แชร์

Bab 58 Alat pelacak.

ผู้เขียน: SanASya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-15 21:17:09

Setelah berhasil membawa Bella pergi dari toilet tanpa menimbulkan kecurigaan besar, Maggio segera memberi perintah melalui alat komunikasi kecil di telinganya.

"Bawa dia ke kamarku. Hati-hati jangan sampai ada yang melihat," ucapnya dengan nada rendah dan tegas.

Di seberangnya, asistennya yang berdiri tak jauh darinya tampak kebingungan.

"Bos... kenapa dibawa ke kamar Anda? Bukankah seharusnya langsung ke kamar Gannaro?" tanyanya hati-hati.

Maggio melirik ke arahnya, lalu tersenyum miring, sen
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 284

    Bella tanpa sadar menegakkan tubuh. Percakapan itu mulai menyentuh sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bisnis."Semenjak Anda menjadi pemimpin Red Line, kelompok-kelompok mafia lain tampaknya lebih berhati-hati," lanjut Tuan Bradley. "Mereka takut kepada Anda. Setidaknya sekarang, kejahatan terbuka di tempat umum jauh lebih jarang terjadi."Chiara melirik Bella yang tidak banyak bereaksi. Dari bilik sebelah, Shin terdengar menjawab dengan tenang."Itu tidak sepenuhnya karena saya, Tuan Bradley." Ia berhenti sebentar. "Benar, mereka mungkin takut. Tetapi jangan mengira mereka berhenti membuat rencana. Sebagian dari mereka hanya memilih untuk bergerak dengan cara yang tidak terlihat."Tak lama kemudian, pria tua itu mengembuskan napas panjang. "Kami tidak memiliki apa-apa selain bisnis dan harta. Kalau suatu hari kalian berdua membutuhkan bantuan, kami akan membantu sebisa mungkin.""Terima kasih atas tawarannya, Tuan," jawab Matteo. "Kami menerimanya."Tuan Bradley kemudian kemba

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 283

    Begitu duduk di dalam bilik, Bella, Chiara, dan Adrian segera memesan makanan. Mereka berbicara jauh lebih pelan daripada sebelumnya. Ketiganya beberapa kali melirik ke arah pembatas kayu di samping mereka, memastikan suara mereka tidak terdengar sampai ke bilik sebelah.Seorang pelayan datang membawa buku catatan kecil dan menunggu dengan sopan. Bella membuka menu, lalu memilih beberapa makanan berat yang menurutnya cukup untuk mengisi perut mereka. Ia juga memesan minuman nonalkohol.Chiara sempat mengangkat wajah dari menu. "Kenapa tidak memesan anggur saja?""Kita belum makan.""Tapi kita sedang berada di bar."Bella menatapnya. "Itulah alasan kalian harus makan lebih dulu."Chiara mengembuskan napas, lalu mencoba membujuknya. "Ayolah, Bella. Mumpung kita sedang di sini, cicipi sedikit saja."Bella menggeleng. "Lebih baik makan siang dulu. Kalian sudah mengikutiku kemari sampai tidak jadi makan siang."Adrian yang sejak tadi memperhatikan daftar makanan mereka akhirnya ikut berbic

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 282

    Setelah sosok Shin menghilang di balik pintu bar, Bella masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tertahan pada pintu kayu berwarna gelap itu, seolah berharap pria yang baru saja dilihatnya akan keluar kembali dan membuktikan bahwa apa yang dilihatnya tadi hanyalah kesalahpahaman. Namun, itu tidak terjadi.Suara percakapan para pengunjung dan alunan musik dari dalam bar terdengar samar hingga ke luar. Bella menarik napas perlahan. Ada perasaan aneh yang kembali muncul di dadanya, campuran antara terkejut, dan gugup. Ia tidak menyangka akan bertemu Shin di tempat seperti ini.Bella akhirnya mengalihkan pandangan kepada kedua sahabatnya. "Kalian pergi ke restoran duluan, ada sesuatu yang harus aku lakukan. Nanti aku menyusul."Chiara dan Adrian saling berpandangan. Keduanya langsung menggeleng hampir bersamaan.Bella mengernyit. "Kenapa?""Tiba-tiba Aku tidak terlalu lapar," jawab Adrian santai. Ia melirik pintu bar, lalu kembali menatap Bella. "Bagaimana kalau kita mencicipi minuman anggu

