Share

Bab 155

Author: Millanova
last update publish date: 2026-06-06 23:54:24

Mendengar tebakan liar Pak Jaka yang nyaris menyentuh identitas rahasianya, Kukuh segera tersenyum tipis dan menepuk pelan bahu pria paruh baya itu untuk meredakan ketegangannya.

"Jangan terlalu berpikir jauh, Pak Jaka," ucap Kukuh dengan nada datar namun menenangkan. "Saya di sana hanya bekerja sebagai asisten pribadi dari Dokter Harsha. Oleh karena itu, saya memiliki sedikit akses ke fasilitas medis Lohita Jaya untuk meneliti barang-barang gaib semacam ini."

Meski masih menyisakan sedikit tan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 314

    "Gis, sumpah deh, ini kendi makin lama kok rasanya makin panas ya? Tadi di basecamp cuma anget biasa, sekarang telapak tanganku sampai kemerahan lho."Keluhan Farhan memecah keheningan hutan pinus yang mulai mencekam. Farhan berjalan tertatih di tengah barisan, sesekali memindahkan kendi tanah liat itu dari tangan kanan ke kiri karena tak kuat menahan hawa panas yang menjalar.Di depannya, Gisella menghentikan langkah, membalikkan badan. Sorot cahaya lilin yang dibawa Kukuh di barisan belakang menyorot wajah Gisella jelas terlihat raut ketidakpercayaan dan sedikit kekesalan."Farhan, kamu ini mahasiswa kedokteran, tolong pakai logikamu," tegur Gisella tegas. "Kendi itu terbuat dari tanah liat. Tanah liat konduktor panas yang buruk. Tidak mungkin suhunya naik sendiri di udara gunung yang di bawah lima belas derajat Celcius begini. Itu murni sugesti karena kamu ketakutan dan gugup sejak awal.""Tapi beneran, Gis! Ini panas banget, kayak ada air mendidih di dalamnya!" bantah Farhan, meny

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 313

    "Han, kamu yang bawa kendi sesajennya, aku yang pegang kompas. Kukuh, kamu yang pegang lilin dan jaga barisan di belakang," instruksi Gisella sambil merapatkan ritsleting jaket gunungnya."Lah, kok aku yang disuruh bawa kendi klenik ini sih, Gis? Aku kan nggak biasa pegang barang-barang mistis begini!" protes Farhan, suaranya tertahan. Kacamata Farhan sedikit berembun kena uap napasnya sendiri yang memburu karena gugup."Karena kendi itu barang yang paling ringan, Farhan," balas Gisella, nadanya pragmatis. "Tanganmu dari tadi gemetar terus. Kalau kamu yang pegang lilin, apinya bisa mati tertiup angin dari tanganmu yang gemetaran itu. Lilin mati berarti kita melanggar aturan senior. Logis, kan?"Farhan mengerucutkan bibir, tak bisa membantah logika tajam Gisella. Farhan menoleh ke Kukuh dengan tatapan memelas. "Kuh, kamu aja deh yang bawa kendinya. Kamu kan anak desa, pasti udah biasa sama bau-bau kembang telon begini, kan?"Kukuh tersenyum kecil, memainkan perannya natural. "Nggak apa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 312

    "Gila, rasanya tulangku mau rontok semua. Kaki ini rasanya udah nggak napak di tanah," keluh Farhan sambil memijat betisnya. Farhan duduk merosot di atas matras tipis dekat api unggun yang menyala terang. Asap kayu bakar yang mengepul tak cukup mengusir hawa dingin yang menusuk tulang."Minum dulu hangat-hangat, Han. Biar ototnya sedikit rileks," ucap Kukuh, menyodorkan gelas kaleng berisi teh manis hangat. Wajah Kukuh biasa saja, tanpa gurat kelelahan berlebih konsisten dengan peran pemuda desa yang sudah terbiasa fisik berat."Makasih, Kuh. Gila ya, tiga hari digojlok fisik begini, rasanya aku mau resign aja dari Mapala," rutuk Farhan sebelum menyeruput tehnya perlahan, menggigil sedikit.Di sebelah mereka, Gisella duduk meluruskan kaki yang terbalut celana kargo, sibuk membetulkan balutan perban di telapak tangan yang lecet akibat tersandung akar tempo hari. Wajahnya lelah dan sedikit memucat karena udara dingin, tapi sorot matanya tetap tajam, menolak menyerah."Jangan cengeng, Fa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 311

