共有

BAB 8 *TERIMA MISI BERBAYAR*

作者: Hazel Eyes
last update 公開日: 2026-09-30 21:47:18

“Dari mana aja kamu?”

            Suara Miranda langsung menggema begitu Azel baru saja masuk pintu utama rumahnya. Wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang tengah mengenakan bathrobe berwarna putih dengan rambut basah yang terurai di bahunya. Secangkir the hangat masih berada di tangannya, asapnya masih mengepul di udara.

            Tatapannya langsung tertuju tajam pada gadis itu. Penampilan gadis itu terlihat berantakan, sementara di tangannya tergenggam sebuah paper bag kecil berwarna coklat.

            Gadis itu memilih diam. Ia bahkan tidak menatap ibunya sama sekali dan langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas.

            Namun sikap itu justru membuat emosi Miranda langsung memuncak.

            “Heh!”

            Langkah Azel terhenti saat Wanita itu berdiri lalu menghampirinya cepat. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Rasanya, ia terlalu Lelah menghadapi semua ini lagi malam ini.

            “Saya nanya kamu habis dari mana!”

            Nada suara Miranda semakin tajam. Wanita itu mengendus pelan lalu memperhatikan rambut Azel yang sedikit lepek karena tadi sempat membasuh wajah setelah muntah.

            Dan seketika tatapannya berubah penuh prasangka.

            “Oh…” bibir Miranda menyungging sinis. “Beneran jual diri kamu ya?”

            Kalimat itu sukses membuat dada Azel remuk seperti dihantam oleh bola penghancur.

            Ia ingin membela dirinya. Namun sebelum suara keluar dari bibirnya, Miranda Kembali menohoknya dengan telak.

            “Kamu pikir saya nggak liat kamu turun sama cowok dari mobil kamu?” desisnya tajam. “Dibayar berapa?”

            Tatapan Wanita itu benar-benar menusuk.

            Penuh hinaan dan rasa jijik.

            Azel yang sejak tadi menahan diri mulai merasakan bibirnya bergetar. Tangannya yang menggenggam tali paper bag itu ikut mengeras perlahan.

            Hari ini ia sudah terlalu Lelah.

            Terlalu Lelah untuk terus dianggap hina oleh ibunya sendiri.

            Namun sebelum keadaan semakin buruk, tiba-tiba suara lain muncul dari arah dapur.

            “Nyonya… ini hair mask-nya ketemu,” ujar Bik Rodyah pelan sambil membawa Tube kecil di tangannya. “Ternyata keselip tadi, Nya.”

            Miranda langsung menoleh tidak sabar.

            “Taruh aja di meja.”

            Nada suaranya tetap dingin.

Sementara Bik Rodyah diam-diam melirik Azel dengan tatapan penuh iba. Wanita paruh baya itu memang sengaja datang menginterupsi. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, ia tahu betul bagaimana Miranda memperlakukan putrinya sendiri.

Dan jauh dalam lubuk hati, Bik Yah sudah menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Cukup untuk membuat gadis itu mengerti bahwa Wanita itu sedang mencoba menyelamatkannya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Azel langsung bergegas naik ke lantai atas.

“Dan inget!” teriak Miranda dari bawah. “Jangan pernah habisin uang saya buat daftar kompetisi dance kamu yang nggak penting itu!”

Langkah gadis itu melemah sesaat. Namun ia tetap masuk ke kamarnya lalu buru-buru mengunci pintu.

Klik.

Begitu sendirian, napas Panjang langsung lolos dari bibirnya. Punggungnya perlahan bersandar di balik pintu.

Dan untuk beberapa detik gadis itu hanya diam mencoba menahan isakan yang terus mendesak keluar. Ia menenggelamkan wajahnya di sela kedua lututnya. Tubuhnya gemetar hebat.

Ting.

Suara notifikasi W******p terdengar.

Azel mengusap sudut matanya sebelum merogoh ponselnya di tas. Nama Vayla muncul di layarr.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia membuka pesan itu.

“Zel, check email! Kita lolos kualifikasi Dance competition goes to Japan Yeaayy! Cepet isi biodata dan Payment yaa biar langsung diproses!”

Mata Azel langsung membulat. Dadanya berdegup pelan.

Kompetisi itu, adalah hal yang selama ini benar-benar ia perjuangkan.

