LOGIN
"Minggir kamu! Dasar orang cacat!"
Tubuh Yudha limbung setelah dihantam dorongan kasar seorang pria berbadan tegap. Peti-peti berisi ikan segar yang hanyut di Pesisir Utara Laut Jawa sore itu langsung ludes diperebutkan warga desa, menyisakan Yudha yang tersungkur di atas pasir pantai. Kaki kirinya yang mengecil sejak lahir terasa nyeri akibat berbenturan dengan sisa kayu kapal. "Orang cacat seperti dia mana mungkin bisa melaut, cuma jadi beban! Lihatlah, ibunya sampai mati karena kecapekan mengurusnya dari bayi sampai dewasa!" cemooh warga lain yang memancing tawa riuh di sekitar pantai. Dada Yudha bergemuruh perih. "Jangan bawa-bawa ibuku!" geramnya. Ia mencoba mengumpulkan lima ekor ikan sisa yang berhasil ia raih. Namun, seorang pemuda sengaja menyenggolnya lagi hingga ikan-ikan itu terlepas, kotor berlumur pasir. Di tengah tatapan rendah orang-orang, sebuah bayangan lembut menatapnya. Sepasang tangan lentik tiba-tiba terulur, menahan pundak Yudha agar tidak kembali jatuh. "Kalian ini apa-apaan, sih?! Sama orang lemah kok tega betul!" Yudha mendongak. Di sana, berlutut di atas pasir yang basah, ada Ratna. Kembang desa pujaan semua lelaki itu menatap tajam ke arah warga yang perlahan membubarkan diri sambil bersungut-sungut. Ratna kemudian beralih menatap Yudha, pandangannya melunak penuh kecemasan. "Kamu enggak apa-apa, Yudha? Ada yang luka?" tanya Ratna sambil jemari halusnya membantu memunguti lima ekor ikan yang sempat kotor. Yudha tercekat, tenggorokannya mendadak kering. "A–aku enggak apa-apa, Ratna. Cuma... ikannya kotor semua." "Enggak apa-apa, tinggal dicuci," sahut Ratna lembut. Gadis itu mencengkeram lengan Yudha, membantunya berdiri dan memastikan pemuda itu bertumpu kuat pada tongkat kayunya. Ratna menyunggingkan senyum manis yang membuat jantung Yudha berdesir hebat. "Lain kali kalau mau ikan, jangan ikut berebut seperti ini. Datang saja ke rumahku, nanti aku ambilkan dari gudang Bapak. Ya?" Yudha hanya bisa mengangguk kaku, wajahnya memerah. "Terima kasih, Ratna. Kamu... baik sekali." "Sama-sama. Aku duluan ya, bapak sudah menunggu di dermaga. Hati-hati jalannya," ujar Ratna, memberikan satu senyuman termanisnya sebelum melangkah pergi membelah semilir angin sore. Yudha berdiri mematung. Baginya yang selama ini hidup sebatang kara dan hanya menerima makian, kebaikan Ratna terasa seperti oase. Rasa percaya dirinya melonjak terlalu tinggi, memercikkan angan-angan liar di kepalanya bahwa gadis secantik Ratna mungkin menaruh hati padanya. Yudha menghela napas panjang untuk menenangkan dadanya. Namun, saat ia hendak menggerakkan kakinya yang pincang untuk pulang, ujung tongkat kayunya membentur sesuatu yang keras di dalam pasir. Bunyi klenting kecil menarik perhatiannya. Yudha berlutut dengan susah payah, jemarinya meraba gundukan pasir basah di sela batu karang. Sebuah kalung giok kuno berwarna hijau tua terangkat dari sana. Ukiran naga laut di permukaannya terasa timbul dan halus saat disentuh. Begitu Yudha mengusap sisa pasir yang menempel, sebuah keanehan terjadi. Seberkas cahaya hijau pekat tiba-tiba memancar terang dari batu giok itu. Cahayanya berdenyut kuat selama beberapa detik, menghantarkan rasa hangat yang menyengat langsung ke telapak tangan, sebelum akhirnya meredup kembali. Yudha tersentak. "Benda apa ini? Kok... hangat?" bisiknya heran. Karena takut ada warga yang melihat, ia buru-buru memasukkan kalung itu ke dalam saku celananya dan bergegas melangkah pulang. Sesampainya di depan rumah reotnya di sudut desa, pintu kayu yang lapuk tiba-tiba terbuka lebar bahkan sebelum Yudha sempat