Share

Nelayan Perkasa Pemikat Wanita
Nelayan Perkasa Pemikat Wanita
Author: Sedap Malam

Bab 1

Author: Sedap Malam
last update publish date: 2026-06-24 10:00:51

"Minggir kamu! Dasar orang cacat!"

Tubuh Yudha limbung setelah dihantam dorongan kasar seorang pria berbadan tegap. Peti-peti berisi ikan segar yang hanyut di Pesisir Utara Laut Jawa sore itu langsung ludes diperebutkan warga desa, menyisakan Yudha yang tersungkur di atas pasir pantai. Kaki kirinya yang mengecil sejak lahir terasa nyeri akibat berbenturan dengan sisa kayu kapal.

"Orang cacat seperti dia mana mungkin bisa melaut, cuma jadi beban! Lihatlah, ibunya sampai mati karena kecapekan mengurusnya dari bayi sampai dewasa!" cemooh warga lain yang memancing tawa riuh di sekitar pantai.

Dada Yudha bergemuruh perih.

"Jangan bawa-bawa ibuku!" geramnya. Ia mencoba mengumpulkan lima ekor ikan sisa yang berhasil ia raih. Namun, seorang pemuda sengaja menyenggolnya lagi hingga ikan-ikan itu terlepas, kotor berlumur pasir.

Di tengah tatapan rendah orang-orang, sebuah bayangan lembut menatapnya. Sepasang tangan lentik tiba-tiba terulur, menahan pundak Yudha agar tidak kembali jatuh.

"Kalian ini apa-apaan, sih?! Sama orang lemah kok tega betul!"

Yudha mendongak. Di sana, berlutut di atas pasir yang basah, ada Ratna. Kembang desa pujaan semua lelaki itu menatap tajam ke arah warga yang perlahan membubarkan diri sambil bersungut-sungut. Ratna kemudian beralih menatap Yudha, pandangannya melunak penuh kecemasan.

"Kamu enggak apa-apa, Yudha? Ada yang luka?" tanya Ratna sambil jemari halusnya membantu memunguti lima ekor ikan yang sempat kotor.

Yudha tercekat, tenggorokannya mendadak kering. "A–aku enggak apa-apa, Ratna. Cuma... ikannya kotor semua."

"Enggak apa-apa, tinggal dicuci," sahut Ratna lembut. Gadis itu mencengkeram lengan Yudha, membantunya berdiri dan memastikan pemuda itu bertumpu kuat pada tongkat kayunya.

Ratna menyunggingkan senyum manis yang membuat jantung Yudha berdesir hebat.

"Lain kali kalau mau ikan, jangan ikut berebut seperti ini. Datang saja ke rumahku, nanti aku ambilkan dari gudang Bapak. Ya?"

Yudha hanya bisa mengangguk kaku, wajahnya memerah.

"Terima kasih, Ratna. Kamu... baik sekali."

"Sama-sama. Aku duluan ya, bapak sudah menunggu di dermaga. Hati-hati jalannya," ujar Ratna, memberikan satu senyuman termanisnya sebelum melangkah pergi membelah semilir angin sore.

Yudha berdiri mematung. Baginya yang selama ini hidup sebatang kara dan hanya menerima makian, kebaikan Ratna terasa seperti oase. Rasa percaya dirinya melonjak terlalu tinggi, memercikkan angan-angan liar di kepalanya bahwa gadis secantik Ratna mungkin menaruh hati padanya.

Yudha menghela napas panjang untuk menenangkan dadanya.

Namun, saat ia hendak menggerakkan kakinya yang pincang untuk pulang, ujung tongkat kayunya membentur sesuatu yang keras di dalam pasir. Bunyi klenting kecil menarik perhatiannya.

Yudha berlutut dengan susah payah, jemarinya meraba gundukan pasir basah di sela batu karang. Sebuah kalung giok kuno berwarna hijau tua terangkat dari sana. Ukiran naga laut di permukaannya terasa timbul dan halus saat disentuh.

Begitu Yudha mengusap sisa pasir yang menempel, sebuah keanehan terjadi. Seberkas cahaya hijau pekat tiba-tiba memancar terang dari batu giok itu. Cahayanya berdenyut kuat selama beberapa detik, menghantarkan rasa hangat yang menyengat langsung ke telapak tangan, sebelum akhirnya meredup kembali.

Yudha tersentak. "Benda apa ini? Kok... hangat?" bisiknya heran. Karena takut ada warga yang melihat, ia buru-buru memasukkan kalung itu ke dalam saku celananya dan bergegas melangkah pulang.

