Share

Bab 108

Author: Millanova
last update publish date: 2026-05-20 21:43:17

"Baik, Dokter. Akan saya usahakan bagaimana pun caranya agar semua list bahan ini datang besok pagi," ucap Nyai Janari dengan nada final, raut wajahnya mengeras menahan beban.

"Bagus. Semakin cepat semakin baik, agar Nyonya Larasati segera terbebas dari akar santet ini," ucap Dokter Harsha sambil melipat kembali tangannya.

Nyai Janari berdiri dan sedikit membungkuk. "Mari, Dokter. Kita makan malam terlebih dahulu sebelum Anda beristirahat di kamar tamu."

Mereka bertiga beranjak dari ruang tamu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 473

    Pagi itu, Kukuh bangun tanpa mimpi.Bukan bangun karena suara. Bukan bangun karena keringat. Bukan bangun karena tangan yang terkepal di atas seprai dan nafas yang tersengal seperti seseorang yang baru saja lari dari sesuatu di dalam tidurnya.Kukuh bangun karena cahaya.Cahaya matahari pagi yang menembus celah gorden kamar, jatuh tepat di atas wajah Kukuh seperti tangan yang menepuk pelan. Hangat. Lembut. Tidak mengancam.Kukuh membuka mata. Menatap langit-langit kamar yang sudah sangat ia kenal. Retakan kecil di sudut kiri. Noda air yang belum diperbaiki sejak musim hujan tahun lalu. Dan di dadanya, liontin dua daun kamboja berdenyut. Pelan. Stabil. Seperti jantung kedua yang sudah belajar berdetak seirama dengan jantung pertamanya.Kukuh menoleh ke kanan. Ratih masih tidur. Miring. Menghadap ke arah Kukuh. Nafasnya teratur. Bibirnya sedikit terbuka. Rambutnya berantakan di atas bantal.Kukuh tersenyum. Kecil. Tulus. Lalu bangun tanpa suara.Di kamar mandi, Kukuh menggulung lengan k

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 472

    Tiga hari berlalu tanpa insiden.Tiga hari di mana Kukuh bangun pagi, mandi, memakai kemeja kerja, dan berjalan menyusuri koridor RS Lohitajaya seperti biasa. Tiga hari di mana pasien datang dan pergi, perawat berganti shift, dan monitor detak jantung berdetak stabil tanpa ada yang terinfeksi santet atau teluh. Tiga hari yang seharusnya terasa membosankan tapi justru terasa seperti kemewahan.Di hari ketiga itu, Kukuh kembali ke Lantai 41.Bukan karena ada panggilan darurat. Bukan karena ada pasien kritis. Bukan karena ada santet yang perlu diangkat atau teluh yang perlu dinetralkan.Karena Dokter Harsha memintanya datang."Kuh."Dokter Harsha sudah duduk di balik meja kerjanya ketika Kukuh melangkah masuk. Pria sepuh itu tidak membaca. Tidak menulis. Tidak memeriksa hasil lab. Hanya duduk. Kedua tangan terlipat di atas meja. Menatap pintu. Menunggu.Kukuh menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ada sesuatu di wajah gurunya yang berbeda. Bukan tegang. Bukan cemas. Lebih seperti seseo

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 471

    Langkah Dimas Aji perlahan menghilang di ujung jalan setapak.Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada anggukan. Tidak ada tatapan terakhir. Pria tua itu hanya berbalik setelah tangisnya reda, menunduk dalam-dalam, dan berjalan pergi dengan langkah yang sama tertatihnya saat datang. Bedanya, kali ini bahunya tidak setegang sebelumnya. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan batu besar yang sudah terlalu lama ia pikul di punggungnya.Kukuh menatap punggung itu sampai hilang di balik deretan nisan.Lalu menoleh kembali ke batu di depannya.Nisan Pak Kasiman. Sederhana. Batu andesit abu-abu yang belum ditumbuhi lumut. Nama bapaknya terukir rapi di permukaan. Tanggal lahir. Tanggal kematian. Dan di bawahnya, satu kalimat yang Ratih pilih sendiri: Di sini beristirahat seorang bapak yang tidak pernah berhenti menyayangi.Kukuh berjongkok. Jari-jarinya menyentuh permukaan nisan yang masih dingin oleh embun pagi. Dingin yang berbeda dari dinginnya marmer rumah sakit. Dingin yang tidak menganc

