共有

BAB 5 *BELVA?*

作者: Hazel Eyes
last update 公開日: 2026-09-30 21:27:08

“Belva..?”

            Suara Bu Metri bergetar saat membuka pintu rumah. Kedua matanya langsung berbinar begitu melihat Azel berdiri di teras Bersama Bastian.

            “Ya Tuhan… kamu kemana aja, Nak?” Wanita itu buru-buru menghampiri Azel lalu menggenggam kedua lengannya erat seolah takut gadis itu menghilang lagi. “Mama kangen banget sama kamu, sayang..”

            Azel langsung membeku. Ia sempat melirik Bastian panik, meminta jawaban tanpa suara—apa dirinya benar-benar harus bersandiwara seperti ini?

            Namun Bastian hanya mengangguk pelan. Tatapannya seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski entah kenapa, itu justru membuat dada gadis itu terasa semakin tidak nyaman. Dengan canggung, ia akhirnya membalas genggaman Bu Metri.

            “Belva juga kangen sama Mama..”

            Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Dan detik berikutnya, wajah Bu Metri langsung berubah penuh haru. Wanita itu memeluk Azel erat tanpa ragu.

Sementara itu gadis itu hanya diam di tempat. Tubuhnya kaku. Namun di saat yang sama, dadanya terasa aneh. Dari cara Bu Metri menatapnya, Ia bisa melihat dengan jelas betapa besar rasa sayang wanita itu terhadap putri bungsunya

Belva. Nama itu terasa begitu dicintai di rumah ini. Dan tanpa sadar hati Azel mulai membandingkan semuanya dengan hidupnya sendiri.

Takk ada tatapan penuh rindu seperti itu di rumahnya.

Tak ada pelukan hangat.

Takk ada seseorang yang menyambut kepulangannya dengan rasa takut kehilangan.

Yang ada hanya bentakan, hinaan, dan tatapan yang perlahan menghancurkan dirinya sedikit demi sedikit.

Pikiran itu membuat dada Azel terkoyak menciptakan rasa sesak di rongganya. Dan untuk pertama kalinya pada malam itu, ia iri pada sosok perempuan bernama Belva.

“Ayo masuk Nak,” ujar Bu Metri lembut sambil menggiring Azel masuk ke dalam rumah. “Mama tadi bikin kue kesukaan kamu. Biasanya kan kamu yang bantuin, sayang.”

Gadis itu dipersilakan duduk di sofa ruang tamu yang terasa hangat dan nyaman. Berbeda jauh dari suasana rumahnya sendiri yang selalu terasa menyesakkan.

Namun sebelum Azel sempat menjawab, Bastian lebih dulu angkat bicara. Cowok itu duduk di samping ibunya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.

“Mama…” ujarnya pelan. “Kan Bastian udah bilang Mama istirahat aja. Nanti capek lho, malah bikin-bikin kue segala.”

Nada suaranya terdengar tulus. Tidak dingin dan tidak mengintimidasi seperti saat pertama mereka bertemu tadi. Dan anehnya, itu membuat Azel merasa bahwa mungkin dirinya memang salah menilai Bastian sejak awal.

“Mama kan tiga hari lagi ulang tahun Bas,” jawab Bu Metri santai. “Nggak ada salahnya dong Mama iseng-iseng bikin kue.”

Wanita itu lalu memberi kode pada asisten rumah tangganya untuk mengambil cheesecake dari dapur.

“Lagipula sekarang ada Belva,” lanjutnya sambil terkekeh kecil. Jemarinya mencolek ujung hidung Azel hangat seperti seorang ibu pada anaknya sendiri. “Kuenya ngga bakal mubadzir karena pasti langsung lahap dimakannya.”

Gadis itu tersenyum kikuk.

“Makasih ya, Ma..”

Kalimat itu Kembali keluar begitu saja dari bibirnya. Dan entah kenapa, panggilan sederhana itu terasa asing sekaligus hangat di saat bersamaan.

Di sisi lain, Bastian hanya diam memperhatikan Azel dan ibunya secara bergantian. Tatapan matanya perlahan melunak.

Sudah lama rumah itu terasa dingin sejak kepergian Belva.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Bastian Kembali melihat ibunya tersenyum setulus itu. Dan semua itu terjadi sejak kehadiran gadis itu masuk ke dalam rumah mereka.

