Se connecterHantaman air sungai di dasar jurang Retakan Timur terasa seperti ledakan beton bagi tubuh Haneul yang sudah rapuh. Suara gemuruh air yang liar menulikan pendengarannya, sementara kegelapan di dalam dirinya bereaksi agresif terhadap suhu dingin yang ekstrem. Air sungai yang keruh masuk ke dalam indranya, mencekik paru-parunya yang masih berdetak dalam ritme manusia yang ketakutan.
Di bawah permukaan air yang gelap, Haneul kehilangan orientasi. Paru-parunya berteriak meminta oksigen, namun yang ia rasakan hanyalah tarikan energi hitam dari telapak tangannya yang kini merayap naik ke lehernya, mencoba membungkam sisa-sisa kemanusiaannya. Dalam kegelapan itu, ia merasa ajal sudah menjemputnya. Namun, sebuah tangan kuat tiba-tiba mencengkeram lengannya, menariknya paksa kembali ke permukaan.
Greb.
Hamin muncul dari balik permukaan air dengan sisa-sisa tenaga yang secara logis mustahil dimiliki oleh pria yang baru saja dikuras energinya. Zirah tempur sang Panglima sudah compang-camping, dan wajahnya yang tampan kini dihiasi luka sayatan dalam akibat gesekan batu sungai. Namun, matanya tetap tajam, menyapu kabut abadi Hutan Perbatasan untuk mencari daratan.
"Bertahanlah, Haneul! Jangan berani-berani memejamkan matamu!" seru Hamin, suaranya hampir teredam oleh derasnya arus sungai yang menghantam bebatuan.
Dengan satu tangan memeluk pinggang Haneul dan tangan lainnya berjuang melawan arus, Hamin menyeret wanita itu ke tepian yang dipenuhi lumut licin dan bebatuan tajam. Saat mereka akhirnya berhasil merangkak ke tanah yang stabil, Hamin segera jatuh terjerembap. Ia batuk hebat, mengeluarkan cairan merah bercampur residu energi hitam—sisa-sisa "makanan" yang ia berikan pada Haneul tadi di puncak tebing.
Haneul terbatuk, mengeluarkan air dari paru-parunya. Namun, saat kesadarannya kembali sepenuhnya, ia justru merangkak mundur menjauhi Hamin. Matanya yang tadinya hitam pekat kini mulai menampakkan pupil cokelatnya kembali, namun penuh dengan ketakutan yang mendalam.
"Jangan... jangan mendekat, Hamin!" jerit Haneul. Suaranya pecah, menggigil hebat bukan hanya karena dingin, tapi karena ngeri pada dirinya sendiri.
Hamin mengabaikan peringatan itu. Dengan sisa tenaganya, ia merayap mendekati Haneul, mengabaikan rasa perih di dadanya yang terasa kosong. "Kau terluka, Haneul. Biarkan aku memeriksamu—"
"Aku tidak terluka, Hamin! Aku lapar!" Haneul memegang kepalanya, jari-jarinya mencengkeram rambut hitamnya yang basah dengan kalap. "Setiap kali kau di dekatku, sesuatu di dalam dadaku berteriak ingin merobek jantungmu. Kau tidak mengerti... aku bisa merasakan aliran mana di dalam nadimu seperti aroma makanan yang sangat lezat di tengah kelaparan yang menyiksa. Aku tidak mau memakanmu, Hamin! Aku tidak mau membunuhmu!"
Hamin berhenti bergerak. Ia menatap Haneul yang kini meringkuk ketakutan, sosok wanita yang dulu ia sumpah akan dilindungi dengan segenap kehormatannya sebagai prajurit tertinggi Seowon. Perlahan, Hamin melepas sarung tangan militernya yang sobek, memperlihatkan telapak tangannya yang kini memiliki garis-garis hitam halus—bekas kontak energi dengan Haneul yang mulai merambat seperti racun.
"Jika lapar itu yang akan membuatmu tetap hidup, maka makanlah aku sampai tidak ada lagi yang tersisa," ucap Hamin dengan nada yang sangat tenang, hampir menyerupai bisikan seorang kekasih di tengah malam yang sunyi.
"Kau gila?! Kau akan mati, Hamin!"
"Aku sudah mati sejak saat aku melihatmu berlutut di depan moncong senjata Kael dan aku hanya bisa menonton," Hamin menarik tangan Haneul dengan paksa, tidak membiarkan wanita itu menjauh lebih jauh lagi. Ia menempelkan telapak tangan Haneul yang memiliki tanda hitam itu tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang. "Dunia sudah menganggapku pengkhianat. Seowon akan memburuku hingga ke ujung bumi. Aku tidak punya tempat kembali. Satu-satunya alasan jantung ini masih berdetak adalah untuk menjadi sumber hidupmu."
Zzzzzzt!
Sentuhan itu memicu reaksi instan. Garis-garis hitam di tangan Haneul mendadak berpendar merah darah saat bersentuhan dengan kulit Hamin. Haneul menjerit tertahan saat ia merasakan aliran energi murni milik Hamin mulai mengalir masuk ke dalam tubuhnya secara paksa. Rasa sakit yang tadi menyiksanya perlahan lenyap, digantikan oleh sensasi hangat yang memabukkan, seolah-olah ia sedang meminum cahaya di tengah kegelapan total.
Hamin mengerang keras. Kepalanya mendongak ke langit yang tertutup kabut, urat-urat di lehernya menonjol saat esensi hidupnya disedot keluar sekali lagi. Wajahnya yang semula pucat kini menjadi putih seperti kertas tanpa aliran darah, namun ia tetap tidak melepaskan tangan Haneul. Ia justru mencengkeram jemari wanita itu lebih erat, membiarkan dirinya menjadi tumbal bagi kekuatan parasit tersebut.
"Hamin... hentikan... tolong..." isak Haneul. Air matanya jatuh menyentuh dada Hamin, namun matanya kembali berubah menjadi hitam pekat saat ia kehilangan kendali atas instingnya.
Di tengah siksaan itu, Hamin justru menarik Haneul ke dalam pelukannya yang kaku. Di bawah guyuran hujan yang mulai turun membasahi Hutan Perbatasan, mereka tampak seperti dua jiwa yang sedang menyatu dalam ritual kematian yang puitis. Hamin tahu ini adalah bunuh diri perlahan, namun ia lebih memilih mati di pelukan Haneul daripada hidup di dunia yang menghukum kekasihnya.
"Aku... adalah pelindungmu..." bisik Hamin tepat di telinga Haneul, napasnya semakin pendek dan dingin. "Meski aku harus menjadi... santapanmu setiap hari, aku akan tetap di sini. Jangan pernah takut pada dirimu sendiri, karena aku yang memilihkan takdir ini untukmu."
Tiba-tiba, suara deru mesin drone pencari milik Seowon memecah keheningan hutan yang mencekam. Lampu sorot merah mulai menyapu pepohonan rimbun di sekitar mereka, menembus kabut seperti mata iblis yang mencari mangsa.
"Target terdeteksi di koordinat 4-B. Unit Spectre diperintahkan untuk eliminasi total. Subjek Alpha terkonfirmasi berkhianat. Gunakan peluru penekan bionik!" suara mekanis dari udara itu menggema, diikuti oleh bunyi kokangan senjata otomatis.
Hamin melepaskan pelukannya dengan susah payah, tubuhnya limbung dan hampir jatuh jika tidak ditopang oleh batang pohon di belakangnya. Ia mengambil pedang patahnya yang tersangkut di sabuknya, menggunakannya sebagai tongkat untuk berdiri tegak.
"Mereka tidak akan berhenti, Haneul. Kael ingin kita berdua menjadi debu agar rahasia eksperimennya tetap terkubur," Hamin menoleh ke arah Haneul yang kini berdiri dengan aura yang jauh lebih stabil.