Sesampainya di depan rumah reotnya di sudut desa, pintu kayu yang lapuk tiba-tiba terbuka lebar bahkan sebelum Yudha sempat mengetuknya.

"Yudha! Kamu dari mana saja, hah?!"

Sesosok wanita berwajah manis dengan rambut yang dikuncir asal langsung menghambur keluar. Itu Sari, kakak tirinya. Tanpa memedulikan baju Yudha yang penuh pasir dan bau amis pantai, Sari langsung memeluk tubuh pemuda itu dengan sangat erat. Dada Sari naik turun, napasnya memburu berbenturan erat dengan dada Yudha.

"Mbak... lepas dulu, aku bau amis," gumam Yudha kikuk.

"Biarin! Aku takut kamu kenapa-napa di pantai, Yudha! Tadi orang-orang sibuk bilang ombak lagi mengamuk dan semua orang rebutan peti ikan!" seru Sari di dalam pelukannya, suaranya bergetar menahan tangis yang hampir pecah.

"Aku enggak apa-apa, Mbak. Ini, buktinya aku bisa pulang," jawab Yudha, mencoba menepuk pundak kakak tirinya itu dengan tangan yang bebas dari tongkat.

"Jangan buat aku jantungan lagi! Ibu sudah enggak ada, cuma kamu adik yang aku punya di dunia ini. Kalau kamu kenapa-napa, aku sama siapa?" Sari semakin mempererat dekapannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yudha, menyalurkan seluruh rasa khawatir yang membuncah.

Namun, di tengah kehangatan dekapan kakak tirinya yang tulus, Yudha tiba-tiba merasakan sensasi yang aneh dari dalam tubuhnya. Saku celananya—tempat kalung giok itu disimpan—mendadak memanas, seperti ada bara api yang ditempelkan di sana.

Hawa panas yang luar biasa itu menjalar sangat cepat, merambat naik ke pangkal paha, lalu menusuk kuat langsung ke pusat kelelakiannya di bagian bawah perut.

Deg! Deg! Deg!

Jantung Yudha berdegup kencang. Hasrat yang selama bertahun-tahun mati suri—yang membuat seluruh desa mencapnya sebagai pria impoten yang tidak berguna—tiba-tiba bergejolak hebat, meletup-letup bagai air mendidih.

Ada energi murni yang mendadak memenuhi bawah perutnya. Bagian tubuh yang selama ini layu, lunak, dan mati, secara ajaib mendadak memberontak hebat.

Sesuatu di balik celana dalamnya meregang kencang, membesar, dan bereaksi dengan kekuatan yang perkasa. Sebuah tonjolan yang luar biasa keras dan panjang bangkit seketika, menghentak kencang di balik kain celananya.

Yudha terbelalak, napasnya langsung tercekat di tenggorokan. Perasaan syok dan tidak percaya bercampur saat merasakan gairah kejantanan yang meluap-luap untuk pertama kali dalam hidupnya.

Sari yang masih memeluk erat tubuh Yudha mendadak merengut. Ia merasakan ada sesuatu yang janggal. Sebuah benda yang keras, besar, dan panas tiba-tiba menekan dan mengganjal bawah perutnya dengan ritme yang berkedut halus dari balik pakaian Yudha.

Sari melepaskan pelukannya perlahan. Wajah manisnya tampak berkerut kebingungan, dan matanya langsung turun, tertuju pada bagian depan celana Yudha yang menggembung sangat janggal dan besar.

"Lho, Yudha... kamu bawa apa ini? Kok di celana dalammu... ada yang bergerak-gerak keras begini?" tanya Sari polos, matanya mengerjap penasaran melihat tonjolan yang tampak berdenyut di balik kain itu.

Yudha panik setengah mati, keringat dingin langsung membanjiri pelipisnya. Wajahnya merah padam sampai ke telinga.

"E-eh? Enggak, Mbak! Ini... ini bukan apa-apa! Cuma perasaan Mbak saja!"

Sari tentu tidak percaya begitu saja. Melihat adiknya yang tampak gugup dan salah tingkah, sebuah senyum tipis menggoda langsung terbit di wajah manis kakak tirinya itu. Ia mengira Yudha yang kelaparan berhasil menyembunyikan sesuatu yang berharga dari pantai tanpa ketahuan warga lain.

"Kamu dapat ikan ya? Kamu sembunyikan ikan dari peti warga?" selidik Sari, matanya berbinar.

"B-bukan, Mbak! Demi Tuhan, ini bukan ikan!" seru Yudha panik, mencoba melangkah mundur untuk menjauh, namun kakinya yang pincang membuatnya justru limbung dan tertahan di dinding rumah.

"Halah, jangan bohong sama Mbak! Kalau bukan ikan, kenapa bentuknya panjang, berisi, dan keras begini?" Sari tertawa kecil, melangkah maju mengikis jarak, membuat Yudha semakin tersudut tak berkutik. "Tapi aneh banget... kamu ini gimana, sih? Kok dapat ikan malah disimpan di dalam celana dalammu? Nanti amisnya ke mana-mana, Yudha! Sini keluarin!"

"Mbak, tolong jangan dibuka! Ini benar-benar bukan ikan, Mbak, beneran!" Yudha memelas, kedua tangannya mencoba menutupi bagian depannya yang semakin menegang perkasa karena hawa panas dari kalung giok di sakunya terus mengalir tanpa henti.

"Ah, kelamaan! Kamu dari dulu selalu pemalu!" Sari mendengus gemas. Rasa penasarannya sudah berada di ubun-ubun. "Sini biar aku lihat sendiri! Jangan-jangan kamu dapat ikan tenggiri besar ya?!"

Tanpa aba-aba, gerakan tangan Sari melesat cepat. Dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu untuk merebut 'ikan' tersembunyi itu, jemari lentik Sari langsung menyambar pinggiran karet celana Yudha, mencengkeram kainnya dengan kuat, dan bersiap menarik celana dalam adik tirinya itu ke bawah secara paksa!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Demi Ratna, Yudha rela melakukan dengan Sari

    Mendengar nama perempuan yang ia sukai menjadi tawanan para perampok, Yudha gemetar. Sepanjang perjalanan ia menuju pelabuhan terlihat banyak bangunan rusak, darah menggenang di beberapa titik ada serta orang-orang yang menangisi kerabat atau keluarga mereka yang tewas. Setidaknya dalam insiden itu ada empat orang terluka dan dua meninggal dunia. Kekacauan yang selama ini tak pernah dilihat oleh Yudha sejak kecil.Dia terus berlari menuju pelabuhan, di sana terlihat Juragan Kardi bersimpuh memandang lautan. Semua orang menjauh, bahkan anak buahnya pun tak ada yang mendekati untuk menghibur."Mereka membawa Ratna, aku terlambat mengejar," kata Juragan Kardi begitu Yudha berdiri di dekatnya."Ayo, kita kejar mereka. Kita gunakan semua kemampuan, jangan sampai di ditindas sama perampok," Yudha menghampiri anak buah juragan Kardi dan warga satu persatu, namun semuanya mundur."Para perampok itu sangat kejam, mereka bukan cuma mengincar harta tapi juga menganggap membunuh seperti sebuah ke

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    "Yudha, Mbak juga mau coba punyamu,"

    "Aku akan bungkam mulut kambing bendot itu." Yudha mengepalkan tangannya geram, sementara Ratna yang pada saat itu diangggap sebagai bahan taruhan lekas pergi menjauh. Yudha segera mengejar Ratna agar tak terjadi salah paham. "Ratna, kenapa kamu muram begitu?""Aku enggak suka dengan caramu. Lagian kita bisa menjalani hubungan tanpa kamu meladeni bapakku," jawab Ratna. "Aku hanya ingin dia berhenti mengejek, itu aja," Yudha mencoba menjelaskan pada Ratna, namun anak juragan paling kaya di desa itu seperti enggan menghiraukan. Dia tetap pergi entah memikirkan apa.Ocehan kasar Juragan Kardi seperti tantangan tersendiri bagi Yudha, ia pergi meninggalkan kerumunan untuk pulang ke rumah."Ada berita apa? Aku dengar kegaduhan di pelabuhan," tanya Sari saat Yudha memasuki pintu rumah."Katanya desa ini habis didatangi perampok, Juragan Kardi sampai mengeluarkan sayembara pada warga desa yang berani melawan perampok,""Ah, kamu masih memperdulikan ocehan orang itu? Kita sekarang sudah punya

