Share

Bab 4

Penulis: Asai
“Pergilah.” Sekar memejamkan mata. Suaranya terdengar lelah. “Aku mau istirahat.”

Noah memandangi mata Sekar yang terpejam rapat dan wajahnya yang pucat. Sosok Sekar yang dahulu ceria, penuh semangat, dan begitu menonjol tak lagi bisa ditemukannya.

Entah kenapa, perasaannya terasa begitu tidak nyaman, seolah ada duri yang tertancap di hatinya.

“Istirahatlah yang cukup.” Noah bangkit berdiri. “Mulai sekarang ... aku akan lebih sering menemanimu. Aku juga akan lebih peduli denganmu.”

Dia baru saja berbalik hendak pergi ketika seorang pelayan perempuan berlari masuk dengan panik. Pelayan itu adalah Damini, pelayan pribadi Renata.

“Pangeran! Gawat! Nona Renata ... dia tiba-tiba muntah darah lalu pingsan. Tabib istana bilang dia terkena racun aneh. Untuk menetralisir racunnya, dia butuh darah seseorang dengan energi spiritual yang sangat dingin sebagai bahan obat.”

Wajah Noah berubah drastis. “Seseorang dengan energi spiritual yang sangat dingin?”

Tatapan Damini tanpa sadar beralih ke arah Sekar yang terbaring di ranjang.

Noah segera menatap Sekar dengan sorot mata yang rumit. “Sekar, kalau aku nggak salah ingat ... tanggal dan waktu kelahiranmu memiliki energi spiritual yang sangat dingin?”

Sekar membuka mata dan menatap wajah Noah yang dipenuhi kecemasan dan harapan. Tiba-tiba, dia tersenyum.

Jadi, inilah yang tadi dia maksud dengan "lebih peduli denganya"?

Memedulikannya sampai-sampai Noah membutuhkan darah Sekar untuk menyelamatkan perempuan yang paling disayanginya.

Sekar tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya perlahan mengulurkan pergelangan tangannya yang kurus dan pucat, dipenuhi bekas luka lama serta keropeng baru.

“Sayat saja.”

Noah tidak menyangka Sekar akan menyetujuinya semudah itu. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba terasa sesak oleh perasaan yang tak bisa dijelaskan. Namun, saat itu pikirannya hanya dipenuhi kekhawatiran akan keselamatan Renata, sehingga dia tidak sempat memikirkannya lebih jauh.

“Pelayan! Bawakan mangkuk dan pisau!”

Bilah pisau yang tajam menyayat kulit pergelangan tangan Sekar. Darah hangat mengalir deras dan menetes ke dalam sebuah mangkuk giok putih.

Satu mangkuk, dua mangkuk ....

Wajah Sekar semakin lama semakin pucat. Bibirnya kehilangan warna, tubuhnya sedikit gemetar akibat kehilangan darah dan rasa sakit, sementara butiran keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Namun, dia tetap mengatupkan gigi dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Noah memandangi darah merah yang begitu mencolok itu, lalu melihat Sekar yang semakin melemah. Jelas-jelas dia tidak menyukai perempuan itu. Lalu kenapa, tanpa alasan yang jelas, hatinya justru terasa seperti ditusuk?

Saat tabib istana akhirnya berkata, “cukup,” pergelangan tangan Sekar sudah berlumuran darah.

Noah mengambil obat luka dan kain kasa, lalu membalut luka Sekar sendiri. “Kali ini ... makasih, ya. Mulai sekarang, aku pasti akan menebusnya kepadamu.”

“Nggak perlu.” Sekar menarik tangannya kembali dan menekan lukanya sendiri. Suaranya lemah, tetapi tetap jelas. “Kamu cuma perlu memberiku satu hal.”

“Apa? Selama aku memilikinya, apa pun akan kuberikan kepadamu,” jawab Noah tanpa ragu.

Tatapan Sekar jatuh pada sebuah kantong wewangian lama yang tergantung di pinggangnya.

Itu adalah kantong wewangian yang dulu disulam Sekar saat terus mengejar Noah. Dia begadang selama tiga malam dan menusuk jarinya berkali-kali sebelum akhirnya berhasil menyelesaikannya. Dia berniat menyulam sepasang burung merpati, tetapi karena keterampilan menyulamnya terlalu buruk, hasilnya malah terlihat seperti dua ekor bebek.

