Teilen

BAB 7 *SEBUAH PENAWARAN*

last update Veröffentlichungsdatum: 30.09.2026 21:42:27

“Sus Anna!”

Suasana langsung hening sesaat.

“Tolong bawa Mama istirahat ya. Udah malem.”

Nada bicara cowok itu terdengar tegas, nyaris seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. Tak lama kemudian Suster Anna datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

“Ayo Bu,” ujarnya lembut sambil merangkul pelan tubuh Bu Metri. “Udah jam 11 malam. Sekarang waktunya istirahat.”

Bu Metri tampak masih ingin menahan Azel tinggal lebih lama, tetapi tubuhnya sudah terlalu Lelah untuk melawan. Wanita itu akhirnya menurut dibawa masuk ke dalam kamar. Dan entah kenapa, tatapan sedih Bu Metri sebelum pergi membuat hati gadis itu tidak nyaman.

Beberapa menit kemudian, Azel dan Bastian berjalan menuju garasi rumah. Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Gadis itu mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.

Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Bastian lebih dulu angkat suara.

“Tolong izinin gue anterin lo pulang.”

Azel menoleh. Tatapan cowok itu kali ini terasa berbeda.

Tidak terdengar intimidatif seperti sebelumnya.

Justru terdengar tulus.

“Sebelumnya, thanks ya.” Lanjut cowok itu pelan.

Azel hanya tersenyum tipis.

“Eh, tapi gue bisa pulang sendiri kok,” ujarnya santai. “Berarti kita udah win-win solution ya.”

Bastian mengangguk kecil. Namun matanya belum juga lepas dari gadis itu.

Seolah ada sesuatu yang masih ingin ia sampaikan.

“Gue masih mau lo pura-pura jadi adek gue.”

Kalimat itu sukses membuat Gerakan Azel yang sudah membuka pintu mobil terhenti.

Cowok itu menatap lurus. “Setidaknya sampe nyokap gue sembuh.”

            Suara cowok itu terdengar hati-hati. Nyaris seperti seseorang yang takut ditolak.

            “Gue bakal bayar waktu lo buat hal ini.”

            Azel langsung menoleh. Raut wajahnya kebingungan. Otaknya masih mencoba mencerna semua ucapan itu. Di pikirannya permintaan itu terdengar aneh dan juga konyol.

            Bagaimana bisa ia harus terus bersandiwara menjadi Belva?

            Namun sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba Suster Anna Kembali datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri mereka sambil membawa paper bag kecil.

            “Non..” ujar Wanita itu sedikit terengah. “Kata Bu Metri, ini cheesecake buat Non.”

            Mata Azel langsung membulat sempurna. Ia benar-benar tidak menyangka Bu Metri sampai mengingat dirinya sebegitunya. Dan hal kecil itu membuat dadanya terasa hangat.

            “Oh..iya makasih ya, Mbak,” ucap Azel tulus sambil menerima paper bag-nya.

            Senyumnya mengembang. Namun setelah itu, matanya Kembali beralih pada Bastian.

            Cowok itu masih menunggu jawabannya.

            Dan entah kenapa, tatapan Bastian membuat Azel seperti sulit untuk menolaknya.

            “Sebelum lo jawab lo boleh pikirin dulu,” ujar Bastian pelan tapi meyakinkan.

            Cowok itu lalu mengeluarkan secarik kertas kecil dan menyerahkannya pada Azel.

            “Ini nomer gue.”

            Azel menerimanya perlahan. Ia menatap secarik kertas itu beberapa detik. Entah kenapa, hanya sebuah nomor telepon mampu membuat pikirannya kembali berisik. Ia kemudian melipat kertas tersebut dan menyimpannya hati-hati ke dalam tas, sebelum kembali menatap Bastian yang masih berdiri di hadapannya.

            Beberapa detik kemudian, tanpa banyak bicara, gadis itu justru menyerahkan kunci mobilnya pada Bastian.

“Lo boleh anterin gue,” ujarnya santai. “Lagipula motor lo masih di Club kan? Rumah gue nggak jauh dari situ lo bisa naik ojol.”

Bastian menatap kunci mobil di tangannya sesaat sebelum akhirnya tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum itu terlihat penuh arti. Seolah ia baru saja mendapatkan secercah harapan yang selama ini hilang dari hidupnya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 9 *NEED HELP?*

    “Teleportasi kemana lo semalem?”Vayla langsung menyerang begitu Azel baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kelas. Pagi itu suasana kelas masih cukup bising karena dosen pengantar ekonomi mereka belum datang. Beberapa mahasiswa masih sibuk bergosip, tik-tokan heboh, bahkan ada yang mukbang berjamaah. Termasuk Vayla. Gadis itu sedang sibuk melahap kebabnya dengan kondisi yang berantakan. Sayur yang berceceran di sekitar jemarinya dan saus di sekitar bibirnya.Sementara Azel, jauh lebih mengenaskan. Matanya setengah tertutup. Kepalanya nyaris jatuh karena menahan kantuk.“Ke rumah cowok itu…” gumam gadis itu lirih sambil menopang dagunya. “Cowok yang gue muntahin.”Vayla seketika berhenti mengunyah.“OMG?! Serius lo?”Matanya membulat heboh. Ia buru-buru menggeser kursinya mendekat mengikis jarak diantara mereka. “Terus-terus ngapain aja lo di rumahnya?”Namun sebelum Azel menjawab, suara heels terdengar memasuki kelas. Bu Leni dosen pengantar ekonomi yang terk