Latihan berbulan-bulan. Pulang malam dan Cedera kecil di kaki.

Semua rasa Lelah itu akhirnya membuahkan hasil.

Namun perlahan, binar di matanya Kembali meredup. Ia menunduk pelan. Sudah pasti Miranda tidak akan sudi membayar biaya registrasinya. Sedangkan ayahnya masih sibuk dinas di luar kota dan jarang sekali membalas pesan darinya.

Rasa sesak Kembali memenuhi dadanya.

Terkadang ia bertanya-tanya…

Kenapa rumahnya tidak pernah terasa seperti rumah?

Kenapa kedua orang tuanya tidak pernah benar-benar hadir untuk mendukung apa yang ia cintai?

Dan kenapa kehangatan yang ia cari justru ia rasakan di rumah orang lain malam ini?

Dengan napas yang masih bergetar, gadis itu merogoh tasnya. Jemarinya menemukan secarik kertas kecil. Nomor milik Bastian. Cowok yang baru saja mengantarnya pulang. Tepatnya cowok yang baru saja menawarkan misi konyol untuk bersandiwara dan akan dibayar secara Cuma-Cuma.

Tatapannya tertahan beberapa detik pada nomor itu sebelum ia membuka layarr panggilan. Ia menekan nomor itu satu demi satu.

Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol call.

Nada sambung mulai terdengar. Membuat degup jantungnya terasa semakin keras.

Sampai akhirnya panggilan itu terhubung.

“Ya, dengan siapa?”

Suara bariton terdengar dari seberang sana.

Gadis itu buru-buru menetralkan napasnya agar suara tangisnya tidak terdengar.

“Azel.”

Hening sepersekian detik.

“Gue terima..” gadis itu menarik napas pelan. “Misi berbayar pura-pura jadi adek lo.”

Ia melepaskan napas Panjang setelah mengucapkan kalimat itu.

Seolah untuk pertama kalinya malam ini, ia menemukan jalan keluar yang bisa ia harapkan.

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 9 *NEED HELP?*

    “Teleportasi kemana lo semalem?”Vayla langsung menyerang begitu Azel baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kelas. Pagi itu suasana kelas masih cukup bising karena dosen pengantar ekonomi mereka belum datang. Beberapa mahasiswa masih sibuk bergosip, tik-tokan heboh, bahkan ada yang mukbang berjamaah. Termasuk Vayla. Gadis itu sedang sibuk melahap kebabnya dengan kondisi yang berantakan. Sayur yang berceceran di sekitar jemarinya dan saus di sekitar bibirnya.Sementara Azel, jauh lebih mengenaskan. Matanya setengah tertutup. Kepalanya nyaris jatuh karena menahan kantuk.“Ke rumah cowok itu…” gumam gadis itu lirih sambil menopang dagunya. “Cowok yang gue muntahin.”Vayla seketika berhenti mengunyah.“OMG?! Serius lo?”Matanya membulat heboh. Ia buru-buru menggeser kursinya mendekat mengikis jarak diantara mereka. “Terus-terus ngapain aja lo di rumahnya?”Namun sebelum Azel menjawab, suara heels terdengar memasuki kelas. Bu Leni dosen pengantar ekonomi yang terk

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 8 *TERIMA MISI BERBAYAR*

    “Dari mana aja kamu?” Suara Miranda langsung menggema begitu Azel baru saja masuk pintu utama rumahnya. Wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang tengah mengenakan bathrobe berwarna putih dengan rambut basah yang terurai di bahunya. Secangkir the hangat masih berada di tangannya, asapnya masih mengepul di udara. Tatapannya langsung tertuju tajam pada gadis itu. Penampilan gadis itu terlihat berantakan, sementara di tangannya tergenggam sebuah paper bag kecil berwarna coklat. Gadis itu memilih diam. Ia bahkan tidak menatap ibunya sama sekali dan langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Namun sikap itu justru membuat emosi Miranda langsung memuncak. “Heh!” Langkah Azel terhenti saat Wanita itu berdiri lalu menghampirinya cepat. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Rasanya, ia terlalu Lelah menghadapi semua ini lagi malam ini. “Saya nanya kamu habis dari mana!” Nada suara

