. Paru-parunya berteriak meminta oksigen, namun yang ia rasakan hanyalah tarikan energi hitam dari telapak tangannya yang kini merayap naik ke lehernya, mencoba membungkam sisa-sisa kemanusiaannya. Dalam kegelapan itu, ia merasa ajal sudah menjemputnya. Namun, sebuah tangan kuat tiba-tiba mencengkeram lengannya, menariknya paksa kembali ke permukaan.

Greb.

Hamin muncul dari balik permukaan air dengan sisa-sisa tenaga yang secara logis mustahil dimiliki oleh pria yang baru saja dikuras energinya. Zirah tempur sang Panglima sudah compang-camping, dan wajahnya yang tampan kini dihiasi luka sayatan dalam akibat gesekan batu sungai. Namun, matanya tetap tajam, menyapu kabut abadi Hutan Perbatasan untuk mencari daratan.

"Bertahanlah, Haneul! Jangan berani-berani memejamkan matamu!" seru Hamin, suaranya hampir teredam oleh derasnya arus sungai yang menghantam bebatuan.

Dengan satu tangan memeluk pinggang Haneul dan tangan lainnya berjuang melawan arus, Hamin menyeret wanita itu ke tepian yang dipenuhi lumut licin dan bebatuan tajam. Saat mereka akhirnya berhasil merangkak ke tanah yang stabil, Hamin segera jatuh terjerembap. Ia batuk hebat, mengeluarkan cairan merah bercampur residu energi hitam—sisa-sisa "makanan" yang ia berikan pada Haneul tadi di puncak tebing.

Haneul terbatuk, mengeluarkan air dari paru-parunya. Namun, saat kesadarannya kembali sepenuhnya, ia justru merangkak mundur menjauhi Hamin. Matanya yang tadinya hitam pekat kini mulai menampakkan pupil cokelatnya kembali, namun penuh dengan ketakutan yang mendalam.

"Jangan... jangan mendekat, Hamin!" jerit Haneul. Suaranya pecah, menggigil hebat bukan hanya karena dingin, tapi karena ngeri pada dirinya sendiri.

Hamin mengabaikan peringatan itu. Dengan sisa tenaganya, ia merayap mendekati Haneul, mengabaikan rasa perih di dadanya yang terasa kosong. "Kau terluka, Haneul. Biarkan aku memeriksamu—"

"Aku tidak terluka, Hamin! Aku lapar!" Haneul memegang kepalanya, jari-jarinya mencengkeram rambut hitamnya yang basah dengan kalap. "Setiap kali kau di dekatku, sesuatu di dalam dadaku berteriak ingin merobek jantungmu. Kau tidak mengerti... aku bisa merasakan aliran mana di dalam nadimu seperti aroma makanan yang sangat lezat di tengah kelaparan yang menyiksa. Aku tidak mau memakanmu, Hamin! Aku tidak mau membunuhmu!"

Hamin berhenti bergerak. Ia menatap Haneul yang kini meringkuk ketakutan, sosok wanita yang dulu ia sumpah akan dilindungi dengan segenap kehormatannya sebagai prajurit tertinggi Seowon. Perlahan, Hamin melepas sarung tangan militernya yang sobek, memperlihatkan telapak tangannya yang kini memiliki garis-garis hitam halus—bekas kontak energi dengan Haneul yang mulai merambat seperti racun.

"Jika lapar itu yang akan membuatmu tetap hidup, maka makanlah aku sampai tidak ada lagi yang tersisa," ucap Hamin dengan nada yang sangat tenang, hampir menyerupai bisikan seorang kekasih di tengah malam yang sunyi.

"Kau gila?! Kau akan mati, Hamin!"

"Aku sudah mati sejak saat aku melihatmu berlutut di depan moncong senjata Kael dan aku hanya bisa menonton," Hamin menarik tangan Haneul dengan paksa, tidak membiarkan wanita itu menjauh lebih jauh lagi. Ia menempelkan telapak tangan Haneul yang memiliki tanda hitam itu tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang. "Dunia sudah menganggapku pengkhianat. Seowon akan memburuku hingga ke ujung bumi. Aku tidak punya tempat kembali. Satu-satunya alasan jantung ini masih berdetak adalah untuk menjadi sumber hidupmu."

Zzzzzzt!

Sentuhan itu memicu reaksi instan. Garis-garis hitam di tangan Haneul mendadak berpendar merah darah saat bersentuhan dengan kulit Hamin. Haneul menjerit tertahan saat ia merasakan aliran energi murni milik Hamin mulai mengalir masuk ke dalam tubuhnya secara paksa. Rasa sakit yang tadi menyiksanya perlahan lenyap, digantikan oleh sensasi hangat yang memabukkan, seolah-olah ia sedang meminum cahaya di tengah kegelapan total.

Hamin mengerang keras. Kepalanya mendongak ke langit yang tertutup kabut, urat-urat di lehernya menonjol saat esensi hidupnya disedot keluar sekali lagi. Wajahnya yang semula pucat kini menjadi putih seperti kertas tanpa aliran darah, namun ia tetap tidak melepaskan tangan Haneul. Ia justru mencengkeram jemari wanita itu lebih erat, membiarkan dirinya menjadi tumbal bagi kekuatan parasit tersebut.

"Hamin... hentikan... tolong..." isak Haneul. Air matanya jatuh menyentuh dada Hamin, namun matanya kembali berubah menjadi hitam pekat saat ia kehilangan kendali atas instingnya.

Di tengah siksaan itu, Hamin justru menarik Haneul ke dalam pelukannya yang kaku. Di bawah guyuran hujan yang mulai turun membasahi Hutan Perbatasan, mereka tampak seperti dua jiwa yang sedang menyatu dalam ritual kematian yang puitis. Hamin tahu ini adalah bunuh diri perlahan, namun ia lebih memilih mati di pelukan Haneul daripada hidup di dunia yang menghukum kekasihnya.

"Aku... adalah pelindungmu..." bisik Hamin tepat di telinga Haneul, napasnya semakin pendek dan dingin. "Meski aku harus menjadi... santapanmu setiap hari, aku akan tetap di sini. Jangan pernah takut pada dirimu sendiri, karena aku yang memilihkan takdir ini untukmu."

Tiba-tiba, suara deru mesin drone pencari milik Seowon memecah keheningan hutan yang mencekam. Lampu sorot merah mulai menyapu pepohonan rimbun di sekitar mereka, menembus kabut seperti mata iblis yang mencari mangsa.

"Target terdeteksi di koordinat 4-B. Unit Spectre diperintahkan untuk eliminasi total. Subjek Alpha terkonfirmasi berkhianat. Gunakan peluru penekan bionik!" suara mekanis dari udara itu menggema, diikuti oleh bunyi kokangan senjata otomatis.

Hamin melepaskan pelukannya dengan susah payah, tubuhnya limbung dan hampir jatuh jika tidak ditopang oleh batang pohon di belakangnya. Ia mengambil pedang patahnya yang tersangkut di sabuknya, menggunakannya sebagai tongkat untuk berdiri tegak.

"Mereka tidak akan berhenti, Haneul. Kael ingin kita berdua menjadi debu agar rahasia eksperimennya tetap terkubur," Hamin menoleh ke arah Haneul yang kini berdiri dengan aura yang jauh lebih stabil.

Haneul menatap tangannya, lalu menatap Hamin yang tampak sekarat. Rasa bersalah di hatinya perlahan mengeras menjadi amarah yang dingin. Ia bisa merasakan energi Hamin mengalir di nadinya, memberinya kekuatan yang tak terbatas. Ia tidak akan membiarkan pengorbanan pria ini sia-sia.

"Mereka ingin monster?" Haneul menoleh ke arah cahaya drone dengan tatapan dingin yang mematikan. Matanya yang hitam memancarkan sinar ungu yang mengerikan. "Akan kuberikan mereka monster yang sesungguhnya. Aku akan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kembali untuk menceritakan apa yang mereka lihat malam ini."

Haneul melesat ke arah kegelapan hutan, bukan untuk melarikan diri, tapi untuk memburu siapa pun yang berani mencoba menyentuh Hamin. Di bawah bayang-bayang pohon raksasa, Hutan Perbatasan tidak lagi menjadi tempat persembunyian, melainkan tempat di mana kutukan cinta mereka akan menelan korban pertamanya.

Malam itu, Hamin hanya bisa melihat dari kejauhan bagaimana wanita yang ia cintai berubah menjadi malaikat maut yang haus darah. Ia tersenyum tipis sebelum akhirnya jatuh pingsan. Jika ini adalah akhir dari dunianya, maka ia senang dunia itu berakhir di tangan Haneul.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 8: Darah di Ujung Pedang Patah

    Bab 8: Darah di Ujung Pedang PatahHujan asam mulai turun di Sektor 4, membawa aroma belerang yang mencekik dan suara desis saat menyentuh permukaan logam Depot Energi Seowon. Depot ini adalah jantung dari distribusi mana di wilayah pinggiran—sebuah benteng baja yang dijaga oleh robot-robot patroli bionik dan tentara elit yang tidak segan menarik pelatuk pada siapa pun yang berani mendekat.Di balik reruntuhan gedung tua yang menghadap ke gerbang utama, Hamin berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin kencang. Di sampingnya, Arga dan selusin prajurit Unit 7 yang kini memakai zirah tambal sulam bersiap dengan senjata bionik yang telah dimodifikasi."Panglima, sensor mereka akan mendeteksi kita dalam tiga puluh detik jika kita tidak bergerak," bisik Arga, jemarinya mencengkeram erat peluncur granat plasma. "Unit bionik mereka menggunakan frekuensi suara. Begitu kita masuk, telinga kita akan berdarah."Hamin tidak menoleh. Ia menatap dinding depot itu seolah bisa menembus beton

