Share

Part 14 Sudah Gila

Penulis: Lisani
last update Tanggal publikasi: 2023-10-09 15:46:18

Byur ....

Semburan dari minuman berwarna hitam itu menodai kemeja putih Arga. Suara batuknya belum reda karena turut tersedak. Informasi yang ditangkap gendang telinganya bagai kabar baru yang menggelegar.

“Lo bilang apa barusan?” tanya Arga kembali meletakkan cangkir kopinya.

Matanya membelalak nyaris keluar dari kelopak matanya. Tangan kirinya menarik berlembar-lembar tisu untuk menyeka dagunya. Ia masih terlampau syok akan tutur sahabatnya.

“Gue mau lo jadi wali nikah,” ulang Bian membuka ma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 41 Cuma Gempa Ringan

    "Si Gian mana sih? Kok sampai sekarang belum nongol juga? Nggak penasaran apa kembarannya siuman apa kagak?" gerutu Danu."Percuma lo ngomel, mereka tuh punya telepati," komentar Arga. Ia baru saja tiba setelah sore tadi diberi kabar tentang kecelakaan Bian yang kedua kalinya."Emang dia ngasih lo kabar?" tanya Danu meneguk minumannya."Nggak," balas Arga menggeleng. "Tapi tadi gue telpon Adiba. Nanyain di mana Gian. Dia bilang suaminya lagi hibernasi sejenak karena udah hari dua malam nggak tidur."Danu tercengang. Sepertinya ia harus percaya kalau Bian dan Gian memang punya telepati. Satunya belum siuman dan satunya lagi ingin hibernasi. Entah siapa yang akan lebih dulu bangun."Bini lo nggak nyariin?" Danu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Arga kembali menggeleng. "Nggak."Danu mengernyit heran. "Emang dia beneran cuekin lo, Ga?" "Hem. Topengnya udah kebuka, jadi dia nggak perlu pura-pura manis dan manja lagi sama gue. Selagi dia bisa jaga sikap, anak gue lahir selamat dan s

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 40 Penelusuran Gian

    Setelah memeriksa cctv tempat saudara kembarnya kecelakaan, Gian akhirnya menemukan bukti kuat. Bisikan Bian sebelumnya terbukti benar. Yuna masih hidup dan terlihat panik menghindari Bian.Dari taksi online yang ditumpangi Yuna, Gian mendapatkan informasi lain. Titik tujuan Yuna dari riwayat pemesanannya adalah nama sebuah toko kelontong. "Oh, nona ini memang pernah ke sini, Pak. Saya ingat, soalnya dia sekali belanja langsung banyak, hampir sejuta. Dia tinggal di penginapan di ujung jalan," jelas sang pemilik toko. "Apa ibu ingat apa saja yang pernah dia beli?" tanya Gian memberi isyarat agar bisa merekam suara wanita itu.Pemilik toko lalu bertanya, "Bapak mau beli apa?" "Bedak tabur bayi, selotip bening yang besar, sama gunting. Kalau sarung tangan ada, Bu?" tanya Gian."Tidak ada, Pak. Yang ada cuma sarung tangan plastik, kalau lagi buat kue," tawarnya."Ya, itu saja," pinta Gian mengangguk setuju lalu membayar belanjaannya.Setelah mendapatkan informasi yang sedikit ganjil, G

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 39 Bukan Salah Kamu

    Andra mengerjap dan mendapati sang istri duduk bersandar di ranjang. Punggung tangan kirinya maupun tangan kiri Amba sama-sama terpasang jarum infus. Sinar matahari sudah menyelinap masuk lewat celah tirai yang tidak tertutup rapat. Kicau burung sudah tidak terdengar. Pandangan Andra beralih ke atas pintu di mana benda bulat dengan tiga jarumnya yang masih aktif berputar. "Sudah siang?" gumam Andra tersentak menyadari sudah pukul 10:05 WIB. Sekelebat kabar yang didengarnya semalam, kini kembali muncul bagai rol film yang diputar. Kepalanya dan dadanya kembali berdenyut sakit. Baru berselang beberapa hari ia mendengar kabar kecelakaan Bian. Semalam, ia kembali mendengar kabar kecelakaan Gian. BMW sport hitam dengan nomor polisi D 61 AN adalah hadiah dari Bian untuk Gian. "Ini benar takdir atau disengaja? Jika disengaja, siapa sebenarnya yang ingin menghancurkan keluargaku? Pertama aku kehilangan calon menantuku, lalu Bian kecelaakaan. Sekarang Gian juga kecelakaan. Apa aku minta A

