Share

Bab 5

Author: Sedap Malam
last update publish date: 2026-06-24 10:08:43

Yudha malu kalau kakaknya melihat pusaka itu, ia menutup celana dan bangkit.

"Yudha, kenapa kamu bisa begini? Apa yang terjadi padamu?" Sari terus mengekor hingga Yudha berada di ambang pintu kamar mandi.

"Mbak ini apa-apaan sih? Aku mau mandi dulu. Nanti aku ceritakan," ucap Yudha. Ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam.

Sari bersandar pada dinding kamar mandi, matanya terpejam dengan pikiran penuh tanda tanya.

"Apa dia habis mengonsumsi obat kejantanan ya? Setahuku dia itu impoten, bahkan jelas-jelas kakinya yang cacat sudah normal. Belum lagi badannya yang berubah kekar, jika itu pengaruh obat tentu tak baik untuknya." Rasa kagum itu pun memunculkan kekhawatiran yang baru.

Dak dak dak!

"Yudha, buka pintu. Mbak mau masuk!" teriak Sari sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.

"Enggak boleh!" sahut Yudha lantang.

Sari tak kehilangan akal. Dia pergi menjauhi pintu kamar mandi lalu menuju halaman samping. Dari halaman samping ia ingat ada celah kecil untuk melihat ke dalam kamar mandi.

Dari celah selebar dua jari, mata Sari menyapu tubuh Yudha dari atas hingga bawah. Pusaka keramat Yudha masih berdiri anggun di antara perutnya yang kekar. Air liur Sari menetes, ia memandangnya penuh rasa takjub.

"Ah, andai aku bisa mencobanya... jangan-jangan itu cuma kulit imitasi?" Sari membatin. Meski dia sudah memegang langsung, hal itu tak cukup membuat rasa penasaran itu lenyap begitu saja.

Sementara itu, para preman yang habis dihajar Yudha telah kembali ke rumah Juragan Kardi dengan langkah tertatih dan pincang. Bahkan salah satu preman matanya bengkak sedangkan yang lainnya tak dapat menggerakkan tangan.

Juragan Kardi yang melihat itu tampak bingung. Ia keluar menyambut anak buahnya sambil mencari Sari yang seharusnya datang bersama mereka.

"Mana calon istriku, Man?" tanya Juragan Kardi pada Maman, si kepala preman.

"Juragan, ceritanya panjang," balas Maman dengan suara lemah.

"Maksudnya apa?!" bentak Juragan Kardi. Maman dan anak buahnya saling pandang.

"Kami hampir berhasil membawanya ke sini, lalu Yudha datang mengacaukan. Kami dihajar Yudha, adik si Sari," jelas Maman.

"Kalian dihajar Yudha? Hahahaha!" Juragan Kardi mengerutkan keningnya lalu tertawa geli.

"Iya, Juragan," jawab Maman malu-malu.

"Lelucon macam apa ini? Yudha si pincang menghajar kalian yang badannya besar seperti kerbau ini? Hahahaa! Tak masuk akal! Bahkan Yudha sendiri berjalan dengan bantuan tongkat dan napasnya ngos-ngosan kaya orang kena tipes itu. Maman, kalau bohong yang masuk logika dong!" sentak Juragan Kardi.

"Saya tak bohong, mungkin Yudha baru saja mendapatkan kekuatan ajaib atau bagaimana,"

"Payah. Dengar ya, kalau kalian bohong awas!" ancam Juragan Kardi.

Pria paruh baya itu menyuruh Maman dan anak buahnya beristirahat sambil mengobati badannya, sementara Juragan Kardi menuju ke dermaga. Di sana beberapa orang pilihannya yang benar-benar memiliki ilmu bela diri bekerja mengawasi bongkar muat kapal ikan.

Bara, Darto, dan Jarwo. Tiga anak buah Juragan Kardi yang terkenal memiliki ilmu bela diri, mereka merupakan orang pilihan yang sering digunakan Juragan Kardi untuk menagih utang atau menakuti-nakuti lawan bisnisnya.

"Bara, Darto, Jarwo... sini!" pekik Juragan Kardi dari kejauhan saat ketiganya sedang mengawasi bongkar muat barang.

"Ada apa, Juragan?" tanya Bara begitu sudah berada di tempat yang sama dengan sang juragan.

"Kamu ajak anak buahmu ke rumah Yudha, bawa Sari ke hadapanku!" perintah Juragan Kardi.

"Lho bukannya Maman sudah ke sana?" tanya Bara.

"Itu dia, Maman babak belur. Dia bilang habis dihajar Yudha. Aku tak percaya ucapan Maman, tugasmu kali ini memastikan. Cepat sana, kalau perlu bawa tenth orang yang penting Sari tiba di sini. Biar Darto dan Jarwo yang mengawasi bongkar muat," perintah Kardi.

Bara cuma mengangguk. Ia mengencangkan ikat pinggang lalu mengajak sekumpulan buruh di dermaga untuk pergi ke rumah Yudha. Berbeda dengan Maman, Bara memiliki postur tubuh kekar berotot seorang petarung, ada bekas bacokan memanjang di dada dan pipi. Sorot matanya tajam, nyaris tak pernah tersenyum.

Sepuluh orang buruh dermaga yang bersenjata benda tajam, Bara langsung mendobrak pintu kayu rumah Yudha hingga jebol.

Braaak!

Sari yang sedang duduk menyisir rambut terkejut, ia langsung menoleh ke arah pintu.

"Ikut aku atau kami hanguskan rumah ini!" Bara langsung mencengkeram lengan Sari. Dalam sekejap rumah itu dipenuhi para preman anak buah Juragan Kardi.

"Kalian mau apa lagi?! Jangan macam-macam!" bentak Sari.

Di saat ketegangan itu berlangsung, tiba-tiba Yudha yang baru dari pasar membawa sayuran berhenti di depan pintu.

"Kalian yang merusak pintu rumahku?" tanya Yudha. Bara hanya tersenyum tipis dan melangkah menuju pintu.

"Heh, kalian punya mulut kan? Kalian harus perbaiki pintunya ini!" kata Yudha lagi.

"Kalau aku enggak mau, kamu mau apa?" tanya Bara meremehkan.

"Perbaiki sekarang!" bentak Yudha dengan suara lantang yang membuat para preman mendadak berdebar, seolah bukan Yudha yang biasa mereka injak-injak.

"Jangan halangi langkahku, atau kubuat kamu menyesal!" ancam Bara.

"Yudha, tolong! Mereka mau bawa aku ke sana lagi," ratap Sari.

Yudha diam, dadanya membusung dan tangan terkepal.

"Hiaaakh!" satu pukulan keras ke arah hidung membuat Bara tersungkur. Ada suara retakan, seolah tulang hidung Bara patah seketika. Melihat kejadian itu, para anak buahnya yang lain langsung nyali ciut dan kabur tunggang langgang.

Bara terkapar dengan mulut dan hidung mengeluarkan darah. Ia merayap ingin pergi, tapi Yudha menginjak kakinya kuat-kuat hingga Bara merintih.

"Biarkan aku pergi..."

"Perbaiki pintunya dulu!" tegas Yudha. Mau tak mau, pria berbadan kekar itu harus memperbaiki pintu Yudha hingga selesai lalu pergi dengan wajah berlumur darah.

Setelah suasana kembali normal, Sari mendekati adiknya. "Yudha, kamu kuat sekali. Sangat berbeda dari sebelumnya. Kamu belum ceritakan apa yang terjadi padamu saat pergi," ucap Sari dengan nada penasaran.

Yudha menarik napas dalam-dalam. Ingatannya tentang malam itu kini sudah kembali utuh setelah dipicu sentuhan Sari tadi. "Malam itu, kapalku hancur oleh badai. Lalu datang Dewi Lanjar, ia menawarkan kehidupan baru seperti sekarang. Aku memiliki tubuh yang perkasa, tapi ada syaratnya ...." ucap Yudha dengan suara tertahan.

"Dewi Lanjar makhluk mistis penguasa laut Utara yang legendaris itu?!" Sari sampai ternganga.