“Yaudah, Bastian ganti baju dulu ya, Ma. Lanjutin aja kalian ngobrolnya.”

Suara cowok itu terdengar jauh lebih lembut dibanding saat pertama Azel bertemu dengannya malam ini. Ia kemudian meneguk habis air putih di gelasnya lalu beranjak meninggalkan ruang tamu menuju lantai atas.

Tak lama setelah itu, seorang Wanita paruh baya masuk membawa Loyang cheesecake dan beberapa piring kecil.

“Ini kuenya, Bu,” ujarnya ramah sambil meletakkannya di meja.

“Makasih yaa Sus,” balas Bu Metri.

Wanita itu mulai memotong cheesecake nya dengan hati-hati.

“Mama potongin ya, Nak,” ucapnya lembut pada Azel. “Semoga rasanya masih sama kayak waktu kamu bantuin Mama bikin dulu.”

Gadis itu hanya mengangguk kecil sambil tersenyum. Sementara itu, matanya diam-diam mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Ada banyak bingkai foto terpajang di sudut ruangan.

Foto seorang gadis kecil Bersama Bu Metri.

Foto Bastian yang merangkul gadis itu.

Foto keluarga kecil mereka yang terlihat sangat Bahagia.

Dan Azel mengatakan lewat instingnya bahwa gadis di semua foto itu pasti Belva. Entah kenapa dadanya terasa sesak melihatnya. Untuk sesaat ia membayangkan betapa hangatnya rumah ini dulu saat Belva masih ada.

Tawa mereka dan kebersamaan mereka. Kasih sayang yang terasa begitu nyata di setiap sudut rumah. Sangat berbeda dengan rumahnya sendiri yang bahkan terasa dingin dan tak bernyawa.

Namun di sisi lain, pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan. Kalau Belva memang ada...

Kenapa dari tadi gadis itu tidak muncul?

Dan sebenarnya, apa maksud Bastian memintanya berpura-pura menjadi adiknya?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 9 *NEED HELP?*

    “Teleportasi kemana lo semalem?”Vayla langsung menyerang begitu Azel baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kelas. Pagi itu suasana kelas masih cukup bising karena dosen pengantar ekonomi mereka belum datang. Beberapa mahasiswa masih sibuk bergosip, tik-tokan heboh, bahkan ada yang mukbang berjamaah. Termasuk Vayla. Gadis itu sedang sibuk melahap kebabnya dengan kondisi yang berantakan. Sayur yang berceceran di sekitar jemarinya dan saus di sekitar bibirnya.Sementara Azel, jauh lebih mengenaskan. Matanya setengah tertutup. Kepalanya nyaris jatuh karena menahan kantuk.“Ke rumah cowok itu…” gumam gadis itu lirih sambil menopang dagunya. “Cowok yang gue muntahin.”Vayla seketika berhenti mengunyah.“OMG?! Serius lo?”Matanya membulat heboh. Ia buru-buru menggeser kursinya mendekat mengikis jarak diantara mereka. “Terus-terus ngapain aja lo di rumahnya?”Namun sebelum Azel menjawab, suara heels terdengar memasuki kelas. Bu Leni dosen pengantar ekonomi yang terk

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 8 *TERIMA MISI BERBAYAR*

    “Dari mana aja kamu?” Suara Miranda langsung menggema begitu Azel baru saja masuk pintu utama rumahnya. Wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang tengah mengenakan bathrobe berwarna putih dengan rambut basah yang terurai di bahunya. Secangkir the hangat masih berada di tangannya, asapnya masih mengepul di udara. Tatapannya langsung tertuju tajam pada gadis itu. Penampilan gadis itu terlihat berantakan, sementara di tangannya tergenggam sebuah paper bag kecil berwarna coklat. Gadis itu memilih diam. Ia bahkan tidak menatap ibunya sama sekali dan langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Namun sikap itu justru membuat emosi Miranda langsung memuncak. “Heh!” Langkah Azel terhenti saat Wanita itu berdiri lalu menghampirinya cepat. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Rasanya, ia terlalu Lelah menghadapi semua ini lagi malam ini. “Saya nanya kamu habis dari mana!” Nada suara