mengetuknya. "Yudha! Kamu dari mana saja, hah?!" Sesosok wanita berwajah manis dengan rambut yang dikuncir asal langsung menghambur keluar. Itu Sari, kakak tirinya. Tanpa memedulikan baju Yudha yang penuh pasir dan bau amis pantai, Sari langsung memeluk tubuh pemuda itu dengan sangat erat. Dada Sari naik turun, napasnya memburu berbenturan erat dengan dada Yudha. "Mbak... lepas dulu, aku bau amis," gumam Yudha kikuk. "Biarin! Aku takut kamu kenapa-napa di pantai, Yudha! Tadi orang-orang sibuk bilang ombak lagi mengamuk dan semua orang rebutan peti ikan!" seru Sari di dalam pelukannya, suaranya bergetar menahan tangis yang hampir pecah. "Aku enggak apa-apa, Mbak. Ini, buktinya aku bisa pulang," jawab Yudha, mencoba menepuk pundak kakak tirinya itu dengan tangan yang bebas dari tongkat. "Jangan buat aku jantungan lagi! Ibu sudah enggak ada, cuma kamu adik yang aku punya di dunia ini. Kalau kamu kenapa-napa, aku sama siapa?" Sari semakin mempererat dekapannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yudha, menyalurkan seluruh rasa khawatir yang membuncah. Namun, di tengah kehangatan dekapan kakak tirinya yang tulus, Yudha tiba-tiba merasakan sensasi yang aneh dari dalam tubuhnya. Saku celananya—tempat kalung giok itu disimpan—mendadak memanas, seperti ada bara api yang ditempelkan di sana. Hawa panas yang luar biasa itu menjalar sangat cepat, merambat naik ke pangkal paha, lalu menusuk kuat langsung ke pusat kelelakiannya di bagian bawah perut. Deg! Deg! Deg! Jantung Yudha berdegup kencang. Hasrat yang selama bertahun-tahun mati suri—yang membuat seluruh desa mencapnya sebagai pria impoten yang tidak berguna—tiba-tiba bergejolak hebat, meletup-letup bagai air mendidih. Ada energi murni yang mendadak memenuhi bawah perutnya. Bagian tubuh yang selama ini layu, lunak, dan mati, secara ajaib mendadak memberontak hebat. Sesuatu di balik celana dalamnya meregang kencang, membesar, dan bereaksi dengan kekuatan yang perkasa. Sebuah tonjolan yang luar biasa keras dan panjang bangkit seketika, menghentak kencang di balik kain celananya. Yudha terbelalak, napasnya langsung tercekat di tenggorokan. Perasaan syok dan tidak percaya bercampur saat merasakan gairah kejantanan yang meluap-luap untuk pertama kali dalam hidupnya. Sari yang masih memeluk erat tubuh Yudha mendadak merengut. Ia merasakan ada sesuatu yang janggal. Sebuah benda yang keras, besar, dan panas tiba-tiba menekan dan mengganjal bawah perutnya dengan ritme yang berkedut halus dari balik pakaian Yudha. Sari melepaskan pelukannya perlahan. Wajah manisnya tampak berkerut kebingungan, dan matanya langsung turun, tertuju pada bagian depan celana Yudha yang menggembung sangat janggal dan besar. "Lho, Yudha... kamu bawa apa ini? Kok di celana dalammu... ada yang bergerak-gerak keras begini?" tanya Sari polos, matanya mengerjap penasaran melihat tonjolan yang tampak berdenyut di balik kain itu. Yudha panik setengah mati, keringat dingin langsung membanjiri pelipisnya. Wajahnya merah padam sampai ke telinga. "E-eh? Enggak, Mbak! Ini... ini bukan apa-apa! Cuma perasaan Mbak saja!" Sari tentu tidak percaya begitu saja. Melihat adiknya yang tampak gugup dan salah tingkah, sebuah senyum tipis menggoda langsung terbit di wajah manis kakak tirinya itu. Ia mengira Yudha yang kelaparan berhasil menyembunyikan sesuatu yang berharga dari pantai tanpa ketahuan warga lain. "Kamu dapat ikan ya? Kamu sembunyikan ikan dari peti warga?" selidik Sari, matanya berbinar. "B-bukan, Mbak! Demi Tuhan, ini bukan ikan!" seru Yudha panik, mencoba melangkah mundur untuk menjauh, namun