Yudha hanya mengangguk pelan. "Dia meminta aku mengumpulkan energi agar dia tetap cantik, dengan cara berhubungan dengan para perempuan cantik di daratan setiap satu bulan sekali hingga 100 bulan."

Sari memandangi Yudha dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan. Matanya perlahan turun ke arah celana adiknya.

"Maksudmu dengan milikmu yang besar dan kuat itu? Bagaimana kalau dicoba denganku dulu? Aku ingin membuktikannya, Yudha... Aku penasaran," bisik Sari, sambil berjalan mendekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Kembalinya Sang Jagoan

    Di kediamannya, Suseno baru menerima tamu terakhirnya yang datang untuk urusan piutang. Saat melihat Wati berdiri di ambang pintu, Suseno langsung meminta tamunya itu pergi. Kali ini Irawan sedang tidak berada di rumah. "Pak, aku ke sini untuk menebus kesalahanku. Memang aku mengakui jika uang itu aku pakai untuk kebutuhan sehari-hari, tak masalah jika aku harus menggantinya dengan pekerjaan yang lain," ucap Wati dengan wajah tertunduk."Masuk dulu," pinta Suseno, ia kembali duduk dan menghela napas panjang. "Uang itu tak sedikit, aku mengira jika uang itu habis dipakai oleh Sari, tapi ternyata justru kami pakai sendiri. Aku kehilangan muka di depan dia karena ulahmu. Dia perempuan baik tidak seperti yang aku kira sebelumnya," gumam Suseno. "Be--benar, Pak. Dia memang perempuan yang baik, dan aku juga terpaksa memakai uang itu karena enggak memiliki pilihan lain," balas Wati. "Lalu Bagaimana kamu bisa mengembalikan uang itu? Sedangkan di sini aku tidak punya pembantu, jika kamu ber

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Tawaran Suseno

    Warna dan motif celana dalam itu sangat familiar, ada bekas cairan di sana. Suseno yakin jika Wati merahasiakan sesuatu di rumah ini. "Kamu ada main dengan anakku? Jika begini caramu, maka jangan salahkan aku jika nanti aku berbuat kasar!" bentak Suseno, Wati terdiam seribu bahasa. Dengan cepat Wati menyambar celana itu, terjadi tarik menarik antara Suseno dengan Wati. "Bawa siniiii!" Suseno mendorong Wati hingga jatuh terlentang, kain yang dia pakai tersingkap hingga lekuk tubuh bagian atas terlihat oleh Suseno. Gede, putih dan kenyal dengan sisa peluh yang masih menempel. Suseno memandang tanpa berkedip, pantas saja jika Irawan sering ke sini rupanya Wati yang merupakan seorang janda memiliki pesona tersembunyi. Suseno sampai menelan air liur. "Bapak enggak boleh begini, celana itu milik mantan suamiku, dia beberapa hari yang lalu ke sini menengok anak," ucap Wati setelah diam untuk mencari alasan, ia berdiri dan menautkan kain menutupi tubuhnya yang tadi sempat terekspos."Manta

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Ketahuan

    Wati begitu bersemangat, ia merangkul pundak Irawan dan melumat bibir pemuda itu. Dengan berani dia meletakkan tangan Irawan ke melon kembarnya untuk disesap. "Wan, lebih kencang ... remas aaaakh!" rancau Wati. Perempuan itu menggoyangkan pinggulnya, bahkan tak perduli jika mereka masih memakai pakaian lengkap. "Lepas semuanya, biar kulit kita menyatu dalam kehangatan, Wan. Aku benar-benar gak tahan, uuuuh!" imbuh Wati yang berbicara dengan mata terpejam. Irawan semakin mahir, dia mengikuti semua perintah Wati dengan maksud mempelajari bagaimana sisi sensitif seorang perempuan.Di sisi lain, Sari baru sampai di rumah. Pikirannya semrawut, ada rasa bersalah jika dia terus memaksakan hubungan itu berlangsung padahal dia tahu akhirnya tak akan pernah direstui oleh orang tuanya Irawan yang terkenal sebagai seorang lintah darat.Klek!Pintu rumah dibuka, Sari masuk. Namun ketika hendak mengunci pintu, tiba-tiba ada yang menahan pintu itu agar tetap terbuka. Sari terkejut, Pak Suseno suda