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 38 Kabar Duka

    Sinar matahari perhalan mengintip lewat celah tirai. Yuna mengerjap dan melihat sekeliling kamarnya. Ia masih ingat jika ruangan itu adalah kamarnya setelah berhasil ia rombak ulang dengan perabot serba putih. Duduk bersandar di tempat tidurnya, Yuna memegangi dadanya. Ada sesak yang tersisa walau tak sesakit semalam. "Ternyata kamu sudah bangun." Suara itu mengejutkan Yuna. Maira berdiri di ambang pintu dengan nampan di tangannya. Ada segelas susu dan seporsi roti bakar. Aroma mentega yang meleleh masih segar tercium. "Aku udah baikan, Mbak." "Iya, tahu. Kamu yang pingsan, tapi dia yang tidurnya lebih lama." "Maksud, Mbak Maira?" "Kayaknya Devi benar-benar stres dan kecapean. Udah dua kali aku tengokin, tapi dia masih tidur. Kasihan dia. Tangan sama kakinya juga luka-luka. Nggak tahu seberat apa hidupnya sendirian di kota ini, tanpa teman dan tanpa keluarga. Sekarang mbak benar-benar ngerti, kenapa Dul bersikeras larang mbak pergi sendirian tanpa ada teman," ungkap Maira mena

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 37 Sakit Tanpa Sebab

    Dert .... Dert ...."Halo, Bang. Gue lagi nggak fokus, sodara kembar gue kecelakaan," ucap Gian menjawab panggilan seniornya."Dengar dulu!" tegas suara dari seberang saluran."Okey! Lo mau ngomong apa?!""Target mereka, lo Gian." Gian terhenyak. "A-apa maksudnya?""Saya sudah coba cek ke mana pelakunya kabur. Truk itu sudah parkir sejak kemarin di dekat rumah sakit dan bergerak saat mobil kamu keluar. Setelah menabrak mobil kamu, supirnya langsung kabur. Dia dijemput sepeda motor sama rekannya. Cirinya sama dengan ciri penyelundup yang kabur itu," pungkas rekan polisi Gian."Sial! Rahasian dulu! Nyokap bokap gue bisa kena serangan jantung kalau tahu gue juga diincer malaikat maut!" pinta Gian mengakhiri panggilan telponnya sepihak.Dert .... Dert ...."Apalagi?! Gue lagi nggak bisa fokus! Bian butuh gue!" geram Gian mengepalkan tangannya.Di sampingnya Danu sesekal

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 36 Sekarat

    Bian hanya mengangguk setelah dokter menjelaskan kondisinya. Pria paruh baya itu akhirnya keluar dari kamar rawat inapnya. Diikuti perawat yang baru saja mengganti botol infusnya. "Apa direksi mempertanyakan alasanku menolak tawaran kerja sama itu?" tanya Bian sambil menggulir layar tabletnya. Sesekali ia mengecek ponselnya karena sedang menunggu kabar dari seseorang. "Tidak, Pak. Pak Presdir langsung menyinggung topik itu saat rapat dimulai," sahut Agung yang saat ini masih lembur di kantor. Sejujurnya, Agung tersentak dengan sebutan 'aku' yang diucapkan atasannya. "Bagaimana dengan Arga? Apa dia keberatan dengan keputusan itu?" Bian mengambil keputusan penting tanpa membahasnya lebih dulu dengan Arga. Meski merasa tak enak hati, tapi Bian yakin jika keputusannya tidak akan merugikan Arga sedikitpun. "Hari ini Pak Arga tidak ikut rapat, Pak. Tuan Diratama yang menghadiri rapat pagi tadi." "Apa setelah rapat, papa dan Om Tama bicara secara pribadi?" Tampak Agung mengangguk la

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 5 Nikahi Aku Sehari Saja

    Tiga hari berlalu dan mereka kembali menyambut hari Senin. Bian kembali dengan kesibukannya di kantor, mendapat pesan ajakan makan siang dari Yuna. Isi pesannya ada hal penting yang harus mereka bahas berdua saja.Meja di ruangan luas itu tampak penuh dengan banyak orang yang sedang mengisi perut.

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 4 Bahagia dan Kecewa

    Keesokan harinya, pagi Bian disambut dengan satu pesan dari Yuna. Gadis itu mengabari jika selama tiga hari ia akan berlibur ke tempat neneknya. Mungkin akan sulit menghubunginya karena kondisi jaringan seluler di sana kurang baik.Senyum Bian seketika merekah. Itu artinya selama tiga hari kedepan,

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Part 3 Pria yang Membosankan

    Yuna mengulas senyum kala keluar dari mobilnya. Dengan menenteng sebuah paper bag berisi kue kesukaan Bian, Yuna menghampiri ART keluarga Kawiraginandra."Selamat sore, Bibi. Apa Tante Amba ada di dalam?" tanya Yuna."Selamat sore juga, Nona. Makin cantik saja," puji wanita yang sedang menyiram bun

  • Nikahi Aku Sehari Saja   Bab 2 Cukup Enam Bulan

    "Pa, sampai kapan aku harus pura-pura bahagia jadi pacarnya Yuna? Papa tahu? Kepalaku selalu mau meledak menghadapi sifat manjanya itu," keluh Bian menyandarkan tubuh lelahnya di sofa.Ponselnya serasa diteror oleh gadis itu. Dua pesan terakhir pagi tadi enggan dibalas Bian. Baginya, pertanyaan Yun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status