Mag-log in"Gimana, Kak? Hasilnya?" tanya Vera tanpa basa-basi.Viona yang duduk di sebelah suaminya mengangkat sebelah alisnya, tampak bingung dengan arah pertanyaan adiknya. "Hasil apa maksudmu, Ver?""Ya hasil PO keponakan aku lah," jawab Vera blak-blakan tanpa filter.Viona langsung mengerjap kaget, pipinya merona merah seketika mendengar ucapan blak-blakan adiknya itu. Tanpa beban, ia lantas menjawab, "Belum berhasil, tahu ih. Masih butuh usaha lagi, lagian kita santai aja. Malah kesempatan masih punya banyak waktu."Mendengar jawaban Viona, Rima yang sudah tahu dari tadi sore, ikut nyeletuk dengan nada menyindir. "Wah, kalau gitu berarti Reno-nya yang nggak tokcer dong?"Mendengar suaminya disentil seperti itu, Viona tidak tinggal diam. Ia langsung pasang badan membela sang suami tanpa rasa canggung di depan keluarga besar. "Eh, bukan nggak tokcer, Ma. Kita tuh masih menikmati masa-masa jadi pengantin baru. Lagi pula, dapet kegiatan olahraga ranjang baru yang seru, masalah hamil mah urusan
Axel menarik napas dalam-dalam, menatap layar ponselnya di ruangan remang-remang itu. Dengan jari-jari yang sedikit ragu, ia mulai mengetik sebuah pesan pendek kepada wanita paruh baya tersebut.[Halo, Tante Amel. Selamat malam. Apa kabar?]Begitu tombol kirim ditekan, Axel memejamkan mata sejenak, bersiap menunggu balasan yang mungkin akan lama atau bahkan diabaikan seperti orang-orang sebelumnya.Namun dugaannya meleset jauh. Hanya berselang beberapa detik saja, status di bawah nama kontak berubah menjadi online, dan tanda dua centang langsung berubah warna. Tidak butuh waktu satu menit bagi ponsel di genggaman Axel untuk bergetar saat balasan masuk dengan sangat antusias.[Malam juga, ganteng. Wah, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba banget Axel nge-chat Tante. Kangen ya sama Tante? Ada apa nih tumben banget menyapa dan tanya kabar?]Melihat balasan yang begitu cepat dan penuh semangat itu, Axel menelan ludah kasarnya. Ia tahu betul apa arti antusiasme di balik pesan terseb
Di bawah langit senja kota yang mulai menggelap, langkah kaki Axel terasa begitu berat dan gontai. Sisa-sisa amarah dan rasa malunya di gedung Darmawan telah menguap, menyisakan kehampaan di hatinya. Tanpa arah tujuan yang pasti, ia akhirnya memutuskan untuk mencari tempat tinggal sementara yang paling realistis dengan kondisi keuangannya saat ini, untung saja dia bisa cepat mendapatkan sebuah kamar kos-kosan yang jauh dari kemewahan biasa ia nikmati, bukan apartemen ataupun kos mewah.Berbekal sebuah kartu ATM pemberian diam-diam dari Mila, yang masih merasa iba di saat pengusiran, isinya lumayan untuk bisa bertahan hidup.Axel merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur busa tipis yang bahkan seumur hidupnya belum pernah tidur di kasur busa seperti itu.Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter yang pengap dan hanya diterangi lampu neon, penyesalan besar akhirnya menghantam dada Axel tanpa ampun. Ia memegang erat kartu ATM itu sambil menggertakkan giginya, merutuki k
Mendengar pertanyaan blak-blakan dari suaminya, Viona langsung tersenyum kecil. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil di hadapan mereka, lalu menatap Reno dengan sorot mata merasa bersalah."Sudah kok. Tadi siang aku sudah mencobanya," jawab Viona lembut, suaranya terdengar tenang tanpa ada beban.Reno yang tadinya bersandar santai langsung menegakkan posisinya, begitu penasaran. "Oh ya? Terus, hasilnya gimana?"Viona menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. "Hasilnya negatif, Ren. Maaf ya, sepertinya kita masih harus bersabar, atau mungkin memang belum waktunya."Melihat raut wajah Viona yang sedikit berubah, seolah takut mengecewakannya, Reno langsung mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari istrinya itu dengan hangat dan menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum menenangkan."Hei, kenapa minta maaf, hm?" ucap Reno dengan lembut.Reno mengusap punggung tangan Viona pelan. Baginya, hasil negatif itu sama sekali bukan masalah besar. Jujur saja, ia memang sempat berha
Mendengar ratapan dan permohonan memelas dari Axel, Darmawan sama sekali tidak menunjukkan rasa iba. Pria paruh baya itu malah mendengus pelan, menatap Axel dengan tatapan jijik dan penuh penghinaan.Darmawan menurunkan tangannya yang bersidekap, lalu melangkah maju mendekati Axel hingga jarak di antara mereka begitu dekat."Jangan terlalu percaya diri, Axel, dan jangan pernah berharap sedikit pun saya akan memberikan bantuan kepadamu," ucap Darmawan dengan nada suara yang tenang dan dingin tapi telak. "Setelah apa yang kamu lemparkan begitu saja ke muka saya dan keluarga saya di hari pernikahan Viona kemarin,kamu masih punya urat malu untuk datang berdiri di hadapan saya dan meminta belas kasihan?"Axel tertegun, napasnya seketika tercekat. Bayangan hari pernikahan yang hancur berantakan akibat ulahnya sendiri mendadak berkelebat di kepalanya."Kamu pikir saya ini malaikat yang bisa melupakan penghinaan sebesar itu begitu saja?" lanjut Darmawan, matanya menatap tajam tanpa ampun. "K
Reno menghentikan kakinya yang hampir naik ke dalam kabin mobil. Alih-alih terpancing emosi atau tersinggung oleh kata-kata Axel yang kasar, Reno malah berbalik perlahan dengan ekspresi wajah yang begitu tenang, terkesan dingin tanpa celah."Mau menolong kamu atau tidak?" ulang Reno dengan senyum tipis sarkasme, sambil menatap lurus mata Axel yang memerah karena amarah. "Jawabannya singkat, Axel. Tidak untuk sekarang ini."Reno kembali melangkah mendekat satu langkah, menjaga jarak di antara mereka berdua."Hubungan kita tidak pernah sebaik itu, bahkan sikap kamu masih buruk padaku dan tidak mau mengakuiku setelah kita dinyatakan saudara kandung. Nah sekarang itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuatku tidak mau menolongmu," lanjut Reno dengan tenang tapi begitu telak. " Dan juga aku masih ingat dengan sangat jelas bagaimana perlakuan dan pengkhianatanmu pada Viona. Aku ingat persis bagaimana hancurnya mentalnya di hari pernikahan dan di malam pertama pernikahan kami karena ulah
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







