LOGINYasmin terus mengusap pusaka itu dengan kedua tangannya, ia memanfaatkan momen Yudha yang pingsan. Matanya membulat sempurna menyaksikan benda kekar dari pria yang divonis impoten sejak dulu. "Mas Yudha, maaf ... aku terlalu ingin merasakan ini," ucap Yasmin lirih. Dia mulai lebih berani, kali ini merogoh dua kelereng Yudha dengan gesekan dua jari yang lembut."Aku harus mengunci pintu," ia meninggalkan Yudha berbalik ke arah pintu. Kali ini akan jadi keseruan tersendiri bagi Yasmin untuk melumat milik Yudha yang perkasa."Sluuurp!" Lidah Yasmin terjulur panjang memberikan pijatan lembut sampai ke belalai berkepala yang kenyal. Ia memainkan bibirnya dengan air liur yang membuat pusaka Yudha basah mengkilap.Sementara dalam pikiran Yudha yang pingsan bermimpi, ia mendapati dirinya sedang duduk di hadapan Dewi Lanjar. "Bangunlah, sentuhan gadis itu bisa membuat ragamu pulih," kata Dewi Lanjar dengan wajah penuh welas asih.Yudha menggeliat, ia membuka mata dan melihat Yasmin menikmati p
Kraaak!Kapal itu akhirnya mengalami kerusakan juga di bagian mesin, terdengar suara berisik disertai kepulan asap yang semakin lama semakin pekat. Ada rembesan bahan bakar yang mulai mengarah ke mereka. "Aku rasa kapal ini akan meledak," ujar Yudha, ia menurunkan sekoci dan beberapa peralatan darurat. Untungnya saat itu mereka sudah mendekati wilayah pantai sekitar satu kilometer lagi."Kita tinggalkan kapal di sini," kata Ranta, Yudha bisa merasakan jika terlambat turun bisa jadi akan ikut terbakar bersama kapal yang asapnya kian menebal."Pegang tanganku, dalam hitungan ketiga kita melompat bersamaan," ajak Yudha yang mengandeng tangan Ratna.Dhuaaar!Satu ledakan terdengar mengejutkan, Yudha menoleh ke arah api yang bergerak cepat ke arahnya."Sekarang!" pekik Yudha, ia mendorong Ratna ke arah sekoci, namun naas saat hendak melompat justru Yudha terperangkap kobaran api.Byuuur!Anak juragan Kardi itu langsung masuk ke permukaan air, ia berusaha menggapai pelampung yang tadi dilem
Mahluk berwujud menyeramkan dengan badan bagian bawah menyerupai ikan, bersisik yang berkilau, matanya besar dan menonjol, lengan yang panjang berselaput dan bersirip. Mahluk itu bergerak cepat meski merayap, Ratna melihat pergerakan mahluk di belakang punggung Yudha, secara spontan Yudha mengarahkan tombak itu ke dada mahluk buas tersebut.Sraaak!Bilah tombak yang tajam tak mampu melukai sedikit pun, meski ujung tombak mengenai leher mahluk berwujud manusia setengah ikan. Hanya satu kali tepisan tombak itu patah, tangannya yang kuat dan kekar mengangkat Yudha ke udara dan melemparkannya membentur dinding.Braaak!Seluruh tulang Yudha terasa remuk, badannya nyeri luar biasa. Kini mahluk itu berdiri tepat di hadapan Ratna dengan dua tangan berkuku panjang yang siap menerkam."Yudha, tolooong!" pekik Ratna, karena tak ingin Ratna menjadi santapan mahluk itu Yudha kembali bangkit. Dia memegang serpihan tombak dan sekali lagi menyerang mahluk tersebut dari samping.Craaash!Bilah tajam i
Di dek kapal, Yudha merasakan kenyamanan sebab perempuan yang selama ini ia inginkan datang sendiri ke pelukannya. Matanya memandang hamparan lautan, ada rasa lega yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Namun berbeda dengan Yudha pikirannya dipenuhi cinta, Ratna justru mendekap penuh gairah. Hawa dingin yang menusuk tulang membuat pelukan semakin erat berbaur dengan keinginan bercumbu yang hebat."Di sini dingin, bagaimana kalau kita ngobrol di kamar?" tanya Ratna, ucapan itu membuat lamunan Yudha membuyar. Ia tetap tak bisa menolak meski saat ini harus tetap mengawasi perangkap ikan yang dipasang di bawah lambung kapal.Keduanya berjalan menuju kamar, sebuah tempat hangat yang kedap udara sehingga angin laut tak mampu masuk ke dalam. Sesampainya di kamar, Ratna melepaskan mantel tebal, ia menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar serta menyalakan keran yang mengalirkan air hangat."Kamu mau mandi bareng aku?" tanya Ratna, Yudha mengangguk pelan, ia hanya bisa menurut seperti kerb
Sudah dua Minggu Yudha berjualan, selama itu pula usahanya mulai menunjukkan kemajuan. Namun yang namanya usaha tak selalu berjalan mulus, terutama pasokan ikan tuna dan ikan Napoleon yang jadi menu utama di warung itu mulai berkurang. Sejak Yudha membuka warung, ia tidak lagi melaut sedangkan para nelayan lain tidak pandai menangkap ikan tuna dan ikan Napoleon yang langka."Sehari ini kita menolak empat orang yang memesan Tuna pedas. Mereka kecewa," kata Sari saat hari beranjak sore, uang yang dikumpulkan pun tak sebanyak dua atau tiga hari lalu."Kita masih punya udang asam manis, atau lobster rebus yang gurih," timpal Yudha."Makanan seperti itu banyak ditemui di tempat lain, jadi enggak ada istimewanya bagi para pelaut yang singgah," imbuh Sari."Mencari ikan itu membutuhkan perahu yang enggak berisik dan berada sekitar sepuluh kilometer dari bibir pantai, jika orang lain enggak bisa menangkap ikan itu ... biar aku sendiri yang turun tangan," cetus Yudha."Aku ikut!" Sari dan Yasm
"Aku juga janda lho, Mas ... masa iya kamu enggak kasian sama aku," goda Yasmin menempelkan dada-nya di bahu Yudha."Duh gimana ya?" Yudha tampak canggung, jika dulu dia dihina karena kondisi fisiknya yang cacat tapi kini justru semua perempuan ingin merasakan berada dalam pelukannya."Biar aja dia kerja sama kita, toh aku dengar Yasmin ini pintar memasak." Tiba-tiba Sari sampai ke tempat itu."Mbak Sari---," Yasmin menoleh ke arah kakak tirinya Yudha, spontan Yasmin menjauh."Nanti aku jadi ada teman ngobrol kalau kamu di sini, apalagi anak buah juragan Kardi suka rese sama perempuan," tegas Sari.Setelah berbincang, Sari dan Yudha kemudian pulang. Masih banyak yang harus dikerjakan agar warungnya siap beroperasi, setidaknya Yudha membutuhkan beberapa peralatan seperti etalase atau meja kursi. Untuk membuat tempat usaha paling sederhana saja membutuhkan modal yang cukup besar, Yudha mengira uangnya cukup namun setelah dikalkulasi ternyata uangnya masih jauh dari kata memadai."Dia bi







