LOGINSebelum Chiara sempat membuka mulut, Shin lebih dahulu berbicara.
“Sebaiknya kita membicarakannya di tempat lain.”Tatapan Shin beralih kepada Bella. Sikapnya tetap tenang, seolah ia tidak merasa perlu menjelaskan hubungan mereka di tengah restoran yang ramai.“Aku sudah memesan ruang pribadi. Apa kau mau makan di sana?”Bella menatap Shin, lalu mengalihkan pandangan kepada Chiara dan Adrian. Ia pikir ruang pribadi akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuSebelum Chiara sempat membuka mulut, Shin lebih dahulu berbicara.“Sebaiknya kita membicarakannya di tempat lain.”Tatapan Shin beralih kepada Bella. Sikapnya tetap tenang, seolah ia tidak merasa perlu menjelaskan hubungan mereka di tengah restoran yang ramai.“Aku sudah memesan ruang pribadi. Apa kau mau makan di sana?”Bella menatap Shin, lalu mengalihkan pandangan kepada Chiara dan Adrian. Ia pikir ruang pribadi akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk berbicara tanpa menarik perhatian pengunjung lain.“Bagaimana kalau kalian ikut makan bersama kami?” tanyanya kepada Chiara dan Adrian.Chiara langsung mengangguk. Ia memang berniat meminta penjelasan, dan tidak ada alasan untuk menolak ajakan tersebut. “Boleh. Lagipula, aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Adrian tidak keberatan. Ia kemudian menoleh kepada pelayan yang sebelumnya menerima pesanan mereka dan memberitahukan bahwa mereka akan pindah ke rua
Bella dan Shin berjalan berdekatan dengan tangan saling menggenggam. Bukan sekadar bersentuhan tanpa sengaja, melainkan bergandengan erat seolah keduanya sudah terbiasa dengan kedekatan tersebut. Shin bahkan tampak sama sekali tidak keberatan memperlihatkan sikap mesranya di tempat umum.Chiara berhenti melangkah. 'Sejak kapan Bella kembali akrab dengan Shin? Dan mengapa mereka terlihat begitu dekat?'Pikiran Chiara langsung mengarah pada satu kemungkinan. Melihat cara mereka bergandengan tangan, ia menduga bahwa hubungan asmara yang pernah berakhir itu mungkin telah terjalin kembali. Namun, ia belum mendengar kabar apa pun dari Bella mengenai perubahan tersebut.Chiara mengerjapkan mata, memastikan dirinya tidak sedang salah menafsirkan situasi. Ia segera melangkah mendekati mereka.“Bella!”Mendengar namanya dipanggil, Bella dan Shin serentak menghentikan langkah lalu menoleh ke arah suara tersebut.Shin tampak biasa saja ketik
Waktu makan siang di kantor kejaksaan agung masih sekitar satu jam lagi. Di salah satu ruangan kerja, Chiara duduk di balik meja dengan beberapa berkas perkara terbuka di hadapannya. Wajahnya tampak serius ketika membaca setiap halaman, sesekali berhenti untuk mencatat poin penting atau menandai bagian yang perlu diperiksa lebih lanjut.Kasus yang sedang ditanganinya berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga yang berujung pada kematian seorang anak. Perkara tersebut cukup rumit karena belum ada kepastian mengenai penyebab kematian korban. Apakah anak itu meninggal akibat kecelakaan yang tidak disengaja, atau justru ada sesuatu yang disembunyikan oleh salah satu orang tuanya? Sejumlah keterangan yang terkumpul belum cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut, sehingga Chiara harus menelaah bukti dan kesaksian dengan lebih cermat.Ia kembali membalik halaman, berusaha menghubungkan setiap keterangan yang tercantum dalam berkas. Kasus yang melibatkan anak-anak selal
Bella menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Shin, lalu mendongak untuk memandang wajah pria itu. Ada senyum tipis di bibirnya.“Jangan bilang restoran itu juga bisnis barumu?”Shin mengangkat alis, tampak terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu?”Bella tersenyum puas karena tebakannya benar. “Kau tidak akan tertarik mengunjungi restoran baru kalau bukan milikmu sendiri, bukan?”Shin menatapnya sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat. “Bagaimana kalau restoran itu milik orang lain? Aku mengajakmu ke sana untuk menilai makanannya, supaya aku bisa memastikan mereka tidak akan menyaingi bisnisku.”Bella segera menegakkan tubuh dan menatapnya dengan ekspresi pura-pura terkejut. Ia bahkan sengaja membuka sedikit mulutnya, seolah baru saja mendengar sesuatu yang luar biasa.“Ternyata seorang pebisnis muda terkenal seperti Tuan Shin juga bisa takut tersaingi?”Shin terkekeh pelan melihat wajah cantik kekasihnya yang jelas-jelas sedang mengejeknya. Ia meraih kedua tangan Bella, lalu mengecup
Malam itu, setelah saling mengungkapkan perasaan dan sepakat memberikan kesempatan kedua bagi hubungan mereka, Bella dan Shin kembali menjalin kasih. Perjodohan Bella dengan Caspian yang semula direncanakan Giovanni pun berakhir sebelum benar-benar dimulai. Bagi Bella dan Shin, hal itu tentu menjadi alasan untuk berbahagia. Namun, di antara mereka bertiga, Caspian mungkin merupakan orang yang paling lega karena tidak perlu melanjutkan perjodohan tersebut.Sejak awal, Caspian memang tidak pernah berniat menjadi pasangan Bella. Bukan karena Bella memiliki kekurangan, melainkan karena ia sudah mengetahui siapa pria yang sebenarnya dicintai perempuan itu. Baginya, mencoba merebut perempuan yang telah menjadi milik bosnya sama saja dengan mencari masalah dan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Caspian masih cukup menyayangi hidupnya untuk tidak melakukan tindakan sebodoh itu.Keesokan harinya, Caspian mendatangi ruangan Giovanni di gedung pemerintahan untuk menyampaikan keputusan mereka secar
Sesuatu tiba-tiba terlintas di benaknya. Ia kembali memandang Shin, kali ini dengan sorot mata yang perlahan berubah ketika mulai memahami maksud di balik perkataan pria itu. Shin tidak sedang membanggakan kebaikannya ataupun meminta Bella mengingat semua sumbangan yang pernah diberikannya. Ia sedang menunjukkan sesuatu yang lebih penting: selama berada di Whitesand, Red Line tidak semata-mata menjalankan bisnis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kota tersebut.Jika demikian, mungkin Shin ingin membuktikan bahwa keberadaan kelompoknya tidak selalu menjadi ancaman bagi Whitesand.Bella ingin mengatakan sesuatu, tetapi untuk sesaat ia tidak tahu harus memulai dari mana. Sebelum sempat menyusun pikirannya, Shin sudah bergerak lebih dahulu. Pria itu meraih salah satu tangannya, lalu menggenggamnya dengan lembut.Tangan Bella yang putih dan ramping tampak begitu mungil di dalam genggaman Shin yang besar. Kehangatan telapak tangan pria itu menjalar ke kulitnya, membuat Bella tanp
Dua hari sudah Bella tinggal di rumah, kegiatannya itu-itu saja dan hanya sekali dia pergi ke luar untuk membeli sesuatu. Dengan pengawalan lengkap, meski tidak terlalu mencolok, tetap saja membuat Bella tidak bisa berbaur seperti warga biasa lainnya. Ia pun lebih memilih menghabiskan waktu di ruma
Salah satu pria yang sedang bermain melihat ke tempat Bella dan anak-anak dikurung. "Lihat, gadis itu sudah sadar."Tiga pria lainnya menoleh, tatapan berbinar mereka menandakan kekaguman pada kecantikan gadis yang tidak sengaja mereka culik."Kita sungguh beruntung, harganya pasti tinggi.""Tidak
Ketika Bella membuka matanya, bau debu dan rokok yang pekat membuatnya terbatuk. Ia terbaring di lantai, disekitarnya terdapat kotak-kotak besi besar dengan beberapa sudah berkarat. Ingatan sebelum dirinya pingsan membuatnya sadar dari linglung, ia ingin bangun. Tapi kemudian menyadari kalau kedua
Lima hari berlalu... Tiga puluh enam anggota polisi yang diperintahkan untuk memeriksa daerah San Felice secara menyeluruh tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Pencarian hingga luar daerah pun dilakukan, tidak ada tanda-tanda adanya kejahatan yang pernah terjadi dan semuanya aman-aman saja.Se