Saat memberikannya kepada Noah, Sekar berkata dengan wajah memerah, “Noah, kamu harus selalu memakainya sampai hari di mana aku sudah nggak mencintaimu lagi.”

Saat itu, Noah mencibir dan sembarangan melemparkannya ke samping. Namun, entah kenapa, dia kemudian mengambilnya kembali dan terus memakainya hingga sekarang.

Sekarang, Sekar justru ingin mengambilnya kembali?

Apa ... dia sedang merajuk? Karena masalah pengambilan darah tadi? Atau karena hal lain?

Entah kenapa, hati Noah tiba-tiba terasa menegang. Tangannya pun secara refleks menggenggam kantong wewangian itu.

“Untuk apa kamu menginginkan ini?”

Sekar hanya menatapnya dan mengulangi, “Berikan kepadaku.”

“Pangeran! Kondisi Nona Renata kritis. Darah ini harus segera dibawa!” Damini mendesak dengan cemas.

Noah memandang Sekar. Tatapannya tenang, tetapi sorot matanya tetap teguh. Lalu, pandangannya beralih ke mangkuk berisi darah di tangan Damini. Dia mengatupkan rahang, sebelum akhirnya melepaskan kantong wewangian itu dari pinggangnya dan meletakkannya di telapak tangan Sekar yang berlumuran darah.

Setelah itu, Noah mengambil mangkuk berisi darah tersebut dan buru-buru meninggalkan Paviliun Samping.

Sekar menggenggam erat kantong wewangian lama yang kasar dan jelek itu. Ujung jarinya memutih karena terlalu kuat menggenggamnya.

Benda yang dulu dianggapnya sebagai harta berharga itu kini hanya terasa dingin di genggamannya.

Selama beberapa hari berikutnya, Noah memerintahkan orang-orang mengirimkan berbagai obat dan bahan berharga untuk memulihkan tenaganya, hingga memenuhi gudang kecil di Paviliun Samping.

Namun, Noah sendiri tidak pernah datang lagi. Dia terus berada di Paviliun Angsana untuk merawat Renata yang keracunan.

Sekar memandangi semua barang berharga itu tanpa sedikit pun perubahan di wajahnya.

Sebagus apa pun obat-obatan itu, semuanya tetap tak mampu mengembalikan darah yang telah hilang ataupun hati Sekar yang telah mati.

Hari itu, Noah akhirnya muncul di Paviliun Samping.

“Sekar, kamu sudah beberapa hari terus berada di kediaman. Aku akan ajak kamu keluar.” Nada suara Noah terdengar lembut. “Hari ini ada pesta menyambut pergantian musim di luar kota. Banyak keluarga bangsawan yang akan hadir. Kamu ikut juga, sekalian jalan-jalan cari udara segar.”

Sekar tidak menolak.

Begitu naik ke kereta, dia baru menyadari bahwa hanya ada mereka berdua. Renata tidak ikut.

“Renata nggak ikut?” tanya Sekar santai.

Noah tertegun sejenak, seolah tidak menyangka Sekar akan menanyakan hal itu. “Renata? Kenapa dia harus ikut?”

Sekar menarik sudut bibirnya yang pucat, membentuk senyum tipis yang nyaris mengejek. “Bukankah dulu kamu selalu bawa dia ke mana pun kamu pergi?”

Pada awal pernikahan mereka, Noah hanya bersikap dingin kepadanya.

Namun, suatu hari Renata muncul di hadapannya dengan tubuh berlumuran darah. Sambil menangis, dia mengadu bahwa Sekar telah mendorongnya dari tangga karena cemburu. Sejak saat itu, Noah mulai mempermalukan Sekar dengan cara seperti ini.

Entah jamuan istana, jamuan keluarga, atau sekadar bepergian. Noah selalu membawa Renata bersamanya, membuat Sekar, sebagai istri sah Pangeran, menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota.

Wajah Noah sedikit menegang. Sepertinya dia juga teringat pada semua yang terjadi di masa lalu. Nada suaranya terdengar agak canggung. “Dulu ya dulu. Aku sudah bilang, mulai sekarang semuanya nggak akan seperti itu lagi. Aku akan berusaha ....”

“Berusaha mencintaiku?” Sekar memotong ucapannya dengan tenang. “Kalau begitu, kamu benar-benar ... banyak berkorban.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status