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Wati Yang Bergejolak

    Malam yang sunyi, Sari duduk termangu di dermaga. Sesekali ia menoleh ke arah jalan berharap Irawan segera datang, dengan dandanan sederhana ia menunggu seseorang yang dia sebut cinta. "Apa pantas aku buatnya? Perasaan ini tak dapat berdusta, aku menginginkan Irawan," batin Sari, ia tahu cintanya tak mungkin direstui tapi harapan pasti ada jika Irawan pun memiliki perasaan yang sama.Dengan mengayuh sepeda sekuat tenaga, Irawan tiba di sana. Semua pelajaran dari Wati telah ia cerna dan siap dipraktekkan. Dalam pikiran Irawan, Sari seorang perempuan yang haus belaian. "Sari, haiii!" sapa Irawan, senyum Sari merekah. Dia melihat Wawan yang pertama bertemu pemalu, kini sedikit berani. "Wan, kamu berkeringat," Sari melihat peluh menetes di sekujur badan Irawan, pemuda itu mengusap dengan lengannya. "Aku bawakan ini," langsung Irawan memberikan satu kotak berisi perhiasan berupa cincin, Sari termangu untuk beberapa saat. "Buat apa?" "Ya buat kamu dong, sini aku pasangin," Irawan meraih

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Irawan Yang Jatuh cinta

    Paginya seperti yang dijanjikan, Sari pergi ke rumah Wardah yang merupakan warga pendatang di pulau tersebut. Perempuan paruh baya itu hidup seorang diri, memiliki dua orang anak yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Usianya hampir seusia Yudha dan Sari, meski kerjaan itu hanya sebatas mengolah ikan untuk dikeringkan namun hasilnya cukup membuat mereka tidak kekurangan. "Fatin dan Arman, perkenalkan ini Sari. Mulai hari ini dia membantu kita mengolah ikan, perlakukan dia dengan baik karena di saat yang bersamaan kita butuh orang untuk membantu pekerjaan kita," Wardah memperkenalkan Sari pada dua orang anaknya. "Semoga kerasan ya, pekerjaan di sini cukup kasar. Bukan pekerjaan yang diinginkan perempuan muda, badan akan ikut amis karena aroma ikan," Fatin menghamilinya dan bersalaman, sementara Arman cuma menoleh sambil meletakan ikan yang telah disembelih ke wadah untuk dikeringkan. Pekerjaan di sana tidak terlalu berat, namun setiap proses yang dikerjakan membutuhkan waktu dan

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    aaaah enak

    "sekarang ngapain lagi?" tanya Wawan saat Wati hendak duduk di pangkuannya dengan posisi membelakangi. "Sttt, diam ... biar aku yang tunjukan caranya," Wati meraih milik Wawan, mengarahkan ke depan apem legitnya yang basah. "Kamu siap?" Wati menoleh ke Irawan, pemuda itu mengangguk pelan. Sleeep!Pusaka itu masuk perlahan-lahan, terasa hangat dan basah. Wawan yang baru pertama kali merasakan sentuhan seperti ini menahan napas, ia merasakan sensasi aneh yang mulai menjalar. Wati menggerakkan pinggulnya naik turun, gerakannya stabil dan lincah bahkan Wawan tak perlu susah-susah mengimbangi. "Uhmm, ini enak banget, Mbak ... aaaakh!" Irawan terpejam, ia merasakan miliknya terbenam di area yang lembut dan basah. Sekitar lima menitan, Wati merubah posisi. Kali ini menghadap ke Irawan. "Kamu hisap di sini, paham?" Janda itu menyodorkan satu melonnya ke wajah Wawan, tanpa disuruh dua kali Wawan pun mulai memberikan hisapan seperti bayi yang kehausan, sementara Wati bergerak cepat dengan ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status