Share

Bab 134

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-08-25 23:53:18

Axel kepalanya sudah mau pecah rasanya karena stres dan lelah, ditambah omelan dari Lani. Tanpa menjawab sepatah kata pun lagi, ia langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan memblokir sementara nomor Lani agar wanita itu tidak terus menerus mengusiknya.

Tangan Axel megepal menahan emosi. Tapi belum sempat dia melangkah, ponsel di genggamannya kembali bergetar. Di layarnya kini tertera nama Mama.

Jantung Axel seketika berdegup kencang, karena cemas. Ia sengaja membiarkan panggilan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 223

    "Sebentar, saya telepon Om Dandi dulu," ujar Viona, mengambil ponsel mewahnya yang tergeletak di atas meja, lalu mencari nomor kontak mantan calon mertuanya itu.Setelah menekan tombol panggil, ia mengaktifkan mode pengeras suara agar Harjo, Ambar, Reno, dan Revan bisa ikut mendengarkan.Hanya butuh beberapa kali nada dering sebelum panggilan itu diangkat."Halo, Viona?" suara Dandi Wijaya terdengar di seberang telepon.Dandi kaget, tidak ada hujan, tidak ada angin, mantan calon menantunya itu tiba-tiba menghubunginya. "Ada apa, Viona? Tumben sekali kamu telpon Om?""Selamat siang, Om Dandi," sapa Viona dengan sopan dan tenang "Maaf kalau Viona mengganggu waktunya. Begini, Om... Viona mau menyampaikan kalau ada hal yang sangat penting dan krusial yang harus kita bicarakan bersama."Di seberang sana, Dandi mengerutkan kening. Nada bicara Viona yang begitu serius, membuatnya sangat penasaran."Hal penting apa, Viona? Soal proyek bisnis, atau soal Axel lagi?" desak Dandi tidak sabar."Bu

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 222

    Harjo menatap kedua pemuda itu dengan tatapan lega, lalu mengalihkan pandangan ke Pak Heru."Pak Heru, terima kasih sudah mendampingi Nak Reynald dan Viona ke sini," ucap Harjo penuh rasa hormat. "Sekarang, karena situasi mengenai keberadaan Nak Reynald dan Revan sudah sangat jelas di antara kita, ada satu hal lagi yang mengganjal dan harus segera kita selesaikan."Pak Heru mengangguk paham. "Maksud Pak Harjo, soal Axel dan Pak Dandi Wijaya?""Benar, Pak Heru," jawab Harjo, lalu menatap Reno. "Reynald, bagaimana menurutmu? Soal Axel yang merupakan kembaran biologismu, dan soal Pak Dandi Wijaya yang kemungkinan besar adalah ayah biologis Revan?"Reno meletakkan cangkir tehnya ke atas meja secara perlahan, lalu menatap Harjo dan Revan bergantian dengan raut wajah serius tapi tetap tenang."Kalau dari sudut pandang saya, Pa... masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Axel itu saudara kembar saya. Meskipun sifat dan jalan hidup yang kami pilih jauh berbeda, dia tetap punya hak unt

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 221

    Sore hari pun tiba. Sebuah mobil berhenti mulus di halaman luas kediaman Harjo dan Ambar. Dari dalam mobil, turunlah Reno bersama Viona dan Pak Heru yang ikut atas undangan Harjo. Revan, yang sebelumnya telah diajak bicara dan menyetujui pertemuan ini, keluar untuk menyambut mereka bersama Harjo dan Ambar. Jantung Revan berdegup kencang, tangannya terasa dingin saat melangkah.Ketika melihat sosok Reynald, pandangan Revan langsung terkunci pada sosok pemuda itu dan terdiam di tempatnya. Kata-kata yang diucapkan Harjo semalam seketika terbukti nyata di depan matanya sendiri. Wajah Reynald, garis rahangnya, bentuk matanya, hingga gestur berdirinya benar-benar sangat mirip dengan sosok Harjo di masa muda, persis seperti foto-foto lama Harjo yang sering Revan lihat di album keluarga.‘Benar kata Papa... Dia benar-benar mirip sekali dengan foto Papa waktu masih muda,’ batin Revan tercekat. Kenyataan itu menegaskan betapa kuatnya ikatan darah antara Harjo dan Reno.Pantas saja Papa dan M

