共有

BAB 6 *RUMAH YANG HANGAT*

作者: Hazel Eyes
last update 公開日: 2026-09-30 21:35:16

Sepanjang perjalanan menuju rumah ini, cowok itu nyaris tidak menjelaskan apapun. Sedangkan ia yang masih merasa bersalah karena insiden muntah tadi memilih untuk tidak banyak bertanya.

Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Azel sedikit tersentak lalu melihat nama Vayla muncul di layar.

“Maaf, Ma… aku angkat telepon sebentar ya.”

Bu Metri mengangguk pelan.

Begitu sampai halaman teras, gadis itu mengangkat panggilannya.

“Azel, lo kemana aja sih?!” suara Vayla langsung menggelegar dari seberang sana. “Ditelepon dari tadi nggak ngangkat-ngangkat. Gue sama Kaivan bingung nyariin lo. Pas keluar club mobil lo udah nggak ada!”

Azel menghela napas kecil.

“Iya, sorry Va…” gumamnya pelan. “Lo tadi liat kan gue ada insiden muntah. Besok gue ceritain ya.”

Sebelum Vayla sempat menginterogasi, gadis itu buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah.

Dan kini Bastian sudah Kembali duduk di sofa samping ibunya dengan kaos hitam dan rambut yang sedikit basah sehabis membersihkan diri. Cowok itu sedang memakan cheesecake dengan suapan besar dan mengunyahnya tergesa-gesa.

“Bas, pelan-pelan makannya,” tegur Bu Metri lembut. “Nanti kesedak loh. Jatah kamu udah ya, sisanya buat Belva.”

Cowok itu hanya terkekeh kecil. Sementara Bu Metri langsung menoleh ke  arah Azel dan mengulurkan sepiring cheesecake kecil.

“Nak, ini Mama udah potongin buat kamu. Coba dicicip enak nggak.”

Azel membenarkan posisi duduknya lalu menerima piring itu dengan senyum kecil. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, matanya refleks membesar.

Hangat dan manisnya pas. Dan entah kenapa rasa sederhana itu mampu membuat dadanya ikut menghangat.

“Ini enak banget, Ma…” ucap gadis itu dengan mata berbinar. “Belva suka banget.”

Kalimat itu sukses membuat Bu Metri tersenyum haru.

“Mama senang kamu suka, sayang,” ujarnya sambil mengelus rambut gadis itu lembut. “Habisin yaa.”

Sentuhan kecil itu membuat hati Azel bergetar. Sesederhana dielus seperti ini saja sudah cukup membuatnya merasa begitu disayangi. Meski, bukan sebagai dirinya sendiri.

Di sisi lain, Bastian diam-diam memperhatikan semuanya. Tatapannya tertuju pada gadis itu yang kini terlihat jauh lebih hidup dibanding saat di club tadi. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama rumah itu Kembali terasa hangat baginya.

“Ma.. bentar lagi Belva harus pulang ya.” Nada suaranya pelan, seolah ia takut memilih kata.

Bu Metri yang sedari tadi memperhatikan Azel makan langsung menoleh kea rah putranya.

“Pulang kemana, Bas?” tanyanya bingung. “Rumah Belva kan di sini.”

Bastian terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya menjawab lagi dengan sabar.

“Maksud Bastian…” cowok itu menghela napas pelan. “Belva harus balik ke kosannya lagi.”

Tatapan Bu Metri perlahan berubah kosong.

“Belva kan sekarang udah kuliah di luar kota, Ma,” lanjut Bastian lembut.

Dan detik itu juga senyum di wajah Bu Metri perlahan memudar. Sorot matanya yang tadi hangat mulai meredup.

“Tapi Mama masih kangen sama Belva…” lirihnya pelan sambil menunduk lesu. “Tiga hari lagi juga mama ulang tahun lho..”

Suasana ruang tamu mendadak berubah sendu. Azel yang sejak tadi memakan cheesecake-nya mendadak kehilangan selera. Suapan di mulutnya bahkan terasa sulit ditelan saat melihat raut kecewa di wajah Wanita itu.

Dadanya terasa sesak oleh rasa iba yang aneh. Padahal mereka baru bertemu mala mini.

Namun entah kenapa, gadis itu tidak tega melihat Bu Metri sesedih itu.

“Jangan sedih ya, Ma..” ucapnya pelan.

Tangannya perlahan meraih tangan Bu Metri lalu mengusapnya lembut.

“Belva nggak suka liat Mama sedih.”

Wanita itu langsung menatap Azel lagi dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu, Bastian hanya diam memperhatikan interaksi mereka.

Dan entah kenapa dalam benak gadis itu, ia merasa tidak ingin kehangatan di rumah ini cepat berakhir.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seperti sedang berada di tempat yang benar-benar menginginkan keberadaanya.

            “Yaudah ma. Aku anterin Belva dulu yaa.”

            Bastian berdiri dari sofa sambil menatap Azel sekilas. Tatapan itu seolah mengatakan satu hal, ini waktunya pergi.

Cowok itu lalu menyalami tangan ibunya dengan lembut. Namun Bu Metri seketika panik.

“Tunggu, Bas! Mama masih mau—”

Kalimatnya terpotong saat Bastian tiba-tiba memanggil seseorang dengan nada sedikit lebih keras dari sebelumnya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 9 *NEED HELP?*

    “Teleportasi kemana lo semalem?”Vayla langsung menyerang begitu Azel baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kelas. Pagi itu suasana kelas masih cukup bising karena dosen pengantar ekonomi mereka belum datang. Beberapa mahasiswa masih sibuk bergosip, tik-tokan heboh, bahkan ada yang mukbang berjamaah. Termasuk Vayla. Gadis itu sedang sibuk melahap kebabnya dengan kondisi yang berantakan. Sayur yang berceceran di sekitar jemarinya dan saus di sekitar bibirnya.Sementara Azel, jauh lebih mengenaskan. Matanya setengah tertutup. Kepalanya nyaris jatuh karena menahan kantuk.“Ke rumah cowok itu…” gumam gadis itu lirih sambil menopang dagunya. “Cowok yang gue muntahin.”Vayla seketika berhenti mengunyah.“OMG?! Serius lo?”Matanya membulat heboh. Ia buru-buru menggeser kursinya mendekat mengikis jarak diantara mereka. “Terus-terus ngapain aja lo di rumahnya?”Namun sebelum Azel menjawab, suara heels terdengar memasuki kelas. Bu Leni dosen pengantar ekonomi yang terk

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 8 *TERIMA MISI BERBAYAR*

    “Dari mana aja kamu?” Suara Miranda langsung menggema begitu Azel baru saja masuk pintu utama rumahnya. Wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang tengah mengenakan bathrobe berwarna putih dengan rambut basah yang terurai di bahunya. Secangkir the hangat masih berada di tangannya, asapnya masih mengepul di udara. Tatapannya langsung tertuju tajam pada gadis itu. Penampilan gadis itu terlihat berantakan, sementara di tangannya tergenggam sebuah paper bag kecil berwarna coklat. Gadis itu memilih diam. Ia bahkan tidak menatap ibunya sama sekali dan langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Namun sikap itu justru membuat emosi Miranda langsung memuncak. “Heh!” Langkah Azel terhenti saat Wanita itu berdiri lalu menghampirinya cepat. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Rasanya, ia terlalu Lelah menghadapi semua ini lagi malam ini. “Saya nanya kamu habis dari mana!” Nada suara

