LOGINPada awalnya, Adrian mengira Distrik d'Elite tidak jauh berbeda dari pasar malam atau pusat perbelanjaan biasa. Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin ia menyadari bahwa perkiraannya benar-benar keliru. Kawasan itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari gerbang utama. Setiap bagian seolah memiliki area dan suasananya sendiri, lengkap dengan toko-toko yang menjual berbagai macam barang kelas atas.Tanpa terasa, hampir setengah jam telah berlalu hanya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setelah berjalan selama hampir dua jam tanpa benar-benar beristirahat, Adrian mulai merasa lelah. Ia bahkan tidak lagi peduli dengan kemewahan tempat itu. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah kursi, minuman dingin, dan kesempatan untuk duduk selama beberapa menit.Tiga pengawal yang mengikuti mereka juga mulai kewalahan. Kedua tangan mereka sudah penuh dengan berbagai tas belanja, sementara Chiara dan Bella masih terlihat bersemangat mengamati barang-barang yang dipajang
Dua hari sebelum keberangkatan, Chiara mengirim pesan ke grup percakapan mereka dengan sebuah pengumuman yang langsung menarik perhatian Bella dan Adrian.Chiara: Teman-teman, baru saja aku memenangkan kartu VIP ke tempat wisata yang sangat menarik.Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.Chiara: Sabtu besok kalian berdua senggang, kan? Ikut aku jalan-jalan ke sana, ya. (◠‿◕)Adrian yang saat itu sedang memeriksa beberapa laporan hanya mengangkat alis ketika membaca pesan tersebut.Adrian: Ke mana?Bella yang sedang menikmati waktu santainya ikut membaca percakapan itu. Ia segera merasa penasaran ketika melihat kata VIP.Bella: Kartu VIP itu terdengar menarik. Kamu mengikuti kuis?Balasan Chiara datang tidak lama kemudian.Chiara: Ya. Dua hari yang lalu aku iseng mengikuti kuis sepuluh pertanyaan tebak kata yang direkomendasikan rekanku. Setelah itu aku mengirimkan jawabannya. Tidak disangka, aku masuk dalam daftar pemenang tercepat yang berhasil menjawab semua pertanyaan
Tiga hari kemudian, Chiara akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Namun, kepulangannya bukan berarti ia bisa langsung kembali bekerja. Dokter masih memintanya beristirahat dan menghindari aktivitas berat sampai kondisinya benar-benar pulih. Chiara sempat mengeluh beberapa kali karena merasa sudah cukup sehat untuk berjalan-jalan, tetapi Bella dan Adrian sama sekali tidak terpengaruh oleh rengekannya.Bahkan, keduanya membuat kesepakatan di hadapan Chiara.Selama Chiara belum benar-benar pulih, mereka tidak akan mengajaknya pergi jauh. Jika ingin keluar, mereka hanya akan berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan atau mencari tempat makan yang tidak terlalu ramai."Ini tidak adil," keluh Chiara suatu sore sambil bersandar di sofa. "Aku sudah bisa berjalan sendiri. Bahkan aku bisa berlari seperti biasa."Bella yang sedang membaca sesuatu di tablet hanya mengangkat pandangan sekilas. "Dan dokter juga sudah mengatakan apa?"Chiara terdiam.Adrian yang duduk tidak jauh dari mer
