Share

Bab 5. Kembalinya Bima Sakti.

Author: Riaal
last update publish date: 2026-09-09 08:06:32

Di lain tempat, Ana dan Kartika sedang melakukan pesta kemenangan. Kedua wanita yang pernah menjadi saudara ipar itu pun tampak sedang bersenang senang.

“Sungguh sangat mudah untuk menjauhkan Bima dan Alika. Aku sungguh ingin segera melihat mereka berpisah.” Kartika berkata sembari menyeruput wine yang ada di tangannya.

“Kamu jangan lupa dengan janjimu.” Ana berkata sembari menaikkan sebelah bibirnya.

“Tenang saja, aku akan segera mentranfer uang untuk semua yang sudah kamu lakukan,” kata Kartika.

“Bagus, kamu sekarang juga memiliki rumah ini. Apa suratnya sudah kamu temukan?” tanya Ana.

“Aku belum mencarinya. Pasti ada di rumah ini. Orang seperti Alika pasti tak akan menyimpan barang berharganya dengan sangat rapat. Bahkan dia pasti tak berpengalaman dengan brankas,” kata Kartika.

Keduanya pun menertawakan kepolosan Alika. Nyatanya Wanita yang sedang mereka sepelekan sekarang bisa bernafas dengan tenang, karena semua aset berharganya masih bersama dengannya sampai sekarang.

“Bayaran kamu sudah aku transfer,” kata Kartika.

“Baik. Kalau begitu aku mau pulang dulu. Mau ajak Mama jalan-jalan,” kata Ana.

Tanpa mendengarkan jawaban dari Kartika, Ana pun langsung meniggalkan kediaman kakaknya yang saat ini sedang dikuasai oleh mantan kakak iparnya.

“Kartika, Kartika. Kamu itu terlalu naif. Konon katanya sudah nggak suka sama Mas Bima. Nyatanya menghalalkan segala cara untuk mengambilnya kembali. Sekarang kita lihat saja, permainan seperti apa yang akan terjadi.” Ana bermonolog sembari menyunggingkan senyum.

Dia kini sudah melajukan mobilnya menuju kediaman Sari. Saat ini yang ada di dalam pikirannya hanya ingin segera menikmati hasil kerjanya. Ana memang ditugaskan untuk selalu menghasut Alika dan menggunakan rencana licik untuk menjebak Bima agar bisa mendekam di penjara.

Sesampainya di rumah Sari, Ana memarkirkan mobilnya di garasi. Setelahnya dia langsung memasuki rumah sembari menutup telinganya, karena kebetulan Bulan baru saja menangis dengan sangat kencang.

“Aduh, Alika. Anakmu itu suruh diam!” Ana berkata dengan nada tinggi serta melemparkan tasnya ke sembarang arah.

“Maaf, aku tadi sedang menyetrika,” kata Alika.

Alika pun bergegas menuju kamar dan menggendong Bulan. Seketika Alika menangis sesenggukan, saat mengingat peliknya kehidupan yang sedang ia rasakan. Sedangkan Ana dan Sari sedang asik mengobrol.

“Kamu mendapatkan uang ini dari mana?” tanya Sari.

“Dari Mbak Kartika. Karena aku membantu rencananya. Jadi aku yang meletakkan obat terlarang itu di sofa milik Mas Bima. Aku juga yang membuat laporan. Supaya Alika itu benci dan meninggalkan Mas Bima,” terang Ana.

Keduanya asik mengobrol, namun keduanya tak sadar jika di sana ada sebuah kamera pengintai yang merekam semua yang sedang mereka obrolkan. Di sisi lain, ada salah satu teman dari Bima yang sudah mendapatkan bukti yang bisa membebaskannya dari jeruji besi.

“Ya sudah. Setelah ini kita langsung ke mall, ya,” ajak Sari dengan semangat.

“Tentu saja, Mama.” Ana menjawab sembari mengacungkan kedua jempolnya ke arah sang mama.

“Baik. Kalau begitu, mama mau ganti baju dulu,” kata Sari.

Ana hanya menjawab dengan gerakan menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran. Sari mengayunkan langkah menuju ruang ganti. Sesampainya di sana Sari langsung berteriak dengan histeris.

“Aduh. Dasar benalu! Ini baju kesayanganku, kau buat gosong!” Sari berteriak penuh amarah.

Rupanya, tadi Alika lupa mematikan aliran listrik pada setrikaan, sehingga setrika membakar kain yang ada di bawahnya.

Sontak Sari langsung mengambil baju yang sudah berlubang di bagian tengahnya dengan kasar. Dia pun langsung mengayunkan kaki dengan cepat ke kamar Alika. Sesampainya di balik pintu, dia langsung membuka pintu dengan sangat kasar.

Sayangnya, Alika tertidur saat dia menenangkan Bulan tadi. kini Sari semakin naik pitam. Dia langsung menggeret kaki Alika sehingga dia terkejut dan terjatuh dari ranjang. Alika yang terkejut, tampak meringis sembari mengusap pantatnya yang terasa sakit karena membentur lantai.

“Aduh. Sakit Mama.” Alika mengaduh.

“sakit katamu? Ini lihat! Bagaimana ini bisa terjadi? Gaji kamu aja nggak bisa ganti baju ini!” maki Sari dengan sangat kasar.

Alika hanya bisa tertunduk.

“Memangnya dia dapat gaji, Ma?” tanya Ana yang tiba-tiba sudah muncul dan menyandarkan tubuhnya di daun pintu.

“Oh, iya. Mama lupa. Wanita ini kan benalu. Mana ada gajinya,” timpal Sari.

“Sudah, Ma, biarkan saja. Ayo kita lebih baik segera pergi. Nanti keburu mood belanja kita berantakan.” Ana berkata sambil menarik tangan Ana dan memintanya untuk segera bersiap.

Sepeninggal keduanya, Alika berusaha beranjak dari duduknya, namun kini tulang ekornya terasa sangat sakit sekali.

Alika memegangi bokongnya dan mencoba berjalan keluar kamar untuk menyelesaikan pekerjaannya.

"Alika kamu kuat. Semua ini pasti akan berahir," gumam Alika mencoba memberikan semangat pada diri sendiri.

Dengan menahan rasa sakit, Alika kembali melanjutkan menyetrika baju. Beruntungnya, saat tragedi penarikan tadi, Bulan tidak terbangun. sehingga dia bisa langsung menyelesaikan tugasnya.

Sedangkan Bima Sakti, sedang menunggu kepulangannya. karena salah satu temannya sudah memberikan beberapa bukti yang menguatkan kalau Bima tak bersalah.

"Saudara Bima Sakti sekarang anda bebas," kata pihak lapas.

"Alhamdulilah, terima kasih." Bima sangat senang sekali.

Dia berencana ingin memberikan kejutan untuk keluarganya. Alhasil Bima pulang tanpa mengabari siapapun.

Saat sampai di depan rumah Sari, Bima langsung masuk dan mencari keberadaan keluarganya.

"Kok sepi?" tanya Bima bermonolog.

Bima terus mencari sampai dia menemukan Alika sedang berada di ruang pakaian. Alika tengah memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Bahkan darah mulai mengalir dari kedua kakinya.

Bima yang melihat itu langsung saja panik. Tanpa aba-aba, Bima langsung mendekati Alika sehingga dia terkejut.

"Dek, kamu kenapa?" tanya Bima.

"Mas? Ini benar kamu?" tanya Alika sembari membingkai wajah suaminya.

"Iya. Ini aku, suamimu. Aku sudah bebas dan di nyatakan tidak bersalah." Bima menjelaskan sembari mengendong Alika menuju kamar.

"Mas, ini sakit sekali." Alika tampak meringis karena menahan sakit.

"Oke, kita ke rumah sakit sekarang." Bima langsung mengendong Alika dan membawanya ke dalam mobil. baru setelahnya dia kembali menggendong Bulan.

Bima kini sudah siap di balik kemudi. Sedangkan Bulan berada di pangkuan Alika. Tampak bulir bening menetes di pipi Alika. Namun itu adalah air mata kebahagiaan, saat melihat suaminya sudah bebas dan tidak terbukti bersalah.

Bima melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit. Beruntungnya, jalanan masih sepi. Sehingga dalam sekejap mereka sampai di rumah sakit.

sesampainya di rumah sakit, Alika langsung mendapatkan penanganan yang tepat. Sedangkan Bulan berada di luar bangsal bersama dengan Bima. Seolah Bulan itu mengetahui kondisi ibunya yang sedang tak baik-baik saja. sehingga bayi itu tampak terlelap dengan tenang, dan tak merepotkan sama sekali.

"Alika. sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu tampak kurus kering seperti ini?" tanya Bima bermonolog sembari melihat istrinya dari balik kaca.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 11.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 10.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 9

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 8. Kepanikan Mama Sari.

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 7. Kepergian Bima Sakti.

    "Apa? Apakah seperti ini perlakuanmu pada menantu keluarga ini?" Tanya Bima Sakti sembari memicingkan mata."Bima. Nak, kamu sudah keluar, syukurlah." Mamanya langsung berubah raut wajahnya."Kalau sudah kenapa? Kenapa itu Alika keningnya terluka? Kenapa tubuhnya kurus kering, baru juga aku tinggal seminggu. Kamu apakah?" Tanya Bima tanpa memandang mamanya.Bersamaan dengan itu Ana berteriak dari ruang tamu."Alika benalu. Kamu dengar nggak sih saat di panggil?!" Ana berteriak."Apakah memang seperti ini perlakuan kalian? Memanggil istriku dengan benalu? Berteriak dan nggak ada sopan santunnya sama sekali." Bima menatap mamanya dengan tatapan penuh kemarahan."Nggak begitu, Bim. Kamu sayang kok sama Alika." Mamanya berbohong."Sekarang, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Bima berkata dengan tegas.Mamanya tak bisa berkutik. Dia tak bisa mengatakan apa pun selain menuruti apa yang Bima katakan. Mamanya pun berbalik dan meninggalkan kamar Bima. Bima pun langsung membanting pintu t

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 6. Kemarahan Bima.

    Bima duduk di lorong depan ruang ICU. Sembari mengendong Bulan yang sedang terlelap, tak berapa lama datang seorang perawat yang tadi merawat Alika."Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima Sakti."Sudah di tangani. Rupanya istri anda mengalami pendarahan hebat, apa tadi beliau terjatuh? Di saat baru saja melahirkan harusnya jangan melakukan sesuatu yang berat," terang perawat itu."Saya tidak tau. Saya baru pulang dari luar kota," kata Bima berbohong."Baiklah, mungkin sekitar dua jam lagi pasien sudah bisa pulang," kata perawat itu."Baik, terima kasih, sus," kata Bima sakti.Perawat itu pun langsung berlalu dan meninggalkan Bima sakti. Sedangkan Bima kembali duduk dan memandang wajah putrinya yang masih terlelap di pelukannya."Sebenarnya apa yang terjadi pada ibumu, kenapa dia tampak sangat tersiksa sekali," kata Bima bermonolog.Dia jam kemudian, Alika keluar dari kamar perawatan menggunakan kursi roda. Dia pun di bantu oleh seorang perawat yang berada di belakangnya."Terima k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status