Share

Bab 5

Author: Asai
Noah terdiam mendengar perkataannya. Dia bisa merasakan dingin dan ejekan yang tersembunyi di balik nada Sekar yang tenang.

Dia ingin menjelaskan, ingin mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana. Namun, Sekar sudah memalingkan wajah dan menatap pemandangan yang berlalu di luar jendela kereta, seolah tak ingin lagi berbicara dengannya.

Noah memandangi wajah Sekar dari samping. Rasa sesak dan tak berdaya kembali memenuhi dadanya.

Pesta menyambut pergantian musim itu diadakan di sebuah kediaman kerajaan yang indah di luar kota. Tempat itu dikelilingi pegunungan dan perairan, suasananya pun ramai.

Kemunculan Sekar langsung menarik perhatian.

Banyak orang mengenali Istri Pangeran Penjaga Utara yang dulu pernah terkenal di ibu kota. Berbagai tatapan mengarah kepadanya, disertai bisik-bisik.

Noah menyapu mereka dengan tatapan dingin dan suara-suara itu pun perlahan mereda.

Dalam pesta itu, ada pertandingan polo kuda. Noah tahu Sekar dulu sangat menyukai olahraga tersebut dan memiliki kemampuan berkuda yang sangat baik. Karena itu, dia ingin mengajak Sekar ikut bertanding.

“Sekar, mau ikut main? Anggap saja sekalian buat menggerakkan badan.”

Sekar menggelengkan kepala. “Nggak.”

Noah membujuknya beberapa kali, tetapi Sekar tetap tidak bergeming. Dia berkata, “Aku ingat dulu kamu paling suka main polo. Kamu bahkan pernah bilang saat berada di atas punggung kuda, kamu merasa paling bebas. Kenapa? Apa lima tahun di penjara sudah menghilangkan keberanianmu juga?”

Ada sedikit nada provokatif dalam ucapannya.

Sekar mendongak dan melirik Noah.

Kemudian, dia berdiri dan berjalan menuju kandang kuda.

Dia memilih seekor kuda betina yang tidak terlalu besar, tetapi tampak jinak. Sekar menaiki kuda itu dengan gerakan yang agak kaku, lalu mengambil tongkat polo.

Awalnya, gerakannya memang masih kaku dan lambat, seolah dia sudah lupa bagaimana cara mengayunkan tongkat.

Namun, begitu kudanya mulai berlari, tongkat itu menyentuh bola dan angin berembus kencang di telinganya ....

Sesuatu yang seolah telah terukir dalam dirinya perlahan terbangun kembali.

Tatapan Sekar berubah. Punggungnya kembali tegak. Tangannya mengendalikan kuda, mengejar bola, lalu mengayunkan tongkat.

Gerakannya yang semula kaku perlahan menjadi semakin lancar. Pada akhirnya, dia bahkan mulai menemukan kembali kegagahan dirinya seperti dulu. Meski belum setajam saat berada di puncaknya, penampilannya tetap membuat banyak orang di pinggir lapangan bersorak kagum.

Noah duduk di tribun sambil memandangi sosok Sekar di atas punggung kuda. Dia melihat rona merah tipis yang muncul di wajah Sekar setelah bergerak aktif, juga cahaya yang perlahan kembali menyala di matanya. Rasa sesak dan tidak nyaman yang telah lama mengganjal di hati Noah akhirnya sedikit mereda.

Inilah Sekar yang seharusnya.

Begitu hidup dan penuh semangat, seperti kobaran api yang tak pernah padam.

Pertandingan pun berakhir. Tim Sekar menang tipis. Dia turun dari kudanya sambil sedikit terengah-engah, dahinya dipenuhi butiran keringat.

Orang-orang di sekitarnya tersenyum dan mengucapkan selamat kepadanya.

Senyum tipis yang sudah lama tak terlihat pun kembali menghiasi wajah Sekar.

Namun, begitu mengangkat kepala dan melihat Noah yang sedang memandanginya dari tribun, senyum itu langsung menghilang. Wajahnya kembali tenang dan berjarak seperti sebelumnya.

Hati Noah terasa berat.