Gerakan tangan Bella berhenti. Potongan apel yang sedang dibentuk menjadi telinga kelinci tertahan di ujung pisaunya. Adrian menoleh dan Chiara juga memperhatikan wajah sahabatnya.Namun, hanya beberapa detik kemudian Bella kembali melanjutkan pekerjaannya seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang penting.“Itu benar.” Nada suaranya tetap tenang, ia menjelaskan. “Bukti-bukti yang diberikan kakeknya sudah diperiksa dan dinyatakan asli. Shin maupun kelompok Red Line tidak memiliki kaitan dengan kejahatan yang selama ini dituduhkan kepada mereka.”Bella meletakkan potongan apel itu ke atas piring. “Bahkan berdasarkan riwayat penyelidikan yang ada, Red Line tidak pernah melakukan tindakan kriminal yang berkaitan dengan kasus tersebut selama mereka menjalankan bisnis secara legal di Kota Whitesand.”Chiara terdiam, Ia tentu merasa lega mendengar kabar tersebut. Namun, pada saat yang sama, ada kekhawatiran lain yang muncul.Sebelumnya, hubungan Bella dengan Shin terpaksa berakhir karena iden
Sore harinya, Shin akhirnya dibebaskan dari penjara bawah tanah pusat. Begitu keluar dari pintu utama, cahaya matahari yang menyambutnya terasa sedikit asing. Selama hampir dua minggu, ia hanya berada di dalam ruang interogasi yang tertutup dan sempit. Kini, langit terbuka terbentang luas di atas kepalanya, udara sore terasa lebih bebas, dan suara aktivitas kota kembali terdengar di sekelilingnya.Shin berhenti sejenak. Ia mengangkat wajah, membiarkan cahaya sore menerpa wajahnya sebelum memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.Tidak jauh dari sana, sebuah mobil hitam telah menunggu dan Vito berdiri di sampingnya. Begitu melihat Shin, pria itu segera membungkuk sedikit dan membukakan pintu belakang.“Bos, akhirnya Anda keluar.” Vito tersenyum lega. “Bagaimana kabar Anda?”Shin meliriknya sekilas sebelum berjalan mendekati mobil. “Aku baik-baik saja.”Vito pun memuji, “Bos benar-benar hebat, di dalam penjara pun Bos masih tetap terlihat berkarisma.”Shin berhenti tepat di depan
Giovanni membuka map tebal yang berada di tangannya. Ia membaca halaman demi halaman dengan cepat, tetapi semakin jauh matanya menyusuri laporan tersebut, semakin dalam tatapannya.Tidak ada perubahan berarti pada ekspresinya. Wajahnya tetap tenang, bahkan nyaris tanpa emosi. Namun, Richard yang berdiri tidak jauh darinya dapat melihat bahwa Giovanni sedang memproses informasi yang sangat serius.Beberapa saat kemudian, Giovanni menutup map itu. Ia mengangkat pandangan kepada Ruggero.“Sekarang saya ingin tahu,” katanya tenang, “mengapa mantan pemimpin Red Line datang langsung ke kediaman saya dan membawa sesuatu yang begitu penting untuk diserahkan kepada saya? Kenapa tidak diserahkan ke kejaksaan Agung?”Ruggero tersenyum tipis. “Karena ada beberapa hal yang lebih baik diserahkan secara langsung kepada anda daripada dikirim melalui orang lain.”Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Bisakah Shin dibebaskan sekarang juga?”Tatapan Ruggero turun sekilas ke map yang berada di tangan
"Sampai jumpa Miss Bella, terima kasih sudah menemani Luna menunggu Mama."Suara imut anak perempuan terdengar menyenangkan, ditambah wajah bulatnya yang sangat manis tersenyum. Dari jendela mobil ia melambaikan tangan mungilnya keluar. Berpamitan pada seorang guru yang berdiri di halaman sekolah T
Dua hari sudah Bella tinggal di rumah, kegiatannya itu-itu saja dan hanya sekali dia pergi ke luar untuk membeli sesuatu. Dengan pengawalan lengkap, meski tidak terlalu mencolok, tetap saja membuat Bella tidak bisa berbaur seperti warga biasa lainnya. Ia pun lebih memilih menghabiskan waktu di ruma
Salah satu pria yang sedang bermain melihat ke tempat Bella dan anak-anak dikurung. "Lihat, gadis itu sudah sadar."Tiga pria lainnya menoleh, tatapan berbinar mereka menandakan kekaguman pada kecantikan gadis yang tidak sengaja mereka culik."Kita sungguh beruntung, harganya pasti tinggi.""Tidak
"Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri







