Share

Bab 104

Author: Millanova
last update publish date: 2026-05-18 20:43:12

Jalanan aspal yang mulus perlahan berganti menjadi jalanan berkelok dengan kontur yang sedikit bergelombang. Sedan hijau lumut itu melaju membelah kegelapan. Di kanan dan kiri jalan, pepohonan besar menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling merajut, seolah membentuk terowongan alami yang menutupi langit malam.

(Wah, kanan dan kiri sudah memasuki area hutan pekat. Ini harus lebih hati-hati lagi,) benak Kukuh. Ia mencengkeram kemudi dengan waspada. Matanya tajam menyapu setiap sudut jalanan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 349

    "Tirakatan seperti apa yang harus saya jalani, Dok?" tanya Kukuh, suaranya masih terdengar serak namun sepasang mata cokelatnya kini menatap dengan jauh lebih jernih.Dokter Harsha tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu berjalan perlahan menuju sebuah kursi kayu jati di sudut ruangan, lalu duduk dan memberi isyarat agar Kukuh dan Ratih ikut beristirahat. Di dekat mereka, Dokter Adhi berdiri bersandar pada meja obsidian, menyimak dengan saksama."Duduklah kalian berdua," ucap Dokter Harsha tenang.Kukuh mengangguk pelan. Ia meraih kemejanya yang sempat dikoyak, mengenakannya seadanya untuk menutupi rajah baru yang masih berdenyut di dadanya, lalu duduk di sebelah Ratih. Gadis bermata abu-abu itu langsung menggenggam erat telapak tangan suaminya, seolah enggan melepaskannya barang sedetik pun."Tinta yang baru saja menyatu dengan dagingmu itu bukanlah benda mati, Nak Kukuh," jelas Dokter Harsha, memecah keheningan Lantai 41. "Campuran darah gagak putih, kobra hijau, kebo bule, genderuw

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 348

    "Beritahu saya lokasinya, Dokter," desak Kukuh. Langkah kakinya yang panjang dan tegap bergerak lurus menuju pintu baja Lantai 41. Sepasang matanya yang masih menyala merah menatap tanpa keraguan. Hawa panas menguar dari sekujur tubuhnya, mengabaikan suhu steril ruangan yang dingin.Dokter Harsha tidak bergeser satu sentimeter pun. Pria sepuh itu berdiri tepat di depan pintu, melipat kedua tangannya di belakang punggung, menghalangi jalan keluar sang pewaris."Aku tidak akan memberitahumu, Nak Kukuh," jawab Dokter Harsha tenang. Nadanya tidak tinggi, namun bergema dengan otoritas mutlak yang membuat udara di sekeliling mereka terasa berat dan padat."Dokter!" Suara Kukuh meninggi, dadanya naik turun menahan gejolak energi yang meronta minta dilepaskan. "Anda sendiri yang baru saja bilang kalau tenaga saya sudah kembali utuh! Wadah fisik saya sudah diperluas! Kenapa Anda malah menahan saya di sini?! Biarkan saya menghabisi para pembunuh itu sekarang!""Jaga nada bicaramu, Kukuh!" sela

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 347

    "Dokter... apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa seranganku bisa berbalik menghantam dadaku sendiri dengan kekuatan yang berlipat ganda?"Suara bariton Kukuh memecah keheningan di Lantai 41. Pemuda itu kini duduk tegak di atas altar galih randu alas. Napasnya perlahan mulai teratur, namun sepasang mata cokelatnya menatap tajam ke arah Dokter Harsha, menuntut sebuah jawaban logis atas kekalahan fatalnya malam itu. Tangannya secara refleks meraba dada dan punggungnya yang kini dipenuhi oleh ukiran rajah baru yang terasa menyatu utuh dengan dagingnya.Dokter Harsha yang baru saja selesai membersihkan sisa noda darah dari tangannya menghela napas panjang. Pria sepuh itu berbalik, menatap murid sekaligus pewaris sah keluarganya itu dengan raut wajah tenang namun sarat akan keseriusan."Kau terlalu gegabah, Nak Kukuh. Kau membiarkan amarah buta mengendalikan tenaga murnimu," jawab Dokter Harsha, suaranya menggema pelan di ruang operasi rahasia tersebut. "Ragil Bowo Sasmita bukanlah mus