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 7 *SEBUAH PENAWARAN*

    “Sus Anna!”Suasana langsung hening sesaat.“Tolong bawa Mama istirahat ya. Udah malem.”Nada bicara cowok itu terdengar tegas, nyaris seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. Tak lama kemudian Suster Anna datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.“Ayo Bu,” ujarnya lembut sambil merangkul pelan tubuh Bu Metri. “Udah jam 11 malam. Sekarang waktunya istirahat.”Bu Metri tampak masih ingin menahan Azel tinggal lebih lama, tetapi tubuhnya sudah terlalu Lelah untuk melawan. Wanita itu akhirnya menurut dibawa masuk ke dalam kamar. Dan entah kenapa, tatapan sedih Bu Metri sebelum pergi membuat hati gadis itu tidak nyaman.Beberapa menit kemudian, Azel dan Bastian berjalan menuju garasi rumah. Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Gadis itu mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Bastian lebih dulu angkat suara.“Tolong izinin gue anterin lo pulang.”Azel menoleh. Tatapan cowok itu kali ini terasa berbeda.Tidak terdengar intimidatif

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 6 *RUMAH YANG HANGAT*

    Sepanjang perjalanan menuju rumah ini, cowok itu nyaris tidak menjelaskan apapun. Sedangkan ia yang masih merasa bersalah karena insiden muntah tadi memilih untuk tidak banyak bertanya.Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Azel sedikit tersentak lalu melihat nama Vayla muncul di layar.“Maaf, Ma… aku angkat telepon sebentar ya.”Bu Metri mengangguk pelan.Begitu sampai halaman teras, gadis itu mengangkat panggilannya.“Azel, lo kemana aja sih?!” suara Vayla langsung menggelegar dari seberang sana. “Ditelepon dari tadi nggak ngangkat-ngangkat. Gue sama Kaivan bingung nyariin lo. Pas keluar club mobil lo udah nggak ada!”Azel menghela napas kecil.“Iya, sorry Va…” gumamnya pelan. “Lo tadi liat kan gue ada insiden muntah. Besok gue ceritain ya.”Sebelum Vayla sempat menginterogasi, gadis itu buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah.Dan kini Bastian sudah Kembali duduk di sofa samping ibunya dengan kaos hitam dan rambut yang s

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 5 *BELVA?*

    “Belva..?” Suara Bu Metri bergetar saat membuka pintu rumah. Kedua matanya langsung berbinar begitu melihat Azel berdiri di teras Bersama Bastian. “Ya Tuhan… kamu kemana aja, Nak?” Wanita itu buru-buru menghampiri Azel lalu menggenggam kedua lengannya erat seolah takut gadis itu menghilang lagi. “Mama kangen banget sama kamu, sayang..” Azel langsung membeku. Ia sempat melirik Bastian panik, meminta jawaban tanpa suara—apa dirinya benar-benar harus bersandiwara seperti ini? Namun Bastian hanya mengangguk pelan. Tatapannya seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski entah kenapa, itu justru membuat dada gadis itu terasa semakin tidak nyaman. Dengan canggung, ia akhirnya membalas genggaman Bu Metri. “Belva juga kangen sama Mama..” Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Dan detik berikutnya, wajah Bu Metri langsung berubah penuh haru. Wanita itu memeluk Azel erat tanpa ragu.Sementara itu gadis itu

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 4 *COWOK SWEATER PUTIH*

    “Lo liat cowok yang pake sweater putih itu nggak? Yang gerakannya chill banget.” Azel mengikuti arah telunjuk Vayla. Seorang cowok terlihat cukup mencolok di tengah keramaian. Sweater putihnya kontras dengan lampu neon yang berkedip-kedip, sementara ekspresinya terlihat datar dan dingin dibanding orang-orang di sekitarnya. “Iya gue liat, terus?” “Samperin dia,” ujar Vayla cepat. “Lo ajak kenalan.” Kaivan langsung tertawa kecil karena yakin Azel bakal nolak mentah-mentah. Namun ternyata dugaan mereka salah. “Itu doang?” Azel menyeringai lebar. “Kecil.” Vayla dan Kaivan langsung saling pandang kaget. Rasanya ia menemukan kepribadian Azel yang baru dan lebih nekat lewat alcohol malam ini. Tanpa pikir Panjang, Azel langsung bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri cowok bersweater putih itu. Langkahnya sedikit gontai akibat efek alcohol yang kuat. Bahkan pinggulnya sempat terbentur sudut

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status