LOGINPagi itu, langit Jakarta masih kelabu.Kukuh berdiri di pelataran belakang RS Lohitajaya. Tas ransel di punggungnya. Kemeja kerja sudah diganti dengan kaos hitam dan jaket tebal. Perban di lengannya sudah diganti tadi subuh oleh Manager Pratiwi. Luka bakarnya belum sembuh. Tapi sudah tidak berdarah. Dan itu sudah cukup."Mas Kukuh."Manager Pratiwi muncul dari pintu belakang. Rambutnya diikat sederhana. Kemeja putihnya sudah diganti dengan kaos abu-abu dan jaket lapangan. Di tangannya, sebuah tablet dan dua botol air mineral."Semua sudah siap, Mas. Kyai Agus sudah mengirim koordinat pelabuhan. Kapal sudah menunggu di Merak. Dari sana, kita naik perahu kecil ke Anak Krakatau."Kukuh mengangguk. "Berapa lama perjalanan?""Empat jam sampai Merak. Dua jam lagi naik perahu. Total enam jam." Pratiwi menyerahkan satu botol air. "Mas harus minum. Dehidrasi bisa memperburuk luka bakar."Kukuh menerima botol itu. Menyesapnya. Dingin. Tawar. Tapi menyegarkan.Di belakang Pratiwi, Dokter Adhi me
"Aku harus menemukan Eyang Amerta."Kukuh mengucapkan kalimat itu sambil duduk di tepi tempat tidur Lantai 41. Kakinya belum menyentuh lantai. Perban masih membungkus lengan dan dadanya. Tapi matanya sudah jernih. Sudah fokus. Sudah memutuskan.Dokter Harsha yang berdiri di samping meja obat menoleh. "Kuh, kau baru sadar dua hari. Tubuhmu belum.....""Aku tahu, Dok." Kukuh memotong. Tidak kasar. Tapi final. "Tapi Bhanu tidak akan menunggu sampai tubuhku sembuh. Tiga puluh hari. Itu yang dia berikan. Dan setiap hari yang kugunakan untuk berbaring di sini adalah hari yang kuberikan padanya untuk mempersiapkan serangan berikutnya."Keheningan turun. Dokter Harsha tidak menjawab. Hanya menatap muridnya. Lama. Mencari sesuatu di balik mata Kukuh. Keraguan. Ketakutan. Tapi yang ia temukan hanya satu hal.Keputusan.Dari sudut ruangan, terdengar suara kursi yang berderit. Putri Puspa Sekar Kidung Dalu bangkit dari kursi kayu jatinya. Perlahan. Tulang-tulangnya berderak seperti ranting kering
"Mas Kukuh. Mas, dengar saya. Mas Kukuh."Suara Manager Pratiwi terdengar dari kejauhan. Seperti seseorang yang berteriak dari dasar sumur. Jauh. Samar. Tapi ada.Kukuh membuka matanya.Langit-langit Lantai 41. Lampu operasi yang redup. Dinding baja nirkarat. Bau antiseptik bercampur sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tajam. Lebih menyengat. Bau daging yang terbakar.Dan rasa sakitnya.Rasa sakitnya datang bersamaan dengan kesadaran. Seperti gelombang yang menghantam pantai. Tiba-tiba. Tanpa peringatan. Tanpa ampun.Kukuh mencoba menggerakkan tangannya. Tidak bisa. Mencoba menggerakkan kakinya. Tidak bisa. Mencoba menarik napas. Bisa. Tapi setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca."Jangan bergerak, Mas."Suara Manager Pratiwi lebih jelas sekarang. Lebih dekat. Dan di samping tempat tidur itu, Kukuh bisa melihat wajah Pratiwi. Pucat. Mata sembab. Tapi tangannya stabil. Tangan seorang profesional yang tidak boleh gemetar meskipun hatinya sudah hancur."Berapa..." Su
Api itu menghantam Kukuh seperti tembok.Bukan panas yang biasa. Bukan panas yang bisa ditahan dengan tenaga dalam atau diserap oleh liontin kamboja. Panas ini berbeda. Panas ini masuk ke dalam. Menembus kulit. Menembus daging. Menembus tulang. Seperti seseorang yang menuangkan magma langsung ke dalam nadinya.Kukuh terlempar. Punggungnya menghantam dinding koridor. Lantai marmer di bawah kakinya retak. Dan di dadanya, liontin kamboja berdenyut. Keras. Cepat. Seperti jantung yang berpacu melawan waktu."Bangun, Kukuh."Suara Bhanu terdengar dari balik tirai api. Datar. Tenang. Seperti seseorang yang berbicara pada lawan yang sudah tidak layak dilawan.Kukuh bangun. Lututnya gemetar. Kemeja kerjanya hangus di bagian dada. Kulit di balik kemeja itu merah. Bukan merah luka bakar biasa. Merah yang berdenyut. Merah yang bergerak. Seperti api Rajah Geni yang sudah mulai merambat di bawah kulitnya."Kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Kukuh. Suaranya serak. Tapi tidak pecah. "Kenapa rumah
Satu minggu yang terasa terlalu tenang untuk menjadi nyata.Dan Kukuh tahu. Ketenangan seperti ini tidak pernah bertahan lama."Mas Kukuh."Manager Pratiwi muncul di ambang pintu ruang perawat. Kemeja putihnya sudah digulung sampai siku. Tablet di tangannya menyala, menampilkan jadwal pasien Bangsal C."Pasien kamar 12 minta dipindah ke kamar 3. Katanya jendela kamar 12 terlalu silau."Kukuh mengangkat alis. "Silau? Ini rumah sakit, bukan hotel.""Saya tahu. Tapi Pak Suryadi itu keras kepala. Kalau tidak dipindah, dia tidak mau minum obat." Manager Pratiwi menghela napas. "Saya sudah coba bicara tiga kali. Tetap tidak mau.""Ya sudah. Pindahkan. Tapi bilang sama dia kalau kamar 3 itu dekat ruang isolasi. Kalau ada bunyi-bunyi aneh malam-malam, jangan kaget."Manager Pratiwi tersenyum. Kecil. Tulus. "Siap, Mas."Pratiwi berbalik. Melangkah menuju Bangsal C. Dan Kukuh menatap punggungnya sejenak. Menggeleng pelan. Lalu kembali ke meja kerjanya.Di luar jendela, langit Jakarta siang itu
"Mas Kukuh."Suara itu terdengar dari ambang pintu Lantai 41. Pelan. Ragu. Seperti seseorang yang sudah berdiri di sana selama beberapa detik sebelum akhirnya memutuskan untuk bersuara.Kukuh menoleh dari meja kerja Dokter Harsha. Dan di ambang pintu itu, berdiri seorang perempuan muda.Rambutnya diikat sederhana. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Ada noda tinta di jari-jarinya. Dan di matanya, ada sesuatu yang familiar. Sesuatu yang sudah lama tidak Kukuh lihat tapi tidak pernah benar-benar ia lupakan.Pratiwi Dwarawati Rakti."Manager Pratiwi," ucap Kukuh. Nama itu keluar dari mulutnya dengan sebutan yang sudah melekat sejak pertama kali mereka bertemu. Formal. Profesional. Tapi ada sesuatu di balik dua kata itu yang tidak bisa disembunyikan. Sesuatu yang mirip dengan rasa hormat yang sudah lama tersimpan.Pratiwi tersenyum. Kecil. Ragu. "Mas masih memanggil saya seperti itu.""Susah lupa sama orang yang pernah nolongin Bapak saya waktu nggak ada orang lain yang mau nolong."Sen
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura