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 470

    "Bapak, hari ini cuacanya bagus."Kukuh duduk bersila di depan nisan sederhana itu. Jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang masih dingin oleh embun pagi. Di atas nisan, sehelai daun kamboja kering tergeletak, jatuh dari pohon tua yang menaungi makam itu sejak puluhan tahun lalu."Saya bawa kopi. Kopi tubruk yang Bapak suka. Gula dua sendok. Tidak pakai susu." Kukuh meletakkan gelas plastik di samping nisan. "Ratih bilang saya harus kurang-kurangi ngomong sama nisan. Tapi saya bilang, kalau nggak ngomong sama Bapak, nanti saya lupa suaranya Bapak."Angin pagi berhembus pelan. Membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja yang sudah mulai layu.Kukuh tersenyum. Senyum kecil yang tidak dipaksakan."Tiga hari yang lalu, saya sudah selesaikan semuanya, Pak. Rantai itu sudah putus. Bowo, Dimas Aji, dua belas praktisi itu... semuanya sudah bebas. Bukan bebas dari penjara. Bebas dari..."Kukuh berhenti. Mencari kata yang tepat."...dari suara yang selama ini menyuruh mereka membenci kita."K

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 469

    "Enam pasien di Bangsal C sudah pulih total, Mas Kukuh."Dokter Adhi meletakkan tablet di atas meja aluminium Lantai 41, menunjuk grafik vital yang semuanya berwarna hijau. Senyum dokter muda itu lebar, lega, seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan operasi paling rumit dalam kariernya."Tidak ada residu energi gelap. Tidak ada jejak teluh. Tidak ada bekas rantai." Dokter Adhi menatap Kukuh dengan mata berbinar. "Bersih total. Seolah mereka tidak pernah tersentuh santet sama sekali."Kukuh mengangguk pelan. Pemuda itu masih duduk di tepi meja batu, kemeja kerjanya sedikit kusut setelah shift pagi yang panjang. Di balik kemejanya, liontin dua daun kamboja berdenyut hangat. Stabil. Tenang."Bagaimana dengan tekanan darah mereka?" tanya Kukuh."Normal semua. Saturasi oksigen normal. Tidak ada aritmia." Dokter Adhi menggeleng takjub. "Saya sudah cek tiga kali, Mas. Bahkan lebih bersih dari pasien yang belum pernah sakit. Seperti tubuh mereka di-reset."Kukuh tersenyum tipis. "Bukan

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 468

    Suara mesin dua SUV hitam memecah keheningan malam di pelataran rumah joglo tua itu. Lampu sorot kendaraan menyapu area yang masih berbau anyir darah dan sisa energi gaib yang belum sepenuhnya menguap.Pintu mobil terbuka. Kyai Agus melangkah turun dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Di belakangnya, Pak Jaka mengikuti dengan postur tegap, matanya langsung menyapu seluruh pelataran dengan kewaspadaan seorang prajurit.Namun begitu mata Kyai Agus menangkap pemandangan di hadapannya, langkah pria sepuh itu terhenti.Di tengah pelataran, Dimas Aji Sasmita berlutut. Tubuh konglomerat itu gemetar, kepalanya menunduk dalam, kedua tangannya terbuka di atas paha seperti orang yang menyerah total. Di sekelilingnya, dua belas praktisi bayaran yang tadinya terikat rantai gaib kini duduk bersila dengan wajah kosong namun bebas tanpa bekas luka sedikit pun. Dan di sudut terdekat, Bowo terduduk di lantai tanah, matanya merah, napasnya tersengal, tangannya masih gemetar.Kyai Agus menelan ludah

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 2

    Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 1

    "Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status