Haneul menatap tangannya, lalu menatap Hamin yang tampak sekarat. Rasa bersalah di hatinya perlahan mengeras menjadi amarah yang dingin. Ia bisa merasakan energi Hamin mengalir di nadinya, memberinya kekuatan yang tak terbatas. Ia tidak akan membiarkan pengorbanan pria ini sia-sia.
"Mereka ingin monster?" Haneul menoleh ke arah cahaya drone dengan tatapan dingin yang mematikan. Matanya yang hitam memancarkan sinar ungu yang mengerikan. "Akan kuberikan mereka monster yang sesungguhnya. Aku akan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kembali untuk menceritakan apa yang mereka lihat malam ini."
Haneul melesat ke arah kegelapan hutan, bukan untuk melarikan diri, tapi untuk memburu siapa pun yang berani mencoba menyentuh Hamin. Di bawah bayang-bayang pohon raksasa, Hutan Perbatasan tidak lagi menjadi tempat persembunyian, melainkan tempat di mana kutukan cinta mereka akan menelan korban pertamanya.
Malam itu, Hamin hanya bisa melihat dari kejauhan bagaimana wanita yang ia cintai berubah menjadi malaikat maut yang haus darah. Ia tersenyum tipis sebelum akhirnya jatuh pingsan. Jika ini adalah akhir dari dunianya, maka ia senang dunia itu berakhir di tangan Haneul.
Pluk.Satu tetes air comberan jatuh lagi dari sela atap semen bunker. Tepat kena di kelopak mata kiri asliku yang terbuka setengah. Keruh. Asin campur amis lumpur parit. Aku bahkan tidak bisa memejamkan mata buat mengusap cairan kotor itu. Mati rasa total. Seluruh plat besi di panggul, bahu, dan leher bawahku sudah terkunci kaku, tenggelam di bawah tumpukan daki semen kotor dan tahi kelelawar kering.Mati suri yang merepotkan.Dari dalam lubang dada kiriku yang bernanah, bau oli rem kental bercampur bensin busuk masih merembes keluar tanpa henti. Membuih. Cairan hitam itu mengalir pelan menembus ubin semen bunker yang retak, mengalir ke dalam ceruk pipa pembuangan di luar rumah pompa tua.Noda minyak busuk itu yang jadi petunjuknya.Ngiiiiing...Suara dengingan tinggi mendadak memotong keheningan saluran got bawah tanah. Tajam sekali. Bunyinya cempreng memetakkan telinga, mirip suara mesin pemotong keramik yang dinamonya sudah aus dipaksa memotong pelat baja tebal. Bau karbit terbakar
Pluk... pluk...Tetesan air keruh berkarat dari celah langit-langit semen bunker mendarat lagi di atas pelipis kananku. Asin. Bau lumut tua bercampur kotoran kelelawar kering yang mengendap berbulan-bulan makin padat menyumbat sisa respirator hidungku yang pecah katupnya.Lantai semen ini dinginnya tidak main-main. Rasa kebas menjalar tebal dari pangkal leher bawah sampai ke ujung lima jari tangan kanan organikku yang terkulai di atas tanah.Mati suri. Seluruh bodi besi seberat ratusan kilo ini terbaring kaku tanpa ada pendar lampu indikator sama sekali. Tapi dinding semen bunker yang tebal ini bertindak seperti corong pelantang suara. Tiap getaran kecil dari saluran got utama di luar rumah pompa tua merembes lurus masuk ke dalam kawat saraf tulang punggungku yang longgar dudukannya.Khuk! Huek!Suara batuk parau memantul keras di dalam terowongan beton di bawah tanah. Dekat sekali. Vane. Kapten pemberontak itu menyemburkan dahak kental bercampur darah tua ke dalam air comberan kotor.
