Share

Bab 2

Author: Sedap Malam
last update publish date: 2026-06-24 10:02:26

"Mbak, jangan!"

Yudha spontan melompat mundur, menyeret kaki kirinya yang lemah tepat ketika jemari Sari baru saja mencengkeram pinggiran karet celananya.

Tok! Tok! Tok!

"Mbak Sari! Mau beli bumbu bakar ikan dua bungkus!" sebuah suara cempreng dari balik pintu menyelamatkan Yudha.

Sari berdecak gemas, terpaksa menurunkan tangannya. Ia menatap Yudha penuh selidik sebelum berbalik melayani pembeli. Demi menghidupi mereka sejak ibu tiada, Sari memang harus memeras keringat mencari rempah-rempah liar di hutan lalu menumbuknya menjadi bumbu siap pakai.

Melihat kakaknya sibuk, Yudha bergegas menyeret langkah pincangnya menuju kamar mandi dan mengunci pintu. Dengan tangan gemetar, ia menurunkan celana untuk mengecek apa yang terjadi.

Namun, dada Yudha seketika dilingkupi rasa kecewa.

Kejantanannya yang baru saja menghentak kencang, kini kembali layu dan mati suri. Keadaannya kembali seperti semula—kecil dan tak bertenaga.

Yudha terduduk di lantai yang dingin dengan bingung. Pemicu utama pusakanya meledak hebat tadi adalah ketika tubuhnya didekap erat oleh Sari. Sentuhan kulit kakak tirinya yang hangat dan basah oleh keringat terasa seperti kunci yang membuka segel kutukannya.

"Apakah karena Mbak Sari?" gumam Yudha tak mengerti.

Enggan tenggelam dalam kebingungan, Yudha segera mandi. Setelah berpakaian rapi dengan baju terbaiknya yang lusuh namun wangi, ia keluar kamar. Di tangannya, ia sudah memegang seikat bunga liar yang ia petik dari tepi jalan.

Sari yang sedang merapikan dagangan bumbunya menoleh, lalu mengerutkan kening. "Mau ke mana rapi betul, Yudha? Pakai bawa bunga segala?"

"Aku mau ke rumah Ratna, Mbak. Sore tadi di pantai dia menyuruhku datang ke rumahnya kalau butuh ikan," jawab Yudha polos, matanya berbinar penuh harap.

"Aku mau menyatakan perasaanku."

Wajah Sari mendadak berubah cemas. Ia melangkah mendekat dan memegang pundak adiknya.

"Yudha, jangan ngawur! Sadar posisi kita. Kita ini cuma remah-remah di mata para juragan ikan itu. Juragan Kardi tidak akan sudi melihatmu mendekati anaknya."

"Tapi Ratna berbeda dari mereka, Mbak! Tadi di pantai dia menolongku saat warga mencemoohku. Dia tersum manis padaku. Ratna punya hati yang tulus," bantah Yudha bersikeras, egonya membumbung tinggi mengingat keajaiban fisiknya yang sempat bangkit tadi.

Sari menghela napas berat, matanya menatap sendu.

"Kebaikan kembang desa itu sering kali cuma kasihan, Yudha. Jangan tinggikan harapanmu, Mbak tak mau kamu terluka nanti."

"Aku tetap harus pergi, Mbak. Aku yakin Ratna tulus," potong Yudha mutlak. Ia mencoba melepas pegangan Sari.

Namun, cengkeraman tangan Sari di pundaknya justru mengencang, perlahan bergetar.

"Yudha, tolong dengarkan Mbak sekali ini saja," bisik Sari, matanya mulai berkaca-kaca. "Ibumu... Ibu yang sudah menyelamatkan nyawaku dari kelaparan di jalanan belasan tahun lalu. Ibumu memungutku, merawatku, dan menganggapku anak sendiri saat semua orang membuangku. Aku sudah bersumpah di depan jasadnya untuk membaktikan seluruh hidupku demi menjaga kamu, satu-satunya darah daging beliau."

Sari menyeka sudut matanya yang basah. "Meskipun kita tidak sedarah, meskipun aku hanya anak pungut di rumah ini, bagiku kamu adalah duniaku, Yudha. Jangan serahkan dirimu untuk dihina oleh orang-orang kaya itu. Mbak sakit melihatnya."

Yudha tertegun. Kata-kata Sari selalu berhasil menusuk bagian terdalam hatinya. Pengorbanan kakak tirinya yang tak sedarah itu selama ini terlalu nyata untuk diabaikan. Namun, egonya yang sedang membumbung tinggi membuat Yudha tetap mengeraskan hati dan melangkah keluar rumah, mengabaikan tatapan khawatir Sari.

Namun, harapan indah Yudha hancur lebur begitu kakinya menginjak halaman rumah mewah Juragan Kardi yang sedang ramai oleh para nelayan.

"Mau apa gembel ini datang ke sini? Ngemis ikan lagi?"

Tubuh Yudha melayang didorong kasar oleh seorang pria berbadan besar hingga tersungkur di tanah berdebu. Seikat bunga liar yang dibawanya terlepas, hancur terinjak-injak di bawah kaki orang-orang yang menonton sambil terpingkal-pingkal.

Juragan Kardi keluar ke teras sambil mengisap rokok, menatap Yudha dengan pandangan super remeh.

"Yudha, mau apa kamu ke sini bawa bunga bangkai begitu? Mau minta ikan atau mau melamar anakku, hah?!"

"Bhuaahahaha! Mana mungkin kembang desa mau sama pria cacat dan miskin! Seluruh desa juga tahu kalau kamu itu impoten!" cemooh warga lain yang memancing tawa riuh.

Yudha meringkuk di atas tanah. Dengan sisa tenaga, ia mendongak menatap ke arah pintu tempat Ratna berdiri di antara kerumunan. Yudha berharap gadis itu akan kembali menjadi malaikat penolongnya.

Namun, kenyataannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Ratna yang melihat Yudha membawa bunga liar di hadapan orang banyak justru merasa harga dirinya jatuh. Wajah cantiknya memerah padam karena malu dianggap memiliki hubungan dengan pria cacat.

"Yudha, pergi sekarang! Aku enggak mau kamu mempermalukan aku di sini!" bentak Ratna dingin, mengusirnya tanpa belas kasihan.

"Ratna… kamu…"

Hati Yudha hancur berkeping-keping. Kebaikan Ratna di pantai ternyata tak lebih dari sekadar rasa kasihan yang dangkal dan menghinakan. Dengan tangan gemetar, Yudha merangkak mengambil tongkat kayunya, bangkit dengan susah payah, lalu menyeret langkahnya menjauh diiringi tawa mengejek warga desa sepanjang jalan.

Rasa marah, kecewa, dan sedih atas takdir hidupnya meledak di dalam dada. Penghinaan malam itu menjadi batas akhir pertahanan mentalnya. Ia merasa tidak lagi memiliki alasan untuk bertahan hidup.

Langkah tertatih Yudha membawanya ke pantai tempat sebuah perahu kayu tua tertambat. Suasana pantai malam itu sangat mencekam; cuaca yang buruk menciptakan badai angin yang ganas dan ombak raksasa yang saling hantam.

"Mungkin sebaiknya aku mati saja," bisiknya dingin pada pekatnya malam.

Tanpa perbekalan maupun lampu, Yudha menaiki perahu kecil itu dan mulai mendorongnya ke laut lepas, pasrah terseret ke tengah lautan yang gelap gulita.

Angin badai bertiup kencang, membuat kapal kecil itu terombang-ambing bagai daun kering. Ombak raksasa mulai menghantam lambung perahu, membuat air laut menyembur masuk dan menggenangi bagian dalam.

Namun, Yudha tetap tenang. Ia berbaring pasrah menghadap langit yang hitam, memejamkan mata tepat di depan gumpalan air raksasa yang siap menghancurkan perahunya.

KRETEK!

Hantaman ombak keras meretakkan papan lantai perahu. Di saat maut sudah di depan mata, kalung giok kuno yang melingkar di lehernya mendadak bereaksi hebat. Hawa panas yang luar biasa menyengat dari saku Yudha, mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya.

Secara ajaib, badai yang tadinya mengamuk mendadak senyap seketika. Pusaran air raksasa di depan perahunya mereda, berubah menjadi permukaan laut yang sehalus cermin.

Bersamaan dengan itu, kaki kiri Yudha yang mengecil mendadak berderak kokoh, dan gairah kejantanan yang sempat padam kini bangkit kembali dengan hentakan yang jauh lebih dahsyat dan perkasa.

"Tu–tubuhku…" ucap Yudha terperanjat.

