LOGIN"Gila, dingin banget hawanya! Padahal kita baru sampai di lerengnya doang," keluh Farhan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Gigi pemuda berkacamata itu bergemeretak menahan udara malam pegunungan yang menusuk."Namanya juga kawasan pegunungan Batu, Han. Angin yang turun dari celah hutan pinus di sini memang lumayan bikin menggigil," jawab Kukuh santai. Ia menurunkan ransel carrier berkapasitas enam puluh liter dari punggungnya dan meletakkannya di atas tanah berumput."Kamu kok kelihatan biasa aja sih, Kuh? Nggak kedinginan apa?" Farhan menatap sahabatnya itu dengan heran."Aku kan dari desa. Sudah biasa kena angin malam begini," Kukuh tersenyum lugu, merajut alibinya dengan sempurna. Tentu saja, hawa dingin ini sama sekali tidak bisa menembus sirkulasi energi Rajah Getih di dalam tubuhnya.Mereka baru saja tiba di basecamp Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala Universitas Mahkota setelah beberapa minggu mereka mendaftar UKM itu. Area lapang yang dikelilingi rimbunnya pohon
"Kuh, ayolah! Kamu masa kuliah cuma numpang lewat dari gerbang ke kelas, terus lanjut kerja paruh waktu yang nggak jelas itu? Sekali-kali ikut UKM biar ada pengalaman!" seru Farhan sambil menarik-narik lengan kemeja Kukuh di tengah keramaian halaman kampus."Bukannya aku nggak mau, Farhan. Jadwalku kan lumayan padat," jawab Kukuh santai.Pemuda itu baru saja melewati malam yang menegangkan membereskan pengkhianatan Manajer Hendra di perusahaan mertuanya. Membayangkan harus menambah kegiatan kampus setelah mengirim seseorang ke Jagalan terasa sedikit merepotkan."Padat apanya? Ayolah, Mapala kita ini terkenal sering bikin ekspedisi keren. Dengar-dengar bulan depan agendanya eksplorasi jalur pendakian di sekitar kawasan Batu. Kamu tahu kan daerah Batu? Udaranya sejuk banget, lanskap pemandangannya luar biasa, belum lagi area hutannya yang masih asri! Kapan lagi kita bisa jalan-jalan eksplorasi alam gratis?" bujuk Farhan dengan mata berbinar-binar penuh harap.Kukuh terdiam sejenak. Meny
Pagi itu, suasana di ruang kerja pribadi Adiwangsa di mansion keluarga Cokro terasa lebih tegang dari biasanya. Tirai tebal burgundy dibiarkan setengah tertutup, menghalangi cahaya matahari pagi.Kukuh berdiri tenang di seberang meja kerja kayu mahoni raksasa. Di atas meja, tepat di hadapan Adiwangsa, tergeletak kantong plastik kedap udara berisi buntelan kain merah darah yang basah dan masih memancarkan sisa aura hitam."Jadi, maksudmu Manajer Hendra orang yang sudah bekerja di bawah payung perusahaanku selama bertahun-tahun adalah musuh dalam selimut?" tanya Adiwangsa, kening berkerut dalam, nadanya penuh keraguan.Di samping Adiwangsa, Dian yang baru masuk ke ruangan memandangi buntelan merah itu dengan tatapan menyelidik."Benar, Pa," jawab Kukuh datar. "Buntelan ini medium kutukan Rajah Sepi. Kalau saya tidak mengambilnya tepat waktu semalam, seluruh pasokan air murni di tangki utama akan tercemar. Produk skincare yang diluncurkan hari ini tidak akan laku, dan Korporasi Cokro aka
Udara di koridor produksi lantai dasar lebih sejuk dan steril dibandingkan lobi utama. Dengung mesin berteknologi tinggi terdengar konstan dari balik dinding kaca tebal. Di sinilah jantung Korporasi Cokro berdetak tangki-tangki pencampur raksasa berbahan stainless steel berdiri kokoh, siap mengolah ribuan liter bahan baku menjadi formula skincare bernilai triliunan rupiah.Kukuh sudah mondar-mandir di luar ruang produksi sejak pagi, berdalih mengecek kebersihan lantai. Troli kuning Kukuh terparkir rapi di sudut lorong, matanya memindai setiap staf pabrik yang berlalu-lalang.Target yang Kukuh tunggu akhirnya muncul.Dari ujung lorong, Hendra melangkah tergesa. Bukan jas rapi seperti kemarin kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, wajah tegang di balik raut angkuhnya yang biasa. Hendra berjalan lurus ke pintu akses berlapis baja, gerbang utama ruang produksi."Selamat pagi, Pak Hendra," sapa pegawai yang berjaga di pos pengecekan akses, sedikit terkejut melihat petinggi R&D
