LOGINDi bawah langit senja kota yang mulai menggelap, langkah kaki Axel terasa begitu berat dan gontai. Sisa-sisa amarah dan rasa malunya di gedung Darmawan telah menguap, menyisakan kehampaan di hatinya. Tanpa arah tujuan yang pasti, ia akhirnya memutuskan untuk mencari tempat tinggal sementara yang paling realistis dengan kondisi keuangannya saat ini, untung saja dia bisa cepat mendapatkan sebuah kamar kos-kosan yang jauh dari kemewahan biasa ia nikmati, bukan apartemen ataupun kos mewah.Berbekal sebuah kartu ATM pemberian diam-diam dari Mila, yang masih merasa iba di saat pengusiran, isinya lumayan untuk bisa bertahan hidup.Axel merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur busa tipis yang bahkan seumur hidupnya belum pernah tidur di kasur busa seperti itu.Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter yang pengap dan hanya diterangi lampu neon, penyesalan besar akhirnya menghantam dada Axel tanpa ampun. Ia memegang erat kartu ATM itu sambil menggertakkan giginya, merutuki k
Mendengar pertanyaan blak-blakan dari suaminya, Viona langsung tersenyum kecil. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil di hadapan mereka, lalu menatap Reno dengan sorot mata merasa bersalah."Sudah kok. Tadi siang aku sudah mencobanya," jawab Viona lembut, suaranya terdengar tenang tanpa ada beban.Reno yang tadinya bersandar santai langsung menegakkan posisinya, begitu penasaran. "Oh ya? Terus, hasilnya gimana?"Viona menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. "Hasilnya negatif, Ren. Maaf ya, sepertinya kita masih harus bersabar, atau mungkin memang belum waktunya."Melihat raut wajah Viona yang sedikit berubah, seolah takut mengecewakannya, Reno langsung mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari istrinya itu dengan hangat dan menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum menenangkan."Hei, kenapa minta maaf, hm?" ucap Reno dengan lembut.Reno mengusap punggung tangan Viona pelan. Baginya, hasil negatif itu sama sekali bukan masalah besar. Jujur saja, ia memang sempat berha
Mendengar ratapan dan permohonan memelas dari Axel, Darmawan sama sekali tidak menunjukkan rasa iba. Pria paruh baya itu malah mendengus pelan, menatap Axel dengan tatapan jijik dan penuh penghinaan.Darmawan menurunkan tangannya yang bersidekap, lalu melangkah maju mendekati Axel hingga jarak di antara mereka begitu dekat."Jangan terlalu percaya diri, Axel, dan jangan pernah berharap sedikit pun saya akan memberikan bantuan kepadamu," ucap Darmawan dengan nada suara yang tenang dan dingin tapi telak. "Setelah apa yang kamu lemparkan begitu saja ke muka saya dan keluarga saya di hari pernikahan Viona kemarin,kamu masih punya urat malu untuk datang berdiri di hadapan saya dan meminta belas kasihan?"Axel tertegun, napasnya seketika tercekat. Bayangan hari pernikahan yang hancur berantakan akibat ulahnya sendiri mendadak berkelebat di kepalanya."Kamu pikir saya ini malaikat yang bisa melupakan penghinaan sebesar itu begitu saja?" lanjut Darmawan, matanya menatap tajam tanpa ampun. "K
Reno menghentikan kakinya yang hampir naik ke dalam kabin mobil. Alih-alih terpancing emosi atau tersinggung oleh kata-kata Axel yang kasar, Reno malah berbalik perlahan dengan ekspresi wajah yang begitu tenang, terkesan dingin tanpa celah."Mau menolong kamu atau tidak?" ulang Reno dengan senyum tipis sarkasme, sambil menatap lurus mata Axel yang memerah karena amarah. "Jawabannya singkat, Axel. Tidak untuk sekarang ini."Reno kembali melangkah mendekat satu langkah, menjaga jarak di antara mereka berdua."Hubungan kita tidak pernah sebaik itu, bahkan sikap kamu masih buruk padaku dan tidak mau mengakuiku setelah kita dinyatakan saudara kandung. Nah sekarang itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuatku tidak mau menolongmu," lanjut Reno dengan tenang tapi begitu telak. " Dan juga aku masih ingat dengan sangat jelas bagaimana perlakuan dan pengkhianatanmu pada Viona. Aku ingat persis bagaimana hancurnya mentalnya di hari pernikahan dan di malam pertama pernikahan kami karena ulah
Tanpa pikir panjang, Axel langsung meminta sang sopir taksi mengubah arah tujuannya. Bukan ke apartemen atau rumah kerabat yang sudah kompak menolaknya, melainkan menuju gedung perkantoran milik keluarga Darmawan. Di tengah keputusasaan dan rasa malunya yang sudah menggunung, Reynald menjadi satu-satunya benteng terakhir yang ia harapkan bisa memberinya sedikit pertolongan. Toh katanya mereka saudara kembar, sepertinya Reynald orangnya baik dan mungkin akan menolongnya.Setibanya di depan gedung megah tersebut, taksi yang ditumpangi Axel berhenti di area drop-off lobby. Waktu kedatangannya bertepatan persis saat Reno baru saja melangkah keluar dari pintu utama lobi gedung, sudah ditunggu seorang sopir yang membukakan pintu mobil mewah di depan lobby.Melihat sosok suami Viona itu, langkah Axel sempat terhenti. Namun, saat ia melihat bahwa Reno berjalan sendirian tanpa bersama Darmawan ataupun keluarga yang lainnya.Dengan napas memburu dan sisa-sisa harga diri yang ia injak-injak sen
Sementara itu, di lantai atas rumahnya, Lani yang berdiri di balik tirai kamar lantai dua sempat melihat kedatangan Axel dan menyaksikan saat-saat pria itu diusir secara kasar oleh sang ayah dari halaman rumah. Hatinya sempat mencelus nyeri, menyadari bahwa pria yang pernah ia cintai dan menjadi ayah dari anak di kandungannya itu ternyata benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa untuk melindunginya.Namun, alih-alih merasa sedih atau ingin mengejar Axel, Lani justru merasakan kehampaan. Kejadian barusan semakin membuka matanya lebar-lebar bahwa keputusan ayahnya untuk menjauhkannya dari Axel adalah jalan yang paling benar.Lani menarik napas panjang, menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dengan punggung tangannya, lalu membalikkan badan menghadap koper besar yang terbuka di atas tempat tidurnya. Tidak ada lagi keraguan di hatinya. Ia sudah sepenuhnya pasrah dan memilih untuk menuruti segala arahan serta keputusan orang tuanya demi masa depan anak yang dikandungnya dan pemulihan nama
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la