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 220

    Malam itu, di kamar hotelnya, Reno duduk di tepi ranjang. Suasana luar jendela kota tampak tenang, sementara jemarinya menyentuh layar ponsel untuk menelpon nomor yang sangat familier. Telepon di seberang diangkat pada dering ketiga."Halo, Assalamu'alaikum, Reno?" suara lembut Bu Rahma terdengar hangat menyapa dari Indonesia."Wa'alaikumsalam, Ibu. Lagi ngapain, Bu? Ravita ada di rumah?" tanya Reno memulai percakapan dengan santai."Ini baru selesai makan malam sama Ravita. Kamu gimana di Australia, Nak? Lancar urusan bisnisnya? Viona sehat?" sahut Bu Rahma penuh perhatian.Setelah bertukar kabar singkat dan mendengarkan celoteh Ravita yang sempat ikut menyap, Reno menarik napas panjang. Suaranya berubah menjadi lebih serius namun tetap lembut."Ibu... sebenarnya ada hal penting yang mau Reno ceritakan," tutur Reno pelan dari seberang lautan. "Hari ini, sewaktu di Australia, Reno baru saja bertemu dengan orang tua kandung Reno."Bu Rahma tentu saja kaget mendengarkan. Reno kemudia

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 219

    Harjo menggeleng cepat, lalu memegang kedua pundak Revan dengan tatapan mata yang sangat hangat."Pergi dari rumah ini? Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu, Revan," tegas Harjo dengan sayang. "Rumah ini adalah rumahmu juga. Mau sampai kapan pun, kamu tetap anak Papa dan Mama. Kasih sayang dan pintu rumah ini tidak akan pernah tertutup untukmu."Ambar mengangguk cepat, menyapu air mata di pipi Revan dengan ibu jarinya. "Betul kata Papa, Nak. Jangan pernah merasa dibuang apalagi sampai merasa terusir dan harus pergi dari rumah ini."Harjo menghela napas panjang. "Tapi Revan... Coba pikirkan pelan-pelan. Apa kamu sama sekali tidak ingin bertemu dengan orang tua kandungmu? Tidak ada yang memintamu untuk memilih atau melupakan kami. Tapi bagaimanapun juga, di luar sana ada orang tua biologis yang mungkin selama ini juga tidak tahu kalau anak kandung mereka tertukar. Pastinya mereka juga berhak tahu kebenarannya dan ingin bertemu denganmu, Nak. Dan menurut cerita dari Reynald, Axel

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 218

    Revan hanya diam terpaku, menatap amplop cokelat di atas meja tanpa berniat menyentuhnya. Tatapannya kosong, otaknya menolak untuk mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut orang yang selama ini dipanggilnya papa. Hatinya menolak percaya. Baginya semua seperti mimpi, seperti lelucon buruk yang sama sekali tidak lucu."Papa pasti bercanda, kan?" tanya Revan, mencoba tertawa dengan suara yang bergetar. "Ma, ini bercandaan jenis apa sih? Revan ini anak Papa dan Mama. Revan tumbuh besar di rumah ini selama 26 tahun."Harjo menatap Revan dengan rasa iba dan penyesalan. Lalu menghela napas berat, coba menjelaskan kenyataan itu agar bisa masuk di logika Revan."Revan... Coba kamu perhatikan baik-baik," ujar Harjo pelan. "Pernahkah kamu menyadari, atau setidaknya merasa, kalau kamu sama sekali tidak memiliki kemiripan fisik dengan Papa maupun Mama? Garis wajahmu, postur tubuhmu, tak ada satu pun yang menurun dari kami."Kata-kata Harjo menohok Revan. Bukannya langsung percaya, dada

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 2

    Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status