"Ngene, Le Kukuh," suara Pak Kasiman terdengar parau dan sangat berhati-hati, seolah pria tua itu takut ada yang menguping pembicaraan mereka dari alam lain. Tarikan napasnya terasa berat di seberang sambungan telepon. "Sopo seng nduwe bubuk sengon? Sak ngertine Bapak, bubuk sengon iku lek ndak enek tujuan elek yo mung bubuk kayu biasa. Tapi... lek iku maeng digawe gawe tujuan elek, bubuk sengon iku jeneng liyo soko Rajah Sepi."Mendengar nama itu, Kukuh menajamkan pendengarannya. Ia berdiri bersandar di dinding bata kusam di belakang warung kopi, menjauh dari bisingnya jalanan pagi. "Rajah Sepi, Pak?""Iyo, Le. Dadi iku iso nggawe usahane uwong mandek mak bedunduk. Ndak enek seng tuku, rezekine ditutup rapet. Aurane dadi panas, wong seng liwat utowo arep tuku dadi wegah. Usaha opo wae bakal bangkrut sak nalika," jelas Pak Kasiman dengan nada memperingatkan.Otak taktis Kukuh langsung menyusun kepingan teka-teki itu dengan sempurna. Pantas saja pria misterius berjas hitam semalam meny
"Bapak yakin mau turun tangan sendiri malam ini? Bapak kan Kepala Kebersihan yang baru, urusan lembur membersihkan saluran ventilasi AC di lantai tujuh itu biar dikerjakan anak-anak saja, Pak. Capek dan kotornya minta ampun, lho."Suara Pak Joko, pengawas cleaning service giliran malam, terdengar ragu sekaligus segan menatap pemuda di hadapannya. Seragam biru yang Kukuh kenakan tampak biasa dan sedikit kedodoran, tapi emblem "Kepala Kebersihan" di dada kirinya cukup untuk membuat puluhan pekerja kebersihan di menara ini segan.Kukuh tersenyum tipis, menepuk bahu pria paruh baya itu."Tidak apa-apa, Pak Joko. Justru sebagai kepala yang baru, saya harus tahu seberapa berat medan kerja tim kita, dan mengevaluasi langsung standar kebersihan di area vital seperti laboratorium R&D," jawabnya meyakinkan. "Malam ini biar saya yang inspeksi ke atas. Bapak dan tim fokus saja di lobi dan parkiran."Pak Joko mengangguk hormat, kagum dengan bos barunya yang rela pegang alat pel sendiri, lalu menye
Di meja sebelahnya, tepat di atas mangkok seorang bapak yang sedang makan dengan sangat lahap, bertengger sebuah sosok yang membuat darah Kukuh berdesir. Sosok itu berbadan sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dengan rambut putih yang sangat jarang dan acak-acakan. Matanya merah menyala, m
Kukuh masih duduk terpaku di kursi lobi rumah sakit yang dingin. Pandangannya kosong menatap lorong tempat Dokter Harsha menghilang. Pikirannya berputar cepat.Anggap saja seperti rumah sendiri. Kalimat itu terus menggaung di telinganya. Kukuh bukanlah orang bodoh. Ia sangat yakin ucapan dokter tua
"Heh! Tata yang rapi!"Bentakan tajam itu memecah udara pagi yang masih basah oleh embun. Di dalam garasi raksasa kediaman Aji Saka yang berlantai marmer, Dian Ayu Aji Saka berdiri berkacak pinggang. Sepasang mata wanita aristokrat itu menatap tajam layaknya elang. Ia sudah mengenakan gaun desainer
Malam perjamuan penuh kesombongan itu akhirnya usai. Di kamar sempitnya yang berbau apek di dekat garasi, Kukuh berbaring menatap langit-langit yang lembap. Pikirannya kembali pada momen penyerahan hadiah untuk Eyang Putri tadi.Ada satu hal ganjil yang menyita perhatian Kukuh. Dengan kepekaan dara







