LOGINAndra mengerjap dan mendapati sang istri duduk bersandar di ranjang. Punggung tangan kirinya maupun tangan kiri Amba sama-sama terpasang jarum infus. Sinar matahari sudah menyelinap masuk lewat celah tirai yang tidak tertutup rapat. Kicau burung sudah tidak terdengar. Pandangan Andra beralih ke atas pintu di mana benda bulat dengan tiga jarumnya yang masih aktif berputar. "Sudah siang?" gumam Andra tersentak menyadari sudah pukul 10:05 WIB. Sekelebat kabar yang didengarnya semalam, kini kembali muncul bagai rol film yang diputar. Kepalanya dan dadanya kembali berdenyut sakit. Baru berselang beberapa hari ia mendengar kabar kecelakaan Bian. Semalam, ia kembali mendengar kabar kecelakaan Gian. BMW sport hitam dengan nomor polisi D 61 AN adalah hadiah dari Bian untuk Gian. "Ini benar takdir atau disengaja? Jika disengaja, siapa sebenarnya yang ingin menghancurkan keluargaku? Pertama aku kehilangan calon menantuku, lalu Bian kecelaakaan. Sekarang Gian juga kecelakaan. Apa aku minta A
Sinar matahari perhalan mengintip lewat celah tirai. Yuna mengerjap dan melihat sekeliling kamarnya. Ia masih ingat jika ruangan itu adalah kamarnya setelah berhasil ia rombak ulang dengan perabot serba putih. Duduk bersandar di tempat tidurnya, Yuna memegangi dadanya. Ada sesak yang tersisa walau tak sesakit semalam. "Ternyata kamu sudah bangun." Suara itu mengejutkan Yuna. Maira berdiri di ambang pintu dengan nampan di tangannya. Ada segelas susu dan seporsi roti bakar. Aroma mentega yang meleleh masih segar tercium. "Aku udah baikan, Mbak." "Iya, tahu. Kamu yang pingsan, tapi dia yang tidurnya lebih lama." "Maksud, Mbak Maira?" "Kayaknya Devi benar-benar stres dan kecapean. Udah dua kali aku tengokin, tapi dia masih tidur. Kasihan dia. Tangan sama kakinya juga luka-luka. Nggak tahu seberat apa hidupnya sendirian di kota ini, tanpa teman dan tanpa keluarga. Sekarang mbak benar-benar ngerti, kenapa Dul bersikeras larang mbak pergi sendirian tanpa ada teman," ungkap Maira mena
Dert .... Dert ...."Halo, Bang. Gue lagi nggak fokus, sodara kembar gue kecelakaan," ucap Gian menjawab panggilan seniornya."Dengar dulu!" tegas suara dari seberang saluran."Okey! Lo mau ngomong apa?!""Target mereka, lo Gian." Gian terhenyak. "A-apa maksudnya?""Saya sudah coba cek ke mana pelakunya kabur. Truk itu sudah parkir sejak kemarin di dekat rumah sakit dan bergerak saat mobil kamu keluar. Setelah menabrak mobil kamu, supirnya langsung kabur. Dia dijemput sepeda motor sama rekannya. Cirinya sama dengan ciri penyelundup yang kabur itu," pungkas rekan polisi Gian."Sial! Rahasian dulu! Nyokap bokap gue bisa kena serangan jantung kalau tahu gue juga diincer malaikat maut!" pinta Gian mengakhiri panggilan telponnya sepihak.Dert .... Dert ...."Apalagi?! Gue lagi nggak bisa fokus! Bian butuh gue!" geram Gian mengepalkan tangannya.Di sampingnya Danu sesekal
Bian hanya mengangguk setelah dokter menjelaskan kondisinya. Pria paruh baya itu akhirnya keluar dari kamar rawat inapnya. Diikuti perawat yang baru saja mengganti botol infusnya. "Apa direksi mempertanyakan alasanku menolak tawaran kerja sama itu?" tanya Bian sambil menggulir layar tabletnya. Sesekali ia mengecek ponselnya karena sedang menunggu kabar dari seseorang. "Tidak, Pak. Pak Presdir langsung menyinggung topik itu saat rapat dimulai," sahut Agung yang saat ini masih lembur di kantor. Sejujurnya, Agung tersentak dengan sebutan 'aku' yang diucapkan atasannya. "Bagaimana dengan Arga? Apa dia keberatan dengan keputusan itu?" Bian mengambil keputusan penting tanpa membahasnya lebih dulu dengan Arga. Meski merasa tak enak hati, tapi Bian yakin jika keputusannya tidak akan merugikan Arga sedikitpun. "Hari ini Pak Arga tidak ikut rapat, Pak. Tuan Diratama yang menghadiri rapat pagi tadi." "Apa setelah rapat, papa dan Om Tama bicara secara pribadi?" Tampak Agung mengangguk la
"Kenyang banget, ya?" "Iya, Mbak. Aku kebablasan deh kayaknya. Semuanya enak dan aku penasaran pengen coba," ungkap Yuna memamerkan dua bungkus makanan di tangannya.Langkah kaki Maira dan Yuna terhenti. Samar telinga mereka mendengar suara isak tangis. Keduanya pun mengendap-endap memperhatikan sekitarnya. Tak ada seorang pun, hingga akhirnya Yuna melihat seseorang duduk berjongkok di depan sebuah ruko kosong. "Anda kenapa?" tanya Maira. Perasaannya miris melihat penampilan seorang wanita yang kacau balau."Maaf, apa Mbak ... dilecehkan?" cicit Yuna saat melihat wanita itu mencengkram rambutnya sendiri.Wanita itu mendongak lalu menggeleng pelan. "Sa-saya dirampok ...," lirihnya. Matanya yang merah dan bengkak itu membuat siapapun akan ikut pilu.Wanita itu gelagapan. Maira dan Yuna akhirnya bisa melihat sobekan di tas wanita itu. Dompetnya terbuka di pangkuannya. Kosong, hanya tersisa kartu dan kertas saja.
"Ada apa?" tanya Maira saat Yuna mengusap dadanya berkali-kali. "Kamu mabuk laut?""Mungkin, Mbak," sahut Yuna berbohong. Dadanya merasa sesak dan resah.Entah kenapa perasaannya selalu risau sejak kemarin malam. Anehnya, ia tidak merasa mabuk selama perjalanan laut. Padahal, ini pertama kalinya ia naik kapal.Lidahnya menolak jujur jika ia kepikiran Bian. Entah kenapa pria itu selalu saja terbayang. Bahkan dalam tidurnya, Yuna seringkali mendengar suara Bian memanggilnya. "Di sini panas, tapi rasanya bebas," ucap Maira tersenyum. Kapal sudah benar-benar bersandar dan berhenti. Pelabuhan Paotere menyambut kedatangan mereka berdua dengan suasana yang benar-benar terasa asing. Masyarakat di sini punya dialek daerah yang kental dan lebih ramah dibanding ibukota.Salah satu pelabuhan tua dalam sejarah Indonesia itu punya kapal phinisi yang ikonik. Di sebelah selatan, tampak tanjung yang diatasnya dibangun gedung-gedung besar dan megah. Tak kalah megah dari bagunan di Jakarta."Kuharap M
Irama dari monitor elektrokardiograf itu akhirnya berhenti terdengar. Suara nyaring di ruang rawat inap VIP itu, kini justru berganti dengan suara ketukan hak sepatu Chanel coklat yang menghantam lantai. Ritmenya nyaris sama paniknya dengan detak jantung di monitor semalam.Gian yang baru saja tiba
"Ada apa, Ma?" tanya Andra yang melihat istrinya cemberut menatap layar ponselnya sendiri."Cuma Adiba yang jawab telpon mama, Pa. Tuh anak dua, masa iya udah tidur? Matahari baru aja tenggelam kok?" dumelnya. Anak kembarnya sama-sama sulit dihubungi.Andra duduk di samping sang istri, merangkul da
Sebulan terakhir, Yuna hanya menghabiskan waktu di penginapan. Bagaimanapun, ia tidak bisa mengabaikan peringatan dari dokter. Ia harus menunggu hingga setidaknya, kandungannya berusia tiga bulan untuk bisa aman melakukan perjalanan jauh.Setelah membeli rambut palsu dan kacamata hitam via online s
Beberapa menit kemudian, bukan sebuah alamat yang dikirim oleh Arga. Isi pesan dari sahabatnya itu adalah pesan yang diteruskan dari Yuna. Yuna meminta untuk tidak menemuinya, kecuali Bian setuju dengan syarat yang diajukannya. Hanya geraman dan umpatan yang bersahutan dalam mobil Bian. L