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa Lalu

    Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa LaluSektor Hitam tidak pernah mengenal matahari. Di tempat ini, langit hanyalah hamparan pipa uap yang berkarat dan kabel-kabel bionik yang menjuntai seperti usus monster raksasa. Cahaya satu-satunya berasal dari papan neon yang berkedip-kedip, menjajakan modifikasi tubuh ilegal dan cairan mana oplosan yang bisa membunuh penggunanya dalam satu tegukan. Ini adalah tempat di mana hukum Seowon tidak berlaku, tempat bagi mereka yang sudah menyerah pada hidup—dan tempat terbaik bagi seorang pria mati untuk bangkit kembali.Hamin melangkah menyusuri lorong sempit yang berbau logam dan belerang. Jubah hitam panjang menutupi sosoknya yang tegap namun masih agak kaku akibat luka-lukanya. Topeng kain menutupi wajah bawahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang kini memiliki kilatan ungu samar di pinggiran irisnya—bekas luka permanen dari kutukan Haneul yang mulai menyatu dengan nadinya.Di belakangnya, Jiran berjalan dengan langkah pelan namun waspada. "Kau yakin t

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 6: Prasasti di Dinding Kristal

    Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi memiliki arti di atas samudera awan hitam yang terus bergolak oleh petir abadi.Haneul duduk terantai di tengah ruangan latihan yang luas, tubuhnya penuh luka goresan baru yang kini memancarkan cahaya hitam samar. Di hadapannya, sepuluh prajurit bayangan ciptaan Malakai berdiri diam, ujung pedang hitam mereka masih meneteskan energi yang berdenyut. Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau darah segar mengambang di udara yang sesak."Kau terlalu lambat, Kantara," suara Malakai bergema dari balkon atas, nada bicaranya penuh kekecewaan yang disengaja. "Kau masih menggunakan perasaanmu sebagai manusia untuk bertarung. Perasaan itu adalah karat yang merusak pedammu. Buang rasa kasih sayangmu, buan

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 5: Abu Kedamaian

    Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi, dan ditinggalkan di ruang hampa yang membeku.Hamin tersentak bangun, napasnya memburu dan berat. Paru-parunya terasa panas, seperti menghirup sisa-sisa debu pembakaran. Ia mencoba memfokuskan matanya yang merah dan perih pada sekelilingnya. Ia tidak lagi berada di tengah hutan yang membara. Ia kini terbaring di atas tempat tidur jerami kasar di dalam sebuah gua tersembunyi yang diterangi oleh beberapa obor dinding yang apinya bergoyang ditiup angin lembap."Haneul!" teriaknya, mencoba bangkit secara mendadak.Namun, gravitasi seolah mengkhianatinya. Tubuh Hamin kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh tersungkur di atas lantai gua yang dingin dan berbatu. Setiap inci sarafnya terasa seperti di

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 4: Perpisahan di Atas Darah

    Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak beberapa ratus meter saja, menghujani bumi dengan ancaman pemusnahan total melalui misil-misil bionik yang siap meluncur.Haneul menatap wajah Hamin. Pria itu kini bersandar pada sebatang pohon tua yang kulitnya mengelupas, napasnya pendek, tersengal, dan berbunyi serak di dalam tenggorokannya. Darah yang merembes dari zirah dadanya membeku karena suhu dingin yang ekstrem, dan kulitnya yang semula hangat serta penuh vitalitas kini sepucat marmer pemakaman."Haneul... jangan..." bisik Hamin. Jemarinya yang lemah dan gemetar mencoba menggapai ujung jubah wanita itu, namun ia hanya berhasil mencengkeram udara kosong. "Jangan pergi... dengan iblis itu... Aku masih... bisa bertarung..."Malakai, ya

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 3: Darah di Hutan Kabut

    Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang terasa asing dan beracun. Setiap helai rambut hitamnya yang basah tampak seperti dialiri listrik statis yang gelap, bergerak-gerak mengikuti irama kemarahan yang meluap.Haneul bisa merasakan getaran dari tanah, detak jantung mahluk-mahluk kecil di dalam hutan yang ketakutan, dan yang paling mengganggu: deru mesin bionik yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sensor predatornya telah aktif sepenuhnya.Wusss!Tiga drone pencari Seowon menukik rendah dari balik pepohonan raksasa. Lampu sorot merah mereka yang tajam menyapu dedaunan, hingga akhirnya mengunci sosok Haneul yang berdiri kaku di tengah jalan setapak yang berlumpur."Target terkunci. Kode Identifikasi: Seo Haneul. Status: Subjek Be

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status