Teilen

BAB 4 *COWOK SWEATER PUTIH*

last update Veröffentlichungsdatum: 30.09.2026 21:24:00

“Lo liat cowok yang pake sweater putih itu nggak? Yang gerakannya chill banget.”

            Azel mengikuti arah telunjuk Vayla.

            Seorang cowok terlihat cukup mencolok di tengah keramaian. Sweater putihnya kontras dengan lampu neon yang berkedip-kedip, sementara ekspresinya terlihat datar dan dingin dibanding orang-orang di sekitarnya.

            “Iya gue liat, terus?”

            “Samperin dia,” ujar Vayla cepat. “Lo ajak kenalan.”

            Kaivan langsung tertawa kecil karena yakin Azel bakal nolak mentah-mentah. Namun ternyata dugaan mereka salah.

            “Itu doang?” Azel menyeringai lebar. “Kecil.”

            Vayla dan Kaivan langsung saling pandang kaget. Rasanya ia menemukan kepribadian Azel yang baru dan lebih nekat lewat alcohol malam ini.

            Tanpa pikir Panjang, Azel langsung bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri cowok bersweater putih itu. Langkahnya sedikit gontai akibat efek alcohol yang kuat. Bahkan pinggulnya sempat terbentur sudut meja Bar hingga membuatnya meringis pelan.

            Namun gadis itu tetap berjalan mendekat dan sudah berada di depan cowok asing itu.

            “Hai?” sapanya percaya diri dengan senyum tipis andalannya.

            Bastian menoleh pelan. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.

            Namun sebelum Azel sempat mengajaknya berkenalan, perutnya tiba-tiba bergejolak hebat. Dan akhirnya—

            “Hweekk..”

            Isi perutnya keluar begitu saja tepat di sweater bagian dada milik cowok itu. Azel seketika membeku. Matanya membulat sempurna. Otaknya yang tadi setengah teler mendadak terasa penuh.

            “Sumpah…sorry banget!” ujarnya panik.

            Bastian menunduk menatap sweaternya yang kini kotor, lalu Kembali mengangkat pandangan kea rah gadis itu dengan ekspresi yang sulit di tebak.

            Sementara Azel sudah kelabakan sendiri mencari tisu di sekitar. Namun nihil.

            Tanpa piker Panjang, tangannya spontan mengusap noda muntahan itu, berharap sedikit tersamarkan. Namun justru nodanya semakin melebar. Hal itu membuat Azel semakin panik dan ingin menghilang detik itu juga.

            Tanpa aba-aba dan tanpa banyak bicara, cowok itu langsung menarik tangan Azel, membawanya menerobos kerumunan.

            Orang di sekeliling dance floor masih larut dalam music, bergerak tanpa peduli sekitar. Di tengah hiruk pikuk itu, Langkah cowok itu tetap pasti, seolah keramaian di hadapannya bukan halangan.

            Azel terseret, langkahnya goyah mengikuti arah yang bukan ia kendalikan.

            “Eh tunggu—”

            Suara itu nyaris tak terdengar, tenggelam oleh dentuman music. Ia sendiri tidak yakin apakah ingin protes atau Kembali meminta maaf.

            Cekalan pada lengannya masih terasa kuat—cukup untuk membuatnya tidak punya banyak pilihan selain ikut. Kepalanya masih sedikit pening, pikirannya bercampur aduk. Malu, panik dan juga bingung pada saat bersamaan.

            Langkah mereka akhirnya berhenti saat sebuah pintu terbuka. Dan detik berikutnya Azel langsung membelalak. Ia berada di toilet pria.

            Cekalan di lengannya akhirnya terlepas. Azel refleks mundur setengah Langkah sambil menatap cowok itu waspada. Jantungnya mulai berdegup tidak nyaman. Toilet yang sepi itu justru membuat perasaan gadis itu semakin tidak nyaman.

            Di tengah kebingungan dan rasa paniknya, cowok itu melepas sweaternya yang kini kotor menyisakan badannya yang sixpack tanpa sehelai benang. Azel refleks memalingkan wajah , lalu menutup matanya dengan kedua tangan.

            “Ah—”

            Tanpa sengaja, tangannya yang masih terkena sisa muntahan justru mengenai wajahnya sendiri.

            Tanpa aba-aba cowok itu mendekat, lalu tanpa banyak bicara menarik tangan gadis itu ke arah wastafel yang sudah menyala.

            Air mengalir deras. Gadis itu sempat terkejut.

            “Gue tau gue salah..t-tapi gue bisa teriak kalau lo macem-macem sama gue,” ancamnya, napasnya masih terengah karena panik.

            Bastian tidak langsung menanggapi. Ia fokus melihat Gerakan gadis itu semakin canggung dan tergesa seolah ia akan menembaknya saat itu juga.

            Dengan Gerakan cepat cowok itu menangkup dagu Azel dan sukses membuatnya tertegun beberapa saat. Gadis itu memejamkan matanya panik.

            “Sorry banget gue janji gue ganti sweater lo sekarang juga,”

            Tak ada jawaban. Di bawah cahaya  terang itu, mata cowok itu sibuk menelusuri setiap sudut wajah Azel. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresinya berubah. Tatapan dinginnya mulai melunak. Pikirnya, gadis ini mirip sekali dengan Belva.

            Bastian bahkan sampai kehilangan focus beberapa detik. Wajah Azel terasa seperti bayangan yang selama ini terus menghantui kepalanya.

            Hidungnya. Bentuk bibirnya. Dan matanya yang bulat.

            Semuanya tampak familiar.

            Pikiran aneh mulai memenuhi kepalanya. Apa mungkin tuhan benar-benar memberinya kesempatan kedua?

            Apa mungkin gadis di hadapannya ini adalah Belva yang Kembali dalam kehidupan berbeda?

Sementara itu, Azel semakin gemetar dibuatnya. Sorot mata Bastian terlalu tajam dan dalam. Jelas membuatnya takut setengah mati.

            “Sorry banget, gue bakal lakuin apa aja buat nebus kesalahan gue. Please.. lepasin gue.”suara Azel mengecil ia mengkerut ketakutan.

            Ucapan itu akhirnya berhasil membuat Bastian tersadar dari lamunannya. Rahangnya yang mengeras perlahan mulai melunak.

            “Gue maafin.” Suara Bastian terdengar rendah.

            Azel perlahan membuka matanya.

            “Syaratnya, malam ini juga …” tatapan Bastian Kembali menancap lurus ke mata Azel. “Lo pura-pura jadi adek gue dan ketemu nyokap gue.”

            Azel langsung membeku. Permintaan itu terdengar aneh.

            Namun tatapan Bastian yang intimidatif membuatnya tak punya pilihan lain selain mengangguk menyetujui permintaan aneh itu.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 9 *NEED HELP?*

    “Teleportasi kemana lo semalem?”Vayla langsung menyerang begitu Azel baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kelas. Pagi itu suasana kelas masih cukup bising karena dosen pengantar ekonomi mereka belum datang. Beberapa mahasiswa masih sibuk bergosip, tik-tokan heboh, bahkan ada yang mukbang berjamaah. Termasuk Vayla. Gadis itu sedang sibuk melahap kebabnya dengan kondisi yang berantakan. Sayur yang berceceran di sekitar jemarinya dan saus di sekitar bibirnya.Sementara Azel, jauh lebih mengenaskan. Matanya setengah tertutup. Kepalanya nyaris jatuh karena menahan kantuk.“Ke rumah cowok itu…” gumam gadis itu lirih sambil menopang dagunya. “Cowok yang gue muntahin.”Vayla seketika berhenti mengunyah.“OMG?! Serius lo?”Matanya membulat heboh. Ia buru-buru menggeser kursinya mendekat mengikis jarak diantara mereka. “Terus-terus ngapain aja lo di rumahnya?”Namun sebelum Azel menjawab, suara heels terdengar memasuki kelas. Bu Leni dosen pengantar ekonomi yang terk

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 8 *TERIMA MISI BERBAYAR*

    “Dari mana aja kamu?” Suara Miranda langsung menggema begitu Azel baru saja masuk pintu utama rumahnya. Wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang tengah mengenakan bathrobe berwarna putih dengan rambut basah yang terurai di bahunya. Secangkir the hangat masih berada di tangannya, asapnya masih mengepul di udara. Tatapannya langsung tertuju tajam pada gadis itu. Penampilan gadis itu terlihat berantakan, sementara di tangannya tergenggam sebuah paper bag kecil berwarna coklat. Gadis itu memilih diam. Ia bahkan tidak menatap ibunya sama sekali dan langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Namun sikap itu justru membuat emosi Miranda langsung memuncak. “Heh!” Langkah Azel terhenti saat Wanita itu berdiri lalu menghampirinya cepat. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Rasanya, ia terlalu Lelah menghadapi semua ini lagi malam ini. “Saya nanya kamu habis dari mana!” Nada suara

