Masuk“Jangan kaget gitu, sejak awal memang aku tidak pernah serius.” Ica menatap suaminya jengkel. Setelah lulus kuliah berarti Saka sudah dewasa dong kok bisa pacaran tapi nggak serius. “Mas sejak dulu suka gonta-ganti pacar pasti.” Secara wajah Saka itu tampan dan dari keluarga yang berkecukupan, juga pembawaannya yang mudah membaur dengan orang. Tidak mungkin tidak ya. “Hanya tiga kali termasuk Sita dan Farah.” “Yakin? kok dikit, bohong ya,” tuduh Ica. Saka yang melihat Ica melotot bukannya takt malah tambah gemas, tanpa sadar dia mencubit pipi sang istri. “Ih mas ngapain nyubit-nyubit.” “Gemas saja, kamu suka nggak percayaan.” Lah gimana mau percaya, Saka saja cuma berdiri diam saat acara pernikahan mereka sudah menghebohkan satu desa, apalagi jaman pria itu muda. Apalagi setelah tinggal di sini, Ica tahu kalau Saka itu pandai mencari peluang meski dalam urusan kerja, tapi bisa saja kan keahlian itu dia terapkan dalam menggaet wanita yang dia sukai. “Habisnya di desa ini saj
“Mas punya fotonya.” “Punya.” “Aku mau lihat boleh.” “Boleh tapi harus cari dulu.” “Ya sudah ayo kita cari.” Pokoknya Ica mau mengorek keterangan sejelas-jelasnya dari Saka. Ini kesempatan bagus. Semoga saja Saka nggak kumat nyebelinnya. Amin. Dengan langkah ringan Ica mengikuti Saka ke ruangan yang dijadikan ruang kerja pria itu. Ini pertama kalinya Ica masuk ke sana. Biasanya dia hanya mengintip dari depan pintu saja. Ruang kerja ya isinya begitu-begitu saja. Paling juga isinya peralatan pertanian dan juga kertas-kertas bon. Ica tidak mau ya tangannya gatal untuk membereskan kertas-kertas yang pasti berserakan itu, dan nanti Saka akan menyalahkan nya kalau ada salah satu bon penting yang ilang. Makanya lebih baik dia tak masuk dan hari ini dia harus menahan diri untuk tidak membersihkan apapun yang berserakan di sana. “Nanti aku rapikan,” kata Saka saat menyadari Ica melirik kertas-kertas yang berserakan di atas meja kayu besar itu.Ica hanya menghela napas. Jangan sa
Ica nggak nyangka ya kalau hari ini akan tiba. Saka mengusirnya. Ica yakin dia tak bersalah. Ica hanya pergi untuk menghindari KDRT. Dia memang bukan lulusan luar negeri kayak Saka ya, tapi kalau ada orang yang mau pukul kamu dan sekiranya kamu nggak mampu melawan ya jalan satu-satunya adalah lari. Karena teriak juga percuma, semua orang di sini terlalu memuja Saka. Bisa-bisa Ica yang dimusuhi satu desa. Apalagi dengan gosip yang mengatakan kalau dia adalah orang ketiga dalam hubungan Saka dan Farah. Mungkin memang sudah nasibnya menjadi janda perawan setelah sebelumnya ditinggal selingkuh mantan calon suaminya. Ica hanya melirik saat kursi di sebelahnya digeser dan Saka duduk di sana. “Siapa yang mau ngusir kamu.” Ica tak menjawab dia menyuapkan nasi ke mulutnya. Kesal pada Saka membuatnya lapar. Ica tak menjawab percuma saja mau jawab, nanti dia malah sakit hati padahal nasinya sudah habis dan dia segan meminta bu Mirah masak nasi lagi, apalagi sepertinya Saka akan mengan
“Kenapa aku harus makan bubur?!” Ica nggak sakit ya. Dia Cuma terkena ulat di kebun sehingga tubuhnya gatal-gatal. Tapi setelah minum obat yang diberikan bu Mirah atas petunjuk Saka tentu saja, dia baik-baik saja dan sudah bisa lari keliling desa kalau dia tahan malu dikira orang gila. “Kamu sakit.” Ica jadi ingin menjedotkan kepalanya ke tembok supaya Saka tahu bagaimana bedanya orang sakit dan enggak. Ica seratus ah bukan seribu persen sehat walafiat tidak kekurangan sesuatu apapun, satu-satunya yang kurang di sini adalah cinta suami untuknya. “Aku nggak sakit,” bantah Ica keras. Bukan apa-apa sih. Ica nggak suka bubur yang rasanya gurih. Kalau bubur yang rasanya manis sih dia nggak masalah tapi kalau ini mengingatkan Ica saat dia masak nasi kebanyakan air dan berasnya yang penuh kutu belum dicuci pula. Nggak enak banget kan. “Kamu sakit, jangan sok kuat, Ca.” kalimat Saka memang diucapkan dengan tenang tapi malah membuat Ica jengkel setengah mati. Sampai kapan sih suaminya
“Maaf ya, mas Saka saya tidak bisa menjaga mbak Ica dengan baik.” Pengaruh obat yang tadi diberikan bu Mirah membuat matanya lengket. Samar-samar dia mendengar pintu kamarnya terbuka dan suara Saka yang panik terdengar. Dia merasa baik-baik saja, tapi bu Mirah setelah menghubungi Saka tadi memberinya sebuah obat anti alergi dari kotak obat. Gatalnya sih sudah lumayan berkurang tapi sekarang dia ngantuk sekali bersamaan dengan ingatan ulat bulu sebesar jempol tangan orang dewasa nemplok di lengan dan kakinya. Saiking sibuknya pikiran Ica dia sam sadar ada mahluk asing yang nemplok di tubuhnya. “Bukan salah ibu, siapapun bisa kena ulat di sana.” “Iya, tapi harusnya saya larang mbak Ica untuk ikut.”“Memangnya bu Mirah bisa larang Ica untuk ikut?” Ica masih bisa mendengar ucapan Saka, dia berusaha bertahan dari rasa kantuk yang sudah mengepungnya. Beberapa kali dia mencoba membuka matanya tapi tetap tak mampu. Tak terdengar jawaban bu Mirah, tapi mungkin saja wanita itu hanya me
“Mbak ini payungnya.” “Buat apa, bu?” tanya Ica bingung. “Kita hanya petik sayur di kebun belakang kan?” Bukan kurang kerjaan ya Ica ngintilin bu Mirah ke mana-mana. Skripsinya masih harus dia benahi lagi, meski Saka banyak membantunya tapi tetap saja Ica nggak mau dong tinggal terima beres saja. Tapi dia ingin tahu lebih banyak tentang suaminya lewat bu Mirah tanpa wanita itu sadari. Bisa saja sih dia tanya langsung ke bu Mirah tapi dia segan saja, tidak mau membuka aib hubungan mereka yang tak seharmonis kelihatannya. Saka memang tidak memukul atau melakukan perbuatan tercela yang membuatnya malu, justru pria itu sangat bertanggung jawab dan terlihat sangat protektif padanya, tapi tetap saja Ica marasa cara bicara Saka yang irit itu sangat menyebalkan. Jangan bilang dia tidak bersyukur ya, dia sangat bersyukur kok mendapat suami kayak Saka, karena itu juga dia ingin tahu lebih banyak sial suaminya. Bukankah tak kenal makanya tak sayang. Ica nggak nyangka lho kalau sua
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada
Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah