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 281

    Pada awalnya, Adrian mengira Distrik d'Elite tidak jauh berbeda dari pasar malam atau pusat perbelanjaan biasa. Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin ia menyadari bahwa perkiraannya benar-benar keliru. Kawasan itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari gerbang utama. Setiap bagian seolah memiliki area dan suasananya sendiri, lengkap dengan toko-toko yang menjual berbagai macam barang kelas atas.Tanpa terasa, hampir setengah jam telah berlalu hanya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setelah berjalan selama hampir dua jam tanpa benar-benar beristirahat, Adrian mulai merasa lelah. Ia bahkan tidak lagi peduli dengan kemewahan tempat itu. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah kursi, minuman dingin, dan kesempatan untuk duduk selama beberapa menit.Tiga pengawal yang mengikuti mereka juga mulai kewalahan. Kedua tangan mereka sudah penuh dengan berbagai tas belanja, sementara Chiara dan Bella masih terlihat bersemangat mengamati barang-barang yang dipajang

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 280

    Dua hari sebelum keberangkatan, Chiara mengirim pesan ke grup percakapan mereka dengan sebuah pengumuman yang langsung menarik perhatian Bella dan Adrian.Chiara: Teman-teman, baru saja aku memenangkan kartu VIP ke tempat wisata yang sangat menarik.Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.Chiara: Sabtu besok kalian berdua senggang, kan? Ikut aku jalan-jalan ke sana, ya. (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)Adrian yang saat itu sedang memeriksa beberapa laporan hanya mengangkat alis ketika membaca pesan tersebut.Adrian: Ke mana?Bella yang sedang menikmati waktu santainya ikut membaca percakapan itu. Ia segera merasa penasaran ketika melihat kata VIP.Bella: Kartu VIP itu terdengar menarik. Kamu mengikuti kuis?Balasan Chiara datang tidak lama kemudian.Chiara: Ya. Dua hari yang lalu aku iseng mengikuti kuis sepuluh pertanyaan tebak kata yang direkomendasikan rekanku. Setelah itu aku mengirimkan jawabannya. Tidak disangka, aku masuk dalam daftar pemenang tercepat yang berhasil menjawab semua pertanyaan

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 279

    Tiga hari kemudian, Chiara akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Namun, kepulangannya bukan berarti ia bisa langsung kembali bekerja. Dokter masih memintanya beristirahat dan menghindari aktivitas berat sampai kondisinya benar-benar pulih. Chiara sempat mengeluh beberapa kali karena merasa sudah cukup sehat untuk berjalan-jalan, tetapi Bella dan Adrian sama sekali tidak terpengaruh oleh rengekannya.Bahkan, keduanya membuat kesepakatan di hadapan Chiara.Selama Chiara belum benar-benar pulih, mereka tidak akan mengajaknya pergi jauh. Jika ingin keluar, mereka hanya akan berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan atau mencari tempat makan yang tidak terlalu ramai."Ini tidak adil," keluh Chiara suatu sore sambil bersandar di sofa. "Aku sudah bisa berjalan sendiri. Bahkan aku bisa berlari seperti biasa."Bella yang sedang membaca sesuatu di tablet hanya mengangkat pandangan sekilas. "Dan dokter juga sudah mengatakan apa?"Chiara terdiam.Adrian yang duduk tidak jauh dari mer

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 4

    Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.'Apakah pelakunya su

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 3

    Udara malam Desa San Felice menusuk kulit Bella, dingin terasa semakin pekat karena keringat yang bercampur dengan ketakutan. Dengan susah payah, ia menahan tubuh pria asing itu yang beratnya jauh melebihi tenaganya.Nafasnya tersengal, kakinya hampir menyeret, namun entah dari mana kekuatan itu mu

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 5

    Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 2

    "Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status