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Sayembara Berhadiah Nikah

    Kamar mandi di rumah itu tak memiliki atap, hanya dinding dari bambu setinggi hampir dua meter. Yudha mengintip ke dalam, ia melihat Yasmin sedang duduk dengan kaki terbuka. Satu tangannya mengusap melon kembar, sementara tangan lainnya naik turun mengusap serabi miliknya. "Aaaahm, a---aaaakh!" Yasmin terpejam, mulutnya mendesis dengan gerakan jari yang cepat mengusap belahan hutan belantara miliknya yang becek. "Yasmin, kamu lagi ngapain?" tanya Yudha, seketika Yasmin langsung berhenti. Dia malu karena Yudha mengetahui apa yang dia kerjakan di dalam kamar mandi. "Ehm, aku lagi mau pipis!" jawab Yasmin dengan suara sedikit meninggi. Dia kesal karena Yudha seperti sengaja menghindari dirinya, ada rasa cemburu saat melihat perlakuan Yudha ke Ratna tadi. Sekitar jam 11 malam Sari dan Pak Wagino datang bersama seseorang. Yudha yang mengetahui sebelum mereka masuk pun segera kembali ke kamar dan berpura-pura tidur. "Yasmin, gimana keadaan Yudha?" Pak Wagino bertanya pada cucunya yan

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Yasmin Yang Genit

    Yasmin terus mengusap pusaka itu dengan kedua tangannya, ia memanfaatkan momen Yudha yang pingsan. Matanya membulat sempurna menyaksikan benda kekar dari pria yang divonis impoten sejak dulu. "Mas Yudha, maaf ... aku terlalu ingin merasakan ini," ucap Yasmin lirih. Dia mulai lebih berani, kali ini merogoh dua kelereng Yudha dengan gesekan dua jari yang lembut."Aku harus mengunci pintu," ia meninggalkan Yudha berbalik ke arah pintu. Kali ini akan jadi keseruan tersendiri bagi Yasmin untuk melumat milik Yudha yang perkasa."Sluuurp!" Lidah Yasmin terjulur panjang memberikan pijatan lembut sampai ke belalai berkepala yang kenyal. Ia memainkan bibirnya dengan air liur yang membuat pusaka Yudha basah mengkilap.Sementara dalam pikiran Yudha yang pingsan bermimpi, ia mendapati dirinya sedang duduk di hadapan Dewi Lanjar. "Bangunlah, sentuhan gadis itu bisa membuat ragamu pulih," kata Dewi Lanjar dengan wajah penuh welas asih.Yudha menggeliat, ia membuka mata dan melihat Yasmin menikmati p

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pusaka Yudha Di balik Kain

    Kraaak!Kapal itu akhirnya mengalami kerusakan juga di bagian mesin, terdengar suara berisik disertai kepulan asap yang semakin lama semakin pekat. Ada rembesan bahan bakar yang mulai mengarah ke mereka. "Aku rasa kapal ini akan meledak," ujar Yudha, ia menurunkan sekoci dan beberapa peralatan darurat. Untungnya saat itu mereka sudah mendekati wilayah pantai sekitar satu kilometer lagi."Kita tinggalkan kapal di sini," kata Ranta, Yudha bisa merasakan jika terlambat turun bisa jadi akan ikut terbakar bersama kapal yang asapnya kian menebal."Pegang tanganku, dalam hitungan ketiga kita melompat bersamaan," ajak Yudha yang mengandeng tangan Ratna.Dhuaaar!Satu ledakan terdengar mengejutkan, Yudha menoleh ke arah api yang bergerak cepat ke arahnya."Sekarang!" pekik Yudha, ia mendorong Ratna ke arah sekoci, namun naas saat hendak melompat justru Yudha terperangkap kobaran api.Byuuur!Anak juragan Kardi itu langsung masuk ke permukaan air, ia berusaha menggapai pelampung yang tadi dilem

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pulau Misterius

    Mahluk berwujud menyeramkan dengan badan bagian bawah menyerupai ikan, bersisik yang berkilau, matanya besar dan menonjol, lengan yang panjang berselaput dan bersirip. Mahluk itu bergerak cepat meski merayap, Ratna melihat pergerakan mahluk di belakang punggung Yudha, secara spontan Yudha mengarahkan tombak itu ke dada mahluk buas tersebut.Sraaak!Bilah tombak yang tajam tak mampu melukai sedikit pun, meski ujung tombak mengenai leher mahluk berwujud manusia setengah ikan. Hanya satu kali tepisan tombak itu patah, tangannya yang kuat dan kekar mengangkat Yudha ke udara dan melemparkannya membentur dinding.Braaak!Seluruh tulang Yudha terasa remuk, badannya nyeri luar biasa. Kini mahluk itu berdiri tepat di hadapan Ratna dengan dua tangan berkuku panjang yang siap menerkam."Yudha, tolooong!" pekik Ratna, karena tak ingin Ratna menjadi santapan mahluk itu Yudha kembali bangkit. Dia memegang serpihan tombak dan sekali lagi menyerang mahluk tersebut dari samping.Craaash!Bilah tajam i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status