LOGINViona mengernyitkan alisnya saat membaca cuplikan pesan yang muncul di layar kunci ponselnya. Nomor pengirimnya adalah nomor baru dan tidak terdaftar di daftar kontaknya."Siapa sih ini? Nomor nggak dikenal tiba-tiba nanya hal privasi begini," gumam Viona dengan nada jengkel.Viona tidak membuka apalagi membalas pesan dari nomor baru itu, karena tiba-tiba bertanya tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu, sehingga sangat tidak penting untuk dilayani. Mengingat status latar belakang keluarga adalah hal yang sensitif, Viona memilih untuk mengabaikan dan tidak membalas pesan itu sama sekali.Tanpa perlu menggeser layar untuk membuka pesan, Viona langsung menaruh ponselnya begitu saja di atas nakas. Ia mengaitkan jubah mandi di tubuhnya lalu mengambil telepon kamar untuk memesan makanan ke room service. Perutnya yang makin keroncongan jauh lebih penting untuk diurus daripada melayani orang iseng yang tak jelas asal-usulnya.*Sementara itu, di tempat lain, Axel menatap layar ponselnya de
Ambar menelan ludahnya yang terasa pahit. Bulu kuduknya merinding mendengar analisis suaminya. "Tapi... siapa, Pa? Siapa yang tega melakukan hal sebiadab itu pada kita? Apa salah kita sampai ada orang yang sengaja memisahkan kita dari anak kandung kita sendiri?"Harjo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Otak bisnis dan daya ingatnya yang tajam kini memutar kembali ingatan masa lalu, mengingat siapa saja musuh bisnisnya saat itu, siapa dokter yang menangani persalinan Ambar, hingga siapa saja pihak rumah sakit yang terlibat."Siapa pun orangnya, dia sangat mengenal kita, tahu posisi keuangan kita saat itu, dan punya akses penuh di rumah sakit tersebut. Jika dugaan ini benar, Papa tidak akan tinggal diam. Papa akan lacak kembali semua rekam medis dua puluh enam tahun lalu, cari tahu siapa dokter dan perawat yang bertugas malam itu. Siapa pun yang bertanggung jawab atas penderitaan dan kebohongan ini... mereka harus bayar mahal."Ambar mencengkeram lengan suaminya, hatinya makin bergetar he
Di sisi lain, Revan yang menoleh seketika mendapati kedua orang tuanya berdiri tidak jauh darinya. Sontak, napas Revan tercekat. Pikirannya langsung ke mana-mana, tidak hanya sekadar masuk angin atau kecapekan biasa. Wajah pucat dan lesu yang Harjo pasang saat sarapan tadi pagi tiba-tiba berputar kembali di kepalanya.Dengan langkah tergesa-gesa, Revan langsung berlari kecil menghampiri orang tuanya."Ma! Pa," seru Revan panik, matanya memindai tubuh Harjo dari ujung kepala hingga kaki. "Papa kenapa dibawa ke rumah sakit? Tadi pagi Papa cuma bilang kurang enak badan, tapi kenapa sekarang sampai ke sini? Sakit apa, Pa? Jantungnya kambuh? Atau ada apa?"Rentetan pertanyaan Revan meluncur begitu cepat, mencerminkan betapa besarnya rasa khawatir pemuda itu pada sang ayah.Harjo dan Ambar saling berpandangan seketika. Mereka benar-benar tidak menyangka akan berpapasan dengan Revan di tempat ini, di saat mereka sendiri baru saja merampungkan langkah rahasia untuk menyelidiki kebenaran biolo
Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menerobos masuk lewat celah tirai kediaman keluarga Santoso. Suasana rumah yang megah itu perlahan mulai ramai dengan aktivitas pagi.Revan yang sudah tampil rapi dengan kemeja dan jas kerjanya menyantap sarapan singkat di meja makan. Sementara itu, Harjo duduk di sebelahnya hanya meminum teh hangat sambil sesekali memegang pelipisnya, memajang wajah lesu yang dipaksakan."Papa beneran nggak ke kantor hari ini?" tanya Revan khawatir. "Biar Revan yang handle rapat pagi ini kalau Papa masih agak pusing.""Iya, Nak," jawab Harjo dengan suara yang dibuat agak lemas. "Papa agak kurang enak badan pagi ini. Mungkin kecapekan. Kamu berangkat duluan saja, dan pegang kendali di kantor hari ini.""Baik, Pa. Papa istirahat saja di rumah. Ma, Revan berangkat dulu ya," pamit Revan seraya mencium tangan Ambar yang berdiri di dekat meja makan."Hati-hati di jalan ya, Revan," balas Ambar lembut, mengelus lengan anak yang dibesarkannya selama 26 tahun itu den
"Ini rambut Reynald. Papa berhasil mengambilnya secara diam-diam saat berpura-pura menepuk bahunya," ujar Harjo dengan otak bisnis dan analisisnya yang bekerja secepat kilat. "Besok pagi-pagi sekali, sampel ini akan Papa bawa langsung ke laboratorium di rumah sakit untuk tes DNA darurat."Ambar menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya nyaris pecah membayangkan implikasi dari tindakan suaminya. "Pa... Papa beneran curiga kalau dia... kalau dia..."Harjo memegang kedua bahu istrinya, menatap dalam-dalam dengan sorot mata yang penuh penderitaan masa lalu dan rasa penasaran yang mendalam."Ambar, coba ingat-ingat kembali peristiwa dua puluh enam tahun yang lalu di rumah sakit," ujar Harjo dengan suara berat yang emosional. "Waktu kamu melahirkan anak kembar kita, dokter dan pihak rumah sakit memberi tahu kita bahwa bayi pertama kita meninggal dunia karena komplikasi persalinan, kan? Dan kita bahkan tidak pernah benar-benar diperbolehkan melihat jasadnya secara jelas karena alasan p
Harjo kembali melangkah keluar dari area toilet dengan langkah lebih ringan. Setibanya kembali di meja, ia mendapati istri dan anak lelakinya masih menikmati hidangan penutup.Kali ini, Harjo tidak lagi menatap ke arah meja Reno dengan gelisah seperti sebelumnya. Ia sengaja bersikap tenang, meredam rasa penasarannya, dan fokus sepenuhnya pada keluarganya, terutama agar Revan tidak curiga."Dari mana saja, Pa? Lama banget," tegur Revan ringan sambil tersenyum kecil menatap ayahnya yang baru duduk kembali."Ah, tadi agak ramai di toilet, Nak, terus sempat ngobrol sebentar sama kenalan lama," jawab Harjo beralasan, memasang senyum paling natural sambil kembali menyantap sisa hidangan penutup dengan santai.Sementara itu, di meja seberang, Reno baru saja tiba kembali dan menarik kursinya dan kembali duduk di samping Viona. Melihat suaminya yang cukup lama meninggalkan meja, Viona langsung melancarkan protes kecil dengan nada manja."Lama banget sih, Sayang? Kamu ini ke toilet apa nyasar k
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar