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 7 *SEBUAH PENAWARAN*

    “Sus Anna!”Suasana langsung hening sesaat.“Tolong bawa Mama istirahat ya. Udah malem.”Nada bicara cowok itu terdengar tegas, nyaris seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. Tak lama kemudian Suster Anna datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.“Ayo Bu,” ujarnya lembut sambil merangkul pelan tubuh Bu Metri. “Udah jam 11 malam. Sekarang waktunya istirahat.”Bu Metri tampak masih ingin menahan Azel tinggal lebih lama, tetapi tubuhnya sudah terlalu Lelah untuk melawan. Wanita itu akhirnya menurut dibawa masuk ke dalam kamar. Dan entah kenapa, tatapan sedih Bu Metri sebelum pergi membuat hati gadis itu tidak nyaman.Beberapa menit kemudian, Azel dan Bastian berjalan menuju garasi rumah. Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Gadis itu mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Bastian lebih dulu angkat suara.“Tolong izinin gue anterin lo pulang.”Azel menoleh. Tatapan cowok itu kali ini terasa berbeda.Tidak terdengar intimidatif

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 6 *RUMAH YANG HANGAT*

    Sepanjang perjalanan menuju rumah ini, cowok itu nyaris tidak menjelaskan apapun. Sedangkan ia yang masih merasa bersalah karena insiden muntah tadi memilih untuk tidak banyak bertanya.Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Azel sedikit tersentak lalu melihat nama Vayla muncul di layar.“Maaf, Ma… aku angkat telepon sebentar ya.”Bu Metri mengangguk pelan.Begitu sampai halaman teras, gadis itu mengangkat panggilannya.“Azel, lo kemana aja sih?!” suara Vayla langsung menggelegar dari seberang sana. “Ditelepon dari tadi nggak ngangkat-ngangkat. Gue sama Kaivan bingung nyariin lo. Pas keluar club mobil lo udah nggak ada!”Azel menghela napas kecil.“Iya, sorry Va…” gumamnya pelan. “Lo tadi liat kan gue ada insiden muntah. Besok gue ceritain ya.”Sebelum Vayla sempat menginterogasi, gadis itu buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah.Dan kini Bastian sudah Kembali duduk di sofa samping ibunya dengan kaos hitam dan rambut yang s

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 5 *BELVA?*

    “Belva..?” Suara Bu Metri bergetar saat membuka pintu rumah. Kedua matanya langsung berbinar begitu melihat Azel berdiri di teras Bersama Bastian. “Ya Tuhan… kamu kemana aja, Nak?” Wanita itu buru-buru menghampiri Azel lalu menggenggam kedua lengannya erat seolah takut gadis itu menghilang lagi. “Mama kangen banget sama kamu, sayang..” Azel langsung membeku. Ia sempat melirik Bastian panik, meminta jawaban tanpa suara—apa dirinya benar-benar harus bersandiwara seperti ini? Namun Bastian hanya mengangguk pelan. Tatapannya seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski entah kenapa, itu justru membuat dada gadis itu terasa semakin tidak nyaman. Dengan canggung, ia akhirnya membalas genggaman Bu Metri. “Belva juga kangen sama Mama..” Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Dan detik berikutnya, wajah Bu Metri langsung berubah penuh haru. Wanita itu memeluk Azel erat tanpa ragu.Sementara itu gadis itu

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 4 *COWOK SWEATER PUTIH*

    “Lo liat cowok yang pake sweater putih itu nggak? Yang gerakannya chill banget.” Azel mengikuti arah telunjuk Vayla. Seorang cowok terlihat cukup mencolok di tengah keramaian. Sweater putihnya kontras dengan lampu neon yang berkedip-kedip, sementara ekspresinya terlihat datar dan dingin dibanding orang-orang di sekitarnya. “Iya gue liat, terus?” “Samperin dia,” ujar Vayla cepat. “Lo ajak kenalan.” Kaivan langsung tertawa kecil karena yakin Azel bakal nolak mentah-mentah. Namun ternyata dugaan mereka salah. “Itu doang?” Azel menyeringai lebar. “Kecil.” Vayla dan Kaivan langsung saling pandang kaget. Rasanya ia menemukan kepribadian Azel yang baru dan lebih nekat lewat alcohol malam ini. Tanpa pikir Panjang, Azel langsung bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri cowok bersweater putih itu. Langkahnya sedikit gontai akibat efek alcohol yang kuat. Bahkan pinggulnya sempat terbentur sudut

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status