kakinya yang pincang membuatnya justru limbung dan tertahan di dinding rumah. "Halah, jangan bohong sama Mbak! Kalau bukan ikan, kenapa bentuknya panjang, berisi, dan keras begini?" Sari tertawa kecil, melangkah maju mengikis jarak, membuat Yudha semakin tersudut tak berkutik. "Tapi aneh banget... kamu ini gimana, sih? Kok dapat ikan malah disimpan di dalam celana dalammu? Nanti amisnya ke mana-mana, Yudha! Sini keluarin!" "Mbak, tolong jangan dibuka! Ini benar-benar bukan ikan, Mbak, beneran!" Yudha memelas, kedua tangannya mencoba menutupi bagian depannya yang semakin menegang perkasa karena hawa panas dari kalung giok di sakunya terus mengalir tanpa henti. "Ah, kelamaan! Kamu dari dulu selalu pemalu!" Sari mendengus gemas. Rasa penasarannya sudah berada di ubun-ubun. "Sini biar aku lihat sendiri! Jangan-jangan kamu dapat ikan tenggiri besar ya?!" Tanpa aba-aba, gerakan tangan Sari melesat cepat. Dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu untuk merebut 'ikan' tersembunyi itu, jemari lentik Sari langsung menyambar pinggiran karet celana Yudha, mencengkeram kainnya dengan kuat, dan bersiap menarik celana dalam adik tirinya itu ke bawah secara paksa!Di kediamannya, Suseno baru menerima tamu terakhirnya yang datang untuk urusan piutang. Saat melihat Wati berdiri di ambang pintu, Suseno langsung meminta tamunya itu pergi. Kali ini Irawan sedang tidak berada di rumah. "Pak, aku ke sini untuk menebus kesalahanku. Memang aku mengakui jika uang itu aku pakai untuk kebutuhan sehari-hari, tak masalah jika aku harus menggantinya dengan pekerjaan yang lain," ucap Wati dengan wajah tertunduk."Masuk dulu," pinta Suseno, ia kembali duduk dan menghela napas panjang. "Uang itu tak sedikit, aku mengira jika uang itu habis dipakai oleh Sari, tapi ternyata justru kami pakai sendiri. Aku kehilangan muka di depan dia karena ulahmu. Dia perempuan baik tidak seperti yang aku kira sebelumnya," gumam Suseno. "Be--benar, Pak. Dia memang perempuan yang baik, dan aku juga terpaksa memakai uang itu karena enggak memiliki pilihan lain," balas Wati. "Lalu Bagaimana kamu bisa mengembalikan uang itu? Sedangkan di sini aku tidak punya pembantu, jika kamu ber
Warna dan motif celana dalam itu sangat familiar, ada bekas cairan di sana. Suseno yakin jika Wati merahasiakan sesuatu di rumah ini. "Kamu ada main dengan anakku? Jika begini caramu, maka jangan salahkan aku jika nanti aku berbuat kasar!" bentak Suseno, Wati terdiam seribu bahasa. Dengan cepat Wati menyambar celana itu, terjadi tarik menarik antara Suseno dengan Wati. "Bawa siniiii!" Suseno mendorong Wati hingga jatuh terlentang, kain yang dia pakai tersingkap hingga lekuk tubuh bagian atas terlihat oleh Suseno. Gede, putih dan kenyal dengan sisa peluh yang masih menempel. Suseno memandang tanpa berkedip, pantas saja jika Irawan sering ke sini rupanya Wati yang merupakan seorang janda memiliki pesona tersembunyi. Suseno sampai menelan air liur. "Bapak enggak boleh begini, celana itu milik mantan suamiku, dia beberapa hari yang lalu ke sini menengok anak," ucap Wati setelah diam untuk mencari alasan, ia berdiri dan menautkan kain menutupi tubuhnya yang tadi sempat terekspos."Manta