Belum sempat ia mencerna perubahan aneh pada tubuhnya, permukaan laut di sekeliling perahunya mendadak memancarkan cahaya hijau berpendar. Dari dalam air yang tenang, sesosok wanita perlahan muncul membelah air laut, berdiri tegak di atas ombak yang menjalar lembut.

Yudha terbelalak, tenggorokannya tercekat hingga tak mampu mengeluarkan suara.

"I–ini… jangan-jangan legenda itu…"

Wanita itu memiliki kecantikan mistis yang tak masuk akal, dengan rambut hitam panjang sepinggang yang basah melekat di kulit putih mulus bak porselen. Aura keanggunan yang luar biasa menggoda terpancar dari tubuhnya yang berisi. Ia hanya mengenakan kain sutra hijau tua yang mencetak jelas lekuk tubuh bagian atasnya yang membusung kencang, kontras dengan pinggangnya yang ramping menawan.

Sepasang mata indahnya yang memikat menatap lurus ke arah Yudha. Wanita itu menyunggingkan senyum tipis penuh daya pikat, melangkah mendekat di atas air menuju perahu.

"Akhirnya kau datang, Pewaris kalung naga-ku..." bisik wanita itu, suaranya berdesir rendah memecah keheningan malam, sementara sepasang mata hijaunya berkilat penuh rahasia kuno yang siap merenggut jiwa Yudha.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jagad
lanjut kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Yasmin Yang Genit

    Yasmin terus mengusap pusaka itu dengan kedua tangannya, ia memanfaatkan momen Yudha yang pingsan. Matanya membulat sempurna menyaksikan benda kekar dari pria yang divonis impoten sejak dulu. "Mas Yudha, maaf ... aku terlalu ingin merasakan ini," ucap Yasmin lirih. Dia mulai lebih berani, kali ini merogoh dua kelereng Yudha dengan gesekan dua jari yang lembut."Aku harus mengunci pintu," ia meninggalkan Yudha berbalik ke arah pintu. Kali ini akan jadi keseruan tersendiri bagi Yasmin untuk melumat milik Yudha yang perkasa."Sluuurp!" Lidah Yasmin terjulur panjang memberikan pijatan lembut sampai ke belalai berkepala yang kenyal. Ia memainkan bibirnya dengan air liur yang membuat pusaka Yudha basah mengkilap.Sementara dalam pikiran Yudha yang pingsan bermimpi, ia mendapati dirinya sedang duduk di hadapan Dewi Lanjar. "Bangunlah, sentuhan gadis itu bisa membuat ragamu pulih," kata Dewi Lanjar dengan wajah penuh welas asih.Yudha menggeliat, ia membuka mata dan melihat Yasmin menikmati p

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pusaka Yudha Di balik Kain

    Kraaak!Kapal itu akhirnya mengalami kerusakan juga di bagian mesin, terdengar suara berisik disertai kepulan asap yang semakin lama semakin pekat. Ada rembesan bahan bakar yang mulai mengarah ke mereka. "Aku rasa kapal ini akan meledak," ujar Yudha, ia menurunkan sekoci dan beberapa peralatan darurat. Untungnya saat itu mereka sudah mendekati wilayah pantai sekitar satu kilometer lagi."Kita tinggalkan kapal di sini," kata Ranta, Yudha bisa merasakan jika terlambat turun bisa jadi akan ikut terbakar bersama kapal yang asapnya kian menebal."Pegang tanganku, dalam hitungan ketiga kita melompat bersamaan," ajak Yudha yang mengandeng tangan Ratna.Dhuaaar!Satu ledakan terdengar mengejutkan, Yudha menoleh ke arah api yang bergerak cepat ke arahnya."Sekarang!" pekik Yudha, ia mendorong Ratna ke arah sekoci, namun naas saat hendak melompat justru Yudha terperangkap kobaran api.Byuuur!Anak juragan Kardi itu langsung masuk ke permukaan air, ia berusaha menggapai pelampung yang tadi dilem