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 7 *SEBUAH PENAWARAN*

    “Sus Anna!”Suasana langsung hening sesaat.“Tolong bawa Mama istirahat ya. Udah malem.”Nada bicara cowok itu terdengar tegas, nyaris seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. Tak lama kemudian Suster Anna datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.“Ayo Bu,” ujarnya lembut sambil merangkul pelan tubuh Bu Metri. “Udah jam 11 malam. Sekarang waktunya istirahat.”Bu Metri tampak masih ingin menahan Azel tinggal lebih lama, tetapi tubuhnya sudah terlalu Lelah untuk melawan. Wanita itu akhirnya menurut dibawa masuk ke dalam kamar. Dan entah kenapa, tatapan sedih Bu Metri sebelum pergi membuat hati gadis itu tidak nyaman.Beberapa menit kemudian, Azel dan Bastian berjalan menuju garasi rumah. Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Gadis itu mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Bastian lebih dulu angkat suara.“Tolong izinin gue anterin lo pulang.”Azel menoleh. Tatapan cowok itu kali ini terasa berbeda.Tidak terdengar intimidatif

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 6 *RUMAH YANG HANGAT*

    Sepanjang perjalanan menuju rumah ini, cowok itu nyaris tidak menjelaskan apapun. Sedangkan ia yang masih merasa bersalah karena insiden muntah tadi memilih untuk tidak banyak bertanya.Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Azel sedikit tersentak lalu melihat nama Vayla muncul di layar.“Maaf, Ma… aku angkat telepon sebentar ya.”Bu Metri mengangguk pelan.Begitu sampai halaman teras, gadis itu mengangkat panggilannya.“Azel, lo kemana aja sih?!” suara Vayla langsung menggelegar dari seberang sana. “Ditelepon dari tadi nggak ngangkat-ngangkat. Gue sama Kaivan bingung nyariin lo. Pas keluar club mobil lo udah nggak ada!”Azel menghela napas kecil.“Iya, sorry Va…” gumamnya pelan. “Lo tadi liat kan gue ada insiden muntah. Besok gue ceritain ya.”Sebelum Vayla sempat menginterogasi, gadis itu buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah.Dan kini Bastian sudah Kembali duduk di sofa samping ibunya dengan kaos hitam dan rambut yang s

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 5 *BELVA?*

    “Belva..?” Suara Bu Metri bergetar saat membuka pintu rumah. Kedua matanya langsung berbinar begitu melihat Azel berdiri di teras Bersama Bastian. “Ya Tuhan… kamu kemana aja, Nak?” Wanita itu buru-buru menghampiri Azel lalu menggenggam kedua lengannya erat seolah takut gadis itu menghilang lagi. “Mama kangen banget sama kamu, sayang..” Azel langsung membeku. Ia sempat melirik Bastian panik, meminta jawaban tanpa suara—apa dirinya benar-benar harus bersandiwara seperti ini? Namun Bastian hanya mengangguk pelan. Tatapannya seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski entah kenapa, itu justru membuat dada gadis itu terasa semakin tidak nyaman. Dengan canggung, ia akhirnya membalas genggaman Bu Metri. “Belva juga kangen sama Mama..” Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Dan detik berikutnya, wajah Bu Metri langsung berubah penuh haru. Wanita itu memeluk Azel erat tanpa ragu.Sementara itu gadis itu

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 4 *COWOK SWEATER PUTIH*

    “Lo liat cowok yang pake sweater putih itu nggak? Yang gerakannya chill banget.” Azel mengikuti arah telunjuk Vayla. Seorang cowok terlihat cukup mencolok di tengah keramaian. Sweater putihnya kontras dengan lampu neon yang berkedip-kedip, sementara ekspresinya terlihat datar dan dingin dibanding orang-orang di sekitarnya. “Iya gue liat, terus?” “Samperin dia,” ujar Vayla cepat. “Lo ajak kenalan.” Kaivan langsung tertawa kecil karena yakin Azel bakal nolak mentah-mentah. Namun ternyata dugaan mereka salah. “Itu doang?” Azel menyeringai lebar. “Kecil.” Vayla dan Kaivan langsung saling pandang kaget. Rasanya ia menemukan kepribadian Azel yang baru dan lebih nekat lewat alcohol malam ini. Tanpa pikir Panjang, Azel langsung bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri cowok bersweater putih itu. Langkahnya sedikit gontai akibat efek alcohol yang kuat. Bahkan pinggulnya sempat terbentur sudut

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status