Share

Bab 6

Author: Asai
Entah sudah berapa lama berlalu, Sekar dengan susah payah membuka mata. Dia mendapati dirinya terbaring di sebuah ranjang sederhana di tempat yang asing. Seluruh tubuhnya terasa sakit seolah tulang-belulangnya tercerai-berai.

Dia masih hidup?

Sekar menopang tubuhnya dan berusaha meraih teko air di atas meja kecil di samping ranjang dengan susah payah.

Brak! Tepat saat itu, pintu kamar mendadak ditendang hingga terbuka.

Noah berdiri di ambang pintu dengan wajah membeku, menatap Sekar lekat-lekat. Tatapannya tajam dan dingin, dipenuhi amarah yang seolah tak mampu lagi dibendung.

“Sekar!” Dia melangkah masuk dengan langkah lebar. Suaranya sedikit bergetar karena marah. “Kenapa kamu bersekongkol dengan para bandit itu?!”

Sekar tertegun. Untuk sesaat, dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Kamu masih berpura-pura?!” Noah berjalan ke depan ranjangnya dan menatap Sekar dari atas. Tatapannya dipenuhi kekecewaan dan amarah. “Kalau bukan karena kamu yang kasih tahu mereka rute perjalanan Renata dan ciri-ciri keretanya, gimana mereka bisa menculiknya begitu tepat?! Para bandit itu sudah mengaku! Semua ini sudah kamu rencanakan bersama mereka!”

Dia melangkah lebih dekat, nadanya semakin keras. “Aku sudah bilang, aku akan memperlakukanmu dengan baik, berusaha menebus kesalahanku kepadamu, bahkan mencoba mencintaimu! Kenapa kamu masih nggak mau melepaskan Renata? Kenapa kamu pakai cara seperti ini untuk mengujiku? Kamu tahu nggak, kalau saat itu aku ragu sedikit saja, Renata pasti sudah kehilangan nyawanya! Sebegitu bencinya kamu kepadanya? Sampai kamu mau dia mati?!”

Sekar akhirnya mengerti.

Ternyata, hanya karena beberapa tuduhan palsu dari para bandit, dan karena yang menjadi korban adalah orang yang paling dia pedulikan, Noah bahkan tidak sempat berpikir lebih jauh. Dia langsung memercayai perkataan mereka dan menimpakan semua kesalahan itu kepadanya.

“Pangeran! Tenangkan amarah Pangeran!” Renata muncul di ambang pintu, ditopang oleh Damini. Wajahnya pucat, sudut matanya masih basah oleh air mata. Penampilannya tampak begitu lemah, seolah dia belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan.

Dia segera masuk, lalu menarik lengan baju Noah sambil membujuknya dengan suara lembut, “Pangeran, jangan salahkan Kak Sekar. Dia ... dia sudah menjalani hukuman menggantikanku dan menderita selama lima tahun di penjara kekaisaran. Wajar kalau dia masih menyimpan dendam. Kalau ... kalau dengan membalasku seperti ini hatinya bisa sedikit lebih lega, aku ... aku nggak apa-apa.”

Sambil berkata demikian, air matanya kembali menetes. Dia tampak begitu menyedihkan dan tak berdaya.

Damini juga berlutut sambil menangis. “Pangeran, jangan dengarkan Nona. Nona terlalu baik dan nggak tega menyalahkan Nyonya Sekar. Tapi kalau Nyonya Sekar kali ini tidak dihukum, dia bisa saja mengulanginya lagi. Kalau sampai terjadi lagi, belum tentu Nona akan seberuntung ini.”

Noah memandang Renata yang sedang menangis, lalu beralih kepada Sekar yang terdiam di atas ranjang. Amarah di matanya belum juga mereda. Dia berkata dengan suara berat, “Sekar, apa lagi yang mau kamu katakan?”

Sekar tertawa lirih. Tawanya serak, dipenuhi kesedihan dan ejekan yang tak berujung.

“Kalian ... sudah lebih dulu memutuskan kalau aku bersalah.”

“Lalu, apa lagi yang harus kukatakan?”

Sikap Sekar itu benar-benar membuat Noah murka. Dia berkata dengan dingin, “Sepertinya kamu sudah mengakuinya. Kalau kamu masih nggak mau mengakui kesalahanmu, pergilah ke Tempat Pengasingan Virela di luar kota. Selama tiga hari, kamu akan menghabiskan waktumu di sana untuk menyalin aturan kerajaan dan merenungkan perbuatanmu!”

Damini tampaknya merasa hukuman itu terlalu ringan dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi Renata menghentikannya hanya dengan sebuah tatapan.

Sekar tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia membiarkan dua pelayan perempuan bertubuh kekar maju, menyeretnya bangun dari ranjang, lalu membawanya keluar.

Kereta meninggalkan kediaman pangeran dan melaju menuju luar kota.

Sekar bersandar pada dinding kereta dengan mata terpejam, sama sekali tidak memedulikan keadaan di sekitarnya.

Kereta terus melaju cukup lama, bahkan sudah jauh melewati jalan menuju tempat pengasingan. Jalan yang dilalui pun semakin terpencil.

Akhirnya, Sekar membuka mata dan menyingkap tirai kereta untuk melihat ke luar.

“Ini bukan jalan menuju Tempat Pengasingan Virela,” katanya dengan tenang kepada kusir.

Kusir itu menoleh dan memperlihatkan wajah asing dengan senyum menyeringai. “Pengamatanmu cukup tajam. Memang ini bukan jalan menuju tempat pengasingan.”

“Ini jalan untuk membawamu ke Biro Hukum Istana!”

Begitu dia selesai bicara, sehelai saputangan yang telah dibubuhi obat bius tiba-tiba menutupi hidung dan mulut Sekar.

Dia bahkan belum sempat melawan ketika kesadarannya dengan cepat tenggelam ke dalam kegelapan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status