Share

Hasrat Kakak Tiri

Author: Sedap Malam
last update publish date: 2026-07-10 15:56:46

Yudha terbelalak, ia melihat milik kakaknya yang bulat sempurna. Ketika Sari mulai merayap ke tubuh Yudha, dengan kedua melon kembar yang menempel Yudha hanya bisa membalas dengan remasan pelan. Pusaka itu berdiri maksimal, dalam diri Yudha ada sesuatu yang harus dituntaskan.

"Mbak, i--ini," ucap Yudha lirih merasa geli.

"Aku pingin sekali, Yudha," bisik Sari di telinga adik tirinya itu. Dia menciumi dada, pundak dan leher Yudha dengan tubuh tanpa busana.

Tiba-tiba Yudha merasakan ikatan kalung yang ia kenakan mengencang, ada rasa panas seperti aliran energi aneh mulai memancar ke seluruh tubuh.

"Lakukan sekarang," suara gaib Dewi Lanjar terdengar menggema di kepala Yudha, lalu disusul bayangan Dewi Lanjar yang anggun berdiri di belakang mereka. Yudha seketika kehilangan kekuatan, seperti terserap oleh energi Dewi Lanjar.

"Aku tak bisa. Dia kakakku," tolak Yudha, Dewi Lanjar tersenyum aneh. Lalu makhluk mistis penguasa laut Utara itu menjentikkan jarinya, seketika Sari tertidur.

"Baik, kali ini pengecualian. Lain kali kamu harus mulai lebih selektif lagi. Aku akan memberikan kamu segalanya sebagai imbalan. Setiap kamu melakukan dengan seseorang, maka sebutir permata akan muncul di tanganmu," kata Dewi Lanjar. Perempuan cantik dengan rambut panjang hingga ke lantai itu tiba-tiba lenyap berubah menjadi asap putih berbau harum yang langka, seolah aroma mahluk surgawi bisa tercium oleh Yudha sangat dekat.

Setelah Dewi Lanjar lenyap, Yudha menyingkirkan tubuh Sari yang polos itu untuk dinaikin ke atas ranjang. Mata Yudha berselancar, tak bisa dipungkiri jika kakak tirinya itu memiliki tubuh yang sintal, dada yang penuh jika dipegang dan kulit yang halus.

"Pantas saja juragan Kardi begitu ambisius," gumam Yudha. Dia memakaikan baju pada kakaknya, dan membiarkan perempuan itu tertidur pulas.

Beberapa jam kemudian, Sari terbangun. Napasnya tersengal-sengal seolah habis melakukan pekerjaan yang berat. Dia lupa apa yang terjadi sebelumnya, meski sempat ia raba bagian pangkal paha yang basah dan lengket namun ia tetap mengira itu hal yang biasa terjadi padanya.

"Yudha, jam berapa ini?" tanya Sari saat adiknya itu lewat sambil menyapu ruangan.

"Hampir sore, Mbak. Kamu tidur terlalu lama,"

"Ah, aku lupa masak. Oiya tolong belikan aku beberapa bumbu dapur ya, kita akan mengadakan makan malam istimewa untuk merayakan dirimu yang sekarang," pinta Sari sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas.

"Boleh aku pinjam uangnya, Mbak?"

"Buat apa? Tak perlu pinjam, Mbak bisa kasih kok. Tinggal ambil aja,"

sahut Sari tanpa ragu.

Dengan beberap lembar uang itu, Yudha pergi ke pasar. Bukan cuma untuk membeli bumbu dapur tapi juga beberapa rempah untuk dijadikan obat. Dia tahu kondisinya yang normal seketika pasti akan membuat warga sekitar penasaran, ia mempersiapkan jawaban yang rasional ketika nanti ada yang bertanya.

Di pasar ia memilih beberapa bumbu dan rempah, namun seseorang melihat Yudha tak tahan untuk mengejek.

"Si cacat ini mau apa dengan barang itu?" tanya seseorang pada temannya.

"Entahlah, tapi aku lihat kakinya normal dan sudah membaik. Bahkan otot di badannya juga berubah total. Mungkin dia menggunakan sihir," balas temannya.

"Yudha, mau apa kamu dengan ikan-ikan busuk itu? Setahuku yang doyan cuma kucing atau lele, tapi aku tak melihat kamu memiliki hewan peliharaan sama sekali," tanya orang orang tadi semakin penasaran, sebab selain rempah dan bumbu ia juga membeli ikan busuk yang nyaris tak ada harganya.

"Rempah-rempah ini untuk mengobati kakiku agar tetap bertenaga. Waktu aku pergi kemarin, seorang pertapa memberikan ramuan rahasia untuk memulihkan kondisi fisik yang tak sempurna ini, Paman," jelas Yudha dengan santai.

"Lalu ikan busuk itu?"

"Untuk mencari ikan," jawab Yudha singkat.

"Hahaha! Otakmu memang rusak, mana ada ikan busuk bisa dijadikan umpan?! Hahaha!"

Seluruh orang di sana mentertawakan Yudha, mereka menganggap Yudha sudah sinting.

"Jangankan ikan besar, udang pun tak mau kalau mendapatkan umpan kaya gitu," lanjut orang lainnya.

"Aku tahu apa yang aku lakukan. Dengan umpan ini, aku akan mendapatkan ikan salmon dengan kualitas super," jawab Yudha lagi.

"Ah, si bodoh ini ternyata tak berubah. Kita abaikan saja, nanti malam cuacanya cocok untuk mencari ikan. Ayo bersiap,"

"Kalau begitu kita ajak Yudha taruhan aja, gimana?" bisik temannya, ide itu muncul hanya untuk meremehkan Yudha.

"Bagus, aku setuju."

Kedua orang itu merencanakan sesuatu.

Malam harinya sekitar pukul tujuh, beberapa nelayan berkumpul di tepi pantai bersiap untuk melaut. Tak terkecuali Yudha, ia dan umpan-umpan berupa Ikan busuk dan kapal kecil pun bersiap.

"Aku yakin kamu pulang dengan tangan kosong," ejek orang itu saat Yudha mendorong perahu kecil ke arah pantai.

"Kita lihat saja," kata Yudha dengan suara tenang, namun itu terdengar seperti sebuah ejekan bagi mereka.

"Bagaimana kalau kita betaruh?" tantang orang itu.

"Aku tak suka betaruh, Paman," Yudha coba menghindari.

"Hahaha! Pantas saja kamu takut. Baiklah, jika kamu pulang membawa ikan lebih banyak dariku maka semua ikan hasil tangkapan ini jadi milikmu. Tapi jika sebaliknya kamu yang menang, maka kamu harus merayap di depan kami dan kapalmu itu jadi milik kami. Bagaimana?" tantang orang itu, mereka tak melihat Yudha memiliki sesuatu yang berharga selain kapal tua yang kini kondisinya lumayan.

"Aku tak tertarik, taruhannya terlalu kecil," ejek Yudha, sebuah ide muncul di kepalanya. Pria itu bernama Kasno, memliki anak perempuan bernama Windy yang cantik.

"Sombong sekali kamu? Lalu taruhan apa yang kamu inginkan?" ujar pria bernama Kasno yang terkenal paling pandai melaut.

"Pak Kasno, aku tau kamu ahli di bidang ini. Bagaimana jika aku menang maka Windy akan berkencan denganku?" tantang Yudha.

"Hahahah! Dasar bocah edan!" Kasno tertawa lebar.

"Jadi kamu takut ya jika ikan busuk ini membawa ikan besar yang segar? Oke lupakan soal taruhan tadi, kita fokus pada aktifitas masing-masing." Yudha berjalan meninggalkan mereka sambil mendorong perahu itu sebelum diceburkan ke laut.

"Kurang ajar, di hadapan banyak orang dia bisa bilang begitu!"

Muka Kasno memerah, selama ini dia tak memiliki pesaing yang bisa unggul lebih baik dari dirinya saat melaut. Ucapan Yudha itu seperti tantangan dan juga penghinaan.

