LOGINSinar matahari pagi menembus kaca besar di Lantai 41 RS Lohitajaya, membiaskan cahaya keemasan di atas meja kayu mahoni milik Sang Dewa Medis. Di balik meja itu, Dokter Harsha duduk dengan wajah tenang, namun sepasang matanya yang setajam elang menyimak setiap kata yang meluncur dari mulut asisten pribadinya.Kukuh berdiri tegap di seberang meja. Ia baru saja selesai menceritakan rentetan peristiwa gila yang terjadi pada malam arisan Keluarga Besar Cokro. Mulai dari serangan wedang uwuh beracun yang nyaris merenggut nyawa Nyonya Dian, terbongkarnya kedok Mbok Yem, hingga penemuan Rajah Ganda Mayit di tengkuk wanita tua itu."Klan Sasmita tidak hanya menyerang dari luar, Dokter," ucap Kukuh dengan nada rendah dan berat. "Mereka menanam sleeper agent di jantung pertahanan Aji Saka selama puluhan tahun. Aryo Sasmita mencoba mengendalikan serangan dari luar, dan menggunakan Rajah Ganda Mayit dari dalam secara bersamaan."Dokter Harsha menghela napas panjang. Pria sepuh itu melepaskan kaca
Bukan asap tipis yang keluar, melainkan kepulan asap hitam yang luar biasa pekat dan berbau wangi magis yang sangat menenangkan namun memancarkan dominasi mutlak. Asap itu bergulung-gulung memenuhi ruang bawah tanah, membuat suhu ruangan anjlok ke titik beku dalam hitungan detik.Kukuh memejamkan mata, memanggil sebuah nama di dalam batinnya. (Mang Ujang...)WUSSSHHH!Hembusan angin puting beliung gaib tiba-tiba meledak di dalam ruang jagalan yang tertutup rapat. Lampu pijar berkedip liar hingga nyaris padam. Dari pusaran asap hitam pekat itu, sebuah siluet raksasa melangkah keluar.Sosok pria berbadan tegap mengenakan pakaian pangsi serba hitam khas jawara Pasundan berdiri menjulang. Aura buas dan haus darah memancar dari sepasang matanya yang menyala merah di dalam keremangan.Namun, yang membuat akal sehat semua orang di ruangan itu hancur berantakan adalah ketika entitas mengerikan tersebut melangkah mendekati Kukuh, lalu berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepalanya dalam-d
Udara di ruang bawah tanah mansion Cokro terasa sangat berat, amis, dan mencekik. Ruangan yang dikenal oleh para pekerja lama sebagai "Jagalan" ini hanya diterangi oleh beberapa lampu pijar temaram, memperlihatkan dinding-dinding beton yang menyimpan noda-noda gelap dari masa lalu klan Rajah Wangi.Di tengah ruangan tersebut, Mbok Yem duduk terikat erat di sebuah kursi kayu jati yang kokoh. Namun, tidak ada rontaan atau jeritan dari wanita paruh baya itu. Tubuhnya kaku layaknya seonggok batu. Matanya membelalak lebar, urat-urat di lehernya menonjol, dan mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada satu pun suara yang mampu keluar dari pita suaranya. Saraf gaibnya telah hangus terbakar oleh hantaman energi murni."Bicara, Yem! Siapa yang menyuruhmu menyusup ke rumah ini?!" bentak Adiwangsa dengan suara menggelegar. Tangannya menggebrak meja besi di depannya.Mbok Yem hanya bisa menggerakkan bola matanya dengan sorot penuh keputusasaan dan rasa sakit."Percuma, Mas! Dia sepertinya sengaja me
Di tengah kekacauan dan jeritan memilukan tersebut, Kukuh masih berdiri diam di posisinya. Wajahnya tetap sedatar pahatan batu. Namun, sepasang mata elangnya tiba-tiba memicing tajam, mengunci fokusnya pada sosok Mbok Yem yang sedang diseret paksa oleh pengawal.Darah murni Rajah Getih di dalam nadi Kukuh mendadak berdesir keras, mengirimkan sinyal bahaya yang sangat spesifik. Diam-diam, Kukuh menarik napas panjang. Ia memusatkan titik tenaga dalam dari pusat Dantian-nya, lalu mengalirkannya langsung ke saraf penglihatannya. Seketika, tabir ilusi dunia material di sekitarnya terkelupas.Di bawah pandangan spiritual tingkat tinggi itu, tangisan histeris Mbok Yem ternyata memancarkan anomali yang mengerikan. Wanita tua itu sama sekali tidak memancarkan aura ketakutan atau kesedihan. Sebaliknya, tepat di bagian tengkuk Mbok Yem yang tertutup rapat oleh kerah kebayanya, Kukuh melihat sebuah ukiran rajah gaib yang berdenyut layaknya jantung kedua.Rajah itu memancarkan aura kabut berwarna
Tatapan mata abu-abu Ratih menghunus tajam bak sembilu, mengunci pergerakan pemuda kurus berseragam pelayan di hadapannya. Udara di dalam ballroom yang mewah itu terasa menyusut, mencekik paru-paru Jodi yang kini berdiri dengan tubuh bergetar hebat.Tidak ada jalan keluar. Puluhan pasang mata dari para tamu undangan, kerabat, dan pengawal keluarga Aji Saka menatapnya dengan pandangan menghakimi."J-Jodi... saya..."Suara pemuda itu pecah. Pertahanan mentalnya hancur lebur di bawah tekanan wibawa sang pewaris Rajah Wangi. Lututnya tak lagi sanggup menopang berat badannya.Bruk!Jodi ambruk berlutut di atas karpet marmer yang tebal. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, air mata ketakutan langsung menderas membasahi wajahnya yang seputih kertas."Ampun, Non Ratih! Ampun, Nyonya Dian!" isak Jodi sejadi-jadinya, tubuhnya melengkung nyaris mencium ujung sepatu Ratih. "M-memang benar saya yang menyeduh wedang uwuh itu di dapur belakang... t-tapi sumpah demi Tuhan, saya tidak bermak
Setelah Nyonya Dian kembali bisa meraup oksigen dengan rakus dan rona wajahnya berangsur normal, Ratih menghembuskan napas lega. Namun, kelegaan itu hanya berumur hitungan detik. Sisa-sisa kepanikan di dada sang pewaris Rajah Wangi itu seketika mengkristal menjadi amarah yang mendidih.Gadis bermata abu-abu itu memutar tubuhnya. Ia menatap cangkir keramik yang sudah hancur berkeping-keping di atas karpet, lalu mengangkat wajahnya, menyapu seluruh tamu di area VVIP tersebut dengan tatapan sedingin pedang eksekusi."Siapa tadi yang memberikan minuman wedang uwuh ini kepada Mama saya?!"Suara Ratih menggelegar keras dan tajam, membelah hiruk-pikuk alunan musik klasik di ballroom tersebut. Otoritas mutlak dari seorang pewaris utama Aji Saka mendadak menekan udara di sekitar mereka.Seluruh ruangan itu seketika terdiam. Denting gelas champagne yang beradu terhenti. Para kerabat, konglomerat, dan tamu undangan saling pandang dengan raut wajah kebingungan bercampur tegang. Tidak ada satu pun
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura
Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber







