Mag-log inKukuh refleks membuka pintu mobil, berniat segera berlari melihat korban. Namun, suara tenang Dokter Harsha menahannya sejenak.
"Kuh..." panggil Dokter Harsha. "Hati-hati. Jangan bingung, ya."
Kukuh menoleh dengan dahi berkerut. "Bingung kenapa, Dok?"
"Ya... lihatlah dulu sendiri ke sana," jawab Dokter Harsha penuh teka-teki,
Jalanan aspal yang mulus perlahan berganti menjadi jalanan berkelok dengan kontur yang sedikit bergelombang. Sedan hijau lumut itu melaju membelah kegelapan. Di kanan dan kiri jalan, pepohonan besar menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling merajut, seolah membentuk terowongan alami yang menutupi langit malam.(Wah, kanan dan kiri sudah memasuki area hutan pekat. Ini harus lebih hati-hati lagi,) benak Kukuh. Ia mencengkeram kemudi dengan waspada. Matanya tajam menyapu setiap sudut jalanan yang hanya diterangi oleh sorot lampu kuning mobilnya. Di sampingnya, Dokter Harsha tampak diam memejamkan mata. Kukuh pun memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat, bingung apa yang harus diobrolkan di tengah suasana yang begitu mencekam ini.Perjalanan terus berlanjut. Tepat pukul delapan malam, mereka akhirnya memasuki wilayah Kabupaten Garut. Hawa dingin pegunungan langsung menyusup dari celah-celah jendela mobil yang tidak tertutup rapat.Kukuh melirik sejenak ke arah layar navigasi di p
Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosan pakai seragam, hah?!" maki suara dari seberang telepon itu dengan kemarahan yang meluap-luap hingga terdengar sayup-sayup oleh orang-orang di ruangan tersebut. "Kamu tahu siapa pria sepuh yang sedang kamu bentak dan kamu tahan sekarang?! Beliau adalah orang paling disegani di dunia medis tingkat nasional! Berani-beraninya kamu menuduh cucunya dan mengganggu perjalanan mereka!"Wajah polisi yang tadinya arogan itu seketika berubah seputih kertas. Kakinya merapat refleks. Ia langsung berdiri tegak dalam sikap sempurna, keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya. Secara tak sadar, ia bahkan mengangkat tangannya, memberi hormat dengan kaku pada telepon genggamnya sendiri."S-s-siap, Jende
Kukuh refleks membuka pintu mobil, berniat segera berlari melihat korban. Namun, suara tenang Dokter Harsha menahannya sejenak."Kuh..." panggil Dokter Harsha. "Hati-hati. Jangan bingung, ya."Kukuh menoleh dengan dahi berkerut. "Bingung kenapa, Dok?""Ya... lihatlah dulu sendiri ke sana," jawab Dokter Harsha penuh teka-teki, kembali bersandar di kursinya seolah kecelakaan mengerikan barusan hanyalah tontonan biasa.Kukuh segera melompat keluar dari sedan tua itu. Ia melihat ada beberapa payung besar yang disediakan di dekat pilar pom bensin untuk berjaga-jaga jika hujan turun. Tanpa basa-basi, Kukuh menyambar salah satu payung dan bergegas berlari menembus rintik hujan mendekati titik kecelakaan. Di aspal yang bersimbah darah itu, tiga orang penjaga pom bensin asli suda
"Apa tidak apa-apa, Dok, jika ditabrak begitu saja?" tanya Kukuh, suaranya sedikit bergetar karena khawatir. Bayangan menabrak puluhan orang berjejer di pinggir jalan tentu menabrak akal sehat manusia normal."Tidak apa-apa. Tabrak saja. Yang kamu lihat di pinggir jalan itu bukan manusia," jelas Dokter Harsha dengan nada dingin yang tak terbantahkan.(Apa ini jenis makhluk halus yang sering diceritakan orang-orang sebagai penyebab kecelakaan di jalur lintas provinsi?) batin Kukuh, menelan ludah."Baik, Dok," ucap Kukuh tenang. Ia mencengkeram kemudi lebih erat, menatap lurus ke depan, dan melajukan sedan jadul itu membelah kabut dan hujan, mengabaikan lambaian tangan-tangan pucat di pinggir jalan yang perlahan memudar terlewatkan.Mereka berdua melaju di tengah hujan selama lebih dari setengah jam, dan indikator bensin semakin turun. Di tengah kecemasannya, mata Kukuh menangkap pendaran lampu dari sebuah tiang tinggi berwarna merah di sebelah kiri jalan.(Wah, itu dia pom bensinnya,)
(Ini warna rambunya apa ya? Merah atau hijau?) batin Kukuh bimbang, menyipitkan matanya mencoba menembus gumpalan lebah yang menutupi lampu lalu lintas tersebut. Jalanan di pertigaan itu tampak sangat sepi, tidak ada satu pun kendaraan yang terlihat berlalu-lalang dari arah mana pun.Kukuh menghela napas dan memutuskan untuk mengambil keputusan logis. "Pelan-pelan sajalah, mungkin ini sedang hijau. Toh tidak ada kendaraan yang lewat dari kanan maupun kiri," gumamnya pelan.Ia membiarkan sedan jadul itu melaju pelan melewati garis marka pertigaan. Namun, baru saja hidung mobil mereka berada persis di tengah persimpangan...Tiiinnnnn.... Tinnnnn.... Tiiinnnn!Suara klakson yang sangat panjang dan memekakkan telinga membelah keheningan jalan provinsi tersebut. Sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam pekat melaju dari arah sebelah kiri dengan kecepatan ugal-ugalan, sama sekali tidak berniat memperlambat lajunya di persimpangan.Kukuh terkejut luar biasa. Dengan refleks mematikan, kaki kanan
"Ini, Dok, ramuan dan jarum peraknya," ucap Kukuh seraya menyerahkan botol kecil dan sebuah jarum perak yang berfungsi sebagai pembatas halaman buku tebal peninggalan leluhurnya tadi."Sini, masukkan ke kotak ini," perintah Dokter Harsha. Pria sepuh itu membuka sebuah kotak kayu jati berukuran sedang. Kotak itu berwarna hitam kelam, tanpa ukiran apa pun, namun memancarkan hawa dingin yang aneh saat penutupnya dibuka.Setelah Kukuh meletakkan barang-barang itu di dalam, Dokter Harsha menutupnya dan mengunci kotak tersebut dengan sebuah gembok kuningan kecil. Ia lalu menyodorkan kotak hitam kelam itu ke tangan Kukuh. Matanya menatap pemuda itu dengan keseriusan yang sangat pekat."Nanti, selama kita dalam perjalanan dan observasi, kamu yang bertugas membawa dan menjaga kotak ini, Kuh," ucap Dokter Harsha dengan nada berat dan mutlak. "Dengar peringatanku baik-baik. Jika kita sudah sampai di sana, jangan pernah serahkan kotak ini kepada siapa pun... bahkan jika aku sendiri yang memintany