"Baik! Kalian semua dengar ya, jika Yudha pulang membawa ikan banyak yang besar-besar, maka anakku si Windy akan menemani Yudha tidur. Jika dia kalah, maka dia akan merayap minta maaf sambil menyerahkan kapal tua itu!" ujar Kusno dihadapkan banyak orang.

"Setuju. Aku rasa taruhan itu seimbang," Yudha membalikkan badannya dan menyetujui tantangan tersebut.

Seluruh orang yang ada di sana bergemuruh, mereka tahu Yudha pasti gagal tapi membiarkan Kusno menyerahkan Windy juga bukan sesuatu yang sembarangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Pulang setelah dianggap mati

    Di bibir pantai, Karsono dan Mbah Legi menunggu. Namun beberapa jam temannya itu tak kunjung datang. "Apa yang terjadi dengannya," gumam Mbah Wardi, ia berjalan mondar-mandir memandang hamparan hutan."Mungkin dia tersesat," jawab Karsono asal.Tepat sekitar enam jam kemudian Mbah Legi keluar dari gua tersebut, ia segera menemui Wardi dan Karsono. Ia lupa jika wujudnya yang sekarang bukan lagi seorang pria tua melainkan pemuda, meski pakaian yang kenakan sama namun Karsono dan Mbah Wardi tak mengenalinya."Karsono, Wardi ...!" teriak Legi, kedua orang yang dipanggil itu pun menoleh, namun mereka sama tak mengenalinya lagi."Kamu siapa?!""A--aku ... aku," Legi baru sadar saat pertanyaan itu muncul dari Wardi."Kenapa kamu pakai baju itu?! Pakaian ini sepertinya tak asing," gumam Karsono."Aku Legi, Nyai Dewi Lanjar memberikan wajah dan badan ini kembali muda. Dengan raga seperti ini aku bisa berumur panjang," jelas Legi, namun Mbah Wardi justru menyipitkan matanya. "Jangan mendekat! K

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Muslihat

    "Celaka, kamu telah membuat murka ratu lautan!" Mbah Wardi terbelalak kaget."Aku pun tak tahu, Mbah. Kejadian begitu cepat," sesal Karsono."Sudah sudah, semua telah terjadi. Yang jadi pertanyaan kini, apakah Karsono bisa kembali hidup normal? Jika dibiarkan maka sisik akan terus tumbuh dan membuatnya seperti ikan sungguhan," sela Mbah legi. "Jika dia ke sini membawa kutukan, maka seluruh warga desa akan terkena dampaknya. Sudah ratusan desa tenggelam karena ulah serakah dan arogan para penduduknya!" kata Mbah Wardi, dia yang semula kasihan dengan Karsono kini ketakutan."Aku mati pun tak apa, asal tak membawa orang lain dalam musibah atas keteledoran aku," lanjut Karsono. Sejenak semua diam kecuali Karsono yang menangis sesenggukan."Kita antar dia ke Pulau Kabut, biarkan dia meminta maaf pada sang Ratu," usul Mbah Legi. "Ah, konyol. Malah yang ada kita akan karam sebelum menemukan pulau itu," Mbah Wardi tampak ragu. "Kita hanya perlu mencoba, jangan pikirkan yang belum terjadi. Yan

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Awal Petaka

    Sesampainya di rumah, Mbah Wardi langsung menyiapkan selembar kain sarung bersih dan sepotong sabun batangan. Rumah tua itu lebih nyaman dari emperan toko yang ada di pasar, air jernih yang mengalir di tubuhnya mungkin memberikan rasa aman yang sudah lama tak dirasakan Karsono."Di belakang ada kamar mandi. Ada gentong air segar dari sumur. Mandilah dulu, bersihkan badanmu, lalu kita makan nasi goreng ikan asin," ujar Mbah Wardi ramah sambil tersenyum dari balik kumis putihnya.Karsono mengangguk pasrah. Ia berjalan menuju kamar mandi kecil di bagian belakang rumah. Di dalam ruangan berdinding papan kayu yang remang-remang itu, terdapat sebuah gentong tanah liat besar berisi air sumur yang dingin dan sebuah cermin kaca retak yang tergantung di dinding.Rasa gatal di punggungnya kini makin tak tertahankan, terasa bagaikan kulitnya sedang ditarik dan dirobek dari dalam. Dengan tergesa-gesa, Karsono melepas pakaian tenun kasarnya yang basah oleh keringat dan air hujan. Begitu bajunya ter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Emas Palsu

    "Coba periksa lagi, jangan akali aku!" bentak Karsono."Apanya yang mau diperiksa? Dilihat dari mata telanjang aja udah jelas," balas pelayan toko."Apa jangan-jangan kamu mau nipu?" pelayan itu memicingkan mata, menatap ragu pada Karsono yang awalnya ia layani sepenuh hati sebagai seorang pelanggan. Pandangan pelayan toko perhiasan seketika berubah."Jangan asal bicara! Mentang-mentang penampilan aku kaya gini!" Karsono tampak murka, mereka saling menjaga jarak satu sama lain. Canggung dan hening di dalam toko yang sejuk oleh hembusan kipas angin gantung, seorang pelayan pria berkaus pendek dan berkalung kain lap kaget setengah mati. Ia langsung menutup hidungnya begitu bau tengik menyengat masuk bersama Karsono."Maaf, Tuan, kalau mau minta-minta di luar saja!" seru pelayan itu dengan nada galak sambil mengibas-ngibaskan tangannya dari balik etalase kaca yang penuh perhiasan emas berkilau."Pengemis? Ngaco sekali kamu, aku ini bukan pengemis!" suara Karsono parau, tenggorokannya ba

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Mahluk buas dasar samudera

    Keadaan kini terbalik, mereka yang tadinya datang kini justru tersudut di ambang pantai menghadap lautan luas. Ratusan perempuan berlari dengan kecepatan tinggi, puluhan tombak dilempar ke udara menciptakan suara gemuruh seperti hujan.Jleeeb!Seorang pria terkena empat tombak sekaligus pada bagian kaki dan paha, dia tak bisa berlari. Tiba-tiba pasukan perempuan misterius itu berhenti dan mengepung."Lelaki dengan wajah sangar seperti ini hanya berani pada perempuan? Hahaha! Di sini, perempuan memiliki daya tarung lebih baik dari kalian!" Seorang perempuan langsung menghampiri dengan pedang terhunus."A--ampuuun! Tolong jangan sakiti saya!" ujar pria tersebut sambil memohon dan mencoba melepaskan tombak yang menancap di kakinya.Craaash!Satu tebasan memutus tangan pria tersebut, darah segar mengucur deras. Lalu di lengan yang terputus itu menjadi rebutan para prajurit wanita dari pulau kabut, hanya dalam hitungan menit tangan itu berubah menjadi tulang belulang. Pria tadi gemetar, ia

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Prajurit Kerajaan Laut

    Di tempat itu Karsono hidup mewah, penuh kesenangan dan kebahagiaan. Dia bahkan melupakan kehidupan di luar pulau misterius yang dia tempati sekarang. Di tempat yang disebut sebagai Pulau Kabut, para perempuan bekerja. Mereka mencari ikan, membuat bangunan serta bertani. Suatu hari terbesit sebuah pemikiran di benak Karsono tentang ke mana perginya kaum lelaki di desa ini?Sangat aneh jika sebuah wilayah yang memiliki kaum pria, orang-orang tua ataupun anak-anak. Yang ada di tempat itu sebenarnya para perempuan berusia sekitar 18 hingga 25 tahun. Sangat mudah dan cantik, mereka bekerja dari pagi hingga sore lalu saat malam tiba mereka berkumpul membicarakan banyak hal.Rumah-rumah sederhana terbuat dari kayu, dengan atap dari rumbai jerami. Setiap satu orang memiliki satu rumah berukuran kecil yang difungsikan hanya sebagai tempat tidur, sementara untuk mandi dan keperluan lainnya mereka menuju ke tengah hutan yang terdapat sebuah sungai jernih, telaga dan air terjun. Makanan tidak di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status