Tuk.Sebuah batu kerikil kecil lepas lagi dari langit-langit semen bunker. Jatuh tepat di atas pelipis kananku yang sudah mati rasa. Bunyinya pluk kusam, tenggelam di antara bau bacin kotoran kelelawar kering dan bau oli rem busuk yang menyumbat seluruh lubang respirator penyokku.Mati suri. Seluruh sirkuit dari batas rahang sampai ujung sepatu bot militarku benar-benar tidak bergerak. Mau mengedipkan kelopak mata kiri asliku yang terbuka setengah saja rasanya seperti menyeret jangkar kapal karam di dasar lumpur parit.Bzzzzt...Kawat tembaga di dalam lubang dada kiriku yang bernanah meletup pelan. Kecil sekali. Cuma sekelebat percikan setrum tipis yang membakar sisa daki di tulang rusuk asliku, tapi getarannya menjalar lurus menembus tanah menuju Istana Seowon di tengah kota. Tali mana kehidupan. Kawat gaib yang membentang di antara jantungku yang mati suri dan dada Haneul kembali menyalurkan gema gila dari panggung takhta sana.Hah... hah...Sensasi napas Haneul yang tercekat di ker
Pluk... pluk.Tetesan air tanah berbau karatan mendarat tepat di sela pelipis kiriku yang penuh kerak semen kering. Dingin. Cairan keruh itu mengalir lambat melewati pipi asliku, tersangkut di sudut bibirku yang pecah-pecah berdarah. Asin campur daki. Mati rasa total dari batas leher sampai ke ujung bot militer penyokku yang solnya sudah melosot di dalam lumpur bunker.Gelapnya ruangan semen bawah tanah ini benar-benar pekat, tebal, mirip ditimbun karung terpal kotor di dasar sumur mati. Jam internal di dalam tempurung kepalaku sudah mati total sejak indikator Fatal-00 menyala di mata bionikku beberapa hari lalu.Kopong. Mati suri beneran badanku sekarang.Aneh beneran sisa isi otak manusianya. Di tengah kondisi kotor ti
Pluk.Tetesan air tanah yang berbau karatan mendarat lagi di pelipis kiriku. Asin campur tanah. Bau lumut tua bercampur kotoran kelelawar kering menyumbat penuh di sela lubang respirator penyokku. Masih kaku. Mati rasa dari leher sampai ke ujung bot militerku yang solnya terlepas di dalam lumpur bunker.Gelapnya ruang semen bawah tanah ini benar-benar tebal, tidak ada bedanya dengan memejamkan mata. Jam internal di kepalaku sudah mati total. Aku tidak tahu berapa hari atau berapa minggu aku sudah telentang di kolong rumah pompa tua ini seperti bangkai mesin traktor yang dibuang pemiliknya.Bzzzzt.Meletup tipis sekali sisa kabel di lubang dada kiriku. Bukan rasa panas membakar seperti di altar dulu, cuma kedutan kecil di sela tulang rusuk asliku yang patah.Masih ada denyut di dalam sana.Pelan sekali. Dug... berjarak sangat panjang, seperti detak jarum jam dinding tua yang kehabisan baterai. Aneh beneran. Di tengah kegelapan yang menghimpit dada besiku, sisa pikiran manusianya mendad
Tik... tik... tik.Tetesan air tanah berbau karat jatuh berulang kali di atas pelat zirah dada kiriku yang sudah jebol. Dingin. Bensin busuk bercampur sisa oli rem yang kemarin membuih di rongga dadaku sekarang sudah mengering kaku, berubah jadi kerak hitam yang melengketkan sisa kain baju militarku ke tulang rusuk asli. Gelapnya bunker bawah tanah ini beneran pekat tanpa ampun. Tidak ada suara desis katup air, tidak ada desing sirkuit bionik, cuma ada bau kotoran kelelawar kering bercampur lumut tua yang menyumbat sisa lubang hidungku.Berapa hari aku telentang kaku di atas lantai semen kotor ini? Entahlah. Jam internal di dalam tempurung kepalaku sudah mati total sejak indikator Fatal-00 menyala di mata bionikku kemarin.Kopong. Mati suri beneran.Anehnya, sisa kesadaran manusiaku yang terapung di dalam kegelapan pekat mendadak melintas memikirkan rasa kuah soto mie dingin yang dibungkus plastik lecek di pinggir jalan perkebunan dulu. Sangat acak dan goblok. Kenapa juga ingatan samp
Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi mem
Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi,
Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak be
Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang