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pulau Misterius

    Mahluk berwujud menyeramkan dengan badan bagian bawah menyerupai ikan, bersisik yang berkilau, matanya besar dan menonjol, lengan yang panjang berselaput dan bersirip. Mahluk itu bergerak cepat meski merayap, Ratna melihat pergerakan mahluk di belakang punggung Yudha, secara spontan Yudha mengarahkan tombak itu ke dada mahluk buas tersebut.Sraaak!Bilah tombak yang tajam tak mampu melukai sedikit pun, meski ujung tombak mengenai leher mahluk berwujud manusia setengah ikan. Hanya satu kali tepisan tombak itu patah, tangannya yang kuat dan kekar mengangkat Yudha ke udara dan melemparkannya membentur dinding.Braaak!Seluruh tulang Yudha terasa remuk, badannya nyeri luar biasa. Kini mahluk itu berdiri tepat di hadapan Ratna dengan dua tangan berkuku panjang yang siap menerkam."Yudha, tolooong!" pekik Ratna, karena tak ingin Ratna menjadi santapan mahluk itu Yudha kembali bangkit. Dia memegang serpihan tombak dan sekali lagi menyerang mahluk tersebut dari samping.Craaash!Bilah tajam i

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Gairah membuncah di tengah samudera

    Di dek kapal, Yudha merasakan kenyamanan sebab perempuan yang selama ini ia inginkan datang sendiri ke pelukannya. Matanya memandang hamparan lautan, ada rasa lega yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Namun berbeda dengan Yudha pikirannya dipenuhi cinta, Ratna justru mendekap penuh gairah. Hawa dingin yang menusuk tulang membuat pelukan semakin erat berbaur dengan keinginan bercumbu yang hebat."Di sini dingin, bagaimana kalau kita ngobrol di kamar?" tanya Ratna, ucapan itu membuat lamunan Yudha membuyar. Ia tetap tak bisa menolak meski saat ini harus tetap mengawasi perangkap ikan yang dipasang di bawah lambung kapal.Keduanya berjalan menuju kamar, sebuah tempat hangat yang kedap udara sehingga angin laut tak mampu masuk ke dalam. Sesampainya di kamar, Ratna melepaskan mantel tebal, ia menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar serta menyalakan keran yang mengalirkan air hangat."Kamu mau mandi bareng aku?" tanya Ratna, Yudha mengangguk pelan, ia hanya bisa menurut seperti kerb

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pucuk dicinta, Ratna pun tiba

    Sudah dua Minggu Yudha berjualan, selama itu pula usahanya mulai menunjukkan kemajuan. Namun yang namanya usaha tak selalu berjalan mulus, terutama pasokan ikan tuna dan ikan Napoleon yang jadi menu utama di warung itu mulai berkurang. Sejak Yudha membuka warung, ia tidak lagi melaut sedangkan para nelayan lain tidak pandai menangkap ikan tuna dan ikan Napoleon yang langka."Sehari ini kita menolak empat orang yang memesan Tuna pedas. Mereka kecewa," kata Sari saat hari beranjak sore, uang yang dikumpulkan pun tak sebanyak dua atau tiga hari lalu."Kita masih punya udang asam manis, atau lobster rebus yang gurih," timpal Yudha."Makanan seperti itu banyak ditemui di tempat lain, jadi enggak ada istimewanya bagi para pelaut yang singgah," imbuh Sari."Mencari ikan itu membutuhkan perahu yang enggak berisik dan berada sekitar sepuluh kilometer dari bibir pantai, jika orang lain enggak bisa menangkap ikan itu ... biar aku sendiri yang turun tangan," cetus Yudha."Aku ikut!" Sari dan Yasm

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Namanya juga usaha

    "Aku juga janda lho, Mas ... masa iya kamu enggak kasian sama aku," goda Yasmin menempelkan dada-nya di bahu Yudha."Duh gimana ya?" Yudha tampak canggung, jika dulu dia dihina karena kondisi fisiknya yang cacat tapi kini justru semua perempuan ingin merasakan berada dalam pelukannya."Biar aja dia kerja sama kita, toh aku dengar Yasmin ini pintar memasak." Tiba-tiba Sari sampai ke tempat itu."Mbak Sari---," Yasmin menoleh ke arah kakak tirinya Yudha, spontan Yasmin menjauh."Nanti aku jadi ada teman ngobrol kalau kamu di sini, apalagi anak buah juragan Kardi suka rese sama perempuan," tegas Sari.Setelah berbincang, Sari dan Yudha kemudian pulang. Masih banyak yang harus dikerjakan agar warungnya siap beroperasi, setidaknya Yudha membutuhkan beberapa peralatan seperti etalase atau meja kursi. Untuk membuat tempat usaha paling sederhana saja membutuhkan modal yang cukup besar, Yudha mengira uangnya cukup namun setelah dikalkulasi ternyata uangnya masih jauh dari kata memadai."Dia bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status