공유

BAB 95 SUAMI PERHATIAN

last update 게시일: 2026-08-04 22:00:36

"Udah... nggak usah mikir macam-macam!" protes Axel sembari menatapku jutek di ambang pintu. "Cepat tidur! Atau... Lo mau gue naik lagi ke atas ranjang?"

"Eh... enggak!" tolakku spontan sembari menarik selimut tinggi-tinggi hingga sebatas dada. "Oke, oke! Gue tidur sekarang."

Axel tersenyum tipis penuh kemenangan, lalu menutup pintu kamar perlahan.

Aku menggerutu sambil merebahkan tubuh di kasur. Sialan. Axel mah kalau diladeni, mau sepuluh kali semalam pun pasti ba
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 144 FOTO CANDID

    "Ayo, Axel. Jajaran direksi sudah menunggu kita," desak Pakde Arga dari ambang pintu.Axel mengembuskan napas berat, melempar tatapan penuh ancaman padaku sebelum akhirnya mengekor di belakang Pakde Arga keluar dari ruangan.Begitu pintu tertutup rapat, aku menghela napas panjang dan menjatuhkan tubuh lemas di atas sofa empuk ruangan tersebut."Hufh... hampir saja terbongkar!" Aku meremas pelipisku yang mendadak pening luar biasa. "Kalau begini terus, terbongkarnya penyamaranku cuma tinggal menunggu waktu!"Aku melepas masker yang menutupi separuh wajahku, lalu merogoh saku celana untuk mengambil ponsel dan menghubungi Hani."Hai, Sayang! Gimana hari pertama kerja? Tempatnya asyik nggak?" sapa Hani terdengar sangat antusias dari seberang telepon.Aku menyandarkan punggung ke sandaran sofa, mengurut dadaku yang masih berdebar kencang. "Asyik dari mananya... Lo tahu nggak siapa bos gue di sini?""Emang siapa?"Aku

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 143 HAMPIR TERBONGKAR

    Aku tercengang selama beberapa detik, otakku berputar keras mencari alasan yang masuk akal.​"Got! Di... di ruangan ini sepertinya ada bau got, Pak!" sahutku asal.​Axel melangkah mendekatiku dengan gestur kaku. Tatapannya tajamnya menghunus membuatku ketakutan setengah mati.Aku perlahan berjalan mundur untuk menghindarinya hingga tanpa terasa menabrak meja kerjanya dan terpojok.Bersama dengan itu, Axel berhenti tepat di hadapanku. "Aku tahu kamu tadi menyebutku tikus got!"​Tubuhku bergetar hebat di balik seragam. Pijakan kakiku mendadak lunglai seperti tak bertulang. Sialan! Kenapa pendengarannya tajam sekali?! Kupikir gumanan kecilku tak akan terdengar olehnya.​"B-Bapak pasti salah dengar." Aku bergegas membalikkan badan, berpura-pura sibuk celingukan mencari sumber bau. "Saya sungguh mencium bau got di ruangan ini. Tapi Bapak tenang saja, saya pasti akan membersihkannya sampai wangi."​Aku bergeser melangkah menja

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 142 BOS AROGAN

    Astaga... baru juga masuk ruangan, kelakuannya sudah arogan setengah mati!"Maaf, Pak... Apa bukan Bapak yang datang terlalu awal?" sahutku dengan nada penuh sindiran."Apa?!" Axel membelalakkan matanya lebar-lebar."Begini saja. Sebaiknya... Bapak silakan keluar dulu dari ruangan ini, biarkan saya membersihkan semuanya sampai beres. Oke?" potongku sembari memberi gestur mempersilakannya keluar dengan gerakan tangan yang dibuat ramah.Namun ia justru menegakkan tubuh, menatapku kaku dengan rahang mengeras. "Kamu mengusirku?!" desisnya tajam, lalu terdiam sejenak. "Tunggu! Kamu... wanita yang di dalam lift tadi, kan?"Oh, sialan! Dia mulai mengenali postur tubuhku!"B-betul, Pak..." sahutku cepat sembari membungkukkan badan, memaksa diri bersikap sesopan mungkin."Pantas saja kamu terlambat! Datangmu saja bersamaan dengan atasan. Harusnya kamu tiba lebih awal dibanding kami!"Dasar tikus got! Bisanya cuma bertind