    "Gila, dingin banget hawanya! Padahal kita baru sampai di lerengnya doang," keluh Farhan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Gigi pemuda berkacamata itu bergemeretak menahan udara malam pegunungan yang menusuk."Namanya juga kawasan pegunungan Batu, Han. Angin yang turun dari celah hutan pinus di sini memang lumayan bikin menggigil," jawab Kukuh santai. Ia menurunkan ransel carrier berkapasitas enam puluh liter dari punggungnya dan meletakkannya di atas tanah berumput."Kamu kok kelihatan biasa aja sih, Kuh? Nggak kedinginan apa?" Farhan menatap sahabatnya itu dengan heran."Aku kan dari desa. Sudah biasa kena angin malam begini," Kukuh tersenyum lugu, merajut alibinya dengan sempurna. Tentu saja, hawa dingin ini sama sekali tidak bisa menembus sirkulasi energi Rajah Getih di dalam tubuhnya.Mereka baru saja tiba di basecamp Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala Universitas Mahkota setelah beberapa minggu mereka mendaftar UKM itu. Area lapang yang dikelilingi rimbunnya pohon

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 310

    "Kuh, ayolah! Kamu masa kuliah cuma numpang lewat dari gerbang ke kelas, terus lanjut kerja paruh waktu yang nggak jelas itu? Sekali-kali ikut UKM biar ada pengalaman!" seru Farhan sambil menarik-narik lengan kemeja Kukuh di tengah keramaian halaman kampus."Bukannya aku nggak mau, Farhan. Jadwalku kan lumayan padat," jawab Kukuh santai.Pemuda itu baru saja melewati malam yang menegangkan membereskan pengkhianatan Manajer Hendra di perusahaan mertuanya. Membayangkan harus menambah kegiatan kampus setelah mengirim seseorang ke Jagalan terasa sedikit merepotkan."Padat apanya? Ayolah, Mapala kita ini terkenal sering bikin ekspedisi keren. Dengar-dengar bulan depan agendanya eksplorasi jalur pendakian di sekitar kawasan Batu. Kamu tahu kan daerah Batu? Udaranya sejuk banget, lanskap pemandangannya luar biasa, belum lagi area hutannya yang masih asri! Kapan lagi kita bisa jalan-jalan eksplorasi alam gratis?" bujuk Farhan dengan mata berbinar-binar penuh harap.Kukuh terdiam sejenak. Meny

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 309

    Pagi itu, suasana di ruang kerja pribadi Adiwangsa di mansion keluarga Cokro terasa lebih tegang dari biasanya. Tirai tebal burgundy dibiarkan setengah tertutup, menghalangi cahaya matahari pagi.Kukuh berdiri tenang di seberang meja kerja kayu mahoni raksasa. Di atas meja, tepat di hadapan Adiwangsa, tergeletak kantong plastik kedap udara berisi buntelan kain merah darah yang basah dan masih memancarkan sisa aura hitam."Jadi, maksudmu Manajer Hendra orang yang sudah bekerja di bawah payung perusahaanku selama bertahun-tahun adalah musuh dalam selimut?" tanya Adiwangsa, kening berkerut dalam, nadanya penuh keraguan.Di samping Adiwangsa, Dian yang baru masuk ke ruangan memandangi buntelan merah itu dengan tatapan menyelidik."Benar, Pa," jawab Kukuh datar. "Buntelan ini medium kutukan Rajah Sepi. Kalau saya tidak mengambilnya tepat waktu semalam, seluruh pasokan air murni di tangki utama akan tercemar. Produk skincare yang diluncurkan hari ini tidak akan laku, dan Korporasi Cokro aka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 11

    Malam perjamuan penuh kesombongan itu akhirnya usai. Di kamar sempitnya yang berbau apek di dekat garasi, Kukuh berbaring menatap langit-langit yang lembap. Pikirannya kembali pada momen penyerahan hadiah untuk Eyang Putri tadi.Ada satu hal ganjil yang menyita perhatian Kukuh. Dengan kepekaan dara

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 10

    Malam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status