Dulu, senyum seperti itu hanya pernah Sekar tunjukkan kepadanya.

Sekarang, semua orang bisa melihatnya, kecuali ... dirinya.

Sepanjang perjalanan pulang, Sekar terus memejamkan mata untuk beristirahat.

Beberapa kali Noah ingin membuka suara, tetapi tidak tahu harus berkata apa.

Saat kereta mereka memasuki sebuah jalan sempit di tengah hutan pegunungan, tiba-tiba terdengar keributan dari luar, disusul suara dentingan senjata.

“Ada pembunuh bayaran! Lindungi Pangeran dan istrinya!”

Kereta mendadak berhenti. Teriakan para pengawal, jeritan kesakitan, dan suara dentingan senjata bercampur menjadi satu di luar.

“Jangan keluar dari kereta!” Noah berkata dengan suara rendah kepada Sekar. Dia langsung mengeluarkan pedangnya, membuka tirai kereta, lalu melompat keluar.

Sekar duduk di dalam kereta sambil mendengarkan suara pertempuran sengit di luar. Wajahnya tetap tenang. Hidup dan mati sudah terlalu sering dihadapinya hingga semua itu tak lagi mampu menggoyahkan dirinya.

Tiba-tiba, tirai kereta ditarik dengan kasar. Seorang bandit bertopeng menerobos masuk, meraih lengannya, lalu menyeretnya keluar.

“Pangeran! Nyonya Sekar diculik!”

Noah menoleh tepat pada saat Sekar diseret naik ke punggung kuda oleh salah seorang bandit, lalu dibawa melesat menuju bagian terdalam hutan pegunungan.

Wajah Noah seketika berubah dipenuhi amarah. Dia segera merebut seekor kuda dan berteriak, “Kejar!”

Para bandit tampaknya sangat mengenal medan di sana. Setelah berbelok ke sana kemari melewati jalan-jalan berliku, mereka berhasil membawa Noah ke tepi tebing.

Sekar dilempar ke tanah dengan kedua tangannya terikat di belakang. Saat mengangkat kepala, dia melihat Renata juga berada di tepi tebing di seberangnya. Perempuan itu terikat, wajahnya pucat pasi, dan seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.

Pemimpin bandit itu memiliki bekas luka di wajahnya. Dia berdiri di tanah lapang di antara kedua tebing sambil memandangi Noah yang mengejar mereka, lalu tertawa menyeramkan.

“Pangeran Penjaga Utara! Lama nggak bertemu! Dulu kamu memimpin pasukan untuk membasmi Markas Angin Hitam milikku, membunuh banyak kawan-kawanku, bahkan memaksaku memilih antara kawan-kawanku dan istriku! Bagus! Hari ini, biar kamu juga merasakan gimana rasanya harus memilih.”

Dia menunjuk Sekar dan Renata.

“Yang di sini adalah istrimu, sedangkan yang di sana adalah wanita yang kamu cintai. Aku mau lihat, kalau keduanya jatuh dari tebing bersamaan, siapa yang akan kamu selamatkan?”

“Kawan-kawanku! Antar kedua wanita cantik ini ke alam baka!”

Begitu dia selesai bicara, para bandit yang berdiri di belakang Sekar dan Renata serentak mendorong keduanya ke arah jurang.

“Tidak!” Mata Noah seketika membelalak. Dia berteriak dengan suara serak.

Dua sosok itu jatuh ke dalam jurang yang tak terlihat dasarnya, seperti layang-layang yang talinya putus.

Dalam sekejap mata, tatapan Noah bergerak cepat di antara kedua sosok yang tengah jatuh itu.

Sekar ... Renata ....

Hampir tanpa ragu.

Dia menghentakkan ujung kakinya, tubuhnya melesat secepat kilat, lalu menerjang ke arah Renata yang sedang jatuh.

Sesaat sebelum Renata jatuh ke dasar jurang, Noah berhasil meraih pergelangan tangannya. Dia menarik Renata ke atas dengan sekuat tenaga, lalu memeluknya erat.

Sementara Sekar, dalam pandangan sekilasnya, jatuh lurus ke dalam jurang yang diselimuti kabut, seperti sehelai daun kering yang gugur.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status