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 7 *SEBUAH PENAWARAN*

    “Sus Anna!”Suasana langsung hening sesaat.“Tolong bawa Mama istirahat ya. Udah malem.”Nada bicara cowok itu terdengar tegas, nyaris seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. Tak lama kemudian Suster Anna datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.“Ayo Bu,” ujarnya lembut sambil merangkul pelan tubuh Bu Metri. “Udah jam 11 malam. Sekarang waktunya istirahat.”Bu Metri tampak masih ingin menahan Azel tinggal lebih lama, tetapi tubuhnya sudah terlalu Lelah untuk melawan. Wanita itu akhirnya menurut dibawa masuk ke dalam kamar. Dan entah kenapa, tatapan sedih Bu Metri sebelum pergi membuat hati gadis itu tidak nyaman.Beberapa menit kemudian, Azel dan Bastian berjalan menuju garasi rumah. Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Gadis itu mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Bastian lebih dulu angkat suara.“Tolong izinin gue anterin lo pulang.”Azel menoleh. Tatapan cowok itu kali ini terasa berbeda.Tidak terdengar intimidatif

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 6 *RUMAH YANG HANGAT*

    Sepanjang perjalanan menuju rumah ini, cowok itu nyaris tidak menjelaskan apapun. Sedangkan ia yang masih merasa bersalah karena insiden muntah tadi memilih untuk tidak banyak bertanya.Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Azel sedikit tersentak lalu melihat nama Vayla muncul di layar.“Maaf, Ma… aku angkat telepon sebentar ya.”Bu Metri mengangguk pelan.Begitu sampai halaman teras, gadis itu mengangkat panggilannya.“Azel, lo kemana aja sih?!” suara Vayla langsung menggelegar dari seberang sana. “Ditelepon dari tadi nggak ngangkat-ngangkat. Gue sama Kaivan bingung nyariin lo. Pas keluar club mobil lo udah nggak ada!”Azel menghela napas kecil.“Iya, sorry Va…” gumamnya pelan. “Lo tadi liat kan gue ada insiden muntah. Besok gue ceritain ya.”Sebelum Vayla sempat menginterogasi, gadis itu buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah.Dan kini Bastian sudah Kembali duduk di sofa samping ibunya dengan kaos hitam dan rambut yang s

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 5 *BELVA?*

    “Belva..?” Suara Bu Metri bergetar saat membuka pintu rumah. Kedua matanya langsung berbinar begitu melihat Azel berdiri di teras Bersama Bastian. “Ya Tuhan… kamu kemana aja, Nak?” Wanita itu buru-buru menghampiri Azel lalu menggenggam kedua lengannya erat seolah takut gadis itu menghilang lagi. “Mama kangen banget sama kamu, sayang..” Azel langsung membeku. Ia sempat melirik Bastian panik, meminta jawaban tanpa suara—apa dirinya benar-benar harus bersandiwara seperti ini? Namun Bastian hanya mengangguk pelan. Tatapannya seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski entah kenapa, itu justru membuat dada gadis itu terasa semakin tidak nyaman. Dengan canggung, ia akhirnya membalas genggaman Bu Metri. “Belva juga kangen sama Mama..” Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Dan detik berikutnya, wajah Bu Metri langsung berubah penuh haru. Wanita itu memeluk Azel erat tanpa ragu.Sementara itu gadis itu

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 4 *COWOK SWEATER PUTIH*

    “Lo liat cowok yang pake sweater putih itu nggak? Yang gerakannya chill banget.” Azel mengikuti arah telunjuk Vayla. Seorang cowok terlihat cukup mencolok di tengah keramaian. Sweater putihnya kontras dengan lampu neon yang berkedip-kedip, sementara ekspresinya terlihat datar dan dingin dibanding orang-orang di sekitarnya. “Iya gue liat, terus?” “Samperin dia,” ujar Vayla cepat. “Lo ajak kenalan.” Kaivan langsung tertawa kecil karena yakin Azel bakal nolak mentah-mentah. Namun ternyata dugaan mereka salah. “Itu doang?” Azel menyeringai lebar. “Kecil.” Vayla dan Kaivan langsung saling pandang kaget. Rasanya ia menemukan kepribadian Azel yang baru dan lebih nekat lewat alcohol malam ini. Tanpa pikir Panjang, Azel langsung bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri cowok bersweater putih itu. Langkahnya sedikit gontai akibat efek alcohol yang kuat. Bahkan pinggulnya sempat terbentur sudut

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status