FAZER LOGINCaspian berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. “Kota Whitesand bahkan termasuk dalam tiga kota dengan keuntungan perdagangan laut tertinggi di Negara I. Selain itu, wisata laut kita juga menarik banyak pengunjung. Menurut saya, semua pencapaian itu harus dipertahankan.”Bella mendengarkan tanpa menyela. Shin sesekali menoleh kearahnya untuk memperhatikan ekspresinya yang menarik baginya.“Sejujurnya, saya berencana mempelajari dan memahami terlebih dahulu cara Wali Kota DeLuca menjalankan pemerintahan selama ini. Meskipun beliau sering mengajak saya berdiskusi, masih banyak hal yang belum saya ketahui. Saya tidak ingin mengambil keputusan besar hanya berdasarkan pengetahuan yang belum lengkap.”Caspian meluruskan punggungnya. Nada suaranya semakin mantap, memperlihatkan kesungguhannya dalam menjelaskan rencana tersebut.“Setelah memahami kebijakan yang sudah berjalan, saya akan melanjutkan kebijakan dan misi Wali Kota DeLuca agar Kota Whitesand tetap stabil
“Apakah kalian bermaksud menarikku masuk ke dalam faksi kalian?” tanya Bella, langsung menuju inti pembicaraan.Shin mengangguk tanpa berusaha menyembunyikan maksudnya. Ia meletakkan cangkir teh di atas meja, kemudian menatap Bella dengan ekspresi tenang.“Bagaimana kalau kita membuat semacam penawaran?”Bella mengamati wajahnya sejenak sebelum bertanya, “Penawaran seperti apa?”“Ini berkaitan dengan pemilihan Caspian sebagai wali kota pengganti.” Shin menyandarkan punggungnya dengan santai. “Meskipun rencana ayahmu untuk memilihnya sebagai penerus belum diumumkan secara resmi, banyak pejabat dan keluarga bangsawan yang sudah mendengar kabarnya. Sebagian menerima keputusan itu, tetapi sebagian lainnya tidak setuju. Terutama mereka yang sudah lama berkecimpung dalam dunia politik. Mereka pasti akan mengajukan keberatan dengan alasan Caspian masih terlalu muda dan belum memiliki cukup pengalaman.”Shin berhenti sejenak, memberi Bella waktu untuk mencerna penjelasannya.“Pada akhirnya, p
Bella menyeruput tehnya, berharap minuman hangat itu bisa membantu menenangkan dirinya. Kedatangan Shin yang begitu tiba-tiba kembali membuat jantungnya berdebar tidak terkendali. Ia sudah berusaha meyakinkan diri bahwa hubungan mereka telah berakhir, tetapi hanya dengan melihat pria itu duduk di hadapannya, ketenangan yang susah payah ia bangun kembali terusik. Setelah meletakkan cangkirnya, Bella menatap Shin dengan ekspresi dingin. “Jadi, perjodohan ini palsu? Kalian sengaja melakukan ini?” Shin sudah duduk santai di kursi di hadapannya. Ia mengambil teko, lalu menuangkan teh ke dalam cangkirnya sendiri dengan gerakan lihai, seolah kedatangannya merupakan hal yang sangat wajar. “Kalau kau ingin perjodohan ini benar-benar terjadi, aku tidak akan keberatan.” Bella tidak menganggap serius jawabannya. Ia bahkan tidak bisa memastikan apakah pria itu sedang bercanda atau sengaja menggodanya. “Baiklah. Aku datang karena perjodohan yang diusulkan oleh kakekku dan Kakek Vanko. Namun, kar
Bella mendengarkan seluruh penjelasan itu dengan saksama. Semakin banyak yang ia dengar, semakin sulit baginya untuk percaya bahwa pria yang berdiri di hadapannya pernah menjalani kehidupan seperti itu.Ia akhirnya bertanya, "Apakah Kakek Vanko mengizinkanmu masuk kelompok Red Line?"Caspian mengangguk. "Kakek awalnya menolak. Namun, waktu itu saya keras kepala dan bahkan hampir melarikan diri. Pada akhirnya, saya malah dikunci di gudang bawah tanah."Bella mengangkat alis.Caspian menghela napas kecil sebelum melanjutkan. "Dibandingkan hukuman Kakek yang tidak berarti apa-apa, saya pernah mengalami siksaan di Arena Bawah Tanah. Jadi, saya berpikir jika saya bertahan, Kakek akan mengizinkan saya."Ia tersenyum tipis mengingat masa lalu tersebut. "Tetapi setiap tiga hari sekali, Kakek akan masuk dan bertanya apakah saya masih akan tetap pada keinginan itu. Saya terus menjawab hal yang sama sampai tidak terasa sebulan pun berlalu."Bella dapat membayangkan betapa keras kepala anak itu p
Caspian tampak tersenyum canggung melihat reaksi Bella. Untuk pertama kalinya sejak wanita itu masuk ke ruangan, ekspresi percaya dirinya sedikit goyah."Nona Bella, apa kabar... emm, maksud saya, senang bertemu dengan Anda. Ini pertama kalinya kita bertemu."Bella justru tersenyum sinis. "Pertama kalinya?"Ia menatap pria di hadapannya dengan pandangan tidak percaya. Tatapannya bergerak perlahan dari wajah Caspian hingga pakaian yang dikenakannya, seolah sedang memastikan bahwa pria yang berdiri di depannya memang orang yang sama dengan yang pernah ia kenal."Bagaimana bisa anggota mafia seperti mu menjadi seorang pejabat militer di Kota Whitesand?"Caspian malah tersenyum penuh percaya diri, seakan pertanyaan itu sama sekali tidak mengejutkannya. "Apa yang Anda katakan, Nona Bella? Saya masuk militer sejak muda dan itu memang cita-cita saya sejak dulu. Kakek saya bahkan sangat menyukai prestasi saya di sana. Bahkan, wali kota pun tertarik kepada saya."Bella tidak langsung menjawab,
Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah ruangan VVIP. Dua pria bertubuh kekar berdiri di kedua sisi pintu, mengenakan pakaian formal dengan sikap waspada. Melihat asisten Caspian datang bersama Bella, keduanya segera memberi jalan.Asisten itu berhenti di depan pintu, kemudian mengetuknya tiga kali.Tok. Tok. Tok.Beberapa detik berlalu, tetapi tidak terdengar jawaban apa pun dari dalam. Pria itu akhirnya meraih gagang pintu dan membukanya, lalu sedikit menyingkir untuk memberikan Bella jalan."Nona Bella, silakan masuk."Bella berdiri di depan pintu selama beberapa saat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Sampai saat ini, ia bahkan belum pernah melihat wajah Caspian. Meskipun sejak awal ia sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan pria yang dipilih oleh keluarganya, tetap saja ada sedikit rasa gugup yang tidak bisa ia hindari.Bella menarik napas perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Kemudian, ia melangkah masuk. Begitu melewati ambang pintu, langkah Bella hampir
Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr
Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.'Apakah pelakunya su
Udara malam Desa San Felice menusuk kulit Bella, dingin terasa semakin pekat karena keringat yang bercampur dengan ketakutan. Dengan susah payah, ia menahan tubuh pria asing itu yang beratnya jauh melebihi tenaganya.Nafasnya tersengal, kakinya hampir menyeret, namun entah dari mana kekuatan itu mu
"Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri