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 8 *TERIMA MISI BERBAYAR*

    “Dari mana aja kamu?” Suara Miranda langsung menggema begitu Azel baru saja masuk pintu utama rumahnya. Wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang tengah mengenakan bathrobe berwarna putih dengan rambut basah yang terurai di bahunya. Secangkir the hangat masih berada di tangannya, asapnya masih mengepul di udara. Tatapannya langsung tertuju tajam pada gadis itu. Penampilan gadis itu terlihat berantakan, sementara di tangannya tergenggam sebuah paper bag kecil berwarna coklat. Gadis itu memilih diam. Ia bahkan tidak menatap ibunya sama sekali dan langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Namun sikap itu justru membuat emosi Miranda langsung memuncak. “Heh!” Langkah Azel terhenti saat Wanita itu berdiri lalu menghampirinya cepat. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Rasanya, ia terlalu Lelah menghadapi semua ini lagi malam ini. “Saya nanya kamu habis dari mana!” Nada suara

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 7 *SEBUAH PENAWARAN*

    “Sus Anna!”Suasana langsung hening sesaat.“Tolong bawa Mama istirahat ya. Udah malem.”Nada bicara cowok itu terdengar tegas, nyaris seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. Tak lama kemudian Suster Anna datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.“Ayo Bu,” ujarnya lembut sambil merangkul pelan tubuh Bu Metri. “Udah jam 11 malam. Sekarang waktunya istirahat.”Bu Metri tampak masih ingin menahan Azel tinggal lebih lama, tetapi tubuhnya sudah terlalu Lelah untuk melawan. Wanita itu akhirnya menurut dibawa masuk ke dalam kamar. Dan entah kenapa, tatapan sedih Bu Metri sebelum pergi membuat hati gadis itu tidak nyaman.Beberapa menit kemudian, Azel dan Bastian berjalan menuju garasi rumah. Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Gadis itu mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Bastian lebih dulu angkat suara.“Tolong izinin gue anterin lo pulang.”Azel menoleh. Tatapan cowok itu kali ini terasa berbeda.Tidak terdengar intimidatif

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 6 *RUMAH YANG HANGAT*

    Sepanjang perjalanan menuju rumah ini, cowok itu nyaris tidak menjelaskan apapun. Sedangkan ia yang masih merasa bersalah karena insiden muntah tadi memilih untuk tidak banyak bertanya.Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Azel sedikit tersentak lalu melihat nama Vayla muncul di layar.“Maaf, Ma… aku angkat telepon sebentar ya.”Bu Metri mengangguk pelan.Begitu sampai halaman teras, gadis itu mengangkat panggilannya.“Azel, lo kemana aja sih?!” suara Vayla langsung menggelegar dari seberang sana. “Ditelepon dari tadi nggak ngangkat-ngangkat. Gue sama Kaivan bingung nyariin lo. Pas keluar club mobil lo udah nggak ada!”Azel menghela napas kecil.“Iya, sorry Va…” gumamnya pelan. “Lo tadi liat kan gue ada insiden muntah. Besok gue ceritain ya.”Sebelum Vayla sempat menginterogasi, gadis itu buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah.Dan kini Bastian sudah Kembali duduk di sofa samping ibunya dengan kaos hitam dan rambut yang s

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 5 *BELVA?*

    “Belva..?” Suara Bu Metri bergetar saat membuka pintu rumah. Kedua matanya langsung berbinar begitu melihat Azel berdiri di teras Bersama Bastian. “Ya Tuhan… kamu kemana aja, Nak?” Wanita itu buru-buru menghampiri Azel lalu menggenggam kedua lengannya erat seolah takut gadis itu menghilang lagi. “Mama kangen banget sama kamu, sayang..” Azel langsung membeku. Ia sempat melirik Bastian panik, meminta jawaban tanpa suara—apa dirinya benar-benar harus bersandiwara seperti ini? Namun Bastian hanya mengangguk pelan. Tatapannya seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski entah kenapa, itu justru membuat dada gadis itu terasa semakin tidak nyaman. Dengan canggung, ia akhirnya membalas genggaman Bu Metri. “Belva juga kangen sama Mama..” Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Dan detik berikutnya, wajah Bu Metri langsung berubah penuh haru. Wanita itu memeluk Azel erat tanpa ragu.Sementara itu gadis itu

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 4 *COWOK SWEATER PUTIH*

    “Lo liat cowok yang pake sweater putih itu nggak? Yang gerakannya chill banget.” Azel mengikuti arah telunjuk Vayla. Seorang cowok terlihat cukup mencolok di tengah keramaian. Sweater putihnya kontras dengan lampu neon yang berkedip-kedip, sementara ekspresinya terlihat datar dan dingin dibanding orang-orang di sekitarnya. “Iya gue liat, terus?” “Samperin dia,” ujar Vayla cepat. “Lo ajak kenalan.” Kaivan langsung tertawa kecil karena yakin Azel bakal nolak mentah-mentah. Namun ternyata dugaan mereka salah. “Itu doang?” Azel menyeringai lebar. “Kecil.” Vayla dan Kaivan langsung saling pandang kaget. Rasanya ia menemukan kepribadian Azel yang baru dan lebih nekat lewat alcohol malam ini. Tanpa pikir Panjang, Azel langsung bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri cowok bersweater putih itu. Langkahnya sedikit gontai akibat efek alcohol yang kuat. Bahkan pinggulnya sempat terbentur sudut

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status