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 346

    "Tahan napasnya, Dhi! Sabuk di bahunya mulai melonggar, pastikan tidak terlepas! Ini titik yang paling krusial!" seru Dokter Harsha dengan napas tersengal-sengal. Tangannya yang memegang Jarum Tulang Kijang Kencana sedikit bergetar menahan tekanan gaib yang luar biasa pekat dari dalam raga Kukuh."Sudah saya kunci mati, Ayah! Lakukan sekarang sebelum tenaganya benar-benar habis!" balas Dokter Adhi. Wajahnya memerah karena menahan pinggul dan kaki Kukuh yang terus meronta beringas dalam posisi tengkurap.Di sisi altar, Ratih masih menggenggam erat telapak tangan suaminya. Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak keputusasaan di pipinya yang pucat."Ayo, Kuh... satu tusukan lagi. Kamu pasti bisa," bisiknya parau tepat di dekat telinga Kukuh, memancing kesadaran pemuda itu agar tidak tertelan rasa sakit.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Dokter Harsha mengangkat jarum emas pusaka yang telah menyerap tetesan terakhir tinta lima darah tersebut. Dengan satu tarikan napas panjang, pria

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 345

    "Tahan napasmu, Nduk Ratih. Siksaan yang sebenarnya baru saja dimulai," suara Dokter Harsha berat, membelah ketegangan di Lantai 41 yang dipenuhi uap darah mendidih.Ratih menggigit bibir bawah yang sudah pucat pasi, mempererat genggaman pada telapak tangan Kukuh yang terasa memanas layaknya bara api. Kukuh terbujur kaku, mata terpejam rapat, sepenuhnya tenggelam dalam ketidaksadaran akibat hantaman energi yang meremukkan organ dalamnya. Kehadiran Ratih di sisi altar bukan untuk menahan fisik suaminya Ratih tahu kekuatannya tak akan sebanding melainkan murni sebagai penyemangat, tali penambat agar kesadaran Kukuh tidak melayang pergi."Lakukan saja, Dok. Aku janji... aku nggak akan melepaskan tangan Kukuh sedetik pun. Dia pasti kuat."Dokter Harsha mengangguk samar, pandangan beralih ke seberang meja altar. "Dhi, pastikan semua sabuk pengaman sudah terkunci rapat. Energi yang akan meledak dari dalam dadanya nanti bisa membuat tubuhnya melenting lepas dari meja operasi ini.""Sudah, Ay

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 344

    "Dhi, ganti pisaunya! Singkirkan obsidian itu sekarang juga!" perintah Dokter Harsha tiba-tiba, membuat pisau bedah hitam di tangannya tertahan di udara, hanya beberapa milimeter dari kulit dada Kukuh yang memerah dan dihiasi urat-urat yang menonjol.Dokter Adhi yang berdiri bersiaga di seberang meja altar mengerutkan dahi kebingungan. "Kenapa, Ayah? Bukankah obsidian lebih tahan terhadap energi gaib dan tidak akan memicu reaksi penolakan?""Suhu di dalam nadinya melonjak terlalu cepat dan tidak stabil," potong Dokter Harsha dengan nada tegang, wajah sepuhnya dibanjiri keringat. "Obsidian akan pecah berkeping-keping jika berbenturan langsung dengan luapan energi purba yang sedang mendidih ini. Cepat, berikan pisau bedah perak murni itu. Hanya perak yang bisa menembus hawa panas ini tanpa memicu ledakan di dadanya."Tanpa banyak bertanya lagi, Dokter Adhi mengangguk cepat. Ia menukar instrumen tersebut di atas nampan perak dan menyodorkan sebilah pisau bedah perak yang berkilat tajam m

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 1

    "Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 103

    Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 26

    Di meja sebelahnya, tepat di atas mangkok seorang bapak yang sedang makan dengan sangat lahap, bertengger sebuah sosok yang membuat darah Kukuh berdesir. Sosok itu berbadan sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dengan rambut putih yang sangat jarang dan acak-acakan. Matanya merah menyala, m

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 15

    Kukuh masih duduk terpaku di kursi lobi rumah sakit yang dingin. Pandangannya kosong menatap lorong tempat Dokter Harsha menghilang. Pikirannya berputar cepat.Anggap saja seperti rumah sendiri. Kalimat itu terus menggaung di telinganya. Kukuh bukanlah orang bodoh. Ia sangat yakin ucapan dokter tua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status