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 141 HARI PERTAMA KERJA

    "Maksud Papa siapa?" timpal Axel dari belakang, membuat aku dan Pakde Arga spontan menoleh bersamaan.​"Tentu saja mantan istri kamu, Kayla," sahut Pakde Arga tenang.​Aku seketika tersedak ludahku sendiri. "Uhuk-uhuk!"​Pakde Arga sempat menatapku penuh selidik sebelum akhirnya protes keras dari Axel terdengar.​"Papa jangan sembarangan bicara! Aku dan Kayla itu belum resmi bercerai. Dan... Papa menyamakan Kayla dengan cleaning service ini?!" Axel menjeda kalimatnya dengan intonasi sarkastik yang kental.​Aku menoleh ke belakang, mendapati pria itu tengah menatapku dengan pandangan meremehkan.​"Tentu saja cewek ini nggak ada mirip-miripnya dengan Kayla!"​Sialan! Apa dia sedang merendahkan pekerjaanku sekarang?! Mentang-mentang aku mengenakan seragam cleaning service, dia menganggapku manusia kelas bawah?!​Rasanya aku ingin sekali menginjak sepatu kulitnya yang mengilap itu sekarang juga!​"Kamu ini

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 140 PELAYAN MANTAN SUAMI

    "Betul. Pak Axel baru saja menjabat sebagai direktur. Beliau adalah putra Pak Arga, komisaris utama perusahaan," jelas staf HRD ramah.Aku membeku selama beberapa detik, seolah aliran darahku berhenti mengalir. Ini sungguh tidak masuk akal. Tidak mungkin aku harus bekerja di perusahaan Pakde Arga, sementara aku sedang bersikeras menunjukkan bahwa aku bisa hidup mandiri!Dan... aku bertugas di area ruangan Axel?! Oh Tuhan... ujian apa lagi ini?! Mana mungkin aku menjadi tukang pembersih di ruangan pria yang sedang kuhindari?!Jika Axel tahu aku adalah petugas kebersihan di ruangannya, entah tindakan konyol atau arogan apa lagi yang akan ia lakukan padaku!"Mbak... Mbak Kayla baik-baik saja?" suara staf HRD membuyarkan lamunanku.Aku menjatuhkan berkas dokumen itu ke pangkuan, lalu mengangkat wajah dengan tatapan lemas. "Mbak... ini nggak salah penempatan perusahaan, kan?""Sama sekali tidak, Mbak. PT. Buana Jaya memang sudah lama

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 139 TUGAS KERJA TAK TERDUGA

    "A-aku... ngekos di sini, Kak," sahutku canggung, sedikit salah tingkah karena tak pernah membayangkan akan bertemu senior kampus di tempat kos yang sama. "Kamu ngekos?" tanya Kak Rayan dengan raut tak percaya. "Bukannya... rumah kamu nggak jauh dari kawasan ini?" Aku menggaruk kepala yang tak gatal, berpikir cepat mencari alasan yang masuk akal. "I-iya, sih. Aku... aku cuma ingin belajar mandiri aja. Nah... iya, itu alasannya." Aku tertawa garing berusaha menutupi raut cemas di wajahku. Kak Rayan hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. "Kak Rayan sendiri... ngapain di sini?" tanyaku balik, berharap dugaanku salah. Aku sungguh tak pernah membayangkan akan bertetangga dengan senior kampus yang gencar mengedekatiku belakangan ini. "Aku... udah hampir empat tahun," sahutnya sembari menunjuk pintu kamar di belakangnya. "Ngekos di sini." Oh tidak! Ternyata benar... dia bakal j

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status