Wati begitu bersemangat, ia merangkul pundak Irawan dan melumat bibir pemuda itu. Dengan berani dia meletakkan tangan Irawan ke melon kembarnya untuk disesap. "Wan, lebih kencang ... remas aaaakh!" rancau Wati. Perempuan itu menggoyangkan pinggulnya, bahkan tak perduli jika mereka masih memakai pakaian lengkap. "Lepas semuanya, biar kulit kita menyatu dalam kehangatan, Wan. Aku benar-benar gak tahan, uuuuh!" imbuh Wati yang berbicara dengan mata terpejam. Irawan semakin mahir, dia mengikuti semua perintah Wati dengan maksud mempelajari bagaimana sisi sensitif seorang perempuan.Di sisi lain, Sari baru sampai di rumah. Pikirannya semrawut, ada rasa bersalah jika dia terus memaksakan hubungan itu berlangsung padahal dia tahu akhirnya tak akan pernah direstui oleh orang tuanya Irawan yang terkenal sebagai seorang lintah darat.Klek!Pintu rumah dibuka, Sari masuk. Namun ketika hendak mengunci pintu, tiba-tiba ada yang menahan pintu itu agar tetap terbuka. Sari terkejut, Pak Suseno suda
Malam yang sunyi, Sari duduk termangu di dermaga. Sesekali ia menoleh ke arah jalan berharap Irawan segera datang, dengan dandanan sederhana ia menunggu seseorang yang dia sebut cinta. "Apa pantas aku buatnya? Perasaan ini tak dapat berdusta, aku menginginkan Irawan," batin Sari, ia tahu cintanya tak mungkin direstui tapi harapan pasti ada jika Irawan pun memiliki perasaan yang sama.Dengan mengayuh sepeda sekuat tenaga, Irawan tiba di sana. Semua pelajaran dari Wati telah ia cerna dan siap dipraktekkan. Dalam pikiran Irawan, Sari seorang perempuan yang haus belaian. "Sari, haiii!" sapa Irawan, senyum Sari merekah. Dia melihat Wawan yang pertama bertemu pemalu, kini sedikit berani. "Wan, kamu berkeringat," Sari melihat peluh menetes di sekujur badan Irawan, pemuda itu mengusap dengan lengannya. "Aku bawakan ini," langsung Irawan memberikan satu kotak berisi perhiasan berupa cincin, Sari termangu untuk beberapa saat. "Buat apa?" "Ya buat kamu dong, sini aku pasangin," Irawan meraih
Paginya seperti yang dijanjikan, Sari pergi ke rumah Wardah yang merupakan warga pendatang di pulau tersebut. Perempuan paruh baya itu hidup seorang diri, memiliki dua orang anak yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Usianya hampir seusia Yudha dan Sari, meski kerjaan itu hanya sebatas mengolah ikan untuk dikeringkan namun hasilnya cukup membuat mereka tidak kekurangan. "Fatin dan Arman, perkenalkan ini Sari. Mulai hari ini dia membantu kita mengolah ikan, perlakukan dia dengan baik karena di saat yang bersamaan kita butuh orang untuk membantu pekerjaan kita," Wardah memperkenalkan Sari pada dua orang anaknya. "Semoga kerasan ya, pekerjaan di sini cukup kasar. Bukan pekerjaan yang diinginkan perempuan muda, badan akan ikut amis karena aroma ikan," Fatin menghamilinya dan bersalaman, sementara Arman cuma menoleh sambil meletakan ikan yang telah disembelih ke wadah untuk dikeringkan. Pekerjaan di sana tidak terlalu berat, namun setiap proses yang dikerjakan membutuhkan waktu dan
"sekarang ngapain lagi?" tanya Wawan saat Wati hendak duduk di pangkuannya dengan posisi membelakangi. "Sttt, diam ... biar aku yang tunjukan caranya," Wati meraih milik Wawan, mengarahkan ke depan apem legitnya yang basah. "Kamu siap?" Wati menoleh ke Irawan, pemuda itu mengangguk pelan. Sleeep!Pusaka itu masuk perlahan-lahan, terasa hangat dan basah. Wawan yang baru pertama kali merasakan sentuhan seperti ini menahan napas, ia merasakan sensasi aneh yang mulai menjalar. Wati menggerakkan pinggulnya naik turun, gerakannya stabil dan lincah bahkan Wawan tak perlu susah-susah mengimbangi. "Uhmm, ini enak banget, Mbak ... aaaakh!" Irawan terpejam, ia merasakan miliknya terbenam di area yang lembut dan basah. Sekitar lima menitan, Wati merubah posisi. Kali ini menghadap ke Irawan. "Kamu hisap di sini, paham?" Janda itu menyodorkan satu melonnya ke wajah Wawan, tanpa disuruh dua kali Wawan pun mulai memberikan hisapan seperti bayi yang kehausan, sementara Wati bergerak cepat dengan ta